Vika gadis ceria dan sedikit tomboy jatuh cinta pada Ihsan yang merupakan teman kecilnya.
Vika terpaksa harus memendam rasa sukanya pada Ihsan karena ada begitu banyak hal yang membuat mereka tak bisa bersama.
Penasaran ....
yuk simak kisah lengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Maelani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
SELAMAT MEMBACA
Sorepun tiba, semuanya sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta.
Vika berdiri sambil bersandar pada tembok memperhatikan mama dan juga adiknya yang sudah naik ke mobil.
Ikhsan membunyikan klakson mobilnya sambil perlahan mobil berjalan mundur keluar garasi, ia sempat berhenti sesaat untuk pamit kepada nenek Dilla dan Vika.
Saat mobil mulai berjalan pelan mama Iren memalingkan wajahnya, ia tidak ingin Vika tau jika ia sedang menangis.
Mamana Ikhsan mengelus lembut dan bahu Mama Iren .
"Sabar jeng, nanti juga kan bisa ketemu lagi" ucap Mamanya Ikhsan
"Iya jeng, sebenarnya saya suka dia tinggal disini, sekarang dia banyak berubah gak manja kaya dulu lagi,tapi saya justru kangen saat dia kaya dulu, setiap saya masak pasti nungguin di meja makan sambil merengek suruh cepat-cepat karena sudah lapar" ucap Mama Iren mengenang kelakuan Vika saat masih bersamanya dulu.
"Sekarang ada banyak cemilan diatas meja berhari-hari pun gak akan habis, kalau dulu sebentar juga udah habis" mama Iren menghapus air mata yang ada disudut matanya.
"Tenang aja tante nanti biar Ikhsan yang bawa Vika pulang" ucap Ikhsan sambil melihat reaksi kedua ibu-ibu dibelakangnya.
"Maksud kamu apa San?" tanya Mamanya
"Mama mau gak punya menantu kaya Vika?" bukannya menjawab tapi Ikhsan malah bertanya balik.
Namun mamanya mengerti arah pembicaraannya Ikhsan.
"Dih kamu ngarep banget sih San, si Vika kan udah punya cowok" jawab mamanya Ikhsan.
"Sebelum janur kuning melehoi sih masih ada kesempatan Mah" ucap Ikhsan lagi
Mama Iren dan mamanya Ikhsan saling menatap
"Kok melehoi sih San, bukannya melengkung yah" ucap mamanya.
"Ya kan melengkung itu melehoi mah,gak berdiri tegap" jawab nya lagi.
"Bikin keder aja San, terserah kamu aja lah mau melengkung apa melehoi" ucap Mamanya lagi.
"Haii calon adik ipar bantuin dong buat meluluhkan hati kakamu" ucap Iksan sambil melihat ke arah Pian yang dari tadi hanya senyum-senyum saja.
"Usaha sendiri, cinta itu perlu perjuangan dan gw cuma bisa bantu kasih semangat aja" jawab Pian santai
"Semangat gimana?' tanya Ikhsan masih belum faham.
"ya semangat berjuang memperjuangkan cintamu ha..ha.." jawab Pian sambil tertawa lebar.
"Ish sial kirain apa" decak Ikhlas.
Sementara itu dirumah nenek Dilla, setelah kepulangan mamanya Vika masuk kedalam kamar dan tidak keluar lagi.
Nenek Dilla tau jika ia masih ingin bersama Mamanya.
Nenek Dilla pun masuk kedalam kamar Vika dan melihat cucu kesayangannya itu sedang menangis.
"Kamu masih kangen sama mama?"
Vika hanya mengangguk.
"Nenek gak keberatan kalau kamu tinggal disana lagi, nenek gak apa-apa sendirian, toh sebelum kamu disini nenek juga sendiri" ucap Nanek Vika sambil mengelus lembut rambut cucunya.
"Kenapa nenek gak ikut Vika aja tinggal disana, pasti lebih enak dan Vika pun gak khawatir sama nenek" jawab Vika mengutarakan apa yang selama ini ada dalam pikirannya.
"Nenek gak bisa Vik, nanti bebek nya gimana"
"Ish nenek bebek dipikirin" jawab Vika sambil memajukan bibirnya.
"Emang nenek lebih sayang bebek daripada Vika" lanjutnya.
"Dih ya gak begitu juga Vika, kalau nenek disana terus disini gimana, ikan nenek nanti ilang semua, terus itu bebek kan sayang dibeliin papa kamu banyak" lanjut nenek Dilla.
"Kalau nenek berat sama bebek, mulai besok bebeknya Vika potong sehari dua biar cepat habis, terus kalo lagi ngangon Vika tinggalin tuh bebek biar ilang" jawab Vika asal dan berhasil membuat neneknya tertawa sambil menepuk Vika.
"Gak kaya gitu juga Vik, nenek itu udah tua dan nenek lebih suka tinggal disini, apa-apa gampang dan serba murah, gak kaya disana serba mahal" jawab nenek Dilla
"Dih nenek, emang disana nenek disuruh belanja sendiri kalau mau makan ya gak lah" ucap Vika sambil mendelik.
Wkwkwk
Nenek Dilla tertawa hingga menitipkan air mata.
"Intinya sih kalau kamu mau tinggal bersama Mama kamu lagi nenek gak keberatan sayang, kamu tau kemarin itu mama kamu sampai nangis bilang kangen sama kamu yang dulu suka habisin makanan" ucap nenek Dilla mengingat ucapan mama Iren kemarin saat mereka berbincang-bincang.
"Vika mau tinggal sama mama lagi tapi Vika juga mau tinggal sama nenek, Vika gak mau nenek sendirian disini' ucap Vika sambil memeluk neneknya.
Walaupun nenek Dilla terkadang bawel namun Vika begitu menyayanginya, tentu saja ia tidak tega untuk meninggalkan neneknya sendirian di rumah yang dibilang lumayan luas.
Nenek Dilla yang tidak tega melihat cucunya sedih langsung menghubungi Ujang untuk menemani Vika.
Tidak butuh waktu lama Ujang pun tiba, ia mengajak Vika untuk keluar mencari jajanan.
Ia tau Vika sangat suka jajan seperti anak kecil namun ia suka, walaupun ia lumayan berada namun ia tidak sombong tidak jarang juga ia mentraktir teman-temannya saat ia mendapatkan uang lebih.
Benar saja begitu kembali kerumah Vika sudah terlihat bahagia dengan banyaknya jajanan yang ia bawa, ada seblak, ada color, ada telur gulung juga.
Nenek Dilla hanya menggelengkan kepala melihat jajanan yang Vika bawa.
"Jajan sebanyak itu emang abis Vika, itu siapa yang bayar jajan kamu?" yang sang nenek dengan wajah pura-pura garang.
"Yang bayar Ujang lah" jawab Vika sambil memakan satu tusuk telur gulung.
"Kalau kaya gitu terus kapan si Ujang ngumpulin uang buat biaya nikah"
Uhukkkkm
Vika terbatuk-batuk saat mendengar yang neneknya ucapankan.
Ujang hanya tersenyum lalu mengambil segelas air putih untuk Vika.
"Pelan-pelan makanya kalau makan neng" ucap Ujang sambil memberikan satu gelas air.
Vika pun langsung meminumnya.
"Ish nenek itu kalo ngomong, kita sih belum kepikiran kesana ya Jang" ucap Vika setelah meneguk habis air yang Ujang berikan.
"Kalo neng mau sekarang juga hayu kalau mau nikah mah" ucap Ujang sambil tersenyum.
Vika hanya cemberut kesal karena Ujang dan nenek nya kompak menggoda dirinya.
Sementara itu begitu tiba dirumahnya Mama Iren langsung masuk kamar dan setelah bbermembersihkan diri ia langsung merebahkan dirinya.
Papa Bagas yang kebetulan sudah pulang dari dinasnya begitu heran melihat wajah istri nya yang mendadak murung setelah bertemu dengan Vika.
"Kamu kenapa Mah,kok sedih gitu?" tanya Papa Bagas.
"Pah..."
"Mama sebenarnya ingin Vika tinggal disini lagi, mama tuh selalu kangen sama kelakuan dia yang selalu habisin makanan yang mama buat" ujar Mama Iren
"Dih mama, sekarang Vika kan udah gak gendut lagi ya pasti lah gak banyak makan nya kaya dulu" jawab Papa Bagas.
"Gak juga Pah, kemarin mama lihat dia makan banyak banget" jawab mama Iren.
"Ada Ikhsan kan pas dia makan?" tanya papa Bagas.
"Iya, kok papa tau sih"
"Dia tuh sengaja makan banyak gitu biar si Ikhsan ilfill sama dia" jawab Papa Bagas.
"Oh gitu,mama baru nyadar ya Pah,emang sekarang dia itu sebel banget sama Ikhsan" ucap Mama Iren.
Papa Bagas hanya tersenyum mendengar penuturan istrinya tentang Vika.