Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Pukul lima pagi. Cahaya matahari pertama mulai merayap naik menembus kabut tebal yang menyelimuti perbukitan markas utama klan Argantara. Suhu udara di luar terasa dingin menggigit, namun di dalam ruang komando utama bawah tanah, atmosfer justru terasa hangat oleh deru konstan puluhan peladen siber yang bekerja tanpa henti.
Di atas meja konsol pusat, salinan fisik dari Black Ledger—buku besar rahasia klan Vane yang terikat kulit hitam tebal—terbuka lebar di bawah sorotan lampu meja. Di sampingnya, beberapa layar monitor raksasa menampilkan laporan analisis akhir dari keberhasilan operasi Kasino Royale.
Aria berdiri di depan konsol, mengenakan kemeja rajut hitam berkerah tinggi dan celana panjang bahan senada. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai natural melewati bahunya. Jemari lentiknya memeriksa baris-baris data transaksi keuangan klan Vane yang berhasil dilumpuhkan secara permanen. Misi besar itu telah tuntas seratus persen tanpa ada satupun jejak digital yang mengarah pada keterlibatan klan Argantara.
Pintu ganda ruang komando bergeser terbuka secara halus.
Devan Argantara melangkah masuk. Pria itu mengenakan kemeja putih polos dengan lengan yang digulung sebatas siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang kokoh dan garis rahangnya yang tegas. Di belakangnya, Marco dan Erick mengekor dengan membawa map laporan taktis terakhir.
"Evaluasi lapangan sudah selesai, Tuan," lapor Marco tegas, meletakkan map tebal di atas meja konsol. "Seluruh unit pengamanan kita di perbatasan ditarik mundur dan bersiaga penuh. Klan Vane lumpuh total secara finansial; mereka tidak punya waktu untuk melakukan serangan balasan dalam waktu dekat."
Devan mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari laporan tersebut. "Bagus. Bubarkan tim taktis dan pastikan semua anggota mendapatkan rotasi istirahat."
"Baik, Tuan!" Marco dan Erick membungkuk hormat, lalu bergegas melangkah keluar dari ruang komando, meninggalkan Devan dan Aria berdua di dalam ruangan yang luas itu.
Keheningan yang menenangkan merayap di antara mereka. Devan melangkah mendekati meja konsol, berdiri tepat di samping Aria. Aroma woody yang khas dari tubuh pria itu bercampur dengan udara dingin ruangan, menciptakan kehadiran dominan yang selalu dirasakan Aria di setiap ruang yang mereka masuki bersama.
"Pekerjaanmu luar biasa malam tadi, Aria," suara Devan terdengar berat dan rendah, sarat akan apresiasi yang tulus. "Tanpa peretasan sistem pendingin dan duplikasi keycard yang kamu lakukan, tim Marco tidak akan pernah bisa menyusup ke Brankas Pendulum."
Aria merapikan beberapa berkas digital di layarnya, mencoba menjaga suaranya tetap tenang dan profesional. "Itu bagian dari kesepakatan kita, Devan. Aku melakukan bagianku, dan kamu melakukan bagianmu."
Devan terdiam sejenak. Mendengar kata 'kesepakatan' terlontar begitu kaku dari bibir Aria membuat rahang pria itu mengeras tipis. Ia menoleh, mengamati profil wajah Aria yang tampak tenang namun menyembunyikan keletihan yang nyata.
"Kesepakatan," ulang Devan pelan, nada suaranya berubah menjadi lebih dingin. "Apakah bagi dirimu segalanya selalu bisa dirumuskan dalam bentuk kontrak kerja, Aria?"
Aria menghentikan gerakan jemarinya di atas papan ketik. Ia menoleh, menatap lurus ke dalam iris mata kelam Devan. "Kontrak dan kejelasan adalah satu-satunya hal yang bisa diandalkan di dunia bawah tanah ini, Devan. Kamu tahu itu lebih baik daripada siapapun."
Devan tidak langsung mendebat. Pria itu melangkah satu langkah lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga bahu mereka nyaris bersentuhan.
Tiba-tiba, tangan kanan Devan terangkat. Dengan gerakan yang sangat halus dan tanpa izin, jemari Devan menyentuh sisi leher Aria, merapikan kerah baju rajut wanita itu yang sedikit terlipat ke dalam. Sentuhan hangat itu begitu tiba-tiba, membuat Aria menahan napasnya secara refleks.
"Kulitmu masih dingin," bisik Devan rendah, suaranya mengandung nada protektif yang begitu pekat dan mutlak. "Kamu kelelahan setelah pelarian panjang semalam, tapi alih-alih beristirahat di kamarmu, kamu malah langsung berdiri di depan monitor ini."
Aria mencoba mundur selangkah, namun tepi meja konsol menahan punggungnya. "Aku baik-baik saja, Devan. Tubuhku tidak sesrapuh itu."
"Aku tidak bilang kamu rapuh," potong Devan cepat, tatapan matanya mengunci manik mata Aria dengan intensitas yang mengintimidasi. "Tapi aku adalah orang yang menetapkan batas kapan sebuah pekerjaan berakhir dan kapan seorang rekan harus berhenti memforsir dirinya."
Devan menurunkan tangannya dari leher Aria, namun jemarinya beralih menggenggam pergelangan tangan wanita itu dengan cengkeraman yang kokoh namun sangat berhati-hati—sebuah bentuk penguasaan diri yang luar biasa dari seorang bos mafia yang biasanya bertindak otoriter.
"Mulai hari ini," lanjut Devan dengan nada suara yang tidak menerima penolakan, "pergerakanmu di dalam kompleks markas ini akan dibatasi sampai kamu benar-benar memulihkan tenagamu. Tidak ada lagi peretasan semalam suntuk, tidak ada lagi simulasi mendadak di bawah tanah."
Aria menyipitkan matanya tajam, rasa jengkel yang bercampur dengan debaran aneh bergemuruh di dadanya. "Dibatasi? Devan, aku bukan tahananmu lagi! Misi Kasino Royale sudah selesai. Berdasarkan perjanjian kita—"
"Perjanjian kita soal kebebasanmu akan dipenuhi pada waktunya," potong Devan tegas, suaranya meninggi satu tingkat namun tetap terkontrol. "Tapi selama kamu masih berada di dalam teritorial markas Argantara... keselamatanmu adalah tanggung jawab mutlak di bawah kendaliku."
Devan melangkah makin dekat, membuat Aria terjepit sepenuhnya di antara tubuh tegap pria itu dan meja konsol. Dekapan protektif itu begitu nyata, memancarkan rasa kepemilikan yang mendalam yang membuat Aria merasa sesak bukan karena ancaman, melainkan karena betapa mudahnya pria ini mengaburkan batas antara statusnya sebagai 'tahanan' dan 'seseorang yang berharga'.
"Kamu melindungiku secara berlebihan, Devan," bisik Aria tajam, mencoba mempertahankan benteng pertahanan terakhirnya. "Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Aku melihatmu hampir terjebak di ruang simulasi yang terbakar beberapa hari lalu," balas Devan rendah, iris matanya meredup kelam, menyiratkan kilatan ketakutan mendalam yang pernah ia rasakan saat itu. "Dan aku melihat para pengawal Vane memburu langkahmu di koridor VIP semalam. Aku tidak akan membiarkan ada celah sedikit pun bagi siapa pun untuk menyentuhmu lagi, Aria. Termasuk dirimu sendiri yang sering bertindak nekat."
Aria menelan ludahnya kaku. Kalimat itu diucapkan tanpa keraguan, membawa bobot kekuasaan seorang penguasa dunia bawah yang siap meratakan apa pun demi melindungi apa yang dianggapnya sebagai miliknya.
Di dalam jarak yang begitu dekat, aroma woody dan kehangatan tubuh Devan menyelimuti seluruh indra Aria. Pertahanan mental yang ia bangun dengan susah payah kembali runtuh berkeping-keping. Alih-alih marah atas sikap protektif yang berlebihan itu, ada bagian dalam hatinya yang merasa luluh dan terlindungi secara mutlak—sebuah rasa aman yang tidak pernah ia rasakan sejak kecil.
Aria menghembuskan napas panjang, merilekskan bahunya yang sempat menegang. Ia menyadari bahwa melawan kekeras kepalaan Devan Argantara saat ini adalah sebuah kesia-siaan.
"Baiklah," ucap Aria akhirnya dengan nada mengalah yang halus. "Aku akan beristirahat di kamarmu... maksudku, di kamarku."
Ukiran senyum tipis yang amat memikat muncul di bibir Devan mendengar keseleo lidah kecil tersebut. Pria itu melonggarkan cengkeramannya dari pergelangan tangan Aria, namun jemarinya sempat mengusap lembut punggung tangan wanita itu sebelum terlepas sepenuhnya.
"Keputusan yang bijak, Little Bird," pungkasi Devan puas. "Sekarang, mari kita tinggalkan ruang komando ini. Kamu butuh tidur."
Devan menawarkan lengan kanannya dengan gestur seorang pria gentleman sejati. Aria menatap lengan itu sejenak, lalu dengan helaan napas pelan, ia menyelipkan tangannya di lengan tegap Devan.
Mereka melangkah bersama meninggalkan ruang komando yang sunyi. Di sepanjang koridor markas yang mulai disinari cahaya pagi, Aria tahu bahwa meski misi Kasino Royale telah berakhir dan pintu kebebasan ada di hadapannya, jerat perlindungan dan perasaan yang dibagun oleh Devan Argantara telah menguncinya jauh lebih rapat daripada dinding besi mana pun di dunia ini.