NovelToon NovelToon
Mahabbah Yang Ternoda

Mahabbah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

“Affan, aku ingin nafkah batin.”

“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”

Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.

Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Dikenal

Pagi hari tiba, Affandy dan Hulya sama sekali tidak berbicara. Lebih tepatnya, Hulya yang masih memilih untuk mendiamkan suaminya. Affandy sudah duduk rapi di meja makan, bak seorang raja yang sedang menunggu sarapan disiapkan. Sementara itu, Hulya masih sibuk di dapur.

"Pagi, Ma."

Liya tersenyum, ia kemudian duduk di hadapan menantunya.

"Tadi malam kamu ke mana?"

"Emmm—"

"Mas Affan katanya nyasar, Ma. Makanya lama sampai rumah."

Seorang wanita yang berada di dekat mereka menjawab pertanyaan Liya. Affandy langsung mengembuskan napas lega karena istrinya sudah membantunya mencari alasan.

"Lain kali kalau bertengkar jangan sampai begitu, Hulya. Kasihan suami kamu kalau sampai nggak tahu jalan."

"Hehehe ... iya, Ma. Hulya mengaku salah."

Liya mengernyitkan dahi ketika melihat cara Hulya berjalan.

"Kenapa sama kaki kamu? Kok jalannya aneh begitu?"

Hulya langsung panik. Ia tidak tahu harus memberikan alasan apa. Kakinya memang masih sakit akibat perlakuan Affandy malam sebelumnya.

"Eummm ... Hulya kepeleset, Ma."

"Ya Tuhan. Kok bisa?"

"Ya ... Namanya juga kepeleset, Ma."

"Sebenarnya Hulya—"

"Mas mau apa?" potong Hulya cepat.

Ia segera menuangkan minuman ke dalam gelas, sekaligus berusaha mengalihkan perhatian Liya dari suaminya.

"Jangan, Mas," lirih Hulya.

Affandy terdiam, saat ini ia merasa bersalah. Beberapa kali Hulya sudah membantunya menutupi kesalahannya, tetapi sikap wanita itu belum juga membuat hatinya luluh sepenuhnya.

"Lengan kamu kenapa?"

Sekali lagi, Hulya harus berbohong. "Oh, tadi Hulya mimpi jatuh. Ternyata benar-benar jatuh dari atas kasur, Ma."

"Itu gunanya suami. Makanya jangan jauh-jauh dari Affan."

Liya terkekeh geli, Hulya akhirnya duduk di kursinya. Namun, ketika menoleh ke samping, ia merasakan tangan Affandy menggenggam tangannya di bawah meja.

Tatapan pria itu begitu sendu. Seolah-olah Affandy ingin meminta maaf. Namun, Hulya tetap tidak mengatakan apa-apa.

Mereka pun sarapan sambil menunggu kedatangan orang tua Liya dan tamu yang akan datang ke rumah.

"Nanti kita ke dokter, ya," ujar Affandy tiba-tiba.

"Lihat, suami kamu perhatian begitu. Tapi kamu malah ngerjain dia tadi malam," goda Liya.

"Nggak usah, Mas. Aku nggak apa-apa."

"Ikuti saja kata suami kamu. Nanti malah tambah parah."

"Hulya nggak apa-apa kok, Ma. Nggak sakit."

[] [] []

Hampir setengah jam Affandy duduk di teras rumah. Kini mereka hanya tinggal berdua karena Liya sudah pergi ke kantor. Merasa bosan, Affandy akhirnya memutuskan untuk menghampiri Hulya yang sedang sibuk di dapur.

"Hulya..."

"Apa?"

"Ayo, ke Dokter."

"Nggak, ah. Aku nggak apa-apa. Nggak sakit juga."

"Maaf."

"Jangan dibahas lagi. Aku tau kamu nggak bermaksud melakukan itu. Kamu terpengaruh minuman."

Affandy terdiam sejenak. "Sebenarnya aku ... Beberapa kali sudah menyentuh kamu."

Hulya mematikan keran air lalu menoleh ke arah Affandy. "Aku tau, Affan."

"Tau?" Affandy mengernyitkan dahi. "Tau dari mana?"

"Pertama kali kamu melakukan itu, kita sempat ke Dokter, kan? Dari situ aku tau karena aku udah diperiksa."

Affandy menundukkan wajahnya. "Maaf ... Aku gagal sebagai laki-laki karena sudah melanggar janji yang pernah kubuat."

"Nggak apa-apa."

"Emmm ... Aku juga sering kasih kamu obat tidur."

Hulya langsung terdiam. "Obat tidur? Maksud kamu?"

"Obat yang kamu temukan kemarin. Itu obat tidur. Aku sering memasukkannya ke makanan kamu kalau aku sedang membutuhkan seseorang wanita untuk menemaniku."

Hulya menatap Affandy dengan kecewa. "Kamu benar-benar jahat, Affan."

Air mata mulai menggenang di matanya. "Setelah mendengar pengakuan kamu yang ini, aku semakin yakin kalau di mata kamu aku memang cuma perempuan murahan."

"Hulya, aku minta maaf. Aku cuma—"

"Kenapa harus aku?" Hulya menahan emosinya. "Kamu kan pernah dekat dengan Tiffany. Kenapa kamu melakukan semua itu kepadaku?"

"Hulya ... Mungkin kelakuanku memang nggak baik, tapi aku nggak pernah tidur dengan perempuan lain."

"Terus yang dibilang Tiffany apa?"

"Aku nggak tau masalah kamu dengan Tiffany. Tapi yang jelas, aku nggak pernah tidur dengan perempuan mana pun."

Affandy menatap Hulya. "Kamu perempuan pertama yang aku tiduri."

Hulya tertawa getir. "Tapi cara kamu memperlakukan aku nggak baik, Affan."

Ia kemudian berlalu pergi.

"Hulya, dengarkan aku dulu."

"Aku nggak mau bicara sama kamu."

Affandy terus mengikuti langkah Hulya dari belakang.

"Aku minta maaf. Aku mengaku salah."

"Assalamualaikum."

Suara dari arah pintu membuat Hulya dan Affandy berhenti.

"Waalaikumsalam."

Keduanya menoleh bersamaan.

"Papa..."

Hulya langsung tersenyum bahagia ketika melihat kedua orang tuanya sudah tiba.

Pasangan suami istri itu menghampiri Irwan. Namun, setelah mereka berada di depan Irwan, seorang pria ikut masuk ke dalam rumah. Mata Affandy dan Hulya langsung membulat ketika melihat pria tersebut.

"Kenalin. Ini Vicky, anak teman Papa. Dia ada pekerjaan di sini. Daripada menginap di hotel, lebih baik tinggal di sini saja."

Vicky tersenyum. Namun, tatapan Affandy kepadanya terlihat sangat tajam hingga membuat Vicky sedikit canggung.

"Vicky."

Affandy justru mengulurkan tangan terlebih dahulu.

"Andy."

Ketika beralih kepada Hulya, Affandy langsung merangkul pinggang istrinya. Hal itu membuat Vicky mengurungkan niat untuk mengulurkan tangan kepada Hulya.

"Vicky."

"Hulya."

Hulya merasa takut. Ia khawatir Vicky akan mengatakan sesuatu tentang keadaan rumah tangganya kepada kedua orang tuanya.

"Mama kamu mana?" tanya Irwan.

"Mama ke kantor, Pa."

"Oh ... Ya sudah, Vicky. Kamu di sini dulu. Om harus ke kantor."

"Baik, Om."

"Hulya, bawa koper Papa. Jangan lupa antar Vicky ke kamar tamu."

"Iya, Pa."

[] [] []

Kini Hulya, Affandy, dan Vicky duduk di ruang tengah. Tidak ada percakapan di antara mereka. Namun, Affandy terlihat gelisah. Ia takut Vicky akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangganya kepada kedua orang tua Hulya.

"Mas mau minum apa?" tanya Hulya kepada Vicky.

"Nggak usah, Hulya. Saya nggak haus."

Affandy langsung terlihat tidak senang ketika mendengar istrinya menawarkan minuman kepada pria itu.

"Emmm ... Mas Vicky."

Vicky menoleh.

"Aku bisa minta tolong?"

"Tentu. Saya nggak pernah keberatan kalau kamu meminta tolong kepada saya."

"Jaga rahasia ini, ya. Jangan sampai Mama dan Papa tahu tentang masalah rumah tangga kami."

"Tapi—"

"Mas."

Vicky berhenti ketika Hulya memotong ucapannya. "Aku sayang sama suamiku. Aku cinta sama dia."

"Tapi dia sering kasar sama kamu."

Affandy langsung menatap Vicky.

"Nggak. Dia nggak kasar kalau aku nggak membuatnya marah."

"Kamu nggak pernah salah, Hulya. Dia saja yang nggak tau bagaimana cara menghargai kamu."

"Masalah kamu apa?" Affandy naik pitam. Ia berdiri dan menatap tajam ke arah Vicky.

"Affan, duduk."

"Kalau kamu mau bilang sesuatu, silakan! Kamu pikir aku takut?"

"Duduk!"

Affandy menepis tangan Hulya.

"Di rumah orang tua Hulya saja kamu berani bersikap kasar."

Affandy semakin kehilangan kesabaran. Ketika hendak mendekati Vicky, Hulya segera berdiri dan menggenggam lengannya.

"Jangan, Mas."

"Dia yang cari ribut, Hulya."

"Saya nggak pernah cari ribut sama kamu." Vicky berdiri. "Saya cuma mau bilang, kamu itu laki-laki yang nggak tahu berterima kasih."

Affandy kembali hendak melangkah, tetapi Hulya dengan sigap berdiri di hadapannya.

Ia menangkup wajah Affandy dan memaksanya menatap dirinya. "Jangan ... Aku pastikan Mama dan Papa nggak akan tau kalau kamu sering kasar sama aku."

Affandy kembali menepis tangan Hulya. Ia kemudian berlalu pergi dan masuk ke dalam kamar. Pria itu sangat kesal kepada Vicky karena merasa lelaki tersebut terlalu ikut campur dalam rumah tangganya.

"Mas, aku mohon banget ... Rahasiakan tentang ini."

Vicky menghela napas. "Untuk kamu, aku nggak akan bilang apa-apa kepada Om. Tapi kalau aku melihat dia kembali bersikap kasar sama kamu, aku nggak akan segan-segan menceritakan masalah rumah tangga kalian."

Hulya menundukkan kepala. "Aku permisi, Mas."

1
azzura faradiva
Thor..., please pemain perempuannya jgn di bikin lemah/menye².harus ambil sikap tegas menghadapi suami durjana macam dia,cerai aja udah!!!!
Mardzan J.: sabar sabar, baru juga beberapa part
total 1 replies
Tamirah
Kok ada suami model gini jadi istrinya kok yo betah,mbok ya minta cerai aja
Mardzan J.: sabar, nanti juga ada waktunya.
total 1 replies
azzura faradiva
kasih karma tu laki biar pedangnya karatan(impoten) biar ga banyak tingkah
Mardzan J.: sabar lho🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!