NovelToon NovelToon
Pak Bos, Tolong Lepaskan Aku!

Pak Bos, Tolong Lepaskan Aku!

Status: tamat
Genre:CEO / One Night Stand / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat / Mengubah Takdir / Wanita Karir / Office Romance / Tamat
Popularitas:28.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kartika

Di hari yang sama, **Kirana Halim** ditinggalkan kekasih empat tahunnya hanya karena dianggap "tidak selevel"—dan di hari yang sama pula, nomor teleponnya diserahkan sang ayah kepada penagih utang demi utang keluarga **Rp 2 miliar**. Malam itu, dalam keadaan mabuk dan hancur lebur, Kirana melakukan satu kesalahan fatal: tidur dengan bosnya sendiri—**Arka**, manajer dingin yang diam-diam diidamkan seluruh karyawati **PT Cakra Nusantara**.

Paginya, Kirana cuma ingin menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Tapi Pak Bos yang biasanya tak tersentuh itu malah berubah jadi pria yang tak sudi melepasnya.

"Anggap saja tidak pernah terjadi, Pak."
"Kamu terlalu manis. Mana bisa kulepas?"

Dari karyawan kontrak bergaji **Rp 6 juta**, Kirana bertekad naik dengan tangannya sendiri—memenangkan tender, diangkat jadi karyawan tetap, naik jadi manajer, sampai kursi direktur. Sementara itu, fitur **"JodohMatch"** di aplikasi Belio terus mencocokkan jodohnya sesuai penghasilan: dari satpam, pegawai kantoran… sampai akhirnya menunjuk pria yang sama—Arka.

Di antara mantan yang menyesal, saingan anak konglomerat, cinta lama yang tiba-tiba kembali, tekanan "bibit-bebet-bobot", dan badai keluarga yang merenggut segalanya, hanya satu hal yang tak pernah berubah: **Arka selalu memilih Kirana.** Dan Kirana? Ia bersumpah akan menjadi perempuan yang pantas—untuk Arka, dan untuk siapa pun.

Tapi kalau pada akhirnya takdir benar-benar mempertemukan mereka lagi… kira-kira, siapa yang akan melamar lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 027: Tiga Aturan

Senin pagi datang terlalu cepat.

Di mobil menuju kantor Cakra Wilayah Surabaya, Kirana duduk dengan laptop di pangkuan dan rambut yang sudah kembali rapi. Bandung tinggal aroma dingin yang menempel samar di cardigan-nya. Semalam ia tidur di pelukan Arka. Pagi ini, ia harus turun dari mobil yang sama dua blok sebelum kantor agar tidak dilihat siapa pun.

"Aku benci ini," kata Arka, tangan di setir.

Kirana meliriknya. "Kita baru mulai lima belas menit, kamu sudah protes."

"Karena aturanmu belum kamu sebutkan, tapi aku sudah merasakan dampaknya."

"Bagus. Berarti kamu siap mendengar."

Arka menghela napas panjang. Di kantor, napas seperti itu biasanya membuat satu divisi menegakkan punggung. Di mobil, Kirana hanya ingin tertawa.

Ia menutup laptop. "Tiga aturan."

"Aku tahu akan ada angka."

"Aturan pertama. Di kantor, kita tetap atasan dan bawahan. Tidak ada perlakuan khusus. Aku lapor pekerjaan seperti biasa, kamu koreksi seperti biasa. Kalau aku salah, kamu tegur."

"Kalau aku ingin memuji?"

"Pakai bahasa kerja."

"Kamu cantik sekali, Bu Koordinator, secara profesional."

"Arka, jangan dramatis begitu."

"Baik. Lanjut."

Kirana menahan senyum. "Aturan kedua. Rahasia dulu. Bukan karena aku malu, tapi karena aku tidak mau semua orang mengubah kerja kerasku menjadi gosip dekat dengan bos. Sensor IoT, formasi, jabatan, semua itu harus tetap berdiri dengan kakiku sendiri."

Wajah Arka menjadi serius. "Aku setuju."

"Jangan setuju terlalu cepat. Kamu paling tidak suka bersembunyi."

"Aku tidak suka kamu disembunyikan."

Kalimat itu mengenai tempat paling lembut di dada Kirana. Ia menoleh ke jendela sebentar, melihat jalan Surabaya yang mulai padat.

"Aku juga tidak mau selamanya begini," katanya pelan. "Tapi beri aku waktu."

"Aku beri."

"Dan jangan diam-diam mempermudah pekerjaanku."

Arka menoleh. "Itu termasuk aturan?"

"Termasuk martabat."

"Kalau memang kamu butuh bantuan?"

"Aku akan minta. Kalau aku tidak minta, kamu tunggu."

Arka tampak tersiksa oleh kalimat itu, tetapi akhirnya mengangguk. "Baik. Aku tunggu sampai diminta. Walau mungkin sambil sangat menderita."

"Aturan ketiga." Kirana kembali menatapnya. "Kalau ada yang mendekati salah satu dari kita, tidak boleh abu-abu. Bilang sudah ada yang punya."

Arka mengangkat alis. "Aku suka aturan ini."

"Aku tahu kamu akan suka bagian posesifnya."

"Ini bukan posesif. Ini efisiensi komunikasi."

"Kamu boleh pakai istilah itu di notulen."

Mobil berhenti di tepi jalan kecil dekat gedung sebelah. Kirana membuka sabuk pengaman, tetapi Arka menahan pergelangan tangannya.

"Aku menerima tiga aturanmu," katanya. "Dengan catatan."

"Apa?"

"Kalau aturan itu mulai menyakiti kamu lebih dari melindungi kamu, kita ubah."

Kirana diam sebentar. Lalu ia mengangguk. "Setuju."

Arka melepas tangannya. Saat Kirana turun, ia sudah kembali memakai wajah Pak Arka yang dingin. Hanya matanya yang masih tertinggal di Bandung.

***

Pantry kantor punya cara sendiri untuk menyambut Senin.

Aroma kopi instan, suara dispenser, dan bisik-bisik yang pura-pura pelan bercampur jadi satu. Kirana baru saja menaruh tas di meja ketika suara Mbak Yanti melayang dari dekat rak gelas.

"Eh, dengar-dengar Pak Arka Jumat kemarin cuti setengah hari, ya?"

Wanda menjawab dengan nada ringan yang terlalu tajam. "Mungkin urusan keluarga. Orang penting kan jadwalnya beda."

"Bu Kirana juga kelihatan segar hari ini."

Jari Kirana berhenti di mouse. Ia tidak menoleh. Aturan kedua, pikirnya. Rahasia dulu. Bernapas dulu.

Ia membuka file progres Proyek Sensor IoT Dishub dan menyiapkan laporan mingguan. Angka Rp 2,98 miliar di halaman pertama menjadi jangkar yang menenangkan. Pekerjaannya nyata. Namanya ada di sana bukan karena siapa yang memeluknya semalam, tetapi karena ia yang menyusun vendor comparison, menahan revisi harga, dan memenangkan tender kecil itu dengan kepala sendiri.

"Bu Kirana," suara Sandi muncul dari belakang. "Pak Arka minta laporan Sensor IoT jam sepuluh."

Kirana berdiri. "Baik, Pak Sandi. Saya siapkan."

Sandi melihatnya setengah detik lebih lama daripada biasa. Bukan menilai, lebih seperti menyusun potongan puzzle yang belum boleh ia akui.

"Bandung dingin, ya?" katanya pelan.

Kirana hampir menjatuhkan pulpen.

Sandi langsung mengangkat map seolah tidak terjadi apa-apa. "Maksud saya, cuaca Jawa Barat. Saya lihat berita."

Kirana menatapnya datar. "Pak Sandi rajin baca berita cuaca."

"Tugas pendukung manajemen, Bu."

Ia pergi sebelum Kirana sempat membalas. Dari ruangannya, Arka muncul tepat saat Sandi lewat. Dua pria itu bertukar tatapan singkat.

"Sandi," kata Arka rendah.

"Baik, Pak. Saya tidak tahu apa-apa."

"Saya belum bilang apa-apa."

"Saya antisipasi."

Arka memejamkan mata sebentar. Kirana menunduk agar senyumnya tidak terlihat.

Jam sepuluh, ia masuk ruang Arka dengan tablet dan laporan cetak. Pintu dibiarkan terbuka setengah, sesuai kebiasaan rapat internal singkat. Aturan pertama berdiri di tengah ruangan seperti meja tambahan.

"Pak Arka, update Sensor IoT sudah saya kirim ke e-mail. Instalasi titik uji coba masih sesuai jadwal. Vendor meminta perubahan termin, tapi saya rekomendasikan ditolak sampai acceptance test selesai."

Arka duduk di balik meja, jas gelapnya rapi, wajahnya tanpa sisa pria yang semalam tertawa di rambut Kirana.

"Alasannya?"

"Risiko cashflow ada di vendor. Kalau kita longgarkan termin sebelum uji terima, posisi negosiasi melemah."

"Alternatif?"

"Termin tetap, tapi kita percepat review dokumen teknis dua hari. Mereka dapat kepastian, kita tidak kehilangan kontrol."

Arka menatap laporan, lalu mengangguk. "Masuk akal. Buat notulen dan kirim ke legal."

"Baik, Pak."

Ia harusnya keluar. Tetapi Arka menggeser sebuah folder merah ke ujung meja.

"Tambahkan lampiran ini."

Kirana mengambilnya. Di sudut map, ada sticky note kecil bertuliskan satu kata: pacarku.

Wajahnya nyaris terbakar.

"Pak Arka," katanya dengan suara sangat formal.

"Ada masalah, Bu Kirana?"

Matanya bahkan tidak berkedip. Kejam.

"Tidak. Lampirannya akan saya proses."

"Bagus."

Kirana berbalik dengan langkah paling tenang yang bisa ia kumpulkan. Di luar ruangan, Sandi berdiri dengan berkas lain di tangan. Matanya turun ke map merah, lalu naik ke wajah Kirana yang terlalu rapi.

"Saya tidak lihat sticky note," kata Sandi.

Kirana membeku. "Pak Sandi."

"Saya juga tidak bisa membaca warna merah. Buta warna selektif."

Dari dalam ruangan, suara Arka terdengar kering. "Sandi."

"Baik, Pak."

Kali ini Sandi benar-benar pergi, tetapi sudut mulutnya jelas menahan senyum.

Sepanjang siang, tiga aturan itu bekerja seperti tali tipis. Di ruang rapat, Kirana menyebut Arka "Pak" tanpa tersandung. Arka mengoreksi slide-nya tanpa melunak. Saat Wanda masuk mengantar dokumen, jarak mereka cukup aman untuk tidak memberi bahan cerita. Saat Mbak Yanti bertanya apakah Kirana mau ikut makan siang di kantin, Kirana ikut, tertawa secukupnya, dan tidak menyentuh ponsel ketika pesan Arka masuk.

Arka: Kamu terlalu patuh pada aturan pertama.

Kirana: Kamu yang menyetujui.

Arka: Saya menyesal secara profesional.

Kirana menggigit bibir agar tidak tersenyum di depan Mbak Yanti.

"Ada apa, Bu?" tanya Mbak Yanti.

"Vendor," jawab Kirana cepat. "Lucu sekali alasannya."

Wanda melirik. "Vendor sekarang memang pintar cari perhatian."

Kirana mengangkat gelas. "Yang penting kontraknya tetap jelas."

Kalimat itu terdengar seperti jawaban kerja. Padahal di kepalanya, ia sedang mengulang aturan ketiga.

Sore hari, ketika kantor mulai lengang, Sandi masuk ke ruang Arka sambil membawa surat edaran HRD. Kirana kebetulan sedang berdiri di depan meja Arka untuk meminta tanda tangan revisi notulen.

"Pak, ini agenda employee engagement bulan depan. Outbound kantor wilayah. HRD minta Divisi IS ikut penuh karena proyek Sensor IoT dianggap success story."

Arka menerima berkas itu. Kirana melihat sekilas daftar konsep acara: outbound, team challenge, hiking ringan, sesi apresiasi proyek.

Lalu matanya berhenti pada catatan peserta lintas divisi.

Market Development: Raditya Wibowo.

Strategic Partnership: Felicia Gunawan.

Aturan ketiga baru berumur kurang dari sehari.

Kirana dan Arka saling menatap, sangat singkat, sangat tenang, terlalu profesional untuk ukuran dua orang yang jantungnya sama-sama berubah ritme.

Sandi berdeham kecil. "Saya... sepertinya perlu menyiapkan kopi lebih banyak untuk acara itu."

1
harianti hasanuddin
👍
Normida Naibaho
Mksh cefitanya tbor..👍
Linda Nuraini
ceritanya bagus banget 👍👍
🌹 Mommy caeeeem 😍
novel semenakjubkan begini kok sepi pembaca sih,, heran deh akoh,,,
woyyyyyyyy,,,buruan,,,,ayo baca novel ini,,, sumpah,,, bagus banget ceritanya,,,
Ira Widiyastuti
Terima kasih sudah membuat cerita yang bagus
aisiteru
ceritanya menarik walaupun harus mikir alurnya
aisiteru
cerita ini udah tamat ato blm thor? aku tunggu up tp g ada
Kam1la
💪💪👍, hebat langsung sehari jadi banyak bab....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!