NovelToon NovelToon
Angkot Jemputan

Angkot Jemputan

Status: tamat
Genre:Misteri / Supernatural / TKP / Roh Supernatural / Matabatin / Horor / Tamat
Popularitas:12.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Muka Kanvas

Namanya Aditia, saat ini dia berumur 21 tahun seorang Mahasiswa dan juga supir angkot.

Pada umur Aditia yang ke 18 tahun, ayahnya sakit-sakitan dan akhirnya kritis karena penyakit yang sampai sekarang menjadi misteri bagi keluarga mereka, tapi bukan itu yang membuat hidup Aditia berubah, Aditia seorang anak muda milenial harus memegang amanah dari ayahnya, amanah yang jika siapa pun mendengarnya akan tertawa bahkan menghina.

“Nak, kemudikan angkot ini, terima semua jenis penumpang dan antarkan mereka dengan segala keperluannya.” Itu pesan terakhir ayahnya.

Awalnya Aditia takut, tapi setelah membantu beberapa 'makhluk' yang tersesat, akhirnya Aditia sadar, amanah ayahnya adalah tanggung jawab yang telah Tuhan berikan pada kami yang terberkahi.

Ya, yang harus Aditia antar jemput bukan hanya penumpang manusia, tapi 'mereka-mereka', yang jiwanya tersesat, ruh yang tidak terlihat mata awam.

Dari sanalah kisah Aditia berawal, sang supir penjemput jiwa yang tersesat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 27 : Kuntilanak Merah 2

Pak Efendi membuka pintu gedung begitu jam sudah menunjukan pukul 7 pagi, setelah dibuka, biasanya Office Boy akan datang mulai mengerjakan pekerjaannya.

Saat Pak Efendi masuk ke dalam dan menyalakan lampu, dia langsung terkejut, ada seseorang yang bersandar pada meja resepsionis, bersandar dan terduduk di lantai.

“Pak Abdul! Pak, kok di sini?” Pak Efendi membantu Pak Abdul berdiri. Sementara Pak Abdul hanya terdiam menatap dengan kosong ke arah depan.

Pegawai lain sudah mulai ada yang datang, begitu melihat Pak Efendi sedang mencoba menenangkan Pak Abdul, mereka jadi penasaran.

“Pak Fendi, itu Pak Abdul kenapa?”

“Nggak tau Mas, ini saya temuin duduk di lantai nyender di meja resepsionis.”

“Wah, nggak pulang Pak Abdul? itu bajunya masih sama ama yang kemarin?”

“Oh iya ya, masa nggak pulang, orang kemarin udah kosong kok gedung. Tapi ….”

“Pak, Pak, sadar Pak.” Pak Efendi berusaha untuk menyadarkan Pak Abdul yang terlihat seperti orang linglung.

Seseorang yang merupakan pegawai salah satu tenant di gedung ini menghampiri Pak Abdul, pegawai ini terkenal dengan sebutan Ustad.

“Pak, ada air putih?” Lelaki yang terkenal Ustad itu bertanya.

“Ada, sebentar saya ambilkan.” Pak Efendi berlati mengambil air mineral dalam kemasan botol.

Lalu air itu diberikan kepada lelaki itu, air dalam botol itu dibuka, lalu dibacakan lantunan ayat suci Al Quran, setelah itu, airnya diminumkan paksa ke Pak Abdul, setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Pak Abdul pingsan.

“Bawa ke klinik kantor Pak.” Lelaki itu meminta beberapa orang mambantunya untuk membawa ke klinik kantor. Hal ini juga dilakukan untuk mencegah  Pak Abdul menjadi tontonan para pegawai tenant.

Begitu sudah sampai di Klinik, Pak Abdul mulai sadar, dia terlihat ketakutan. Pak Efendi masih menemani Pak Abdul, sementara jadwal piketnya sudah selesai, jadi ada yang menggantikannya menjaga pos.

“Mas Umar, ini Bapak kenapa ya?” Rupanya nama lelaki itu adalah Umar, dia adalah seorang pegawai bagian IT pada salah satu tenant, memiliki kemampuan yang baik dalam soal agama dan mungkin juga ilmu ghaib, sepertinya Pak Efendi tahu itu, makanya dia bertanya.

Klinik hanya tinggal tiga orang, tidak ada siapapun lagi. Dokter jaga hanya ada di hari senin dan jumat.

“Pak Abdul, Bapak semalam tidak pulang?” Mas Umar bertanya.

“I-iya.”

“Bapak kenapa? bisa ceritain ke saya?” Mas Umar duduk di sampingnya, sementara Pak Efendi duduk di ranjang samping lainnya.

“Hmmm.” Ada keraguan di hati Pak Abdul untuk menceritakan ini semua, dia takut kalau sampai pihak tenant tahu apa yang ada di gedung ini, mereka pasti akan enggan berkantor di gedung ini.

Melihat keraguan pada Pak Abdul, akhirnya Mas Umar membuka suara terlebih dahulu.

“Pada saat kami pindah untuk pertama kalinya ke sini, saya sudah merasa ada yang salah dengan gedung ini.”

“Oh ya Mas? emang ngerasa apa, Mas?” Pak Efendi terlihat penasaran.

“Saya ngerasa kalau gedung ini terasa panas, saat memasuki lift saya merasa sesak dan sedikit bau. Walau saya tahu, ini gedung baru, semua peralatannya pasti baru, ditambah, ada pengharum ruangan di lift tersebut. Jadi seharusnya bau anyir tidak akan terasa.” Mas Umar berbicara kepada kedua lelaki itu.

“Bau anyir?” Pak Efendi seperti teringat sesuatu.

Pak Abdul lalu terlihat pucat, sedetik kemudian dia akhirnya menghembuskan nafas yang berat.

“Saya bertemu dengan setan itu, setan merah. Sebenarnya gedung ini tidak boleh dibangun oleh pemilik tanah, tapi setelah dia meninggal, gedung ini akhirnya diperbolehkan dibangun oleh ahli warisnya.

Banyak gangguan yang kami alami saat pembangunan, akhirnya saya melakukan ritual, ritual itu membuat tanah ini sedikit tenang.”

“Tidak ada kemusrikan yang membuat tenang, Pak.” Mas Umar membantah.

“Iya, saya fikir ini ketenangan, tapi sepertinya, itu hanya penyangkalan dari saya, banyak pekerja kami yang menjadi korban. Tapi masalahnya, pembangunan gedung ini terlau banyak memakan biaya, jadi kami memutuskan untuk tetap menjalankan pembangunan itu. Setelah bangunan jadi, kami akhirnya bisa menyewakan ruangan untuk dijadikan kantor oleh para tenant. Tapi sepertinya gangguan ini tidak akan berakhir.”

“Bapak sudah tahu, tanah apa ini?” Mas Umar bertanya.

“Belum, karena dukun yang saya mintakan tolong melakukan ritual, akhirnya meninggal dunia dengan cara yang aneh.”

“Meninggal kenapa, Pak?” Pak Efendi bertanya.

“Dia tidak sakit, karena ketika dibawa ke rumah sakit, pihak rumah sakit menyatakan tubuh Dukun itu baik-baik saja, tapi seluruh tubuhnya menghitam, sampai kuku-kuku tangan dan kaki ikut menghitam, akhirnya Dokter sepakat memberinya diagnose alergi, walau obat yang diberikan tidak banyak membantu, akhirnya Dukun itu meninggal karena tidak mampu makan dan minum lagi.”

“Berarti itu gangguan jin, kemungkinan dia telah melakukan hal yang salah dan cukup fatal. Atau dia telah salah, memilih korban.”

“Maksudnya Mas?” Pak Abdul bingung.

“Setiap tanah yang tidak boleh dibangun, biasanya adalah tanah perjanjian, tanah tersebut diberikan kepada jin yang telah membantu seseorang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, tanah ini saksi atas kesyirikan yang telah dilakukan oleh sang empunya. Wajar jika tanah ini terasa panas.” Mas Umar mengemukakan pendapatnya.

“Tanah perjanjian?”

“Ya Pak Abdul, tanah ini dijadikan tumbal oleh si pemilik agar Jin memiliki tempat untuk tinggal. Seperti manusia, jin juga butuh tempat tinggal. Ketika tempat ini akhirnya dijadikan tumbal atas perjanjian pemilik tanah, maka tanah ini haknya si Jin tersebut, walau cara yang mereka lakukan dalam bertransaksi itu salah dan bisa dilaknat Allah. Makanya seharusnya dari awal, Pak Abdul tidak usah ikut membantu pembangunan ini. Tapi sudah lewat, sudah terjadi, gedung sudah jadi. Saya tidak yakin juga, apakah kita semua akan mampu lama ngantor di gedung ini, semoga tidak akan ada kejadian lagi ….”

Brak!!!

Pintu klinik ditutup dengan kasar, Mas Umar melihat ke arah pintu, tidak ada orang. Dia akhirnya memutuskan mendekati pintu dan mencoba membukanya.

“Tidak bisa dibuka.” Mas Umar berusaha membuka pintu itu.

Saat berusaha membuka pintu, Pak Efendi berteriak, dia melihat Pak Abdul mencekik dirinya sendiri, Pak Efendi berusaha untuk melepaskan tangan dari lehernya Pak Abdul, sementara wajah Pak Abdul sudah mulai memerah.

Ruangan terasa sangat panas, hanya dalam beberapa detik, keringat sudah mengucur dari pelipis tiga orang tersebut, padahal mesin pendingin nyala maksima.

Mas Umar langsung berlari ke arah Pak Abdul dan menarik tangan itu, tapi tidak berhasil, tangannya sangat kencang.

Sudah tahu ini tidak akan mampu membantunya, akhirnya Mas Umar kembali membacakan ayat-ayat Ruqyah. Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka sama kasarnya dengan saat menutup tadi, lalu Pak Abdul sudah tidak mencekik dirinya sendiri.

“Mas Umar, tolong saya, Mas.” Pak Abdul akhirnya menangis seperti anak kecil, dia bilang bahwa tadi perempuan bergaun merah darah mencekiknya, sementara yang terlihat adalah dia mencekik dirinya sendiri.

“Pak Abdul, bukan saya yang bisa menolong Bapak, tapi Allah, Pak Abdul jangan mencampuri urusan orang yang telah syirik. Jelas bahwa ahli waris tidak mengetahui apa yang telah orang tua mereka lakukan, makanya mereka gampang saja jual tanah ini. Ini sama saja, kalau Pak Abdul masuk rumah orang sembarangan, merubuhkan rumah mereka dan akhirnya menjadikan rumah mereka sebagai rumah Pak Abdul, jelas mereka marah, karena tanah ini adalah tanah pertukaran untuk kesyirikan mereka, wujud dari keberhasilan mereka menyeret sang pemilik ke neraka. Pak Abdul mau ikut ke sana juga?” Mas Umar terdengar kesal mendengarnya, karena dia harus ikut terseret ke dalam kejadian menakutkan barusan.

“Saya harus apa Mas Umar?”

“Bertobat, sisanya biar Allah yang tunjukan jalan. Yang pasti saya akan menyarankan kantor untuk segera pindah, karena saya sudah sering sekali mengalami kejadian yang menakutkan.”

Lalu Mas Umar pergi meninggalkan Pak Abdul dan Pak Efendi.

1
Erika Erika amalia putri
mngkin marni meninggal krena d guna2 sama pak lurah/ d lecehkan
Erika Erika amalia putri
seorang karisma jagat
Erika Erika amalia putri
ga juga,ada yg kaya dr warisan orang tua,ada yg kaya jg krena giat jg jujur dlm bekerja
Erika Erika amalia putri
kaya jg percuma klau nyawa kita taruh anya
Erika Erika amalia putri
jangankan pak dirga,saya aja sampe terkejut pas tau kekayaan klyarga alya sampai hampir 100 trilyun
Erika Erika amalia putri
tentu saja melaporkan setelah dpt bukti yg kuat
Erika Erika amalia putri
lanjut
Erika Erika amalia putri
mulai baca lg dr awal,smpt lupa alur ceritanya.dulu lupa sampai mana baca terakhir
Nuzul Lina
menarik
Shofia Febrianti
Mulyana udah ditandain Abah krn murni dan suci, Drabya udah mau metong dan msh punya Abah Wangsa, jd ke Aep deh krn dia dendamnya besar dan gapunya khodam. Jin kan suka yg auranya gelap dan tinggi, aplg jin jahat
Shofia Febrianti
ih geli, Dirga ternyata lucu juga😂
Shofia Febrianti
ga nyangka.. pantes Abah sm Aep punya rahasia ternyata ini jg salahsatunya
Shofia Febrianti
kirain aku mah krn Mulyana auranya aur auran dan suci gt, ternyata krn bapaknya pekok🤭
Shofia Febrianti
sisi gelap Drabya😭
Shofia Febrianti
Suko, Mojokerto, Jatim
atau Gurah, Kediri, Jatim
Shofia Febrianti
ingettt, yg pura² jd ibunya trs nyambut di luar gerbang rumah. trs ngeiyain bhw mulyana itu kakaknya aep, pdhl salah😁
Shofia Febrianti
aku searching tp nemu bbrp cuma bukan desa..
ada Jamp*** di Like-Earth, Jawa Barat
Bant**
Banyuw****
Suku Day** (Pulau K)

spesifik desanya sih blm ketemu, tp jd penisirin😌
Shofia Febrianti
salah sama Deden, korban salah tangkap Dirga
Shofia Febrianti
knp ga tanya Ayah dulu Mulll
Shofia Febrianti
lalu... readersnya penasaran😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!