Sejak kejadian kebakaran itu, Arga Mahendra jatuh cinta pada gadis yang menyelamatkan hidupnya. Amira, gadis belia yang masih berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku kelas XII SMA.
Keduanya kemudian terlibat dalam hubungan terlarang, dimana Amira diam-diam menikahi Amira tanpa sepengetahuan Stella yang tak lain adalah istri sahnya.
Lantas bagaimana kehidupan mereka ? Siapakah yang akan Arga pertahankan dalam hidupnya ? Amira atau Stella ? Disaat Stella sudah sembuh dari penyakit gangguan mentalnya.
Simak ceritanya di novel "Istri Simpanan Guruku" karya Dewi KD, jangan lupa berikan like dan komentar kalian untuk mendukung author 🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi KD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
“Jadi apa yang ingin Kau katakan ?” tanya Amira menatap Arga dengan melipat kedua tangannya.
“Sederhana ! Aku ingin Kau kembali ke sekolah !” balas Arga menangkup wajah Amira.
“Ah…Aku malas sekali untuk sekolah lagi !” jawab Amira ketus.
“Ya, sekarang Kau bisa bilang begitu. Nanti setelah teman-teman mu lulus sekolah. Kau pasti sangat menginginkannya !” kata Arga.
Amira menghela nafasnya, sekolahnya hanya tersisa enam bulan lagi setelah itu ia tamat sekolah. Seharusnya Amira tetap sekolah dan melanjutkan pendidikannya.
Amira nampak memikirkannya,
“Aku sudah lama meninggalkan sekolah, bahkan Aku meninggalkan masa ujian Ku !” keluhnya
“Kau bisa mengikuti ujian susulan !” jawab Arga pelan.
“Aku pasti tidak dapat lagi juara kelas ! Dan Jenny serta para kurcacinya dikelas Ku pasti tertawa begitu lebar, semakin mengejek Aku !” kata Amira cemberut.
“Kau selalu menjadi juara di hati Ku dan Ibu mu, Sayang ! Ayolah ! Aku akan selalu mendukungmu, semester depan Kau pasti bisa meraihnya kembali !” kata Arga menggenggam tangan Amira.
Amira menatap langit-langit kamarnya, ia diam dan semakin memikirkannya.
“Baiklah ! Aku akan kembali ke sekolah. Sementara Kau juga harus menyelesaikan urusanmu dengan Stella dan orang tuamu !” ucap Amira menoleh pada Arga.
Arga pun menganggukkan kepalanya. Amira memeluk Arga dan Arga membalas pelukan Amira dengan mencium pucuk kepala Amira dengan lembut.
Keesokan harinya,
Herlya yang tengah membuat sarapan tiba-tiba tertegun dan juga bahagia melihat putrinya turun dari lantai atas dengan menggunakan pakaian sekolahnya.
“Sayang ! Kau mau sekolah ?” tanya Herlya dengan perasaan bahagia.
“Iya, Bu !” jawab Amira pelan.
“Ibu senang sekali, Sayang ! Ayo kita sarapan, Ibu sudah memasak sarapannya !” ajak Herlya dengan penuh semangat.
“Ibu tidak mengajak Arga juga untuk sarapan ?” tanya Amira pelan.
Herlya terdiam dan tersenyum mengejek, bersamaan dengan itu Arga menuruni anak tangga bersiap untuk pulang ke rumahnya.
“Apa maksudmu, Sayang ?” tanya Herlya
“Ya, Aku bertanya apa Ibu juga tidak mengajak Arga untuk sarapan ?”
“Tidak perlu Amira ! Aku juga harus segera pulang.” Jawab Arga
“Oh baguslah ! Silahkan pulang kalau Kau mau !” ucap Herlya dengan santainya.
Amira yang mendengarnya hanya bisa menghela nafasnya dan membuang muka.
“Sesuai perjanjian ! Kau harus menyelesaikan urusanmu dengan istri dan keluargamu, baru Aku bisa menerima mu dirumah ini ! mulai hari ini Kau ku larang menemui putriku di rumah ini !” kata Herlya dengan tegas.
Arga yang mendengarnya pun bersikap biasa saja, namun ia tetap ber mawas diri. Ia pun tahu bagaimana perasaan Herlya akan kekhawatirannya pada Amira. Pun hanya bisa pasrah dan menerima semuanya.
“Nyonya tenang saja ! Aku akan segera menyelesaikan semuanya, dan membawa Amira nantinya !” kata Arga dengan pelan.
Herlya hanya diam dan membuang muka,
“Sayang, Aku pergi. Aku berjanji akan segera kembali padamu secepatnya !” kata Arga dengan suara beratnya menggenggam tangan Amira.
Sedangkan Herlya kembali ke dapur menyelesaikan masakannya.
“Baiklah ! Aku akan menunggu mu !” jawab Amira dengan lembut.
Mereka pun berpisah, Amira hanya bisa menatap punggung Arga yang menghilang di balik pintu rumahnya.
“Sudah jangan terlalu mendramatisasi ! Makan sarapan mu ! Kau harus berangkat ke sekolah, Amira !” ucap Herlya membuat Amira tersadar dari lamunannya.
“Ibu, seharusnya tidak bicara begitu kasar pada Arga !” kata Amira mendudukkan dirinya di kursi makan.
“Memang Ibu seperti ini kalau bicara, jadi Ibu harus bagaimana ?” protes Herlya yang tidak suka di komentari.
Amira hanya bisa menghela nafasnya, dan memakan saja sarapan yang sudah tersedia di atas meja makan.
...****************...
bukan seorang ibu yang baik.
napsu jadinya....
gimana rasanya posisi Dia menjadi Amira.
nanti juga akan ada balasannya.
tetep Amira pertahankan..Libas saja jalang mah. jangan kasih ampun.
apa sekama ini pura2 sakit jiwanya.
jadi aja jiwanya bener2 sakit.