" Aku lelah menjalin hubungan dengan siapapun, jika kamu serius, langsung ke orang tuaku saja dan lamar aku " Ucapan seorang gadis yang begitu lantang saat menolak didekati oleh seoarang pria.
Annisa Larasati adalah seorang Bidan muda yang cantik, ramah dan periang. Namun tidak ada yang tahu bahwa dibalik itu Laras menyimpan banyak luka didasar hatinya. Masalalu yang begitu kelam,. sebuah penghianatan dimasa silam, memaksanya untuk mengunci rapat-rapat hatinya dari siapapun.
Hingga suatu hari Laras bertemu dengan Adi Prasetyo Irawan yang sedang melakukan cek up di
Rumah Sakit. Pertemuan pertama itu rupanya membekas dihati Adi. sehingga ia berniat mendekatkan dirinya pada Bidan yang telah mencuri perhatiannya diawal bertemu.
Bagaimana perjuangan Adi dalam meluluhkan hati Laras?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Jadhoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha Adi Part 2
***Aku tidak pernah menyangka akan jatuh cinta secepat itu pada gadis yang baru kukenal beberapa detik saja. Entah mengapa saat menatap matanya ada begitu banyak luka disana... Dan itu membuatku tertarik untuk menjadi penawar bagi lukanya.
(Adi Prasetyo Irawan***)
Laras berkumpul kembali bersama para sahabatnya. Setelah lelah yang mereka jalani seharian di rumah sakit, akhirnya mereka bisa bersantai bersama lagi. Mereka berempat sedang asik menikmatin berbagai cemilan dan minuman dingin. Sesekali mereka tertawa cekikikan saat salah satu dari mereka bercerita tentang pengalaman mereka yang menarik ketika bekerja. Maklumlah, tugas mereka masing-masing berbeda.
" Untung lah anak magang itu nggak bawa pasien aku ke kamar mayat,," ucap Zahra saat bercerita tentang ada anak magang yang hampir salah masuk kamar ketika sedang membawa pasien rawat inap.
" Gimana ceritanya sih sampai bisa kekamar mayat? emang nggak ada tulisannya pas diatas pintu ?" tanya Dian
" Ada,, tapi tulisannya kebalik jadi anak magang itu susah baca.. Bangsal 12 kan dekat dengan kamar itu " jawab Zahra
" Lah, untung kamu cepat datang yah Za,, entah gimana syoknya pasien kamu saat tau kalau anak magang itu hampir membawanya ke kamar mayat " ucap Laras
" Mungkin akan langsung ****** karena sesak nafas tu pasien kamu Za " Sukma menimpali
" iya,, mana dia ada riwayat penyakit jantung lagi,," ucap Zahra
" Hahahhaha,, hampir aja kamu sama tim kamu dituntut kalau sampai terjadi apa-apa sama pasien kamu Za " ucap Laras
" Untungnya Tuhan masih sayang sama aku Ras, jadi aku datang tepat waktu... Hufftt hampir aja karir aku berakhir" ucap Zahra dan semua sahabatnya tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Semua seketika menoleh dan mendadak senyap.
" Eh ada orang ketuk-ketuk pintu " ucap Dian
" Apa mungkin ibu kost kita?" Zahra menimpali.
" Tapi buat apa Ibu kost kemari, bukannya kita udah bayaw sewa rumah ini selama setahun ?" Sukma ikut bicara.
" Hem,, daripada kalian merandai-andai, mending aku bukain pintu dulu,, mana tau itu bukan Ibu kost, melainkan jodoh yang datang tepat pada waktunya. " ucap Laras yang langsung beranjak dari duduknya.
" Cieee,,, udah pengen jodoh lagi tuh si Laras "
" Cieeeee hahahhaha"
Laras tak menghiraukan ocehan para sahabatnya, ia berlalu untuk segera membukakan pintu.
Saat Laras membuka pintu, alangkah terkejutnya ia saat melihat siapa yang tiba-tiba datang bertamu.
" Mas Adi... ?" ucap Laras
" Hai Laras " sapa Adi, Laras terlihat bingung saat melihat seseorang yang datang tiba-tiba ketempat tinggalnya. Apa mungkin orang ini salah alamat? Begitu pikirnya.
" Mas Adi sedang apa disini? Mas nggak lagi nyasar kan?" tanya Laras
" Nggak Laras,, kedatanganku kemarin karena ada perlu." jawab Adi, Laras nampak berpikir, namun dengan segera ia menyuruh pria itu masuk kedalam.
" Ada perlu apa Mas?" tanya Laras
" Apa aku ganggu waktu istrahat kamu, kalau kamu sedang sibuk, biar lain waktu saja kita bicara " jawab Adi
" Kebetulan aku nggak sibuk Mas, memangnya ada apa?"
" Laras ini tentang Mira, aku ingin membahas tentang Mira sama kamu"
"Mira? Maksud Mas Adi Dokter Mira?" Adi mengangguk. " Oh, kenapa dengan Dokter Mira Mas?" tanya Laras
" Kamu kan asisten Dokter Mira, jadi aku pikir tepat buat aku bicara soal ini sama kamu, mungkin kamu lebih dekat dengannya " jawab Adi
Apa mungkin Mas Adi mau melamar Dokter Mira? tapi setauku kan, Dokter Mira sudah punya tunangan, dan bulan depan akan menikah. Batin Laras
" Laras?" panggil Adi
" Eh iya Mas "
" Kamu sedang mikir apa?" tanya Adi
" nggak ada Mas,,, tapi bukannya Dokter Mira sudah punya tunangan yah Mas,, nggak mungkin kan Mas mau merusak hubungan Dokter Mira dan tunangannya " ucap Laras, ia langsung memprediksi niat Adi, yang belum jelas kebenarannya.
" Hahahha,, Laras kamu ini polos sekali, aku tau itu,, aku hanya ingin minta bantuan kamu,, meski aku berteman lama dengan Mira, aku tidak banyak tau apa yang dia suka dan tidak,, jadi aku minta tolong sama kamu " ucap Adi, sebenarnya ini adalah bentuk usaha Adi untuk lebih dekat dengan Laras. Melalui Mira, ia bisa lebih leluasa berhubungan sesering mungkin dengan Laras. Padahal tidak mungkin Adi tidak tau banyak tentang dokter Mira, sebab itu hanya alasan saja.
Maaf Mira,, terpaksa aku harus menjual namamu hanya untuk bisa melancarkan usahaku dalam mendekati Laras.
" Oh,, jadi apa yang bisa aku bantu Mas?" tanya Laras.
" Aku mau, kamu cari tau apa yang di sukai Mira, aku ingin memberi kado yang berbeda dihari pernikahannya bulan depan " Jawab Adi. Laras nampak berpikir sejenak.
" Kamu bisa tolong aku kan Laras ?" sambungnya lagi.
" Eh,, bisa kok Mas,,InsyaAllah " ucap Laras
" Ah syukurlah,, terimakasih karena kamu sudah mau membantuku " Laras mengangguk menampilkan senyum manis diwajahnya, dan itu sukses membuat Adi terpana.
" Emmm, Laras, boleh aku minta nomor ponsel kamu?"
" Untuk apa Mas?"
" Untuk memudahkan aku berkomunikasi sama kamu " Laras sekali lagi berpikir dengan ucapan Adi.
" Eh, Maksud aku, supaya aku lebih bisa dapat info mengenai Mira dari kamu, jadi aku nggak perlu menemui kamu untuk tau apa yang disukai Mira " Adi meralat ucapannya.
" Oh,,boleh kok Mas " demi apapun rasanya Adi ingin melompat kegirangan, langkahnya untuk menemui Laras tidak sia-sia, meski dengan berbagai alasan, bahkan sampai harus menjual nama sahabatnya. Dab beruntungnya Laras yang polos itu tidak curiga sedikitpun kepadanya.
Ah,, untung saja kamu tinggal didejat rumah sakit tempat kamu bekerja, dan tidak sia-sia usaha aku selama ini selalu mencari tau tentang keberadaan kamu.
Bersambungggggg......
Selesai baca tolong like or komen yah... beri bentuk penghargaan kalian kepada Author meski tanpa vote....