Gara-gara bola basket nyasar, Matahari Senja harus berurusan dengan si badboynya SMA Air langga, pentolan geng Atlantis yang terkenal hobi tawuran, playboy dan balap motor. Batara Matahari namanya
Matahari, nama mereka sama. Takdir keduanya pun hampir sama untuk dituntut sempurna. Tapi takdir tak semudah itu untuk membuat mereka bersatu. Matahari Senja dan Batara Matahari dengan luka mereka masing-masing, bisakah menyembuhkan satu sama lain?
.
Jangan lupa like, komen dan vote...🙏❤️
Follow ig author : @mukarromatul28
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukarromah Isn., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Ikut Campur
BRAKKK
Senja oleng sejenak sampai menabrak gerbang markas yang hanya terbuka seukuran motor itu, tangannya mendingin dan menengok kebelakang. Beberapa anggota yang didalam keluar, takut serangan mendadak dari musuh. Senja hanya menampilkan cengiran dan menangkupkan tangan sebagai bentuk permintaan maaf
"Ngagetin aja lo Senja, gue kira musuh yang dateng" ucap Doni yang berlari paling depan
"Sorry, gue nggak fokus"
"Lo nggak papa kan?" Doni menghampiri Senja, membantu gadis itu mengangkat motornya yang jatuh
"Nggak sih, cuma luka dikit" ucapnya sedikit meringis merasakan sakit pada bagian siku
"Yaudah, ayo gue anter kedalam"
"Khemm" suara keras deheman seseorang membuat Doni seketika melepas pergelangan tangan Senja yang ia pegang
"Hehehe ada pak bos" cengirnya
"Bawa motornya masuk" perintahnya pada Doni yang dibalas acungan jempol laki-laki itu
"Lo ikut gue, kita bicara didalam" Senja menaikkan sebelah alisnya, mencibir sikap sok laki-laki itu
Baru beberapa langkah Senja berjalan, ia teringat sesuatu dan kembali pada Doni
"Jangan-jangan lo yang ngasih nomer hp gue sama Batara?" Tuding Senja dengan jari telunjuknya tepat diwajah laki-laki itu
"Iya lah, lo pikir siapa lagi?" jawab Doni dengan bangganya
"Tunggu aja lo nanti" ancam Senja kemudian kembali mengikuti arah Batara tadi
"Ada apa dengan Lingga?" Tanya Senja begitu mendudukan diri dikursi. Ia dibawa dalam sebuah ruangan yang seperti tempat khusus, hanya ada lima kursi disini
"Santai, lo nggak mau minum dulu?"
"Langsung aja, gue lagi banyak tugas yang belum dikerjain" jawab Senja menghela nafasnya lelah, namun tak urung gadis itu meneguk sedikit air dari gelas yang disajikan didepannya
"Adik lo makek" otak Senja berpikir sebentar kemudian teringat sesuatu, ia melototkan matanya
"Narkoba maksud lo?" Tanyanya dengan menutup mulut tak percaya. Batara mengangguk dengan ringan
"Tau darimana lo? Jangan ngarang, dia nggak mungkin berani pakai kayak gitu" bantah Senja tak terima
"Yang namanya pergaulan bebas nggak ada yang tau kan? Dia terpengaruh sama temen-temennya. Gue punya banyak anggota dan salah satunya teman adik lo, dia yang bilang sama gue. Adik lo masih pemula, dia masih mencoba dan belum disebut pecandu, tapi ingat kalau ini narkoba yang pastinya dicari nggak cuma sekali. Yang awalnya coba-coba sedikit, dia pasti mau lagi dan lagi" Senja mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa Lingga seperti itu? Padahal ia sudah berusaha menjaga adiknya sebaik mungkin
"Lingga anak buahnya Langit kan?" Senja ingat kalau hari minggu besok, ia punya jadwal les untuk musuh bebuyutan Batara itu
"Iya, tapi kayaknya Langit nggak ikut terlibat"
"Kenapa lo kayak ngebela musuh lo?" Tanya Senja, sunggu berkebalikan dengan yang sebagian besar ia lihat, dimana jika bertemu dua orang itu akan langsung bagai air dan minyak
"Kami punya cerita dan gue kenal dia nggak kayak gitu" Senja tak bertanya lebih lanjut, gadis itu menyandarkan tubuhnya pada kursi nampak berpikir
"Gue bisa minta tolong sama anak buah gue itu buat awasi dia"
"Harusnya Lingga juga otomatis jadi musuh lo kan? Kenapa lo peduli sama dia? Harusnya ini kesempatan lo kan buat jatuhin musuh?" Tanya Senja dengan mata memincing
"Ya gimanapun juga, gue harus baik-baik sama calon adik ipar gue"
"Kakak gue laki, nggak ada yang perempuan" balas Senja yang tak peka sama sekali
" Maksud gue itu lo, nggak mungkin gue sama kakak lo, gila aja!" Batara sampai tak habis pikir
"Gue kira lo udah tobat ya jadi buaya darat, ternyata masih" balas Senja kemudian berdiri dari duduknya bersiap keluar meninggalkan Batara yang memijit kepalanya karena beberapa kali ditolak dan dianggap bercanda. Padahal Batara sendiri juga sebenarnya bingung dengan perasaab yang ia punya
.
Senja pulang kerumah berpagar hitam itu, ia melihat motor Lingga terparkir di garasi. Gadis itu tentu tak langsung mempercayai Batara, apalagi saat ia tau kalau Batara adalah musuh sejatinya geng Rajawali. Bisa saja, Batara hanya ingin mengadu domba ia dengan adiknya. Walau terkesan kejam, Senja tak bisa sepenuhnya percaya pada Batara apalagi sikap laki-laki itu yang lebih terkesan bercanda daripada serius
Senja masuk kedalam rumahnya, ia mendengar suara dari dapur. Adiknya sedang minum dan berbincang dengan seseorang melalui telepon
"Nanti malem jam sembilan gimana?" Tanyanya pada seseorang diseberang sana
"..."
"Tenang, udah gue siapin"
Senja curiga dengan jawaban-jawaban yang keluar dari mulut adiknya, saat menyadari Lingga berbalik kearahnya ia dengan cepat membalik tubuh seolah naik menuju kamarnya. Lingga hanya acuh, berjalan cepat mendahului Senja tanpa menyapa. Senja juga hanya acuh, tapi matanya tak jauh dari mengawasi pergerakan Lingga. Tubuh adiknya memang terlihat lebih kurus dari terakhir kali, ia tak pernah terpikirkan ke arah obat terlarang. Ia pikir adiknya hanya kurang istirahat, ia berkali-kali menegur Lingga. Tapi adiknya malah balik marah-marah
Senja tak akan biarkan ini berlanjut, benar kata Batara sebelum Lingga jatuh terlalu dalam dengan obat haram itu, lebih baik ia cegah bagaimanapun caranya
.
Rembulan menggantikan tugas mentari menyinari bumi, namun sayang, cahaya indahnya tertutup awan mendung yang membuat langit malam kian terlihat pekat
Mendengar suara motor adiknya yang keluar rumah, Senja langsung bergegas mengambil kunci motor dan berjalan cepat menuruni tangga. Ia tak boleh kehilangan jejak. Berpapasan dengan Nathan di tangga tak Senja hiraukan, biarlah kakaknya itu pikir dia kurang ajar atau apapun
Angit malam terasa menusuk kulitnya padahal Senja sudah mengenakan jaket dan kaos panjang. Demi apapun, ia tak tau bagaimana kecewa ayahnya jika tau Lingga seperti ini. Apalagi ayahnya itu selalu membanggakan anak laki-lakinya
Sampai akhirnya motor Lingga berhenti disalah satu gedung tua terbengkalai, melihat dari luar saja membuat siapapun bergidik, apalagi sampai masuk kedalam. Lingga memarkirkan motor kemudian terlihat menuju bagian ujung koridor gedung. Senja masih diam memperhatikan melihat dengan siapa adiknya bertemu, namun tak terlihat siapapun. Lingga terlihat mengambil sesuatu dalam kotak dan langsung memasukkan dalam celananya, selanjutnya menaruh uang ditempat yang seperti sudah diletakkan disana
Senja langsung menghampiri adiknya saat Lingga kembali menuju motornya. Ia meraih kerah jaket bagian belakang Lingga dan memberikan pukulan di perut laki-laki itu
"APA MAKSUD LO!?" Lingga marah saat mengetahui kakaknya ada disini, bagaimana bisa ia tau pikirnya
"LO PUNYA OTAK NGGAK? LO MAU NGERUSAK DIRI LO SENDIRI PAKAI BARANG HARAM ITU?" Teriak Senja tanpa niat sedikitpun membantu Lingga berdiri
"LO NGGAK USAH IKUT CAMPUR URUSAN GUE!" Teriak Lingga sambil memegang dadanya yang sakit
"GUE NGGAK BAKAL IKUT CAMPUR KALAU LO BUKAN SAUDARA GUE"