Blurb:
Jenie dan Juno adalah siswa yang mengalami perjodohan semenjak lahir tanpa mereka ketahui. Namun, kenyataannya mereka selalu saja bertengkar.
Pada sebuah malam, Jenie ketiduran di dalam kamar Juno tanpa sengaja. Saat menyadari ada lelaki tidur di dekatnya, tanpa sadar Jenie berteriak hingga membuat warga yang ronda menghapiri mereka.
Mereka berdua tampak dalam satu kamar, membuat warga yang ronda itu murka. Maka, terjadi lah pernikahan meskipun mereka dalam usia sekolah. Bagaimana kah kelanjutan kisah mereka? Apakah kisah perjodohan yang menjadikan mereka jodoh beneran akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Terbalas tanpa Turun Tangan Sendiri
"Bukan gue! Bukan gue! Gue taunya dia masih pincang!" Yovie memutar badan mengambil ancang-ancang lari secepat kilat menuju arah sekolah.
Jenie tersenyum penuh kemenangan memandangi Yovie berlari pontang panting ke arah sekolah dikejar oleh kawanan Gema. Ia pun bangkit menepuk kedua tangan membersihkannya dari debu.
Wajah sumringahnya menggambarkan kepuasan tiada tara, karena ia tak perlu mengotori tangan sendiri tanpa harus turun tangan. Jenie pun melanjutkan perjalanannya menuju sekolah dengan riang.
Sampai di sekolah, ia langsung mendapatkan laci meja belajarnya dipenuhi oleh angsa terbuat dari kertas seperti hari-hari sebelumnya. Jenie melipat kedua tangan memperhatikan benda-benda tersebut.
"Ini gimana cara bawanya ya?" Ia melirik ke arah seseorang yang dirasa terus memperhatikan setiap gerak-geriknya. Namun, ketika Jenie menatap orang itu, ia tampak terpaku membaca buku yang ada di atas meja.
Sebuah ide terlintas dalam benaknya. Karena, tas yang ia gunakan terlalu kecil, ia merasa memiliki wadah yang cocok untuk menjadi tempat yang baru bagi angsa-angsa kertas itu. Jenie bergerak cepat menuju bangku Juno dan mencoba melirik buku yang dibaca oleh suaminya itu.
Rautnya mengerut ketika mengetahui bacaan Juno. "Rajin amat wir—Jun," ralatnya cepat.
Juno seolah tak memedulikan apa yang diucapkan oleh gadis yang tepat duduk di hadapannya ini. Jemari Juno menarik satu lembar buku beralih halaman. Jenie kembali melirik cowok itu menyumbarkan senyum miring.
"Bisa ya baca buku terbalik?"
Meski tak begitu jelas, bahu Juno terlihat tersentak kaget meskipun tipis. Ia tertegun memutar bola mata lalu bangkit. "Aaah, yaa ... ada yang harus aku lakukan." Juno bangkit meninggalkan Jenie dalam kebingunan.
"Eeiyy, gue masih ingin ngomong! Eeeiy!" Jenie melirik tas Juno yang ukurannya cukup besar. "Padahal mau pinjem tas dia ..." gumamnya menarik tas Juno. Ia telah memegang rusletin tas itu, tetapi dihentikan.
"Ah, tunggu dia datang aja." Jenie beranjak mengecek PR yang belum selesai dikerjakannya tadi pagi.
Kebetulan Revie baru saja sampai "Sob, pinjam PR-nya!" sorak Jenie sumringah.
*
*
*
Ketika pulang sekolah, Jenie menarik tas Juno dengan tiba-tiba. Melihat tindakan Jenie yang tiba-tiba, membuat Juno menarik tas itu secara kasar. "Tangannya bisa dikondisikan? Main serobot rampas milik orang lain aja?" rutuknya menyandang ransel itu dengan segera.
"Gue pinjam tas. Gue mau nitip angsa-angsa yang ada di laci."
"Sudah berapa kali aku bilang? Bicara padaku harus dengan sopan!" Suara Juno cukup kencang membuat siswa yang sudah bubar, melirik ke arah mereka berdua.
Beberapa bisikan kembali terdengar. Jenie mendengar bisikan tersebut menyugar rambut menjepitkan ke belakang telinga. "Ya, harus se sopan apa lagi?" Jenie memberi kode gerakan mata diputar beberapa kali.
Juno menyadari makna kode mata itu, melirik orang-orang si sekitarnya yang telah memperhatikan mereka. "Maksud gue, ya harus minta izin dong? Lo mau apa sama tas gue ini?"
"Itu, ada yang ngasih angsa kertas banyak banget. Lo lihat sendiri tas gue kecil. Gue mau titip ke dalam tas lo deh? Nanti gue ambil lagi kalau udah sampai rumah," terang Jenie.
Juno melirik meja Jenie. "Gak mau! Buang aja! Ngapain juga nitip sama tas gue? Emangnya gue tempat penitipan barang apa?"
Jenie memanyunkan bibirnya. "Masa dibuang? Itu kan dibuat dengan penuh cinta oleh seseorang buat gue," sungutnya.
Juno menatap Jenie dengan penuh arti. "Baru juga lembaran kertas, lo udah segitunya? Kagak usah! Buang aja!"
Juno berlalu diikuti oleh yang lain hingga kelas itu hanya menyisakan Jenie seorang diri. Kedua kaki Jenie dihentak kesal ke lantai. Lalu, ia kembali ke mejanya. Revie sudah duluan pergi karena ia dijemput oleh ibunya untuk pulang bersama. Kali ini Jenie benar-benar terasa sepi di kelas ini.
"Marcell, lo bikin gue repot aja?" rutuknya.
"Ekhemmm ...." Seseorang berdehem dari arah luar.
Jenie melirik kehadiran orang tersebut. Pada tangan laki-laki itu terlihat sebuah kantong bening yang cukup besar.
"Waaah, naaahh ... Ini pasti cukup." Jenie berlari kecil ke arah Juno lalu menarik benda berbahan plastik itu begitu saja.
Jenie segera memasukan angsa bewarna warni itu dan matanya terbelalak melihat benda itu sangat pas menampung semua angsa itu.
"Juuun, ini benar-benar pas? Kok bisa?
...****************...
Yuhuuu, ayooo mampir juga yaaaa