NovelToon NovelToon
Mohabbat

Mohabbat

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:105.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: aisy hilyah

Cinta datang tak pernah sendiri, selalu membawa serta ujian yang harus dihadapi. Sanggupkah bertahan, ataukah mengalah pergi?

Daisha, gadis buta yang hidup berdua dengan sang adik sebagai penjual bunga di sebuah desa, tanpa sengaja menemukan sesosok tubuh yang terdampar di tepi sungai dekat kebun bunga miliknya.

Laki-laki yang tak tahu siapa dirinya, pada akhirnya Daisha menamainya 'Al'. Seiring waktu berjalan, rasa di hati keduanya pun tumbuh dan berkembang. Sampai suatu ketika, kedatangan seseorang yang kerap mengganggu Al perlahan memulihkan ingatannya.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Temukan kisahnya di sini. Kisah tentang cinta dan dua hati yang harus saling bertahan dalam ujiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiba Di Jakarta

Hari-hari berjalan dengan semestinya, tak ada lagi drama pengintaian di toko Daisha. Semua nampak normal dan biasa saja. Pesanan bunga yang mereka terima bahkan hampir setiap hari, terpaksa Daisha meminta bantuan warga sekitar yang ia kenal untuk bekerja di toko.

Hari yang ditunggu Laila tiba, hari untuk mengantarkan pesanan bunga ke Jakarta. Anehnya, tak ada rangkaian bunga yang bertuliskan selamat atau apapun dari pesanan tersebut.

Malam hari remaja itu sudah membersihkan mobil yang akan mereka bawa, terlihat antusias dan bersemangat. Ia bahkan telah menyelesaikan semua pekerjaan di waktu yang sama.

"Kau bersemangat sekali, Laila. Sepertinya perjalanan kali ini adalah yang paling menyenangkan untukmu. Apa kau sudah menghubungi orang yang akan membantu kita mengemudi?" ucap Daisha sambil tersenyum mendengar Laila terus bersenandung sepanjang menata rangkaian bunga di mobil.

Mobil mereka sulap menjadi tertutup agar sinar matahari tak membuat bunga-bunga menjadi layu.

"Tentu saja, ini perjalanan terjauh sepanjang sejarah mengantar bunga." Dia tertawa.

Daisha menggelengkan kepalanya, ia duduk di teras menunggu seorang tetangga yang dimintai tolong untuk mengemudikan mobil mereka.

"Kau sudah mengecek keadaan mobilnya? Kakak khawatir di tengah jalan mobil kita ngambek," tanya Daisha memastikan keadaan mobil mereka.

"Sudah aman, Kak. Kemarin sepulangnya mengantar bunga, aku bawa ke bengkel. Jadi, kita bisa tenang," jawab Laila sembari mengikat tali dengan kuat untuk menahan penutup agar tidak terbang.

"Selesai." Dia menepuk-nepuk tangan sebelum berjalan mendekati sang kakak. Duduk menunggu supir di keremangan dini hari.

"Kenapa lama sekali?" gerutu Laila setelah beberapa saat duduk bersama Daisha.

"Sabar, mungkin dia sedang melakukan sesuatu di rumahnya. Kita tidak tahu, bukan?" Daisha mengingatkan.

Hanya saja, Laila memang tak sabar untuk segera pergi ke kota yang membuatnya takjub dengan banyaknya bangunan pencakar langit. Remaja itu ingin memasuki salah satu gedung dan bermain di dalamnya.

"Kakak, apa bisa kita masuk ke salah satu gedung tinggi di Jakarta? Aku ingin melihat bagian dalamnya," tanya Laila setelah berpikir cukup dalam.

Daisha tertawa mendengar celoteh sang adik, dia memang tidak tahu keadaan kota tempatnya tinggal, tapi setidaknya pastilah terdapat gedung yang sama seperti di Jakarta.

"Bukankah kau sering mengantar bunga ke gedung di sini? Sama saja dengan yang ada di Jakarta, bukan?" Daisha balik bertanya dengan heran.

Tak jarang mereka menerima pesanan bunga dan mengantarnya ke gedung. Bukankah sama saja? Daisha tak habis pikir dengan adiknya itu.

"Beda, Kak. Gedung di kota kita ini tidak ada yang tinggi seperti di Jakarta. Di sana, manusia terlihat seperti semut. Jadi, aku hanya ingin tahu seperti apa bagian dalam gedung tersebut," sahut Laila membayangkan gedung-gedung yang ia lintasi saat perjalanan menuju rumah Dareen.

"Benarkah? Kakak kira sama saja, ternyata lain. Baiklah, Kakak akan mengajakmu masuk ke sebuah gedung setelah kita mengantar bunganya," ucap Daisha yang disambut sorak bergembira dari gadis remaja itu.

Tak lama seseorang yang mereka tunggu muncul, ia meminta maaf atas keterlambatannya memenuhi permintaan Daisha. Namun, gadis itu tidak mempermasalahkan sama sekali. Jadi, tanpa menunggu lebih lama lagi mereka pun segera berangkat mengantar bunga dengan mengandalkan GPS.

Sesuai arahan dari penunjuk jalan itu, mereka tiba saat matahari telah naik sepenggalan. Disambut tiga orang laki-laki berseragam serba hitam dan rapi. Sebuah gedung bertingkat tinggi, di sanalah pesta diadakan.

"Maaf, jika boleh tahu ini untuk acara pesta atau apa?" tanya Daisha sambil membantu menurunkan bunga-bunga dari mobil.

"Pesta pertunangan tuan muda kami, Nona. Acaranya diadakan di dalam gedung ini dan tidak sembarangan orang bisa masuk," jawab salah satunya dengan ramah.

Dia seperti seorang mandor yang memerintah dua orang lainnya untuk membawa masuk bunga-bunga yang diantar Daisha. Gadis buta itu tidak menyahut, hanya tersenyum sambil manggut-manggut.

"Mmm ... Nona, kami memohon maaf karena tidak bisa melunasinya pagi ini. Itu karena nyonya kami ingin bertemu dengan Anda dan melunasinya secara langsung. Jadi, nyonya meminta Anda datang sore nanti saat acara akan dimulai. Bagaimana? Apa Anda tidak keberatan?" ungkap laki-laki tadi terdengar tak enak hati.

Daisha tertegun mendengar itu, berselang ia tersenyum lantas mengangguk tak apa. Lagipula, dia ingin mengajak Laila bermain terlebih dahulu. Lalu, beristirahat di villa menunggu waktu.

"Tidak masalah, kami bisa datang lagi sore nanti. Jika begitu, kami permisi," sahut Daisha membungkuk sopan sebelum berbalik dan mengajak Laila untuk pergi.

Laki-laki berseragam rapih itu menatap sendu sosoknya. Jauh di lubuk hati, ia merasa kasihan karena mereka datang dari jauh. Namun, mengingat perintah majikannya, ia tak dapat menolak.

Mobil yang membawa Daisha terus melaju meninggalkan halaman gedung megah tersebut, terus menuju villa untuk beristirahat sambil menunggu waktu.

"Maaf, ya, Pak. Kita harus menunda kepulangan karena pelunasan akan dilakukan sore nanti. Apa Bapak tidak apa-apa? Tenang saja, saya akan melebihkan bayaran Bapak," ucap Daisha penuh sesal.

Laki-laki tersebut tersenyum maklum, semua hal memang terkadang tak terduga.

"Tidak apa-apa, Nona. Saya bisa maklum," katanya tidak keberatan.

"Terima kasih."

Mobil itu melaju sesuai arahan dari Laila melalui GPS. Sebuah area pemakaman keluarga yang tak jauh dari gedung bercat putih dan bersih. Pemakaman tersebut berada di belakang bangunan, terawat dengan baik.

Pak Deni dan istrinya segera saja menyambut kedatangan sang majikan di teras. Di dalam sana, mereka bisa beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh.

"Pak, tolong bawa Bapak ini ke kamar tamu. Beliau harus beristirahat," titah Daisha kepada penjaga villa tersebut.

"Baik, Nona. Mari!" Ia menuntun sang supir menuju sebuah kamar tamu yang telah dirapikan.

Sementara itu, Laila menjatuhkan diri di sofa, berbaring sambil memainkan gawainya. Daisha duduk tak jauh darinya, menunggu panggilan dari Dareen untuk memberitahu laki-laki itu bahwa ia berada di Jakarta.

"Kakak tidak ingin menghubungi kak Dareen? Dia pasti senang mendengar Kakak ada di Jakarta," ucap Laila sembari melirik sang kakak yang duduk dengan gelisah.

Bukannya ia tak ingin, tapi ia tidak bisa memainkan benda pipih di sakunya. Jadi, dia hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum pahit.

"Nanti saja saat dia menghubungi Kakak, barulah Kakak akan mengatakannya," katanya dengan jujur.

Laila mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Melanjutkan kegiatannya bermain media sosial, memposting keberadaannya saat ini. Dasar memang anak remaja, semua hal yang mereka lakukan, pastilah terpampang di sosial media.

Berselang, ponsel milik Daisha berdering. Dering khusus untuk panggilan dari Dareen agar ia tahu siapa yang menghubungi. Daisha tersenyum, meraba benda di sakunya dan menggulir layar sesuai yang diajarkan Dareen.

"Hallo, Kak. Ada apa? Kau tidak sedang sibuk? Tidak biasanya menghubungiku di jam sekarang," tanya Daisha segera setelah telepon tersambung.

"Aku melihat status Laila, apa benar kalian di Jakarta sekarang? Jika iya, aku ingin bertemu," sahut suara Dareen yang terdengar antusias.

Daisha tersenyum, senang bukan kepalang akan bertemu sang kekasih hati.

"Iya, Kak. Kami mengantar pesanan bunga dan sekarang berada di villa. Jika Kakak tidak sedang sibuk, kami menunggu di sini," jawab Daisha dengan semu merah di pipi.

Diam-diam Laila melirik, tersenyum senang melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah sang kakak. Tujuannya membuat status memanglah untuk menarik perhatian Dareen agar dia menghubungi kakaknya itu.

"Baik, tunggu aku. Aku akan cepat menyelesaikan pekerjaan, setelah itu aku akan segera ke villa. Jangan ke mana pun, hanya tunggu aku."

Perintah dari Dareen sekaligus menutup sambungan telepon mereka. Daisha mengusap benda pipih di tangan sambil tersenyum manis.

Pada akhirnya mereka akan bertemu dan melepaskan rindu.

1
Mareew
bagusss t o p begete
Lin Lin
permainan karakternya hebat banget... tanpa d duga2 yin and yang nya ada d setiap karakter menandakan ketidak sempunaan manusia... mantaaaf...👍👍👍
Rosmawati/jnr
Bagus banget
Ratna Susianingsih
bener kan bardy yg bunuh keluarga daisha....sadis banget daisha cocok jadi ketua mafia...alhamdulilah Dewi juga berubah selamat ya daisha dan dareen semoga menjadi ortu yang bisa mendidik anak dengan baik...jangan dlu tamat donk ..bonchapnya.....
Megawati Goanidjaja
terima kasih Author 🤗😘😘
L0v€💜
extra part Thor❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🙏🙏🙏
Yeni Yanti
penasaran kisah Laila kak..
request kisah Laila dan serta kan daisa dan Daren 😘😘😘
Lusia
extra part ya kk.. min. 10 bab 😁😁😁🤭🤭🤭
Yeni Yanti: setuju..
total 1 replies
Alfiyati Al-Ikhlas
thanks a lot
Liana Liana
ada bonchap nya gak ya
Yeni Yanti: wajib ada
total 1 replies
Ratna Susianingsih
kok blum up
Bil Jak Jak Bil
mantap
Darsih suranto
oh oh siapa dia,?????
Darsih suranto
typo kak, Cakra y maksudnya.bukan Darren
Darsih suranto: sama² kak
total 2 replies
Tri Ernawati
menurut saya pembunuhnya ortu ya daisha pak hendrawan...dia memanfaatkan Cakra yang ambisi akan jabatan,untuk membunuh paman daisha
Bardy kan udah tau kalo daisha anak ya Damian sahabatnya,,
Yeni Yanti
mungkin kah bardy..???
andai ya mungkin dia akan mati terperosok di makam yg dia hali 🤔🤔
Ratna Susianingsih
aku maafkan itulah kehidupan pasti yang pergi bardy dan datang anak dareen dan daisha....daisha punya hati yg peka dia gelisah karena da yg mo ngebongkar malam ayahnya dasar si dareen ga ngerti ga mau ngabulin kemauan daisha udh tau daisha ga bisa tidur dasar laki2 ga peka banget...bardy bener bener jahat kasihan dareen punya ortu yg jahat..semoga aja dareen bisa melihat kejahatan ayahnya.....lanjut thor upnya yang banyak tanggung
Sepriyanti Adelina
bapaknya Alena kah yg udah bunuh orang tua Daisha🤔
Ratna Susianingsih
good job....semoga daisha dan dareen selalu bersama dan bahagia..siapa ya pembunuh ortunya daisha...ga mungkinkan klo bardy kasihan dareen klo bardy yg membunuh ke 2 ortunya daisha...kak upnya bnyakin satu mah kurang ..
Yeni Yanti: bisa saja bardy, sebab Bardy sahabat Damian,,
total 1 replies
Megawati Goanidjaja
siap2 Aleena dan Dewi...apa yg akan dilakukan Daisha sama kalian 🤔😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!