NovelToon NovelToon
Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:514.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Devi21

Peringatan!
Mengandung konflik 21+



Terlahir di tengah keluarga yang tidak harmonis. Membuat Gendis tumbuh menjadi gadis yang mandiri dan tegar.

Perjalanan hidup yang jauh dari kata mudah. Tidak lantas membuatnya pasrah pada keadaan. Gendis bekerja keras membagi waktu dan tenaganya agar bisa bertahan hidup, kuliah dan membiayai sekolah adik semata wayangnya.

Pekerjaan sebagai Terapis atau tukang pijat Shiatsu pun tidak ragu dia lakukan. Selama halal dan masih di jalan yang benar.

Penilaian orang yang menganggapnya perempuan tidak benar, tidak membuatnya gamang. Gendis memilih untuk tidak peduli. Sekedar dianggap baik tidak membuatnya kenyang.

Pertemuannya dengan dua orang pria penikmat sentuhan tangannya, membawa Gendis ke dalam masalah percintaan dan hidup yang lebih rumit.

Bagaimana bisa hidupnya lebih rumit, padahal uang sudah bisa didapatkan dengan mudah? Mengapa bisa dua orang pria jatuh cinta pada seorang Gendis? Siapakah dua pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

semakin dekat

Waktu terasa berjalan lamban. Satu ruangan dengan Eser berdua saja, sungguh menyiksa. Bukan karena apa-apa. Tapi sikap Eser yang tidak menentu, membuat Gendis merasa kaku dan canggung.

Sesekali atasannya itu mengajak bicara dengan memberikan pertanyaan. Tapi setelah dijawab, bukannya ditanggapi, malah diam dan diabaikan begitu saja.

"Apa kamu membawa pakaian ganti?" tanya Eser, tanpa menoleh sedikitpun. Matanya tetap fokus pada layar laptop di depannya.

"Pakaian ganti?" Gendis mengembalikan pertanyaan pada Eser karena memang tidak mengerti.

"Astaga! buka ponselmu, Ndis?!" Eser sampai terlihat geregetan saat mengucapkannya.

Mulut Gendis seketika bergerak lincah tanpa suara. Komat kamit layaknya sedang membaca mantra kutukan untuk Eser.

"Apa? nyumpahin Aku? Jangan sampai kamu berpikir bisa membuat aku jatuh cinta sama kamu. Cinta ceo dan sekretaris itu hanya ada di novel-novel. Jangan harap itu terjadi pada kita. Kalau sampai terjadi, pasti kamu yang tergila-gila sama Aku." ucap Eser, selalu angkuh seperti biasa.

Gendis mencebikkan bibir, sembari mengambil ponsel dari dalam tasnya. "Tidak akan." ketusnya.

Padahal memang benar dugaan Eser, dia sedang menyumpahi atasannya itu agar bisa tergila-gila padanya. Kalau perlu sampai tidur terganggu dan makan pun tidak mau.

Dengan santai, Gendis mengetuk layar ponselnya dua kali. Seketika layar itu menyala terang. Saat dia menggeser tombol panah ke atas, mulutnya menganga lebar.

Tanpa suara Gendis langsung membuka setting tampilan layar, mencoba mengganti wallpaper yang sangat tidak layak itu dengan gambar yang lain. Tapi sungguh sial, kode untuk mengganti bukan kode yang sama dengan kode saat mengaktifkan ponsel itu.

"Berapa kode untuk mengganti walpaper dan menghapus file?" tanya Gendis dengan kesal.

Seolah dia tidak sedang berbicara dengan atasannya. Gendis, kini tengah membuka galeri yang ternyata juga tersimpan video dan foto hasil kelicikan Eser.

"Itu ponsel dinas, bukan ponsel pribadimu. Jadi kamu tidak berhak merubah apapun yang ada di sana. Cukup gunakan untuk membalas pesan dan menerima telepon dariku. Itu saja," jawab Eser, sangat santai.

Dengan sangat kesal, Gendis langsung membuka pesan yang terkirim di sana. Jelas saja dia tidak membawa pakaian, karena pesan itu masuk saat dia sudah berada di dalam mobil. Tepatnya saat Ozge memaksa untuk melihat wallpaper di ponselnya tadi. Untung saja Ozge tidak melanjutkan masalah itu. Kalau sampai itu tahu, entah reaksi apa yang akan dia dapatkan.

"Nanti saya pulang dulu saja, atau saya bisa ambil pakaian sebentar setelah ke perancang busana. Tapi sampai sini, bisa telat kalau begitu." Gendis nampak bingung.

"Ya sudah, tidak usah ganti baju. Tapi pastikan saja kamu segar dan wangi. Aku tidak mau relasiku menyangka kamu sekretaris gembel."

Gendis kini mengelus dadanya, sejak pertama kali bertemu hingga sekarang. Entah saat menjadi Dosen, pelanggan pijat ataupun atasannya, mulut Eser begitu pedas.

Ozge tiba-tiba masuk tanpa permisi, meredakan ketegangan antara Gendis dan Eser.

"Aku mau mengajak Gendis keluar sekarang. Aku pastikan dia akan kembali pukul tiga. Posisi kita sama, yang menggaji Gendis masih perusahaan kan? kalaupun kamu ingin memecatnya, silahkan saja. Aku yang akan melunasi hutangnya." Ozge langsung mendekati meja Eser dengan seenaknya.

"Silahkan. Aku hanya butuh Gendis nanti malam. Karena ada meeting penting. Persiapkan pernikahan sematang mungkin, siapa tahu pernikahan itu akan gagal dan menjadi pernikahan orang lain," Eser begitu santai menanggapi.

Gendis hanya diam. Dia tidak ingin terlibat perdebatan yang selalu terjadi di antara Eser dan Ozge.

"Aku tungu kamu di lobby, Beg!" ucap Ozge sembari menatap Gendis dengan tatapan cemburu.

Gendis membereskan mejanya sebentar, lalu menyisir rambutnya perlahan. Ekor mata Eser, tajam memperhatikannya.

"Saya, keluar dulu, Pak. Saya usahakan bisa mengambil pakaian, agar nanti malam Bapak tidak malu mempunyai sekretaris seperti saya," pamit Gendi.

"Hmmm...." Eser menjawab sekenanya dan pura-pura sibuk mengetik.

Melihat Gendis sudah menghilang dari pandangannya, Eser segera menghubungi seseorang melalui ponselnya. Entah apa yang dibicarakan, raut wajahnya terlihat sangat serius.

******

Ozge dan Gendis kini sudah berada di tempat perancang busana ternama. Karena acara sangat mendadak, Ozge meminta si perancang untuk mengeluarkan koleksi gaun yang sudah ada saja untuk dipilih Gendis.

Setelah mencoba beberapa gaun, akhirnya pilihan Gendis dan Ozge jatuh pada gaun berwarna putih salju. Bahu putih mulus Gendis tereksplore sempurna saat mengenakannya. Designnya saat elegant dan mewah, taburan batu swaroski akan membuat wajah Gendis semakin bersinar nantinya.

"Kita makan dulu yuk!" ajak Ozge begitu mereka selesai di tempat perancang busana.

Gendis tidak menolak, karena dia memang sebenarnya hobi makan. Hanya saja, keterbatasan uang amembuatnya terpaksa menahan diri.

Saat baru memasuki mobil, tiba-tiba sebuah mobil, menabrak mobil Ozge dengan keras. membuat mobil yang masih diam itu, terseret maju ke depan hingga beberapa meter. Driver sampai berteriak kesakitan, karena dadanya terbentur setir. Sedangkan Gendis dan juga Ozge, mengusap kepala masing-masing yang terbentur sandaran jok di depannya.

Bersamaan dengan itu ponsel Ozge berbunyi. Dia mengabaikan panggilan itu begitu saja. Tapi sesaat kemudian ponsel itu berdering lagi dan lagi.

Setelah memastikan Drivernya tidak mengalami keluhan yang serius, Ozge memerintahkan driver untuk melanjutkan perjalanan.

Ponsel Ozge kembali berdering. Dia ingin mengabaikan. Tapi notice pesan yang dari tadi sengaja tidak dibuka, memaksanya untuk menerima panggilan itu.

Dengan menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh Gendis, Ozge terlihat bicara dengan sangat serius. Sesekali dia melirik Gendis, yang begitu serius memperhatikan gerak mulutnya.

Ozge berusaha menampilkan wajah setenang mungkin setelah mengakhiri panggilan teleponnya itu. "Klien dari Turki," ucapnya.

Gendis mengangguk percaya. Ozge mengunci rapat mulutnya sepanjang perjalanan. Dia bahkan tidak menoleh lagi ke arah Gendis. Pikirannya mendadak buntu. Andai sekarang dia sedang sendirian, mungkin dia akan melarikan mobilnya secepat mungkin agar bisa lari sejauh mungkin dari kenyataan yang mengejarnya.

Sampai di restauran yang dituju, Ozge begitu posesif menggandeng tangan Gendis. Bola matanya dengan lincah bergerak melirik ke sana ke mari untuk memastikan semua aman.

Ozge sengaja memilih meja private di dalam ruangan agar dia bisa sedikit tenang. Lagi-lagi ponsel Ozge berdering, dengan buru-buru dia menerima panggilan itu. Kali ini, Ozge hanya diam dan mendengarkan suara di seberang. Dia sama sekali tidak mengucapkan apapun.

Seusai memutus sambungan telepon, Ozge menatap Gendis dengan sendu. "Tunggu di sini sebentar," ucapnya.

Ozge langsung ke luar dari ruangan private menuju toilet. Langkah kakinya begitu ragu, tidak seyakin biasanya.

Gendis menangkap perubahan sikap Ozge sejak mobil tertabrak tadi. Tapi dia hanya berani menerka-nerka. Ozge mungkin sedang mengalami masalah dalam bisnisnya.

Di dalam Toilet, Ozge hanya bisa pasrah, ketika seorang perempuan yang berdandan seperti laki-laki, mencumb*unya kasar, dengan satu tangan memegang pistol.

1
falea sezi
katanya masih perjaka hadeh lah ini
senjasabdaalam
demi allah yah bukan bapak di surga
Susana
sangat bagus. 👍😍😍
Rietha Hadziq
amazing
TongTji Tea
sorry ya thor g bisa tahan dengan konfliknya .drpd darting hehhe ..sukses teruss ..byee
TongTji Tea: ashiyaap meluncuur thoor
total 2 replies
Rissa Audy
dua kali lipat ketiga = ??
Rissa Audy
wolaaa aseeekkk🙈 bakne wes gak iso joget to🤣🤣🤣🤣
Rissa Audy
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rissa Audy
🤣🤣🤣🤣
Rissa Audy
🤣🤣🤣🤣🤣
Rissa Audy
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rissa Audy
🤣🤣🤣🤣🤣
Tua Jemima
certa kayak taik nguras emosi sampai dini ja fah bacax malaaaaaaaas
Tua Jemima
ceritax dibolak balik mumut bacax
Tua Jemima
benci aq lihat gendis jadi gk simpati kekanak kanakan
Tua Jemima
aq gk suka dngan sipatx gendis udah mulai pembakang
Tua Jemima
mati aja kamu arya kamu yg punya masalh dengan eser kq mlah gendis yg dihukum qu sumpaji lumpuh seumur hidup kamu arya peot bibir mu
Tua Jemima
yg bodohx juga kenapa juga gendis gk mai dipriksa dokter klau sampao keyahuan hmil takutx jadi timbul pitnah
Tua Jemima
gendis juga bodoh mau aja diperalat oz terlalu bodoh tuh gendis
Tua Jemima
bingung aq sama ceritax ini jelas jelas gendis berhubungan badan sama ozge kq ceritax sama rser lgi binggung mumet bcax
D᭕𝖛𝖎𖥡²¹࿐N⃟ʲᵃᵃ࿐: memang dibuat begitu, kak. karena akan jadi sedikit cerita di belakang.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!