Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.
"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.
"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia kekasihmu?
Aira berdiri di dekat meja makanan yang di sediakan oleh tuan rumah. Malam ini dia mendatangi pesta pernikahan seorang reporter. Undangan di layangkan ke kantor. Jadi dia hanya mewakili kantornya saja.
Sebenarnya Aira tidak hanya bersama Ibrar. Dia datang bersama pak Yuta dan juga Yeri. Hanya saja, entah kenapa dia berdiri di sini hanya dengan pria ini.
Tangan kecil Aira mengambil kue di meja yang sudah tersaji. Ibrar hanya mengambil minuman saja. Dia merasa cukup dengan melihat Aira.
Aira sendiri tahu bahwa pak Ibrar tengah memperhatikannya. Setelah pertemuan Aira dengan Eros dan Nara di cafe itu, perempuan ini sedikit kaku bertemu atasannya ini.
"Bagainana keadaanmu, Ai?" tanya Ibrar menguatkan diri untuk bertanya.
Aira menoleh. "Saya tidak apa-apa."
"Aku cemas." Aira menghela napas. Mengherankan pria ini selalu saja mengeluarkan kata-kata semacam itu dari bibirnya. Membuat Aira segan. Hingga tidak perlu menanggapi.
Agak lama baru Yeri muncul. Kemudian pak Yuta juga muncul.
"Dari mana saja kamu?" bisik Aira seperti mendesis kesal.
"Hei ... aku ada perlu."
"Kamu dan pak Yuta seenaknya saja meninggalkan aku."
"Kan ada pak Ibrar, Ai."
"Justru itu. Kalian membuatku harus berdua saja dengannya."
"Ih, emangnya kenapa? Pak Ibrar enggak menggigit kan ... " canda Yeri membuat Aira tersenyum terpaksa. Tidak suka dengan candaan temannya.
"Kenapa kalian diam saja?" tanya Yuta sambil berbisik pada Ibrar.
"Maksudnya?"
"Aku sengaja pergi agar kalian bisa mengobrol banyak. Ku lihat dari kejauhan kalian hanya bersama. Tidak ada obrolan apapun kecuali kamu yang selalu memperhatikannya."
"Oh ... jadi itu alasan tiba-tiba saja kamu dan Yeri ada urusan?" Ibrar menggerakkan alisnya. Yuta menyeringai. "Kenapa repot-repot seperti itu? Bukankah disini kamu paling tidak setuju jika aku mendekatinya sebagai pria?"
"Awalnya begitu, tapi ... tidak sengaja aku dengar dari Yeri bahwa dia sudah bercerai," bisik Yuta. "Itu artinya dia boleh di dekati."
Ibrar sedikit terkejut. Berita ini terdengar juga oleh orang lain. Tanpa sadar Ibrar melihat ke arah perempuan itu.
"Lalu?"
"Kalau kamu tertarik, aku serahkan dia padamu?"
"Aku tidak perlu restu kamu jika mau mendekatinya."
"Harus."
"Kenapa?"
"Kamu bisa mengandalkanku mencari tahu bagaimana Aira lewat Yeri."
Ibrar mencibir. Mencemooh Yuta. "Kalau itu aku tidak perlu mendapat bantuanmu." Itu jelas. Karena Ibrar bisa bertanya pada Wira atau justru ke orangtua Aira langsung. "Soal ini, siapa saja yang tahu?"
"Soal apa? Soal kamu yang naksir dia?" Yuta tengah mencomot kue di meja.
"Bukan, tapi soal status Aira."
"Oh itu ... Mungkin hanya aku. Aku mendengar Yeri ngobrol lewat telepon dengan Aira. Saat itu Yeri yang enggak tahu ada aku, saat membahas soal itu. Karena aku bertanya, dia menjawab soal perceraian Aira." Ibrar mengangguk.
"Tolong. Untuk ini jangan kamu beritahukan pada orang-orang," pinta Ibrar. "Aku yakin dia sakit hati saat orang tahu statusnya." Yuta menatap temannya dengan pandangan banyak arti.
"Oke. Aku tidak menyangka kamu begitu perhatiannya pada Aira. Aku pikir candaanku soal kamu yang tertarik hanya kesalahan dari mata dan naluri laki-lakiku. Ternyata kamu serius .... " Ibrar hanya tersenyum tipis menanggapi Yuta.
Mungkin takdir memang selalu ingin mempertemukan Aira dan Eros, mantan suaminya. Malam ini juga, saat baru keluar dari ruang pesta, mereka bertemu.
"Sepertinya kita semakin sering bertemu, Ai," ujar Eros.
"Hanya kebetulan saja," jawab Aira ingin segera menjauh. Namun Eros sepertinya masih ingin berbicara. Bola matanya menatap Ibrar yang tengah menemani Aira.
"Mungkin. Dan aku selalu melihat kamu di temani dia." Ibrar yang awalnya tidak ingin masuk dalam perbincangan mereka dengan bersikap tidak peduli, kini menoleh. Aira juga melirik Ibrar sebentar. Dia tidak menduga Eros memperhatikan atasannya ini.
Namun Aira tidak terlalu peduli. Dia ingin segera pergi.
"Sebaiknya kita pergi," ujar Aira yang membuat Ibrar sedikit terkejut. Perempuan ini menatap dirinya seakan mereka bukan lagi atasan dan bawahan. Aira mengajak pak Ibrar untuk menyingkir dari sana. Ibrar mengikuti Aira dari belakang.
"Tidak perlu bersikap kaku, Ai. Aku hanya berbicara sebentar." Kaki perempuan ini terhenti seketika. Hingga Ibrar perlu juga menghentikan kakinya.
Eros seperti menuangkan minyak ke api. Kata-katanya membuat dada Aira bergemuruh hebat. Dia marah. Bersusah payah Aira bernapas membuang sesak dan amarah. Tangannya mengepal menahan diri. Dari gerakan bahu perempuan ini, Ibrar tahu bahwa Aira sedang menahan amarah.
"Aku tersanjung mendengar kamu sangat hapal dengan wajah ini." Tanpa permisi Ibrar mengeluarkan suara untuk berbicara. Saat ini dirinya tengah berhenti tepat di depan Eros. Tentunya bermaksud menanggapi kalimat Eros tadi. "Ibrar." Tiba-tiba saja dia mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.
Aira yang memunggungi mereka sontak membalikkan badan dan menatap Ibrar yang tengah mengulurkan tangan. Bola mata Aira melebar. Eros menundukkan mata melihat tangan Ibrar. Kemudian mendongak dan menatap pria di depannya lurus.
"Dia kekasihmu, Ai?" tanya Eros tanpa menerima uluran tangan Ibrar. Kepalanya menoleh pada Aira.
"Perlu aku menjawabmu?" Aira justru bertanya dengan tampang dinginnya.
"Kalau kamu tidak bisa menjawab, aku bisa bertanya padanya." Eros kini menoleh pada Ibrar. "Eros. Mantan suami Aira. Kamu pasti belum tahu bahwa dia pernah bersuami." Tangan Eros terulur. Aira menggigit bibirnya. Ibrar tidak suka dengan kalimat yang Eros katakan. Seperti sedang mencemooh status Aira.
"Aku menyebutkan nama bukan untuk mendengar kamu juga membalas menyebutkan namamu. Aku sudah tahu siapa kamu. Jadi kamu tidak perlu menyebutkan namamu. Soal status Aira ... jangan khawatir. Aku sangat tahu itu. Kamu tidak perlu memberitahuku bahwa kamu mantan suaminya. Itu aib. Karena bagaimanapun mantan itu adalah seseorang yang pernah di buang," balas Ibrar. Pria ini tersenyum sambil menyalami Eros.
Kening Eros mengerut tidak suka. Tatapan matanya mulai tampak tidak bersahabat. Dia tahu maksud dari kalimat Ibrar adalah memperolok dirinya.
"Maaf, aku harus menarik tanganmu lagi Ai. Kita harus pergi dari sini. Tempat ini terlalu sempit untuk kita bertiga." Ibrar meraih tangan Aira yang terdiam.
"Eros!" teriak Nara yang ternyata juga ikut dalam pesta ini. Eros dan Ibrar menoleh.
"Permisi Eros. Kita harus pergi. Sepertinya dia butuh kamu." Ibrar menunjuk Nara dengan dagunya. Aira menurut saat tangannya di tarik Ibrar. Menuntun Aira agar menjauh dari mereka berdua.
Lagi. Ibrar lagi-lagi menolong dirinya. Masih dengan mata Aira yang berkaca-kaca, Ibrar terus melangkah sambil memegang tangannya yang menjadi dingin.
"Aku sudah tidak apa-apa," ujar Aira di sela-sela kaki mereka yang terus melangkah. Kaki Ibrar berhenti perlahan. Kemudian menoleh kebelakang. Membalikkan tubuhnya dan menoleh ke belakang.
"Jika ingin menangis, menangislah. Jangan pedulikan aku." Ibrar tahu, pasti Aira ingin menangis saat ini. Ibrar paham.
"Aku tidak ingin menangis. Tidak," kata Aira sambil menunduk.
"Ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu saat ini?" tanya Ibrar. Aira diam. "Apapun itu. Kamu bisa meminta bantuanku." Kepala Aira mendongak perlahan.
"Bisa temani aku dulu sebelum kamu pulang?" tanya Aira membuat Ibrar menatap Aira agak lama. Tidak percaya bahwa perempuan ini ingin Ibrar berada disini lebih lama.
"Bisa."
banyak pelajaran yang di dapat
berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?