Bianca Sabian adalah seorang siswi yang sering bermasalah di sekolahnya. Banyak kenakalan yang sudah ia lakukan. Mulai dari bolos sekolah, mengecat rambut, hingga membuat rusuh satu kelas saat guru mengajar.
Tapi hidupnya berubah saat ia harus menerima nasib dipaksa menikah dengan gurunya sendiri. Yang lebih menyebalkannya lagi ternyata sang guru adalah seorang duda beranak satu.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Bianca setelah terpaksa menikah dengan gurunya sendiri??? Apakah sang guru mampu menerima Bianca sebagai istrinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ian_Zimanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode dua puluh enam
Bianca memalingkan wajahnya begitu angin menerpanya dan membuat rambutnya berantakan.
"Anginnya terlalu kencang, apa lebih baik kita pindah tempat duduk?" tanya Rava. Berulang kali dilihatnya Bianca sibuk merapikan rambutnya yang berantakan karena dihembus angin malam.
"Nggak usah, aku suka pemandangan disini" gumam Bianca sambil merapikan rambutnya.
Yap, saat ini mereka sedang berada di sebuah café, yang sudah pasti bukan café pamannya Alex.
Café yang mereka datangi ini lebih mirip rumah pada umumnya daripada café. Ada kamar, dapur, ruang tamu dan lainnya, yang kemudian disulap sedemikian rupa menjadi café dengan bangku-bangku dan mejanya. Menjadikan suasana nyaman seolah di rumah sendiri.
Rava dan Bianca memilih duduk di bagian beranda rumah itu. Itu sebabnya angin malam yang lumayan kencang menerpa mereka. Yang berada di beranda itupun hanya mereka, mungkin karena pasangan lain tidak terlalu menyukai angin malam.
"Besok kita menyelam lagi?" tanya Bianca.
"Kamu jadi suka menyelam"
"Iya mas, mungkin karena terumbu karangnya"
Tidak lama kemudian datang pelayan yang menghidangkan makan malam mereka. Sajian seafood yang kelihatan lezat.
"Andai Gio ikut sama kita" gumam Bianca sambil menyesap jus-nya, "Dia pasti senang kalau dibawa ke tempat seperti ini"
"Benar juga. Gimana kalau liburan nanti kita kesini lagi?"
Bianca tersenyum, "Oke"
Sejenak suasana hening. Yang terdengar hanya debur ombak serta denting piring dengan sendok. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk menyelesaikan makan malam itu.
"Setelah ini kamu mau balik ke hotel?"
"Nggak," jawab Bianca, "Aku mau lihat-lihat baju di toko sebelah." kata Bianca sambil menunjuk sebuah toko baju yang ada tepat di sebelah cafe.
Setelah Rava selesai membayar makanan, mereka berjalan keluar menuju toko yang ditunjuk Bianca tadi.
Toko baju itu tidak terlalu besar. Hanya sekitar ukuran 4x4 meter saja. Di dalam terdapat berbagai jenis pakaian khas pantai.
Karena Bianca selama ini tidak pernah mempunyai pakaian seperti itu, akhirnya dia berniat membeli beberapa.
Disaat ia sedang memilih, Rava membawa dua buah baju terusan untuk dicoba Bianca.
"Kamu coba ini." kata Rava sambil menyodorkan dua buah baju terusan untuk Bianca.
Bianca menerimanya dan segera mencoba kedua baju itu di ruang ganti. Setelah mencoba baju itu, Rava meminta tetap memakai salah satunya saja. Karena Bianca terlihat manis memaka baju itu.
Bianca tidak menolak karena ia senang Rava memilihkan dan bahkan membayar belanjaannya. Baju yang ia pakai sebelumnya ia masukan dalam kresek bersama baju satunya lagi.
Mereka pergi setelah Bianca membeli dua buah baju terusan. Sedangkan Rava membeli sebuah sebuah kaca mata hitam.
"Sekarang kita kembali hotel, ya." ajak Rava.
"Nanggung mas. Gimana kalau kita jalan-jalan di pinggiran pantai?"
"Anginnya kenceng sekali, Bi, nanti kamu sakit"
"Mas Rava khawatir sama aku? Huh, manis sekali. Tenang aja, aku bukan orang yang gampang sakit kok"
Rava menghela napas. Yah, ABG satu ini ternyata masih sulit diatur.
***
Rava menghela napas lagi. Sesuai keinginan Bianca saat ini ia berada di pinggir pantai. Mata kecilnya terus mengawasi Bianca yang berlarian kecil di sepanjang pantai.
Sesekali Bianca berjongkok ketika menemukan objek menarik di pasir.
Alas kaki yang ia gunakan ia letakkan begitu saja, tidak peduli kalau nantinya benda itu akan tersapu ombak.
Bianca masih terus berlarian hingga ia merasa lelah dan tanpa sungkan merebahkan tubuhnya di pasir. Gadis cantik itu memejamkan matanya seraya mengatur napasnya.
"Sudah puas, hm?" Bianca membuka matanya dan mendapati Rava berdiri di sampingnya dengan pose melipat tangan.
Sebagai jawabannya Bianca menggeleng pelan lalu memejamkan matanya lagi, "Anginnya enak Mas…"
"Enak tapi bisa bikin sakit" balas Rava sambil menundukkan dirinya di samping Bianca. Pria itu tersenyum tipis ketika menatap wajah Bianca yang terlihat begitu damai. Tangannya terulur dan mengusap pipi Bianca lembut, "Tuh kan, wajahmu udah dingin gini. Ayo kembali ke hotel"
Hening. Tidak ada suara kecuali suara debur ombak.
"Bi? Kamu tidur, ya?" kembali pertanyaan Rava dijawab oleh suara ombak. Iseng, Rava lalu merebahkan tubuhnya dan mencium bibir Bianca lembut. Rava tersenyum ketika merasakan gadis cantik itu membalas ciumannya.
"Pura-pura tidur" celetuk Rava sambil mengangkat wajahnya. Senyum tipis bermain di bibirnya ketika melihat raut kesal Bianca, "Kesel, ya?"
Bianca tidak menjawab. Hanya memejamkan matanya lagi. Berpura-pura tidur, dengan demikian mungkin dia akan dapat ciuman dari pangerannya lagi. Dan itu terkabul ketika Rava merendahkan tubuhnya hingga hampir menindih tubuh Bianca.
Dengan perlahan Rava mencium bibir Bianca lembut. Satu tangannya menopang tubuhnya dan satunya menyentuh ujung dagu Bianca. Sedangkan tangan Bianca melingkar di pinggang Rava sambil meremas erat kaus yang dikenakan oleh suaminya itu.
Ciuman itu berlangsung cukup lama. Hanya sesekali Rava mengangkat wajahnya, memberikan kesempatan pada Bianca untuk bernapas. Bianca membalas ciuman Rava dengan sangat baik dan Rava terus meningkatkan intensitas ciumannya.
Rava mengangkat wajahnya ketika merasakan Bianca tidak lagi membalas ciumannya. Pria itu hanya mampu menganga ketika melihat Bianca yang justru tertidur.
"Tidur apa pingsan, sih?" gumam Rava seorang diri.
Rava lalu bangkit dari posisinya dan mengusap sekitar bibir Bianca yang basah.
"Dasar, kalau di dongeng sang putri pasti bangun kalau dicium pangerannya. Tapi Princess Bianca ini malah ketiduran, ckckck…" gumam Rava. Pria itu kemudian menggendong tubuh Bianca dan membawanya menuju hotel. Meninggalkan alas kaki Bianca yang perlahan mulai terbawa ombak.
Yah, biarlah…
kalau kau Terima berarti novel tidak masalah
tapi kalau kau tidak Terima berarti pemikitan mu ada masalah saat kau tidak suka suamimu baik, sok manis, dan perhatian pada pria lai tapi novel malah Bianca seorang istri sok manis, dan sok perhatian pada pria lain dan kau benarkan kelakuan Bianca ini
renungkan lah, pakai otak untuk berfikir mana salah mana benar, salah ya salah benar ya benar
jangan jadi wanita egois kalau suami yang lakukan selalu salah tapi kalau istri (kalian) yang lakukan kalian benarkan
sadarlah