Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Selesai makan malam, Seina diam-diam menarik kakak kelimanya ke sudut rumah, kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.
Itu adalah sebuah lukisan gula berbentuk kelinci kecil.
"Kakak... Aku membelinya untukmu saat pergi ke kota."
"Sebenarnya Ibu yang membayarnya karna aku belum punya uang."
Kakak kelima menerima lukisan gula itu dengan hati-hati. Kelinci kecil itu tampak begitu indah hingga seolah bisa melompat kapan saja.
Ia memandang Seina cukup lama lalu tersenyum lembut dan berkata, "Terima kasih.. Aku sangat menyukainya."
Untuk pertama kalinya sejak Seina datang ke rumah, tidak ada lagi rasa canggung di antara mereka.
Di dalam hati kakak kelima, gadis kecil itu benar-benar telah menjadi adik kandungnya, namun kehangatan itu tidak berlangsung lama.
Kakak kedua tiba-tiba muncul dari belakang sambil berpura-pura cemberut.
"Lho? Kenapa lagi-lagi Kakak Kelima? Semua hadiah selalu untuk dia, lalu bagaimana dengan Kakak Kedua?"
Seina hanya bisa berkedip beberapa kali. Di dalam hati ia diam-diam mengeluh.
'Kakak Kedua sudah setinggi Ayah, badannya juga paling besar di rumah... tetapi masih tega meminta hadiah dari adik perempuan yang baru berusia enam tahun.'
Tentu saja, ia tidak berani mengucapkan isi hatinya. Sebagai gantinya, ia tersenyum manis.
"Kalau nanti Seina sudah punya uang sendiri... Aku akan membelikan hadiah yang lebih bagus untuk Kakak Kedua."
Mendengar itu, wajah kakak keduanya langsung berbinar.
"Nah, begitu dong!"
Seina kemudian teringat sesuatu. Ia mengambil potongan kue yang sejak tadi disimpannya dengan hati-hati.
"Kakak Kedua... Bisa tolong berikan ini kepada Kakak Keempat? Itu bagian miliknya."
Kakak kedua langsung mengangkat alis.
"Untuk apa repot-repot? Kalau dia tidak mau makan, berikan saja kepadaku."
"Kakak Kedua..."
Seina menatapnya dengan mata bulat yang penuh harap. Tatapan itu membuat kakak keduanya langsung menyerah.
"Baik, baik... Aku hanya bercanda. Serahkan saja kepadaku."
Sambil membawa potongan kue itu, ia berjalan menuju kamar kakak keempat.
Di dalam kamar, kakak keempat sedang duduk bersandar di dekat jendela sambil membaca sebuah buku.
Kakak kedua melemparkan bungkusan kecil itu ke atas meja.
"Nih.. Seina menitipkannya untukmu."
Kakak keempat hanya melirik sekilas.
"Lho? Jangan-jangan sekarang Kakak juga sudah dibujuk olehnya?"
Kakak kedua langsung mendengus.
"Dibujuk apanya? Mana mungkin aku tidak menyayangi adik perempuan secantik itu?"
Kakak keempat memutar bola mata.
"Kalau tidak mau, aku saja yang makan."
Kakak kedua baru saja hendak membuka bungkus kue itu ketika sebuah tangan lebih cepat menyambarnya.
"Ini milikku."
Melihat tingkah adiknya yang keras kepala, kakak kedua hanya tertawa kecil.
"Dasar... Mulutmu memang selalu berkata tidak, tapi hatimu berbeda."
***
Malam itu, setelah semua orang beristirahat, Mira justru belum bisa memejamkan mata, ia terus membolak-balikkan badan di atas dipan bambu.
Suaminya yang berada di samping akhirnya membuka mata.
"Ada apa? Kau terlihat gelisah."
Mira menghela napas panjang lalu menjawab, "Aku sedang memikirkan Seina. Aku takut... Anak itu terlalu pintar."
Perlahan-lahan Mira menceritakan semua kejadian yang terjadi hari itu di rumah keluarga Sie.
Mulai dari bagaimana Seina mengamati keadaan, sampai bagaimana gadis kecil itu menggunakan nama toko kue terkenal untuk menyelamatkan keluarganya.
Semakin mendengar cerita istrinya, sang ayah semakin terkejut, namun setelah lama terdiam, ia justru tersenyum.
"Itu bukan sesuatu yang buruk. Lebih baik anak kita cerdas daripada mudah ditipu orang."
"Bagaimanapun juga... Dia sekarang adalah putri keluarga Hartono."
Meski berkata demikian, jauh di lubuk hatinya masih tersimpan perasaan yang sulit dijelaskan.
Saat pertama kali melihat Seina berdiri sendirian di pinggir jalan, ia hanya ingin menyelamatkan seorang anak kecil yang tampak terlantar.
Ia tidak pernah membayangkan gadis itu akan menjadi bagian yang begitu penting bagi keluarganya.
Apakah pertemuan mereka adalah keberuntungan atau justru awal dari cobaan yang lebih besar...
Biarlah waktu yang menjawabnya.
cerita nya juga seru