"Ugh..
aku harus..."
Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.
tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 26 : Ayo Berangkat!
Pagi hari tiba, pilar-pilar langit menyinari seluruh kamar Theo.
"Selamat pagi kak!" White membangunkan Theo yang tertidur.
"White? Kamu udah besar ya sekarang." Theo mengelus White yang sekarang ukurannya telah berubah sebesar lengan kanannya.
"Hehe... Iya kak, tapi... Sekarang White udah nggak bisa naik ke leher kakak. Hu..." White awalnya senang dengan pertumbuhan nya. Namun, ketika ia menyadari bahwa ia sudah tidak bisa hinggap di leher Theo, ia menjadi sedih.
"Hahaha, nggak papa dong. Oiya, gimana? Ada yang sakit nggak abis ganti kulit? Aku kaget tau, kamu jadi telur lagi."
"Hehehe, tenang aja kak. White udah nggak ngerasa sakit kok." White sedari tadi hanya mengeluarkan tubuhnya ke tubuh Theo. Persis seperti kucing yang mengeluskan tubuhnya kepada pemiliknya.
"Malahan ya kak, sekarang White punya kekuatan baru."
"Benarkah?" Theo mengangkat kedua alisnya.
"Hmm... Kekuatan apa itu?"
"Hehehe, jangan kaget ya kak."
White mundur, lalu ia menjulurkan lidahnya.
Sshh
Splash
White menyemburkan cairan berwarna kuning keemasan.
Clap! Clap! Clap!
"Hebat, aku bangga sama kamu White," ucap Theo yang kagum dengan White.
"Hehehe, bisa aja kakak."
Theo mengambil sepotong daging, lalu ia memberikannya pada White.
Hap
"Tangkapan bagus White. Silakan makan."
White menelan daging yang diberikan Theo, lalu ia mulai tertidur.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar diketuk, "Ini aku Theo, Lucy. Ayo kita berangkat, Silas telah bersiap."
"Sudah waktunya ya? Baiklah." Theo bergegas keluar dari kamarnya, disambut oleh Lucy dan Silas.
"Hahaha, sekarang kita akan berangkat. Apa ada yang ketinggalan?" Silas menyambut Theo.
"Sebentar semuanya." Theo kembali ke kamarnya, lalu ia menatap dalam seluruh sudut kamarnya.
Kumpulan memori saat ia sedang tinggal di sana terputar di otaknya.
"Haah... Akhirnya aku akan pergi. Selamat tinggal... Rumah pertamaku."
Tap
Pintu ditutup oleh Theo, menandakan ia harus pergi saat itu juga.
"Lucy, kemaren kamu cantik banget loh."
Posh
Muka Lucy langsung memerah, "Theo..."
"Ya?" Jawab Theo.
"Kamu tau kan? Kalo ngomong gitu itu nggak sopan?" Lucy bertanya kepada Theo dengan nada yang agak rendah.
"Maaf, tapi aku jujur dengan perkataan ku."
Posh
Muka Lucy menjadi semakin merah seperti tomat yang sudah matang.
"Heee? Ada apa nih? OOO oooh ok aku paham. Hihihihi." Silas menggoda Lucy dengan muka yang sangat jahil.
"Ih... Nggak gitu, lagian kamu kan ga bakal tau, gorila bodoh!"
"Hei rubah licik, aku kan nggak selicik kamu. Hihihi," ejek Silas.
"Sudahlah, nggak usah ribut lagi."
"Habisnya dia..." Suara Lucy dan Silas segera berhenti saat Theo mulai mengangkat White.
"Ehm..." Mereka langsung kembali ke posisi masing-masing.
Sesampainya di lantai bawah tavern, Theo melihat Paul dan segera menghampirinya.
"Paman, Theo pergi dulu ya. Makasih banyak paman atas segala jasa paman. Theo minta maaf kalo misalnya Theo ada salah paman."
"Hm, hati-hati di jalan." Paman Paul mendekati Theo.
"Kalo kamu mau main sama dia, usahakan jangan terlalu jauh ya," bisikan paman Paul langsung membuat telinga Theo memerah.
"Hahahahaha!"
Sembari Paul terbahak-bahak, Theo segera kembali ke kelompoknya.
"Dah paman!" ucap ketiga orang itu kompak kepada Paul.
Tap! Tap! Tap!
"Hahhh... Akhirnya tempat ini sepi lagi."
Theo, Lucy, dan Silas berjalan menuju sebuah gerbang besar di pinggiran kota.
"Theo, tolong berikan surat izin yang dikasih sama Tuan Robertus kemaren." Silas dan Lucy segera mendekati petugas itu. Sementara itu, Theo ditugaskan mereka untuk mencari tumpangan seperti kereta kuda.
Kebetulan, di dekat situ ada seorang anak kecil. Kulitnya putih kuning langsat, "Mari! Bapak ibu saudara sekalian. Aku, adalah seorang kusir yang akan mengantar kalian sampai ke manapun."
"Hei bocah, berapa biaya sekali jalan ke Sheepshine?" Theo melihat bocah itu, lalu ia bertanya.
"Ah! Selamat datang Tuan, untuk biaya jalan ke Sheepshine harganya lima koin emas."
"Aaa... Lima koin emas ya? Hmm... Gimana kalo tiga?" Theo melirik bocah itu.
Gelengan kepala bocah itu langsung menjawab pertanyaan Theo.
"Tiga koin? Itu terlalu sedikit Tuan."
Theo langsung berbalik, ia ingin mencari kereta lain yang kiranya bisa dikenakan harga tiga koin emas.
"Tunggu! Gimana kalo harganya empat koin?"
"Hmm..." Theo mengelus janggutnya.
"Ayolah, aku butuh uangnya Tuan. Adikku..."
"Adikmu?" Theo menatap anak itu dengan tajam.
"Adikku sedang sakit."
"Dik... Coba ceritakan." Kali ini Theo menyamakan matanya dengan mata anak itu.
"Jadi... Awalnya aku, adikku dan papa mama tinggal di Kekaisaran Timur. Lalu, karena suatu konflik akhirnya kami terpaksa pergi ke sini. Awalnya, kami hidup bahagia. Papa bekerja sebagai kurir, mama menjual makanan." Suara anak itu semakin berat dan bergetar.
"Lalu?"
"Sisik sialan itu mulai muncul," ucap anak itu dingin.
"Tunggu... Sisik seperti ini?" Theo menunjukkan sisik berwarna hitam pekat.
"Ya, ya, Aku yakin itu sisiknya. Huhuhu, Papa menderita sisik itu. Lalu, ia menjadi gila. Papa jadi suka mukul mama, bahkan aku pernah dipukulnya sekali." Ucap anak itu dengan tangisan yang mulai pecah.
"Lalu, beberapa bulan yang lalu. Papa mulai menjadi monster, menggila dan melompat kesana kemari. Akhirnya, mama... Dimakan."
"Ha? Sebentar, jangan takut ya." Theo berusaha menenangkan anak itu. Tampak ketakutan akan sisik hitam di mukanya.
"Theo!" Silas menghampiri Theo.
"Siapa bocah itu?"
Theo hanya menggeleng, "Dia tadi mau jual jasa kurir."
"Ooo"
Theo memperlihatkan sisik di tangannya, lalu ia berpura-pura mengambil botol dari tasnya.
"Lihat dik."
cur
Theo menuangkan cuka di botol itu ke sisik yang ada di tangannya.
Cesss
Sisik itu mulai menguap, lalu menghilang.
Melihat kejadian itu, anak itu segera menatap Theo dengan takjub dan mata yang berbinar.
"Tuan! Bukan, kakak! Bisa nggak aku minta obat itu? Adikku lagi sakit sisik."
"Hei bocah kecil! Nggak ada yang gratis di dunia ini." Silas mencoba menyelamatkan Theo, menduga itu hanyalah sebuah penipuan.
"Tunggu." Theo mencegah Silas berkata lebih lanjut, lalu ia mendekati bocah itu.
"Dik, gimana kalo kereta kuda itu aku bayar pake obat ini? Nanti setelah adikmu sembuh, baru aku diantar."
Mata Theo mulai berkaca-kaca, jujur saja ia mulai mengingat adiknya.
"Kakak, itu tidaklah cukup. Baiklah."
Syut
Anak itu membuka bajunya, memperlihatkan pundak indah layaknya seorang gadis.
Kalau dilihat, memang anak itu adalah anak yang sangat cantik. Kalau saja rambutnya panjang, pasti banyak yang salah mengira dirinya sebagai perempuan.
"Aku akan menyerahkan tubuhku. Silakan kakak pakai." Anak itu hanya berdiri pasrah.
"Pakai pakaianmu." Theo memperingati anak itu.
"Tidak kakak, silakan kakak pakai tubuhku." Anak itu segera mengarahkan Theo untuk memegang tubuhnya, tapi Theo langsung menolak.
"Pakai bajumu!" Suara Theo menggema di seluruh area.
Rasanya, ruang di sekitar Theo seperti bergetar dan menjadi berat.
Anak itu segera menatap Theo dengan wajah penuh takut, ia segera memakai pakaiannya lagi.
"Hei Theo!..." Silas membalik tubuh Theo dan terkaget.
...****************...
End Ch. 26 : Ayo berangkat!
Makasih semuanya udah baca karyaku, jangan lupa like, comment dan favorit.