Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.
Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.
Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Sudah sejak tadi Adit memperhatikan Nadia yang sedang berbincang dengan Digo. Awalnya Nadia masih terlihat santai, Digo juga tersenyum lebar. Tapi, setelah beberapa saat, Digo mendekatkan wajahnya pada Nadia, Adit merasa tidak senang.
"Digo!" serunya melangkah cepat menghampiri Digo.
"Eh bang. Apa kabar?" sapanya ramah.
Adit hanya menanggapi dengan senyuman tipis. "Sejak kapan lo di Jogja?" tanya Adit heran.
Digo tersenyum sinis. "Gue udah hampir sebulan di sini. Gue pindah kampus, bang."
"O gitu."
Sebentar Adit melirik pada Nadia yang terdiam dengan wajah pucat, Napasnya juga semakin cepat, bibirnya bahkan perlahan berubah kebiruan.
"Nadia!" panggil Adit lembut tanpa menyentuh sedikit pun.
Napas Nadia naik turun tak beraturan. Matanya berair dan kemerahan. "Maaf bang. Aku gak enak badan. Aku izin pulang duluan..." ucapnya terbata.
"Nadia, kamu demam?" tanya Adit yang tadinya hendak melangkah menyusul tapi tangannya ditarik oleh Digo.
"Bang Adit suka ya sama Nadia?"
"Apa?!"
Digo tersenyum sinis, ekspresinya seperti mengejek. "Udahlah bang, cewek yang lebih cantik dan pantas buat Abang ada banyak. Cewek seperti Nadia gak pantas buat Abang. Cewek sombong sok suci."
"Maksud lo ngomong gitu apa? Lo kenal Nadia?"
Digo tidak menjawab, dia hanya mengangkat kedua bahunya sebelum berlalu keluar dari kafe.
Begitu Digo menghilang dari kafe, Nadia keluar dari dapur dengan sudah berganti pakaian.
"Nadia, kamu demam?" tanya Adit mendekati Nadia.
"Maaf bang, aku gak enak badan. Gak apa-apa kok kalau Abang mau potong gajiku. Hari ini aku gak bisa lanjut kerja."
"Nadia, aku gak akan potong gaji kamu kok. Aku cuma khawatir sama kamu."
"Terimakasih bang. Aku izin pulang."
Dengan langkah cepat Nadia meninggalkan Cafe. Pikirannya penuh dengan semua omelan Ibunya. Belum lagi sekarang kepalanya bertambah penuh dengan ingatan menjijikkan masa lalunya.
Tangan Nadia bergetar hebat, dia bahkan hampir tidak bisa memakai helm sendiri. Air matanya pun ikut tumpah dengan derasnya.
Rangkaian kejadian itu semakin jelas terlintas dalam ingatannya, hingga membuat tubuh Nadia lemas dan terduduk di samping motornya sambil memeluk lututnya.
Nadia menggigil ketakutan dan nyaris kehilangan kesadaran. "Ayah... Aku takut. Andai ayah masih ada, mungkin aku tidak akan mengalami hal seperti itu..."
Ingatan yang mati-matian Nadia kubur selama enam tahun terakhir, kini kembali memenuhi kepalanya, rasanya sangat menyakitkan dan menakutkan.
"Tidak! Akh...." jerit Nadia tertahan sambil membekap erat mulutnya sendiri.
Saat kejadian itu Nadia baru berusia empat belas tahun, rasa takut di benci dan rasa takut di salahkan membuatnya berusaha keras melupakan kejadian hari itu.
Setelah menenangkan diri cukup lama di luar kafe, Nadia akhirnya punya tenaga untuk mengendarai motornya untuk segera pulang. Sesampainya di rumah, Nadia merasa sangat panas. Keringat bahkan sudah membasahi baju yang dia pakai.
"Panas..." lirihnya getir.
Nadia berlari masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan beberapa gayung air, tapi beberapa saat setelahnya dia malah menggigil kedinginan.
Dalam keadaan basah, Nadia keluar dari kamar mandi untuk mengambil handuk di kamarnya. Namun, baru beberapa langkah kaki itu keluar dari kamar mandi, rasa pusing kembali menyerang. Pandangannya memudar, rasa pusing itu semakin menyiksa.
"Akh...." tubuh itu jatuh begitu saja ke lantai yang basah karena air dari pakaiannya sendiri.
Nadia pun kehilangan kesadaran, sendirian dengan pakaian basah dan tubuh menggigil hebat.
...>~<...
Sudah hampir tiga jam Rio menunggu Laura di kafe yang telah mereka sepakati. Rio tampak resah, karena Laura tidak juga kunjung datang. Rio juga sudah mencoba menelpon Laura berkali kali tapi tidak ada jawaban.
Laura sendiri baru saja tiba di rumah sakit tempat mamanya di rawat. Dia belum sempat memeriksa handphonenya sama sekali. Laura juga lupa tentang janji untuk bertemu dengan Rio.
Untuk mengalihkan rasa khawatirnya, Rio pun menelpon Sean.
"Dimana?"
(Di rumah. Kenapa?)
"Laura gak datang. Gue udah coba hubungi dia tapi gak diangkat. Gue khawatir dia kenapa-napa."
(Terus lo mau gue bantu apa?)
"Periksa, apa dia baik-baik aja."
(Hmm. Lo masih di kafe?)
"Iya. Gue gak bisa pergi sebelum gue tahu informasi tentang Laura."
(Ya udah, gue kesana.)
"Gue tunggu."
Sean segera bergegas menemui Rio. Sean juga menyempatkan menghubungi asistennya untuk mencari tahu keberadaan Laura.
Sementara itu, Laura baru tiba di rumah, pulang sebentar untuk mandi dan berganti pakaian. Begitu selesai mandi barulah Laura ingat tentang janjinya dengan Rio.
Saat memeriksa ponselnya, dia terdiam melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Rio. Kemudian, Laura segera mengetik pesan.
Laura: Sepertinya belum bisa ngobrol malam ini. Ada hal mendesak dan penting.
Setelah mengirim pesan itu, Laura segera bergegas kembali ke rumah sakit. Sedangkan Rio, terpaku menatap pesan yang dikirim Laura.
"Tanya gak ya?" gumamnya bingung.
Beberapa kali jari-jemarinya mengetik, tapi kemudian dia hapus. Rio ingin menanyakan apa hal penting yang mendesak itu, tapi dia urungkan. Takut pertanyaannya nanti malah akan membuat Laura merasa tidak nyaman dan semakin menjauh darinya.
Tidak berselang lama Sean datang, duduk di kursi yang langsung berhadapan dengan Rio. "Orang suruhan gue sedang mencari tahu keberadaan Laura. Yang jelas saat ini Laura tidak ada di kontrakannya." ucap Sean.
"Dia barusan chat gue." memperlihatkan pesan yang di kirimkan Laura.
Sean membaca pesan itu sebelum notifikasi masuk ke ponselnya. Pesan itu di kirim oleh orang suruhannya.
Intel: Laura pulang ke rumahnya, orangtuanya di rawat di rumah sakit.
Segera saja Sean memperlihatkan pesan itu pada Rio.
Setelah membaca pesan itu, Rio baru bisa menghela napas lega. "Syukurlah. Gue kira dia cuma memberi alasan karena memang gak mau ketemu gue lagi."
Sean menatap wajah itu, raut yang baru pertama kali dilihatnya setelah mengenal Rio hampir setengah hidupnya. "You're really falling too deep this time, right?!"
Rio mendongak, matanya berbinar-binar. "I love her so much."
Sean tersenyum, menepuk punggung Rio. "Gue kira lo gak akan pernah bisa jatuh cinta. But I was wrong."
"Gue juga gak nyangka, rasa untuk dia ternyata sebesar ini. Now I'm really scared of losing her."
"Yeah, gue paham."
"Kalau Laura ngasih gue kesempatan kali ini, gue gak akan menyia-nyiakan kesempatan itu lagi. Apa pun rintangannya, tujuan gue tetap sama. Gue inginkan Laura. Gue akan jadikan dia pelabuhan terakhir gue, bro."
Sean tersenyum mendengar kalimat yang barusan di ucapkan Rio. Ia merasa bangga dengan sahabatnya itu yang akhirnya sudah mulai berpikir dewasa dan sudah menemukan tempat dimana hatinya akan dia labuhkan.
Bersambung...