🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Langit malam dan orang tersayang (part 2)
Keanu langsung tertawa kecil melihat ekspresi Anindia. Bukannya merasa bersalah, pria itu justru terlihat puas dengan kejahilannya sendiri.
"Serius banget, sih?" Ujar Keanu santai, masih menahan tawanya.
Anindia menatapnya tidak percaya. "Mas!" Protesnya cepat. "Ini lengket tau!"
Keanu justru semakin terkekeh. Tangannya terangkat lagi, kali ini berniat menghapus olesan kecap itu. Namun sebelum sempat menyentuh, Anindia buru-buru mundur sedikit sambil menatap tajam suaminya.
"Jangan lagi!" Ujar Anindia waspada.
Keanu mengangkat kedua tangannya pura-pura menyerah, meski senyumnya tak hilang sedikitpun. Dari arah kursi, suara tawa kecil mulai terdengar. Ternyata, orang tua mereka memperhatikan tingkah keduanya sejak tadi.
"Astaga, kalian ini..." Gumam ibu Keanu, merasa geli.
Ayah dan ibu Anindia hanya menggeleng pelan sembari tersenyum. Mereka menatap putri dan menantunya yang terlihat seperti anak kecil saat bersama.
Anindia yang awalnya masih memasang wajah kesal, perlahan langsung terdiam. Senyumnya berubah canggung begitu menyadari semua mata kini tertuju pada dirinya dan juga Keanu. Pipinya langsung memanas.
"Ya ampun," gumam Anindia pelan, merasa malu sendiri.
Refleks, Anindia langsung menunduk sedikit sembari mengusap ujung hidungnya lagi. Ia berusaha menghilangkan sisa kecap sekaligus menyembunyikan rasa saltingnya.
Ibu Keanu terkekeh melihat itu. "Udah nikah tapi kayak anak SMA pacaran." Godanya ringan.
"Mama..." Keluh Anindia malu, membuat semua orang justru tertawa kecil.
Keanu terkekeh pelan mendengar godaan itu. "Kan emang gak pernah pacaran, Ma," ujar Keanu santai. "Sekali ketemu langsung jodoh."
Anindia langsung menoleh. Kalimat santai itu justru membuat wajahnya kembali memerah. "Mas," gumam Anindia lirih.
Keempat orang tua itu kembali tertawa mendengar pengakuan spontan tersebut. Ibu Keanu bahkan sampai menggeleng geli melihat putranya.
"Dulu ribut terus, sekarang paling manis," goda ibu Keanu lagi.
Anindia langsung salah tingkah sendiri. Ia buru-buru kembali fokus pada jagung di depannya, meski senyum malunya tidak bisa disembunyikan.
"Tapi emang bener sih, Ma," ujar Keanu sembari membalik daging di atas pemanggang. "Kadang orang yang paling sering bikin kesel, ujung-ujungnya malah jadi yang paling disayang."
Anindia refleks menoleh cepat. Belum sempat mengatakan apa-apa, Keanu kembali berujar. "Dulu siapa ya, yang paling galak sama a-"
Belum selesai kalimatnya, Anindia langsung mencubit pinggang Keanu.
"Aww!" Keanu sedikit tersentak, lalu memegang pinggangnya sendiri. "Sakit, sayang."
Suara tawa Keanu langsung pecah setelah mendapatkan cubitan itu. Bukannya kapok, ia justru semakin terhibur melihat wajah malu Anindia.
Sementara orang tua mereka hanya bisa menggeleng melihat tingkah pasangan muda itu.
"Ini mah pacaran," ujar ibu Anindia yang sedari tadi memperhatikan. "Tapi versi halalnya."
Ucapan ibu Anindia membuat semua orang di rooftop merasa terhibur. Bahkan, ayah Keanu sampai menepuk pelan pundak sahabatnya diiringi dengan tawa kecil.
"Bener banget tuh, Ma," ujar Keanu bangga.
Anindia langsung menyenggol pelan lengan Keanu, benar-benar sudah tidak tahan dengan tingkah suaminya sendiri. "Mas, udah..." Bisik Anindia.
Pipi Anindia masih bersemu merah, apalagi setelah semua orang ikut menggoda mereka. Anindia bahkan tidak berani menatap kedua orang tua dan mertuanya terlalu lama.
Namun, Keanu justru menoleh ke arahnya dengan senyum tengil andalannya. Tatapannya penuh kemenangan menikmati setiap reaksi Anindia.
"Kenapa, hmm?" Goda Keanu santai. "Salah ya aku bangga sama istri sendiri?"
Anindia langsung menggeleng kecil. "Bukan gitu..."
Keanu malah mendekat sedikit ke arah Anindia. "Terus?"
Anindia menghela nafas pasrah, lalu buru-buru kembali fokus ke pemanggang. Tapi Keanu masih memperhatikannya dengan ekspresi jahil yang belum hilang.
Dan karena terlalu sibuk menggoda, aroma gosong tiba-tiba tercium. Anindia langsung menoleh cepat. Matanya membulat melihat daging di atas pemanggang yang mulai menghitam di satu sisi.
"Gosong, Mas!" Ujar Anindia cepat sembari menunjuk pemanggang.
Keanu refleks menoleh, "Astaga!"
Ia langsung buru-buru mengangkat daging itu dari atas bara api. Ekspresinya panik untuk pertama kalinya malam itu. Tangannya bergerak cepat membalik dan memindahkan beberapa potong lain sebelum ikut bernasib sama.
Anindia langsung menahan tawanya melihat reaksi suaminya yang mendadak kalang kabut.
Sementara dari arah kursi, ayah Keanu terkekeh sembari menggeleng kecil. "Makanya fokus manggang dulu."
Ayah Anindia ikut menimpali. "Bukan fokus manggang, Bram," ujarnya. "Keanu fokusnya ke putriku sejak tadi."
Keanu yang masih sibuk dengan daging akhirnya berhenti sejenak. Wajahnya terlihat sedikit malu setelah menjadi bahan godaan baru.
"Pa," keluh Keanu sembari menghela nafas pasrah.
Anindia yang melihat itu langsung tersenyum puas. Kesempatan balas dendam seperti ini jelas tidak akan ia lewatkan begitu saja.
"Hayoo lho, Mas," ujar Anindia santai sembari membalik jagung. "Gosong kan, jadinya?"
Keanu terdiam sepersekian detik, lalu terkekeh sendiri karena sadar dirinya kalah telak kali ini.
Setelah suasana kembali sedikit tenang, Anindia akhirnya mendekat ke sisi Keanu. Tangannya mengambil penjepit lain, lalu memindahkan beberapa daging yang hampir terlalu matang.
Senyum kecil masih terukir di wajahnya, meski kali ini tidak lagi menggoda suaminya.
Keanu melirik sekilas ke arah Anindia, sebelum akhirnya kembali fokus pada pemanggang di depannya. Kini, gerakannya jauh lebih hati-hati daripada beberapa menit lalu.
Setelahnya, Anindia kembali pada tugasnya. Ia membalik jagung satu per satu, mengoleskan mentega dan saus perlahan hingga aroma manis gurih kembali memenuhi udara rooftop.
Sesekali angin malam berhembus lembut, membuat malam itu semakin nyaman. Dari arah tempat duduk, obrolan kedua keluarga masih terdengar hangat, bercampur dengan tawa kecil Shaka yang sesekali ikut menyela.
Tidak ada kemewahan berlebihan malam itu. Hanya kebersamaan sederhana, makanan hangat, dan orang-orang tersayang yang berkumpul dalam satu tempat. Namun, hal-hal seperti ini yang terasa paling menyenangkan.
Bagi Anindia, malam itu seperti jeda kecil dari segala lelah yang selama ini menumpuk. Sementara bagi Keanu, melihat istrinya tersenyum dan keluarga berkumpul seperti ini sudah lebih dari cukup untuk membuat semuanya terasa sempurna.
Tak terasa, proses bakar-bakar itu akhirnya selesai juga. Aroma makanan matang memenuhi rooftop, terasa begitu menggugah selera.
Bi Yeyen dan Mbak Tika mulai memindahkan satu per satu hasil panggangan ke meja panjang di tengah rooftop.
Lampu gantung di atas meja memantulkan cahaya hangat di atas hidangan sederhana itu, membuat semuanya terlihat semakin hidup.
Ayah Keanu memperhatikan meja yang kini sudah penuh, lalu tersenyum kecil. Setelahnya, ia menoleh ke arah Mbak Tika yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Tika," panggil ayah Keanu pelan.
Mbak Tika yang sejak tadi membantu menata meja, langsung menoleh cepat. "Iya, Tuan?"
Ayah Keanu tersenyum samar, lalu melirik hidangan yang sudah tersusun rapi di atas meja. "Tolong panggil semuanya buat makan malam bareng," titahnya.
Mbak Tika berkedip pelan, memastikan maksud sang majikan. "Semuanya, Tuan?"
"Iya," jawab ayah Keanu santai. "Biar makan sama-sama."
Mbak Tika langsung mengangguk cepat. "Baik, Tuan."
Setelahnya, Mbak Tika langsung beranjak untuk menyampaikan amanah tersebut.
Anindia yang mendengar percakapan tadi langsung tersenyum kecil. Tatapannya berpindah ke arah ayah mertuanya. Ada rasa hangat yang muncul begitu saja ketika melihat bagaimana keluarga suaminya memperlakukan semua orang di rumah ini layaknya keluarga.
Tidak ada jarak yang sengaja dibuat malam itu. Bagi keluarga Bramantyo, kebersamaan bukan hanya tentang keluarga inti, tapi juga tentang orang-orang yang selama ini ikut menjaga rumah itu tetap hidup.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar saling bersahutan, suasana rooftop menjadi semakin ramai. Tawa dan obrolan mulai bercampur menjadi satu, menciptakan kehangatan yang terasa begitu tulus di bawah langit malam.
Di tengah kebersamaan itu, perhatian Anindia perlahan beralih ke arah ibunya. Sejak tadi, beliau masih memangku Shaka sambil ikut menikmati makanan di meja.
Namun, mata Shaka sudah mulai terlihat berat. Gerakan kecilnya melambat, sesekali ia mengusap wajah mungilnya sendiri sebelum kembali bersandar nyaman di dada neneknya.
Anindia langsung tersenyum melihat itu. Ia melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan perlahan. "Sini Ma, Shaka sama Nindi aja."
Ibu Anindia menoleh sekilas, "Gak apa-apa. Mama masih kuat gendong."
Anindia terkekeh kecil, lalu tetap mengambil Shaka dengan hati-hati ke dalam pelukannya. "Nanti makannya susah, Ma," ujarnya.
Ibu Anindia hanya tersenyum, sementara Shaka bergerak kecil saat berpindah pelukan. Ia langsung menyandarkan kepalanya di pundak ibunya dengan nyaman.
Anindia mengusap punggung kecil putranya perlahan, "Ngantuk ya, sayang?" Ujarnya lembut.
Ibu Anindia memperhatikan keduanya dengan senyum hangat. "Persis seperti bundanya," ujarnya.
Anindia terkekeh kecil mendengar penuturan sang ibu. Ia menunduk sebentar, lalu mengusap lembut kepala Shaka.
"Masa sih, Ma?" Gumam Anindia pelan sambil tersenyum.
Ibu Anindia mengangguk singkat, masih memperhatikan cucunya yang mulai mengusap matanya berulang kali. "Kalau udah ngantuk langsung nyari pundak," ujarnya.
Anindia kembali terkekeh. Tanpa kata, ia kembali duduk di kursinya dengan hati-hati, memangku Shaka lebih nyaman di pelukannya. Kepala kecil itu bersandar di dada sang ibu, matanya setengah terbuka sesekali mengoceh pelan.
Tak lama, Bi Yeyen datang menghampiri sambil membawa botol susu hangat. "Non, susu den muda Shaka tadi udah Bibi bikinin," ujarnya lembut sembari menyerahkan botol tersebut.
Anindia langsung menoleh dan tersenyum hangat, "Makasih, Bi."
Bi Yeyen mengangguk kecil, lalu kembali membantu di meja makan. Anindia segera memberikan botol susu itu pada Shaka. Refleks, kedua tangan mungil itu memegang botolnya sendiri meski dibantu dengan Anindia.
"Pelan-pelan sayang," gumam Anindia sembari membetulkan posisi Shaka.
Shaka mulai minum dengan tenang, membuat gemas semua orang yang berada di sana. Suasana rooftop Masih dipenuhi dengan obrolan hangat dan tawa kecil keluarga yang menikmati malam bersama.
Keanu yang duduk di dekat Anindia perlahan menoleh ke arah putranya. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Tanpa banyak bicara, ia mengusap lembut kepala Shaka. Jemarinya bergerak perlahan, penuh kehati-hatian seolah tidak ingin mengganggu kenyamanan anaknya.
Shaka mendongak sebentar ke arah ayahnya, lalu kembali fokus minum susu dengan mata yang mulai berat.
Keanu terkekeh kecil melihat itu. Tatapannya hangat, menikmati momen sederhana bersama keluarganya.
Anindia melirik sekilas ke arah suaminya. Melihat ekspresi Keanu yang setenang itu membuat hatinya ikut menghangat.
Di bawah lampu-lampu rooftop yang menyala lembut, malam itu terasa begitu damai. Untuk sesaat, dunia membiarkan mereka menikmati kebahagiaan kecil tanpa gangguan apapun.
Botol susu di tangan Shaka perlahan mulai turun. Gerakannya melambat sedikit demi sedikit, hingga akhirnya benar-benar terhenti.
Mata Shaka mulai terpejam, nafasnya juga perlahan berubah lebih teratur. Anindia otomatis mengusap punggung kecil itu, memastikan Shaka benar-benar tertidur nyaman di pelukannya.
Keanu yang memperhatikan sejak tadi tersenyum kecil. Tangannya kembali mengusap pelan rambut tipis Shaka, sebelum akhirnya bergumam lirih. "Udah tidur rupanya."
Nada suaranya rendah dan hangat, nyaris tenggelam di tengah obrolan keluarga yang masih berlangsung di sekitar mereka.
Anindia ikut menatap Shaka, senyumnya melembut. "Tadi masih kuat tahan kantuk," ujarnya pelan.
Keanu mengangguk kecil masih memandang putranya sedikit lebih lama. Di momen sederhana seperti itu, rasa lelah seharian seolah benar-benar menghilang begitu saja.
Malam terus berlanjut dengan hangat. Hidangan barbeque yang tadi dipersiapkan bersama perlahan mulai berkurang, diselingi dengan obrolan ringan yang mengalir di antara mereka.
Di bawah langit malam yang tenang, dua keluarga itu menikmati kebersamaan tanpa terburu-buru.
Tidak ada hal besar malam itu. Namun justru karena kesederhanaannya, setiap momen itu terasa begitu berarti. Dan tanpa mereka sadari, malam hangat di rooftop itu akan menjadi salah satu kenangan yang paling mereka rindukan nantinya.
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁