Cakiya dan Baruna, dua pendekar muda yang paling dicari-cari keberadaannya di kerajaan. Salah satu alasan dua pendekar itu begitu diburu karena mereka dituduh mencuri tiga dari Delapan Senjata Pusaka milik Kerajaan, yaitu gada Aqni Samaja, kujang Nagacita dan keris Rudra Arutala.
Mereka berdua juga diincar orang-orang dari Perguruan Harimau Bulan dan Perguruan Harimau Matahari, dua perguruan aliran putih terbesar di Kerajaan. Takdir seperti apa yang akan menanti mereka? Apakah mereka tertangkap? Akankah Baruna & Cakiya berhasil memulihkan nama baik mereka? Atau mereka justru bergabung bersama para pendekar dari golongan hitam?
Catatan : Boleh promosi karya di kolom komentar, mohon maaf kalau saya lambat merespon atau malah lupa merespon di kolom komentar 🙇♂️🙇♂️. Mari sesama pegiat industri kreatif saling mendukung...✊✊✊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersa Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Naga Sungai Melayang di Kolam Arwah
Samar-samar Macan Mawa melihat orang-orang disekitarnya menghentikan gerakannya, baik rekan-rekan seperguruannya maupun Baruna. Macan Mawa pun disapu rasa keheranan ketika. melihat sekelilingnya, segalanya lalu berubah warna menjadi kelabu. Langit, pepohonan, rumput, bahkan manusia disektarnya semua berwarna kelabu. Macan Mawa menoleh ke kanan dan ke kiri, dirinya sama sekali tidak melihat saudara-saudara seperguruannya itu mengelilingi dan memanggil dirinya. Rupanya, suara-suara yang memanggilnya itu, ternyata bukan berasal dari rekan-rekannya, melainkan dari dalam kepalanya.
Kegelisahan bercampur rasa takut menyelimuti dirinya ketika melihat semua disekitarnya menjadi berwarna kelabu serta bergerak dengan sangat lambat seolah-olah waktu terhenti. Macan Mawa merasakan jika semua disekitarnya tidak ada yang beres usai dirinya menyerang Cakiya dengan jurus Ledakan Harimau Matahari. Sayup-sayup lalu terdengar sebuah lagu nasehat-nasehat yang cukup menyayat hati di dalam pikiran Macan Mawa. Warna suara dari lagu itu membuat bulu kuduk Macan Mawa meremang, seolah-olah jiwa Macan Mawa melayang dalam sebuah ruang waktu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Nadyan silih bapa biyung kaki nini,
sadulur myang sanak
kalamun muruk tan becik,
nora pantes yen den nuta.
Apan kaya mangkono karepaneki,
sanadyan wong liya,
kalamun watake becik,
miwah tindake prayoga.
Iku pantes yen sira tiruwa ta kaki.
Miwah bapa biyung,
amuruk watek kang
becik, iku kaki estokena[1].
Syair lagu itu terus terngiang-ngiang dalam gema suara yang bergemuruh di benak Macan Mawa, hingga kesadarannya seolah-olah menjadi ringan. Tubuhnya secara ajaib terangkat ke udara secara perlahan-lahan seperti tidak mempunyai berat. Secara reflek Macan Mawa kemudian melirik wajah Cakiya, Ia ingin melihat apakah Cakiya mengalami kondisi yang sama dengannya atau tidak. Akan tetapi wajah yang seharusnya dilihat Macan Mawa bukan wajah Cakiya, melainkan wajah dirinya yang sedang menatap kosong ke arah langit. Seketika setelah melihat wajah dirinya yang menatap hampa, tubuh Macan Mawa melayang-layang di udara dan perlahan-lahan melayang seperti roh yang terlepas dari raganya. Apa yang dilihatnya benar-benar membuat dirinya terkejut dan seolah-olah adalah sebuah ilusi yang cukup membingungkan bagi dirinya.
Macan Mawa lalu menunduk dan melihat sekitarnya, Ia kemudian benar-benar terkejut sewaktu melihat pemandangan tepat di bawah kakinya. Macan Mawa dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan bukan dirinya yang sedang mengalahkan Cakiya, melainkan dirinya yang sedang dalam posisi tertidur di atas tanah dengan tatapan kosong serta hidung dan pelipis mengeluarkan darah. Sementara Cakiya yang seharusnya terlihat
tidak berdaya, justru terlihat dalam posisi berdiri tidak jauh dari tubuhnya tidak berdaya itu. Setelah melihat tubuhnya sendiri dalam kondisi demikian, rasa sakit di bagian mulut dan pelipis Macan Mawa menyengat dengan sangat kuat hingga membuatnya bagaikan disambar oleh kilatan petir yang mencambuk pelipis dan wajahnya.
Rasa sakit tersebut membuatnya berteriak, namun hanya kesunyian yang dapat keluar dari pita suara Macan Mawa. Situasi yang demikian membuat Macan Mawa demikian panik, dengan sekuat tenaga dirinya mencoba membuka suara, namun lagi-lagi tidak ada suara yang keluar dari kerongkongan Macan Mawa. Macan Mawa yang semakin bertambah panik kemudian berusaha meraih Cakiya, akan tetapi semua yang dilakukannya sia-sia, tubuhnya hanya menembus Cakiya seolah-olah dirinya adalah arwah tidak kasat mata. Rasa takut kemudian menyapu Macan Mawa, Ia mengira jika rohnya terlepas dari raga. Macan Mawa merasa jika ajalnya sudah dekat, rasa putus asa bercampur rasa takut kemudian menyergap dirinya. Di saat rasa putus asa menyergap Macan Mawa, kesadarannya seolah-olah terseret masuk ke dalam tubuhnya yang terbaring menatap kosong. Kesadarannya pun perlahan-lahan menghilang, dan visi penglihatannya kemudian menjadi gelap.
Begitu membuka mata, Macan Mawa lalu menyadari jika sekarang kesadaran dan tubuhnya berada di dalam satu tempat. Tatapannya pun tidak lagi kosong dan Macan mawa dapat merasakan jika semuanya kembali seperti sebelumnya. Dunia dalam penglihatannya tidak lagi berwarna kelabu, melainkan penuh warna, dengan langit
berwarna biru, awan berwarna putih, batang pepohonan berwarna cokelat serta dedaunan berwarna hijau. Akan tetapi, saat akan menggerakkan tubuhnya, Macan Mawa kemudian menyadari jika dirinya tidak mampu menggerakkan seluruh bagian tubuhnya seolah-olah saraf di tubuh Macan Mawa tidak dapat diajak untuk bekerja sama. Ia hanya bisa menggeram dan mengerang saat Cakiya berada di dekatnya sambil mengatakan sesuatu pada Macan Mawa.
“Saat ini Tuan Macan Mawa sedang dalam pengaruh ajian Naga Sungai Melayang di Kolam Arwah sehingga Tuan mengalami halusinasi dan kemudian roh anda terasa bagaikan melayang. Tuan tidak perlu khawatir, efek jurus ini mungkin akan hilang beberapa jam lagi. Saat ini nyawa Tuan berada dalam genggaman saya, menggorok Tuan dengan dua jemari saya bukan sesuatu yang sulit.“ Cakiya tersenyum ketika melihat Macan Mawa hanya menggerang-erang melotot tidak berdaya.
“Kakang Macan Mawa kalah!?” Salah satu pendekar Perguruan Harimau Matahari begitu terkejut mengetahui Macan Mawa kalah dengan cukup singkat.
“Cakiya licik, kau menggunakan sihir.” Salah satu dari mereka tiba-tiba mengatakan hal tersebut.
“Benar dia pasti menggunakan racun atau sihir jahat.” Komentar yang lain.
“Dasar manusia busuk, kau pasti curang.” Sahut salah satu pendekar Perguruan Harimau Matahari yang lain.
“Apakah Tuan-Tuan bisa membuktikan tuduhan bahwa saya melakukan kecurangan saat bertarung melawan Macan Mawa?” Cakiya tertawa geli menyaksikan orang-orang Perguruan Harimau Matahari begitu sulit untuk menerima kenyataan jika Macan Mawa yang mereka anggap hebat kalah oleh Cakiya hanya dengan dua jurus. “Yang
saya lakukan hanya merapal ajian Naga Sungai Melayang di Kolam Arwah. serta jurus Celeng Geni Mengitari Api untuk mengalahkan Tuan Macan Mawa.”
Baruna hanya tertegun melihat Cakiya, seorang pendekar muda berusia belasan tahun berhasil mengalahkan Macan Mawa yang memiliki fisik nyaris mencapai dua meter tingginya. Terlebih lagi, Cakiya menggunakan taktik serta jurus yang cukup rumit untuk mengalahkan Macan Mawa.
Ketika Macan Mawa menyerang pertama kali dengan memukul secara lurus, Cakiya menghindari serangan Macan Mawa dengan menunduk serendah mungkin sambil bergerak maju sehingga mencapai titik buta serangan Macan Mawa, yaitu tepat di bawah lengan kanannya yang terayun untuk memukul. Tubuh Macan Mawa yang tinggi besar merupakan celah yang mudah bagi Cakiya untuk bergerak mencapai Macan Mawa sekaligus melakukan serangan yang tidak terduga. Cakiya yang melesat cepat di bawah lengan Macan Mawa, kemudian berputar hingga bagian belakang tubuh Macan Mawa. Di Saat Cakiya, berhasil membelakangi Macan Mawa. Cakiya melipat kedua lengannya dengan cepat seolah-olah bersikap seperti orang sedang berdoa, lalu membisikkan beberapa kalimat dalam bahasa kuno. Entah apa yang diucapkan Cakiya, hingga kemudian setelah membisikkan kalimat itu, Cakiya menyerang bagian belakang kepala Macan Mawa. Serangan Cakiya pada bagian kepala Macan Mawa membuat Macan Mawa tersentak lalu jatuh berlutut dengan tatapan yang kosong. Melihat Macan Mawa yang dalam keadaan demikian, Cakiya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Macan Mawa lalu membisikkan beberapa kalimat.
Usai membisikkan beberapa kalimat itu di telinga Macan Mawa, Cakiya kemudian bergerak menuju samping Macan Mawa lalu mengambil kuda-kuda dan kemudian memukul Macan Mawa menggunakan jurus yang cukup dikenal oleh Baruna. Baruna mengenal jurus itu sebagai jurus yang cukup popular digunakan oleh pendekar
pada saat ini, yaitu jurus Celeng Geni Mengitari Bara Api. Jurus itu merupakan jurus pukulan jarak pendek yang dilakukan dengan memukulkan musuh dari samping menggunakan lengan yang diposisikan menekuk nyaris sembilan puluh derajat dengan gerakan memutar lengan bawah, kepalan dan pinggang. Selain itu, jejak
dari kuda-kuda Cakiya saat melancarkan jurus itu menimbulkan retakan serta bara api membara dari sisa-sisa retakan tersebut.
Macan Mawa pun menerima pukulan langsung dari Cakiya pada bagian pelipis hingga tubuhnya terpental sejauh beberapa meter dengan posisi telentang serta tatapan hampa. Cakiya sepertinya mengurangi tenaga dari jurus Celeng Geni Mengitari Bara Api karena tubuh serta organ Macan Mawa tidak hangus terbakar. Ternyata, Cakiya menggunakan jurus Celeng Geni Mengitari Bara Api hanya untuk menjatuhkan Macan Mawa serta memberikan pesan kepada orang-orang Perguruan Harimau Matahari jika Macan Mawa dapat kalah oleh Cakiya hanya dengan beberapa jurus saja. Tubuh Macan Mawa yang terpental pun menimbulkan suara yang menarik perhatian dua puluh pendekar Perguruan Harimau Matahari yang sedang sibuk bertarung melawan Baruna.
[1]
Lirik di atas merupakan bagian dari Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.Pada (bait) ke-58 sampai 66, Pupuh ke-5 Maskumambang
Nadyan silih bapa biyung kaki nini,
sadulur myang sanak
kalamun muruk tan becik,
nora pantes yen den nuta.
(Walaupun ayah ibu kakek nenek,)
(saudara dan kerabat)
(kalau mengajarkan hal yang tidak baik)
(tidak pantas untuk diikuti)
***
Apan kaya mangkono karepaneki,
sanadyan wong liya,
kalamun watake becik,
miwah tindake prayoga.
(Memang seperti itulah yang seharusnya)
(walaupun orang lain,)
(tetapi kalau memiliki watak yang baik,)
(dengan kelakuan yang benar.)
***
Iku pantes yen sira tiruwa ta kaki.
Miwah bapa biyung,
amuruk watek kang becik,
iku kaki estokena.
(Itu pantas kalau engkau ikuti, Nak.)
(Begitu juga ayah ibu,)
(jika mengajarkan watak yang baik,)
(itu yang harus kau patuhi.)
oke thor tlg masukan dr para reader yg. sekiranya itu membangun tlg di aplikasikan.
kita sangat menghargai perih payah author dlm membangun cerita dan klopun ada kata2 yg kasar dari kami ya itu semata2 Krn kami ingin sajian yg memanjakan imaginasi.
kalau cepat hasil ceritanya tidak akan bagus, seru dan menarik jadi pembaca harus sabar ya