Simura Seorang pangeran yang diasingkan dinegeri asing karena difitnah saudaranya. Dia menonjol dalam bidang strategi dan politik namun disisi lain ada sebuah kekuatan magis didalam tubuhnya yang sengaja ia sembunyikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LukmanÆ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang Bayang Iblis
Di sudut tersembunyi markas rahasianya, Sifeng berdiri mematung di depan peta strategi yang kini tak lagi bermakna. Kegagalan operasi terakhir dan gugurnya separuh pasukan elitnya membuat amarahnya meluap bagai lava. Ia yakin ada pengkhianat di jantung pertahanannya, seseorang yang membocorkan rahasia. Dengan geraman rendah, ia memerintahkan pasukannya untuk melakukan pembersihan internal dengan kejam.
Di tengah ketegangan itu, seorang pengawal berlutut, membawa kabar yang dinanti. Yan Shao telah ditemukan. Sifeng tersenyum sinis.
“Bawa dia kemari,” titahnya dingin.
Tak lama kemudian, Yan Shao diseret masuk dalam keadaan mengenaskan, tubuhnya penuh luka, napasnya tersengal di ambang ajal. Sifeng melangkah mendekat, sepatu botnya berdentum pelan di lantai batu. Ia menunduk, menatap wajah pria yang tak lagi berdaya itu dengan tatapan merendahkan.
"Malang sekali nasibmu, Yan Shao," bisik Sifeng.
Meski tubuhnya hancur, Yan Shao mendongak. Matanya memancarkan api kebencian yang tidak padam. Sifeng yang terusik oleh tatapan itu melayangkan pukulan telak ke wajah Yan Shao, membuat kepala pemuda itu terhempas ke samping.
Tiba tiba, seorang pengawal lain berlari masuk dengan napas terengah, melaporkan lokasi persembunyian Yan Daiyu di sebuah desa terpencil di tengah hutan. Sifeng tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan pisau.
"Kau ingin menyelamatkan kakak cantikmu itu?" Sifeng berbisik di telinga Yan Shao.
"Apa... apa yang ingin kau lakukan, bangsat!" Yan Shao merintih penuh amarah.
Sifeng memberi isyarat. Seorang pengawal datang membawa wadah berisi pil hitam yang berpendar dengan cahaya redup yang menjijikkan. Tanpa basa basi, Sifeng memaksa Yan Shao menelan pil itu. Seketika reaksi ajaib terjadi, luka luka di tubuh Yan Shao menutup dalam sekejap. Namun, harga yang dibayar sangat mahal. Kesadaran Yan Shao perlahan memudar, digantikan oleh kabut hitam yang menyelimuti jiwanya. sebuah aura iblis yang haus akan darah.
Sementara itu, di desa terpencil, hawa malam menusuk tulang. Simura dan Liusan belum mampu memejamkan mata. Keheningan malam yang mencekam tiba tiba pecah oleh jeritan melengking warga, disusul dentingan baja yang beradu.
Simura bergegas, diikuti Liusan dan kepala desa. Apa yang mereka temukan adalah pemandangan neraka. rumah rumah hancur, potongan tubuh berserakan, dan genangan darah yang membasahi tanah. Seorang pemuda lokal berlari ke arah mereka dengan tatapan kosong.
"Iblis... ada iblis!" teriaknya histeris.
Simura mencoba menenangkan pemuda itu untuk mengintip ingatannya, namun sebuah jeritan baru memecah konsentrasi. Mereka segera bergegas menuju sumber suara. Di sana, mereka melihat Yan Shao yang kini diselimuti kabut aura hitam dengan mudah membantai para pria kuat desa seolah mereka hanyalah boneka jerami.
Yan Shao berbalik. Tatapannya dingin, kosong, dan dipenuhi kebencian murni. Aura jahat yang terpancar darinya membuat siapa pun di sana gemetar. namun Simura tidak goyah, Ia melangkah maju dengan tenang. Tanpa diduga Yan Daiyu berlari ke arah Yan Shao. tanpa ragu, Yan Shao mengayunkan pedang untuk menebasnya.
Trang!
Simura menahan bilah pedang itu dengan tangan kosong. Darah mengalir di sela jarinya, namun ia bergeming. Dengan ledakan aura emas yang lembut namun tegas, ia menghempaskan Yan Shao hingga terpental jauh. Simura menoleh ke arah Liusan, memberi isyarat untuk melindungi Yan Daiyu, sementara ia sendiri melangkah mendekati Yan Shao yang telah kehilangan akal sehatnya.
Pertarungan kembali pecah. Yan Shao bergerak secepat kilat, mencoba mengecoh, namun setiap gerakannya terbaca oleh Simura yang setenang danau. Di celah terkecil, Simura muncul di belakang Yan Shao dan mencengkeram kepalanya. Yan Shao berteriak kesetanan saat energi murni Simura memaksa keluar pil itu dari dalam tubuhnya. Pil itu keluar dari mulutnya, jatuh ke tangan Simura. Tubuh Yan Shao seketika lemas dan ambruk ke tanah.
Simura menatap pil hitam di telapak tangannya dengan tatapan tajam.
"Sampai sejauh ini kau bermain, Sifeng," batinnya geram.
Tiba tiba, insting purba Simura menangkap detak jantung asing di balik semak semak. Tanpa menoleh, ia melemparkan sebilah pisau kecil dengan kecepatan yang tak kasatmata. Terdengar erangan tertahan dari balik semak, dan saat Simura mencapai lokasi itu, sang mata mata telah melarikan diri, meninggalkan jejak darah yang samar.
Di markasnya, Sifeng gelisah. Utusannya tak kunjung kembali. Sampai ketika seorang pengawal datang membawa tubuh sang utusan yang telah kaku, Sifeng memeriksa mayat tersebut. Matanya menyipit melihat bekas luka tusukan tepat di jantung utusannya itu. Sebuah teknik yang sangat presisi.
"Prinsip Pedang Langit..." desis Sifeng, wajahnya kini merah padam karena amarah dan rasa tidak percaya. Ia kini tahu bahwa ada praktisi tingkat tinggi yang berdiri di pihak lawannya.
"Cari dia!" Bantai siapapun yang menghalangi jalanku!" Teriak Sifeng kepada pasukannya.
(Bersambung)
semangat thor ✍️🤭😉🌹
kalo berkenan mampir juga ya thor😉🤭