NovelToon NovelToon
Love

Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:529.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Isuthy

Tentang cinta dan rasa, tentang pengorbanan dan perjuangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isuthy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 - Mengikutimu

Adam mengajak Meera ke sebuah kafe untuk makan siang bersama. Duduk bersama setelah sesaat lalu memesan makanan dan minuman untuk santapan makan siang mereka.

" Kau sangat cantik, Meera. "

Puji Adam siang itu, entah untuk ke berapa kalinya. Namun yang pasti, sukses membuat pipi Meera merona untuk ke sekian kalinya.

" Benarkah ? "

Meera memalingkan wajahnya, sembari tersenyum geli. Belum pernah dia digombali seperti ini. Dulu saat bersama Lucas, tahu-tahu lelaki itu langsung menyabotase bibirnya dengan sesuka hati. Dan Vano, lelaki itu juga pernah tiba-tiba mencuri bibirnya dengan begitu sengaja.

Fiuuhhh .... Meera jadi mendelik sebal mengingat kedua lelaki itu. Yang kini telah asyik dengan perempuan barunya.

" Aku serius ... " Ucap Adam lagi.

***

Vano mengikuti Meera dan Adam, hingga akhirnya kini dia terjebak di sudut sebuah kafe yang cukup tersembunyi. Memudahkan baginya untuk mengawasi tanpa diketahui.

Memperhatikan tingkah mereka berdua yang menurutnya cukup menyebalkan. Entah karena melihat tingkah Meera dan Adam, atau karena Vano kah yang begitu dikuasai oleh rasa cemburu di dalam dada.

Sembari mengepalkan kedua tangannya, tak lupa Vano memesan segelas minuman dingin untuk menyegarkan otaknya, yang saat ini bisa saja tengah terbakar.

Sembari tak henti matanya memperhatikan Meera yang kini tengah tersenyum manis kepada lelaki yang tengah duduk di hadapannya. Vano bahkan sampai lupa berkedip saat itu.

" Ini minumannya, Tuan. "

Seorang pelayan perempuan mengantarkan minuman pesanan Vano. Vano mengangguk pelan menerimanya tanpa berucap apa-apa. Sedikit teralihkan perhatiannya dari Meera.

Namun nyatanya, kilasan adegan disaat Meera bangkit dari duduknya, lalu berdiri dan beranjak pergi menuju toilet kafe itu, membuat Vano mengalihkan perhatiannya seketika itu juga.

***

" Argh !! "

Pekikan kencang Meera tertahan ketika telapak tangan Vano dengan sigap menutup mulut Meera yang saat itu tengah terbuka, berteriak.

Tidak seperti sebelumnya saat kencan buta Meera dulu, dimana Vano berhasil menculik Meera untuk meninggalkan Adam, kali ini Vano hanya menarik paksa Meera masuk ke dalam toilet kafe itu.

" Vano ! Apa yang kamu lakukan ? " Cecar Meera kaget. Terlebih setelah Vano menghimpit tubuhnya ke tembok. Mengungkungnya dengan kedua tangannya, dan menatap tajam ke arahnya.

Vano menyeringai, namun perlahan berubah menjadi senyuman lembut. Setidaknya dia tidak lupa niat awal keberadaan dirinya di tempat ini.

" Aku mau menagih sesuatu padamu ! " Mendengarnya, Meera mengernyitkan dahinya heran. Manusia ini ... ish ...

Meera meronta ingin terlepas dari kungkungan Vano. Menahan dada Vano dengan sekuat tenaga, dengan kedua telapak tangannya. Namun, Vano urung mundur tenaga Meera tidaklah seberapa.

" Vano ... lepas ! Kamu mau nagih apa sih ? "

Tanyanya dengan nafas tersengal, masih belum mengerti dengan sikap Vano akhir-akhir ini.

" Kamu berutang jawaban padaku, Meera. Apa kamu lupa ? " Vano menatap Meera dengan begitu dekat.

" Jawaban apa ?!! " Meera memalingkan pandangannya dari Vano. Karena kesal dan karena memang sedikit lupa juga.

Namun ... nyatanya, memory ingatan ketika Vano mencium bibirnya, lalu mengungkapkan perasaannya kembali berputar di benaknya. Seketika, Meera menatap lekat Vano dengan mata sendunya.

" Kamu benar-benar lupa ?! " Tanya Vano kesal. Bisa-bisanya Meera melupakan hal itu. Bahkan sampai detik ini, Vano belum melupakannya sama sekali.

" Tidak ! Bukan seperti itu. Maksudku, saat itu ... bukankah, kamu sendiri yang tidak datang. Itu sudah cukup membuktikan, bahwa kamu samasekali tidak mengharapkan jawaban dariku. Untuk apa aku mengingatnya kembali, sedangkan kamu sendiri sudah memiliki kekasih baru. " Jawab Meera berusaha terlihat tegar, tak ingin Vano memandangnya sebagai perempuan rapuh.

Vano terkekeh pelan.

" Kamu cemburu ? "

Semburnya pada Meera, sembari tak berhenti tertawa. Mengetahui fakta bahwa Meera sedikit terusik hatinya setelah mengetahui bahwa Vano memiliki kekasih cukup membahagiakan hatinya.

" Apa sih ? Siapa juga yang cemburu. " Elak Meera, padahal iya. Sembari lagi-lagi memalingkan pandangannya dari Vano. Dia malu dan enggan mengakuinya. Benci bersamaan karena sikap Vano yang akhir-akhir ini begitu menyebalkan.

" Udah, jangan bohong ! " Vano menyentuh lembut dagu Meera dengan jarinya. Mengarahkan wajah Meera untuk menghadapnya. Menatap lekat gadis di hadapannya dengan tatapan sendu dan penuh damba. Vano lalu berkata ...

" Dia bukan pacarku, Ameera ... " Bisik Vano, membuat Meera kaget mendengarnya.

" Apa kau sudah mempunyai jawabannya ? " Tanya Vano. Tak melepas tatapannya.

Meera terdiam, benar-benar bingung harus menjawab apa.

" Ja- jawaban apa, Vano ? Aku harus menjawab apa ? " Jawab Meera dengan pipi jelas terlihat merona. Vano mendengus kesal, padahal Meera sangatlah pintar. Tapi untuk urusan ini, kenapa Meera tulalit sekali, ya ?

Baiklah, dia harus sabar dan memutuskan untuk memperjelas semuanya.

" Bagaimana, apakah kamu mau menjadi pacarku, Ameera ? " Meera menelan ludahnya. Tenggorokannya mendadak kering.

" A-aku ... " Meera ragu harus menjawab apa. Adegan mesra Vano bersama perempuan lain di apartemen nya malam itu melintas di benaknya.

" Apa ? " Vano mengangkat kedua alisnya.

" A-aku ... " Keraguan benar-benar menguasai hati Meera. Sikap Vano kemarin benar-benar membingungkannya. Tidak datang ke tempat janjian. Bersikap seolah membenci Meera, dan yang terakhir membawa seorang perempuan ke apartemennya. Itu maksudnya apa ? Alasannya apa ?

" A- .... " Tiba-tiba,

Tok - tok - tok ....

Meera dan Vano terlonjak kaget, ketika pintu toilet digedor dengan cukup kencang dari luar.

" Ada orang di dalam ? " Teriak seseorang dari luar.

***

Mendapat kesempatan bagus, Adam melirik sekitaran kafe yang cukup sunyi dan lengang.

Tersenyum kecil, namun lebih cenderung menyeringai.

Merogohkan tangannya kemudian, untuk mengambil sesuatu dari saku celananya. Adam menatap puas pada benda kecil yang kini ada di telapak tangannya.

Tangannya lalu terulur ke arah gelas minuman Meera dan menjatuhkan benda itu ke cairan berwarna kuning dalam gelas itu. Tanpa gerakan aba-aba, dan berusaha tidak membuat orang lain yang berada di sekitarnya curiga.

Plukk !!!

Adam menyeringai dengan begitu puasnya, setelah berhasil melakukannya.

***

Dengan tergesa-gesa dan wajah memerah menahan malu, karena kepergok petugas kebersihan tengah berduaan dengan seorang laki-laki di dalam toilet, Meera kembali duduk di kursi semula bersama Adam. Meninggalkan Vano, yang kini tengah sibuk menyogok petugas kebersihan itu agar tidak berfikir dan bertindak macam-macam.

Dengan mode panik dan malu bercampur rasa di dalam dada, Meera langsung menyambar gelas minumannya dan menghabiskannya dengan segera. Selain untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokannya, juga untuk menenangkan detak jantungnya.

Berdekatan dengan Vano, slalu sukses membuatnya berdebar tidak berdaya.

Adam tertawa puas melihat Meera meneguk habis minumannya. Tak sedikitpun membuat Meera curiga.

" Kau haus ? " Ucap Adam terdengar basa basi sekali.

" Ya ! " Jawab Meera.

Setelah beberapa lama, Meera merasakan hawa panas mulai menjalar di tubuhnya.

Deg ... deg ... deg ...

Jantung Meera mendadak berdebar lebih kencang, bahkan tubuhnya mendadak terasa begitu panas bersamaan.

Meera menyentuh dadanya, yang terasa sesak dan bergemuruh tidak karuan. Ada sesuatu yang menjalar di tubuhnya, membuatnya berdesir dan seperti ingin diledakkan. Sesuatu perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Meera benar-benar tidak tahu itu apa.

" Kau kenapa, Meera ? Apa kau merasa tidak enak badan ? " Tanya Adam pura-pura perhatian.

" Tidak ! Aku hanya ... " Deg deg deg, jantungnya berdetak semakin kencang lagi, bersamaan dengan hawa panas yang semakin mengguar dari seluruh permukaan kulitnya.

" Sepertinya .. aku hanya kepanasan, Adam. " Ucap Meera sembari mengibas - ngibaskan tangannya.

" Bagaimana kalau kita pulang saja. Atau mungkin kita bisa mengobrol di apartemen Joice ? " Tawar Adam.

Meera semakin tidak karuan.

" Baiklah ! " Sembari melangkahkan kakinya setelah Adam menggerakkan tangannya mempersilahkan Meera bangun dan berjalan ke arah di mana motor mereka terparkir.

Namun, setelah tiba di sana, Adam bukan mengajak Meera ke motornya, melainkan berjalan ke arah sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari motornya. Entah itu milik siapa, hanya Adam yang mengetahuinya.

.

.

.

💫 Bersambung ... 💫

1
Y/N
y
bunga cinta
good
azzahra
izin tinggalin jejak thor
Santi Rizal
akhirnya Meera bersatu dengan Lucas
Santi Rizal
Ameera terlalu egois...
Santi Rizal
aku juga pusing Thor... ngebayangin nya
Santi Rizal
semoga Meera dan bayi nya baik baik saja
Santi Rizal
sweet Lucas
Santi Rizal
di ulang
Santi Rizal
aaaa banyak amat Thor
Santi Rizal
semoga Lucas dan Meera bahagia
Santi Rizal
semoga Ameera dipertemukan dengan Lucas...dan berjodoh
Santi Rizal
mirisnya nasib Ameera
RinNi
arseli dan allesa novelnya judulnya apa ya tor🙏
Julia sari Lubis
dari puluhan cerita yg aku baca inilah cerita yg paling banyak flashback nya..
Sushie Ajjah
🥺🥺🥺😭😭😭😭 kasihan meera merasa ngak ada yang sayang... nyesek bacanya
Ida Wahyuni
ngk tau kenapa...aq sudah baca novel ini sampai 5X berulang" tapi tetap tidak bosan sama sekali. novel mu bagus bgt thooor👍👍👍👍
sunguh kereeen daaah😎
Isu💟THY: Hatur Nuhun 😍😍😍
total 1 replies
Firiani Fitri
bikin sesak
Mayang
ssk bgt dd q td thor..kirain bner lucas koma...eee ternytz cm tdur.huuuh author bkin gemeees....
Hasmiati Hasmi
😢😢😢😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!