Maharaya, sosok gadis yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya.
Tiap hari dia diharuskan mengalah pada Mira, adiknya. Hanya karena statusnya sebagai seorang kakak.
Bahkan ketika kekasihnya direbut oleh Mira dia tetap diam.
Arga, adalah pria yang telah dicampakkan oleh Mira, karena profesinya yang hanya seorang tukang ojek online. Arga mendekati Maharaya, dan keduanya pun menjalin hubungan.
Akan tetapi tanpa di sadarinya dia memiliki satu
rahasia yang bahkan dia sendiri pun tidak mengetahuinya. Dan tanpa diketahui siapapun, ternyata Arga juga menyimpan satu rahasia.
Rahasia apa yang sebenarnya dimiliki oleh MAHARAYA dan Arga. Dan apakah akhirnya keduanya benar-benar bersatu. Bagaimana reaksi Mira ketika rahasia mereka akhirnya terungkap?
Ikuti kelanjutan kisahnya dalam
Hanya Karena Aku Anak Pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas tersembunyi
"Siapa mereka, Pak?" tanya Raya. Tapi Pak Hamid tetap tak bisa menjawab.
"Cepat kemasi semua barangmu, dan kita pulang! Aku sudah bilang kemarin kan?!" Suara itu membuat Raya diam. Bukan suaranya, tapi lebih ke siapa pemilik suara.
"Mas Bejo?" gumam Raya.
"Ya, ini aku. Aku dan Daddy datang ke sini untuk membawa mu pulang!" Bejo berbicara langsung ke inti maksud kedatangannya.
"Apa maksudnya?" tanya Raya bingung. Dilihatnya Bapaknya yang tertunduk sedih. Juga Ibunya yang diam. Mira? Dia hanya melirik sinis.
"Kenapa harus Kak Raya yang seberuntung itu? Kenapa bukan aku saja yang jadi anak orang kaya raya itu? Kenapa bukan aku saja yang mereka jemput?!" Mira merasa sangat geram. Dia terus saja merutuki nasib baik Raya yang ternyata bukan kakak kandungnya. Raya yang ternyata adalah putri raja yang dititipkan pada orang tuanya.
"Katakan, Pak! Katakan apa maksud mereka! Katakan ada apa sebenarnya?" Raya menuntut penjelasan.
Pak Hamid mendongak sambil mengusap air matanya. "Mereka adalah orang tua dan juga saudaramu kandungmu!" jawabnya kemudian.
"Beliau adalah Tuan Abdullah Jordan, Ayah kandungmu, dan Mas Bejo itu, adalah putranya; nama sebenarnya adalah Benyamin Jordan, kakakmu!" tunjuk Pak Hamid pada dua tamu agungnya.
"Apa maksud Bapak? Katakan itu tidak benar, Pak!! Katakan kalau Raya ini adalah anak Bapak!!" ucap Raya sedih dan juga marah. Walaupun Raya sudah bisa menebak ini sebelumnya, tapi mendengar langsung dari mulut orang yang menyayanginya selama 26 tahun ini, tentu saja itu tetap membuatnya sakit. Orang yang disayanginya dan dipuja, juga dijadikan panutan selama ini, bahkan sudah menjadi cinta pertamanya, ternyata bukan ayahnya. Hati mana yang tak akan kecewa?
"Maafkan Daddy, Sayang. Daddy terpaksa melakukannya. Ada orang yang ingin mencelakaimu pada saat itu. Hingga tidak aman bagimu jika tetap bersama kami. Pada saat itu, menitipkanmu pada orang lain juga bukan pilihan yang mudah bagi kami. Sangat berat bagi kami untuk berpisah dari Putri yang kami sayangi. Mommy-mu bahkan sampai sakit.
Tapi mengingat bahwa keselamatanmu lebih penting, maka mau tak mau kami harus melakukannya!" ucap orang yang tadi diperkenalkan oleh Bapaknya dengan nama Abdullah Jordan, yang katanya adalah Ayahnya.
"Dan sekarang kami datang untuk membawamu kembali!!" ucap Mas Bejo.
"Aku tidak mau... Aku tidak mau ikut kalian!!" bantah Raya.
"Maha Raya Jordan...! Apakah kau masih belum sadar, jika hidupmu dalam bahaya? Mereka bahkan sudah berani menyerangmu secara terang-terangan!!" bentak Mas Bejo.
"Aku masih bisa menjaga diriku sendiri, dan Arga juga pasti melindungiku!" bantah Raya.
"Melindungimu?? Melindungi yang seperti apa? Melindungi dirinya sendiri saja dia tidak bisa; jangan pikir aku tidak tahu. Kemarin saja kamu yang mati-matian melindunginya!" cecar Mas Bejo.
"Katakan padaku, siapa orang-orang itu? Apa yang mereka incar dariku? Kenapa mereka menginginkan nyawaku?!" tanya Raya jengah.
"Mereka adalah saudara Daddy; yang selalu mengincar kedudukan Daddy. Dan mereka mengincarmu, karena kau adalah pewaris tahta, karena kau adalah jiwa yang terpilih!" Mas Bejo memberikan keterangan tentang jati diri Raya. "Kau sudah memiliki kemampuan ajaib sejak lahir. Karena itu kami menyembunyikanmu. Dan kami menutupi aura yang ada padamu, agar tidak mereka ketahui. Tapi ternyata itu sudah bocor. Mereka berhasil menemukanmu. Karena itu lebih baik kamu kembali sekarang, dan bersiaplah untuk menggantikan posisi Daddy!"
"Aku tidak mau. Lebih baik berikan saja tahta itu, jika itu yang mereka inginkan!" Maharaya bersikeras menolak.
"Apa kau pikir sesederhana ini? Apa kau pikir jika kau memberikan apa yang mereka inginkan, lalu mereka akan melepaskanmu begitu saja?! Ck, naif sekali kau?!" ejek Mas Bejo.
"Ben...!! Bersikap lunaklah pada adikmu!" tegur Tuan Abdullah.
"Biar saja, Daddy. Biar dia bisa membuka matanya. Sudah susah payah aku menjaganya selama ini, bahkan dengan taruhan nyawaku. Jika sekarang kita membiarkannya begitu saja, bukankah sia-sia belaka kasih sayang kita itu?!"
Mata Mas Bejo menyorot Maharaya dengan tatapan yang merah menyala. Kemarahan itu masih belum hilang. Kemarahan yang coba dia tahan sejak tadi malam, sejak melihat adiknya itu harus berjibaku melawan musuh. Bahkan hampir mengorbankan nyawanya.
Maha Raya tercenung mendengar ucapan Mas Bejo. Dia merasa terharu mendengar kasih sayang yang begitu besar. Dia teringat kembali peristiwa di mana dia nyaris tertabrak mobil, dan tiba-tiba Mas Bejo ada di sana menjadi tameng untuknya. Akan tetapi dia juga tidak bisa meninggalkan Bapaknya. Dia juga sangat menyayangi Bapaknya yang ada di sini.
"Raya sangat berterima kasih, jika selama ini sudah sangat kalian sayangi. Tapi Raya minta maaf. Raya tetap tidak bisa ikut bersama kalian. Raya tetap ingin bersama dengan Bapak di sini!"
"Tapi Bapak yang sudah tidak mau untuk menampungmu lagi!!" Ucapan tegas Pak Hamid memotong perkataan Raya yang belum selesai.
"Bapak... Apa maksud Bapak?!" Hati Raya tersentak mendengar ucapan Bapaknya itu.
"Sudah sangat jelas apa yang Bapak katakan. Bapak tidak mau lagi kamu ada di sini. Bapak ingin hidup bahagia dengan keluarga kecil Bapak. Bapak ingin kamu pergi dari sini!!" Ucap Pak Hamid sambil memalingkan wajahnya.
"Tidak. Itu tidak benar. Katakan yang Bapak ucapkan itu tadi tidak benar, Pak! Bapak tidak sungguh-sungguh ingin Raya pergi dari sini kan...?" Air mata Maharaya jatuh berlinang.
"Kamu salah besar! Bapak benar-benar ingin kamu pergi dari tempat ini!"
"Bapak bohong! Raya tahu kalau Bapak sangat menyayangi Raya selama ini. Bapak bohong! Bapak bohong kan, Pak?! Katakan kalau Bapak bohong!!" Tangis Raya benar-benar pecah.
"Tentu saja! Tentu saja selama ini Bapak sangat menyayangimu! Karena mereka memberikan uang pada Bapak! Uang yang sangat banyak, agar Bapak mau menyayangimu. Itulah alasan yang sebenarnya. Bapak menyayangimu karena Bapak bekerja demi uang. Bapak selalu menganggap bahwa menyayangimu adalah sebuah pekerjaan. Hanya bekerja. Bukan benar-benar menyayangimu."
"Kalau begitu mulai sekarang Raya akan bekerja keras, Pak. Raya akan bekerja agar mendapatkan uang yang banyak. Dan Raya akan memberikan semua uang Raya kepada Bapak!"
Mas Bejo dan Tuan Abdullah mengusap air matanya, melihat apa yang dilakukan oleh Maharaya. Adiknya itu bahkan rela bersujud di kaki Pak Hamid, hanya demi memohon agar tidak disuruh pergi.
"Sejujurnya saja, Bapak sudah capek melihatmu. Apa kamu tahu? Bapak selalu memendam perasaan sakit dalam hati Bapak. Dengan kehadiranmu di keluarga kami, kamu memecah keluarga kami. Kamu menyisihkan kasih sayang Bapak untuk anak Bapak sendiri."
"Bahkan keberadaanmu membuat Putri Bapak sendiri yang sangat Bapak sayangi ini tidak terlihat di mata orang-orang; yang orang lain puji hanya dirimu; yang mereka anggap baik hanya dirimu, mereka sama sekali tidak melihat Putri Bapak sendiri, padahal Bapak sangat menyayangi Putri Bapak!"
"Itu tidak benar, Pak. Itu tidak benar. Bapak bohong. Bapak bohong bilang kalau tidak sayang pada Raya. Bapak tahu Raya juga sayang pada Adik kan, Pak?"