Sebulan pernikahan sirinya, Jingga harus berhadapan dengan kenyataan baru yang menyakitkan. Aris, suami yang dicintainya menikah resmi dengan perempuan lain.
Menjadi yang pertama tapi serasa yang kedua. Pada akhirnya Jingga menyerah. Perceraian dengan Aris pun tak terelakkan.
Di saat bersamaan Rangga yang merupakan sahabat Aris juga bercerai dengan istrinya. Kesamaan kisah membuat mereka Rangga dan Jingga semakin dekat.
Aris kembali datang dengan kepastian dan perjuangan yang lebih nyata. Membuat Jingga goyah. Kembali pada cinta lama atau memulai cinta yang baru ?
Persahabatan Aris dan Rangga pun di pertanyakan.
Di hati manakah cinta Jingga akan berlabuh ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyerah
" Ngga, kok sendirian ? kenapa nggak minta tolong pegawaimu nemenin ? " tanya Rangga begitu tahu tidak ada siapapun yang menjaga Jingga.
" Mas Rangga...Tolong lampunya mas " ucap Jingga, lampu temaram akan membuat suasana sangat tidak nyaman bagi dua orang berbeda jenis dalam satu ruangan.
" Jingga kan nggak sakit yang gimana - gimana mas. Ditungguin ntar malah kasihan yang jaga. Bakalan bosan " ucap Jingga begitu ruangannya kembali terang.
" Ngga, bukan salah Aris tidak memberitahu kamu. Kejadiannya begitu cepat. Aris tidak ingin membuat kamu khawatir. Kami juga tidak menyangka akan terjadi musibah ini. Kalau Evan pernah ada salah - salah sama kamu, Maafin ya Ngga " Rangga langsung ke masalah yang pasti ingin ditanyakan oleh Jingga.
" Mas Evan orang yang baik mas. Waktu ibuku meninggal, mas Evan selalu ikut doa di rumah. Meskipun nggak ada mas Aris, mas Evan tetap datang nemenin aku ngobrol. Mas Evan orang baik " ucap Jingga, suaranya bergetar. Evan adalah satu - satunya saksi rumitnya perjalanan cintanya dengan Aris. Selain Aris, mungkin Evan juga orang yang sedikit banyak tau bagaimana sifat Jingga.
" Dia memang yang paling baik di antara kami bertiga. Tapi sekarang Evan sudah tenang Ngga. Tidak perlu lagi memikirkan masalah dunia " ucap Rangga.
" Iya mas benar, mas Evan sudah selesai urusannya. Tidak meninggalkan masalah apapun. Terus bagaimana kondisi mas Aris sekarang mas ? " tanya Jingga.
" Aris tidak mengalami luka serius, hanya patah kaki ringan dan sedikit luka - luka di badan sama wajahnya " jelas Rangga.
" Kenapa sih mas Aris nggak mau jujur saja. Mau sakit lambung atau kecelakaan kan khawatirnya sama saja. Kenapa aku ini selalu tahu hal penting tentang mas Aris dari orang lain. Kalau memang pernikahan itu untuk berbagi segalanya, terus pernikahan kami buat apa ? kenapa selalu seperti ini " Jingga menunjukkan kekesalannya.
" Sudah Ngga, sekarang kamu istirahat. Jaga kondisimu. Aris baik - baik saja. Nanti kalau kondisinya benar - benar membaik, pasti kamu yang pertama kali ditemuinya " hibur Rangga.
" Aku yang ditemui ? tapi sekarang pasti sudah ditemani istri sahnya mas " Jingga memalingkan wajahnya dari Rangga yang lekat menatapnya.
" Semoga kalian menemukan jalan yang terbaik " ucap Rangga.
Jingga terus menatap sisi lain, sedangkan Rangga menatap punggung Jingga. Seharusnya urusan Rangga sudah selesai dan bisa pulang, tapi Rangga enggan beranjak meninggalkan Jingga sendiri. Mereka bertahan hingga rasa kantuk melanda keduanya. Belum sampai tertidur pulas Rangga beralih ke kasur khusus penjaga pasien.
Setelah diskusi dan negoisasi panjang dengan pihak berwenang akhirnya Aris bisa kembali ke Jakarta menjelang subuh. Karena masih terlalu pagi untuk melakukan drama selanjutnya, Aris memanfaatkan waktu untuk melihat keadaan Jingga di rumah sakit.
Masuk ke ruangan Jingga, Aris disuguhi pemandangan yang tidak terlalu enak di mata dan di hatinya. Bagaimana tidak, Jingga dan Rangga tidur saling berhadapan meski di atas brankar yang berbeda. Tapi jarak brankar itu hanya tiga meter.
Aris mencoba mengabaikan, bagaimanapun memang dia yang meminta Rangga menjaga Jingga. Aris mengelus rambut Jingga pelan, lalu mengecup kening Jingga lembut.
" Mas Aris " sapa Jingga antara sadar tidak sadar dan percaya tidk percaya.
" Iya sayang, ini mas. Bagaimana keadaanmu ? " ucap Aris lembut.
" Seperti yang mas lihat, bahkan aku duduk saja tidak boleh, Mas sendiri bagaimana ? kenapa mas bohong sama aku ? kenapa mas selalu membuat aku tahu belakangan ? " Jingga bertanya dengan khawatir dan juga marah.
Rangga yang terlalu lelah, sama sekali tidak terganggu dengan pertengkaran Aris dan Jingga. Dia begitu lelap.
" Mas takut membuat kamu khawatir sayang. Mas tidak mau menambah pikiranmu " ucap Aris.
" Di tambah atau tidak, beban pikiranku tetap sama mas. Aku tetap berfikir aku ini istri siri yang sedang hamil anak laki - laki yang mempunyai istri sah. Aku istri yang hanya dijadikan tempat singgah, bukan tempat untuk pulang " ucap Jingga ketus.
" Sayang, bukankah kamu kemarin tidak ingin membahas ini dulu. Mas janji kurang sebentar lagi kita akan menjalani hubungan dengan normal " Aris menggenggam tangan Jingga erat.
" Aku berubah fikiran mas. Saat aku tau mas berbohong lagi, aku merasa kita perlu membicarakan sekarang. Aku pasrah dengan keadaan kita, entah pasrah atau menyerah lebih tepatnya. Jika mas ingin berusaha, mas berusahalah sendiri. Aku sudah lelah. Aku tidak lagi meletakkan kebahagiaanku pada mas. Buat apa kita menikah ? kalau tidak bisa ada saat susah maupun senang. Buat apa mengaku suami istri jika masih ada rahasia dan kebohongan. Jika bersama membuat keadaan semakin sulit dan akhirnya saling menyakiti buat apa ? Lebih baik sendiri - sendiri tapi tidak saling membenci " Jingga berusaha tegar dan tegas.
Kondisi Jinggap saat ini membutuhkan ketenangan. Mengikat dirinya dengan Aris terlalu erat justru menambah sesak. Layaknya tanaman, jika tidak dipupuk dan disiram maka akan layu, busuk lalu mati. Sebuah hubunganpun begitu, jika cinta sekedar ucapan tanpa rasa yang tertinggal, lama kelamaan cinta itupun akan berubah hampa. Kehampaan yang diabaikan akan membuat mati rasa.
" Sayang tolong jangan menyerah. Mas akan berusaha sebaik mungkin. Percayalah " entah berapa kali Aris mengatakan kalimat itu.
" Aku punya kemampuan untuk kuat, ikhlas dan sabar yang terbatas mas. Jangan katakan bukan sabar namanya kalau masih ada batasnya. Sabar dan realitis adalah dua hal yang berbeda. Aku seperti perempuan rendahan yang sedang berharap seorang anak menentang ibunya. Aku tidak lebih dari perempuan tanpa harga diri yang mengharapkan seorang suami menceraikan istri sahnya " ucap Jingga benar - benar lugas. Remuk dan trauma Aris pada kecelakaan kemarin tidak ada artinya dibanding rasa sakitnya sekarang saat mendengar ucapan Jingga.
" Mas pergilah, Kita jalani hidup kita masing - masing, entah sementara atau selamanya. Kita tunggu saja tangan Tuhan akan menuntun hubungan kita ke mana " Jingga menarik tangan?ya dari genggaman Aris.
Dada Aris sungguh sesak, matanya memanas, Aris untuk pertama kali dalam hidupnya menangis sesenggukan. Jingga pun sama, terisak tanpa suara. Tapi melepaskan mungkin yang terbaik.
" Aku minta waktu, Jika dalam satu bulan ini aku tidak datang menemuimu, aku akan benar - benar melepaskanmu. Sekarang aku tidak akan menceraikanmu. Aku tidak akan sudi mengucapkan talak untukmu. Aku turuti kemauanmu untuk menjauh, bukan karena aku melepaskanmu. Karena aku tidak ingin kamu terseret dalam masalahku. Ingat kamu masih istriku. Jaga dirimu baik - baik " ucap Aris, lalu pergi dengan membawa dan meninggalkan kesedihan yang sama dengan yang Jingga rasakan.
Bukannya Rangga tidak tahu Aris datang, Rangga pura - pura terlelap. Dia mendengar semua pembicaraan Aris dan Jingga. Meresapi kesedihan keduanya yang terasa sangat dalam, Rangga memilih diam dan pura - pura terus terpejam.
mereka merasa bersalah pada pria lain tapi sama sekali tidak merasa bersalah pasa suaminya
dan lucu sikap kayak gini dibenarkan oleh novel ini
coba author bayangkan suaki author merasa bersalah pada wanita lain tapi tidak peduli dengan perasaan author yang tidak suka dan cemburu???
saran sebelum mengatang cerita banyak pada diri author dulu itu baik atau tidak
lihat juga dari sudut pandang lain, sudut pandang pemeran utama pria jangan hanya karena author wanita author hanya lihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
coba author menila sesuatu pake penilaian dari diri author baik tidak yang dilakukan jingga hanya karena rasa bersalah dan menjaga perasaan pria lain dia mengabaikan perasaan cemas, sakit hati karena cemburu suaminya sendiri
Gak ada surat nikah juga... kasihan anakmu nanti.