Sekali dalam hidupnya Safana pernah jatuh cinta. Namun enam tahun lalu Ia mengubur semua hal tentang pria itu.
Hingga takdir mempertemukan mereka kembali, disaat Ia telah memiliki Ayu dan pria yang dicintainya memiliki Alia.
Akankah ia membiarkan pria itu memporak-porandakan hidupnya lagi demi sebuah cinta yang Ia ragukan pernah ada ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratna dks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap
Malam sepulangnya dari pameran Prapta memenuhi janjinya, Ia mengajak Heidy ke Playas Ain Diab La Corniche. Tempat wisata pantai di jantung kota Casablanca yang memiliki pemandangan seperti pantai Kuta dengan restaurant dan club yang berdiri disekitarnya.
Sambil memakan potongan burger dari resto cepat saji Mc Donald mereka berjalan kaki menyisir tepi pantai. Melihat ke laut lepas yang ramai kapal berlayar dimana identitas maroko sebagai kota pelabuhan metropolitan raksasa langsung terbaca.
Angin musim panas yang hangat ternyata tak membuat pantai sepi pengunjung, malah sebaliknya semakin malam banyak muda mudi dan wisatawan yang mendatangi Ain Diab. Kebanyakan dari mereka pasangan kekasih yang tanpa malu-malu bermesraan dipantai.
Heidy yang melihat tersenyum simpul. Diraihnya jemari Prapta hendak menggengamnya. Namun Prapta melepaskan. Heidy mengulanginya, kembali Prapta menepisnya. Dan untuk ketiga kali Heidy melakukan Prapta menghentikan langkahnya.
Ia membalikkan badan menghadap Heidy dan memandangi gadis itu lekat-lekat.
“Aku tidak bisa lagi mencuri kesempatan seperti ini” Prapta mengatakan jujur alasannya.
“Kupikir kita akan bersenang-senang disini “ Heidy membuang pandangan kecewa.
“Tadinya Kupikir begitu. Tapi setelah Kami berjauhan seperti sekarang Aku malah merindukannya. Dia terlalu baik, jauh berbeda dari semua perempuan yang pernah Ku kenal.”
“Aku tak menyukai ini. Kau tidak ditakdirkan untuk menjadi pria baik-baik” Heidy berujar.
Ia hendak mencium Prapta namun Prapta memalingkan wajahnya.
Tiba-tiba seorang pria negro menghampiri Heidy dan memegang lengannya “J’embrasse il s’il ne veut pas” pria itu berkata.
“Apa yang dikatakannya ?” sambil menepis tangan pria negro itu Heidy bertanya pada Prapta.
“Ia bilang, kalau Aku tidak mau. Kau bisa menciumnya “ Prapta mengulum senyum.
“Aku tidak mau !” Heidy mendelik marah.
“Katakan dalam bahasanya je ne veux pas“ Prapta mengajarkan pada Heidy bagaimana menghadapi pria-pria maroko yang kebanyakan dari Mereka bersikap agresif.
“Je ne veux pas !”
Mendengar teriakan Heidy, pria negro itu menyeringai lebar dan pergi mencari perempuan lainnya yang bisa diganggu.
“Kalau Safana yang berkunjung ke kota ini Ia tak mungkin di ganggu. Ia tahu bagaimana menjaga dirinya dari pria iseng sepertiku atau pria lainnya.” Prapta menerawang, mengingat bagaimana Safana dari sebelum menikah hingga sekarang masih menjadi perempuan yang sama. Yang tak akan menawarkan tubuhnya untuk mengemis cinta atau apapun darinya.
“Kurasa sebaiknya Kita kembali ke hotel. Aku bosan mendengar Kau selalu membicarakan Safana.”
Prapta mengangguki, Ia tak marah dengan perkataan Heidy. Baginya sudah terlalu biasa Heidy menunjukkan kecemburuannya. Dari awal mereka bekerjasama dan Heidy tahu Ia sering bergonta ganti teman kencan perempuan itu selalu memperlihatkan sikap tidak suka.
Setiba di hotel mereka tak langsung masuk kamar, Heidy memaksanya mampir ke bar untuk minum-minum sebentar. Heidy memesan Heineken dan Vodka untuk mereka minum bersama.
"Minumlah" Heidy menuang heineken terlebih dahulu ke gelas masing-masing.
Prapta bersulang dengan Heidy sebelum mereguknya.
"Setelah dari sini Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Safana" Prapta kembali membicarakan Safana. Mungkin Ia dihinggapi kerinduan yang dalam setelah sepekan lebih Mereka tak bertemu.
Heidy enggan berkomentar, Ia menuang heineken lagi ke gelas masing-masing. Ia sepertinya sengaja ingin membuat Prapta mabuk.
"Dulu Kupikir Aku hanya penasaran memilikinya. Setelah memilikinya Aku merasa tak membutuhkannya lagi dan mulai kembali ke sifat asliku". Prapta bercerita dan meneguk gelas kedua yang dituangkan Heidy.
"Ia marah padaku, menolakku ditempat tidur tapi tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri yang memperhatikan segala kebutuhanku" Prapta mengambil gelas ketiga yang ganti diisi vodka oleh Heidy karena heinekennya sudah habis.
"Aku mulai terbiasa dengannya, dengan sikapnya yang acuh tak acuh. Dan membuatku menyadari bahwa Aku sebenarnya tak bisa jauh darinya. Aku butuh Ia ada disampingku" Prapta meraih botol vodka ditangan Heidy dan menuangnya sendiri. Ia menghabiskan sisa vodka dikaleng sebelum jatuh menyandarkan punggungnya disofa empuk yang mereka duduki.
Heidy yang melihat tersenyum simpul. Ia meraih lengan Prapta dan menyampirkan dipundaknya. Setelah itu Heidy memapah Prapta menuju kamar mereka.
semangat brkarya
seperti biasa karya kak Ratna selalu menarik untuk d baca❤❤❤
up
up
up
di tunggu up nya