Lika-liku perjalanan rumit antara Frisilia Calista dan Jeni Anggoro yang memiliki ikatan persahabatan sedari kecil yang melahirkan kisah cinta diantara mereka. Banyak konflik dan tragedi yang harus mereka hadapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lysta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Nakal
Ku buka mataku terlihat langit- langit yang bagiku terasa asing.Kulirik ke kanan dan ke kiri.Benar ini bukan kamarku.Kucoba mengumpulkan ingatan kembali apa yang tlah terjadi tadi malam.Dari memasuki rumahnya sampai meminum sebotol air yang berada di kulkas dan setelah itu aku tidak mengingatnya.Apa yang selanjutnya aku lakukan sampai bisa tertidur di kasur ini.
"ahh ..." terikku sambil terbangun dan langsung terduduk kemudian perlahan membuka selimut untuk memastikan,apakah aku melakukan hal diluar batas.Akupun menarik napas lega setelah kulihat diriku masih memakai pakaian dengan utuh.
"Hai bangunlah gadis nakal !" Terdengar suara Jeni,langsung kutoleh ke arah asal suaranya.Kulihat dia duduk santai di kursi yang terletak dipinggir kasur dan menghadap ke arahku dengan posisi kakinya bertumpu.
"Apa yang telah terjadi..?"
"Kau tak mengingatnya sama sekali ?" Jawabnya sambil menyunggingkan senyuman geli
"Jeni kau jangan mempermainkanku..Aww kepalaku sakit sekali .." Jeritku kemudian memegang kepalaku yang terasa pusing.
"Minumlah obat itu untuk mengobati sakit kepalamu." Sambil menunjuk sebuah obat dan air putih yang tergeletak dimeja pinggir kasurnya.
"Sebenarnya semalam apa yang terjadi.?" Tanyaku kembali masih membutuhkan penjelasannya.
"Kau tak mengingatnya..?"
Akupun menggelengkan kepala sambil berusaha mengingatnya namun tak juga berhasil.
"Kemarin kau mengajakku makan malam.Bukannya menyediakan menu yang kau tawarkan untuk ku makan,kau malah menyediakan diri untuk ku makan." Gumamnya pelan sambil berdiri melangkah ke arah pintu keluar.
"Tunggu Jeni..!"
Jeni memutar badannya dan menatapku datar.
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang barusan kau katakan? Terakhir ku ingat aku minum air dalam botol yang berada di kulkas dapurmu.Dan rasanya sangat aneh tapi aku terlanjur meminumnya habis karena sangat haus.Setelah itu aku tidak ingat sama sekali dan bagaimana caranya bisa tidur disini ?" Terangku masih kebingungan.
"Sudahlah jangan berfikir terlalu keras.Sekarang minumlah obat itu dan mandilah bila sakit kepalamu mulai reda.Aku sudah menyediakan baju ganti yang sudah tergantung dikamar mandi.Ini masih terlalu pagi.Kalo kau mau berangkat sama-sama ke kantor ku tunggu kau d bawah..!"
aku hanya mengagah mendengarnya dan melihatnya pergi dengan senyuman yang aneh.
Setelah dia pergi.Ku fokuskan kembali untuk mengingat apa yang telah ku lakukan semalam.Sekilas terbayang saat ku memeluknya dengan tak tau malu.
"Aahh tidakk ! Apa benar aku melakukannya ?" Teriak histeris ku sambil menutup mulutku.
"Apakah tadi malam yang kuminum botol yang berisi alkohol ? Ahh..kau memang bodoh Frisilia harusnya kau periksa dulu sebelum meminumnya.Tp tunggu ! Apa yang ku lakukan lagi setelah itu..?" Gumamku sambil terus mengingatnya.
"Ahh tidak ! Apa benar aku melakukannya ? Jadi semalam aku dan Jeni..?!? Aahh aku malu sekali bagaimana ini ? Jelas-jelas kejadian semalam berawal dari ulahku.." Kicauku setelah rentetan bayangan kejadian tadi malam perlahan melintas difikiranku.
Akupun terbangun berdiri dan mengambil obat yang tergeletak disana dan meminumnya.Kemudian terduduk kembali untuk menstabilkan diri.
Sekilas terlintas wajah Jeni saat mencumbu ku dengan kecupan lembut dan bergairah dileherku,wajahnya terlihat jelas dimataku begitu lembut dan hangat dengan bodohnya aku begitu terbuai oleh suasana.Wajahku seketika memerah,akupun menutup mukaku dengan kedua tanganku.
"Ya Tuhan aku malu sekali.Bagaimana bisa aku berlaku biasa saja saat berhadapan dengannya setelah kejadian semalam.Frisilia kau telah bersalah kali ini.Kau lagi-lagi menyulut sesuatu yang akan mendorong mu ke dalam masalah."
Akupun berdiri dan berjalan mondar mandir memikirkan langkah apa yang akan kulakukan saat bertemu dengannya.
"Baiklah aku lebih baik berpura-pura tidak mengingatnya.." Ocehku sambil tetap mondar mandir.
"Tapi bagaimana kalo Jeni terus mendesak ku ? dia sangat pandai memojokan orang." Akupun menghentikan langkah dan terus berbicara sendiri.
"Aahh ...Frisilia kau memang pembuat onar.Pantas saja tadi dia panggil aku gadis nakal" Jeritku kembali sangat prustasi sambil mengacak-acak rambutku.
Akupun melirik sebuah foto besar tepat berhadapan dengan kasur besar itu.
"Bukankah itu fotoku bersamanya.Bagaimana bisa kau masih memajangnya.Jadi selama ini kau masih mengingatku." Gumamku dan menghampiri foto itu.Foto dimana aku sedang memeluknya dari belakang.
Akupun memperhatikan ruangan itu dan ku hampiri sebuah meja kecil terdapat beberapa foto dan terlihat banyak fotoku dan dia berjajar rapi.Akupun spontan menutup mulutku.
"Apa maksud dari semua ini Jeni ?"
***
Setelah selesai mandi dan memakai pakaian yang telah Jeni sediakan.Akupun turun menuju dapur.Kulihat Jeni dengan tenang sedang menyantap sarapannya.
"ehmm.." Akupun berdehem dan berdiri jauh dari meja makannya.
"Kemarilah ayo kita sarapan bersama!" Perintahnya sambil melihatku dengan tatapan berbeda.Mungkin perasaan itu muncul karena ulah yang telah aku lakukan padanya.
Akupun duduk dan kulihat roti selai stowberi dan segelas susu putih,sepertinya itu disediakan untukku.
"Apakah pusingmu sudah mereda?"
Akupun mengangguk.Dan memulai melahap roti selai itu walaupun terasa tidak karuan.Karena fikiranku berputar tak karuan.
"Maafkan aku harusnya aku menyediakan semua kebutuhanmu." Celotehku pelan.
"Untuk hari ini aku membebaskan tugas pagimu dan sudah ku utus pembantu harianku untuk menggantikanmu.Karena ku yakin kau tidak akan bisa bekerja seperti biasanya." Jawabnya dengan masih fokus dengan makanan yang ia santap.
"Semalam sepertinya aku meminum sebotol alkohol?"
Jenipun terhenti sesaat dari kegiatan suapannya.
"Sejak kapan kau menyukai minuman itu? Ahh ..baiklah tak seharusnya aku menanyakannya itu.Bukan menjadi urusanku sebagai sekertarismu." Racauku sedikit kesal.
"Lain kali sebelum kau meminum sesuatu pastikan dulu apa yang akan kau minum.." Elaknya mengalihkan topik pembicaraan.Aku tahu dia belum siap menceritakannya dan aku tidak memaksanya.
"Ahh ..Bukankah itu salahmu menyimpan sembarangan ?" Belaku tak mau disalahkan
"Aku merasa sudah menyimpannya tepat dikulkas khusus.Coba kau perhatikan baik-baik ! Disana ada kulkas yang ku khususkan untuk menyimpan semua keperluan buat memasak." Diapun menunjuk 2 benda mesin pendingin itu yang terletak berlawanan.
Akupun melirik ke arah yang ia tunjukan ternyata benar dikedua sisi terdapat dua kulkas.Dan sekali lagi aku dibuat terdiam.Otakku mulai berfikir untuk menyanggahnya agar tidak dipermalukan olehnya.
"Tadi malam lampu tiba-tiba mati karena aku terlalu haus.Aku belum hapal semua barang yang berada di rumahmu.Dan pada akhirnya akupun meminum air dibotol kulkasmu itu tanpa sisa setetespun.Kau harus tahu dalam hidupku baru malam tadi aku minum minuman beralkohol." Belaku tak mau disalahkan.
"Lantas apakah kau sudah mengingat apa yang kemudian kau lakukan tadi malam.." Selidiknya dan memandangku tajam
Suasana seketika hening.Bibirku serasa merapat sulit untuk berkata-kata.
"Ahh sayangnya memoriku terhapus begitu saja.Mungkin efek karena terlalu banyak meminumnya." Elakku sambil salah tingkah.
"Benarkah ? Baguslah kalau begitu" Responnya sambil tersenyum seakan mengolokku
"Maksudmu..?"
"Kenapa wajahmu jadi memerah seperti itu ?Apakah kau telah berbohong padaku?" Selidiknya
"ahh kau mungkin salah melihat Jeni." Elakku kembali dan meraba wajahku.
haduh ni wajah kenapa selalu tidak bisa diajak kompromi
"Apakah kau sudah memeriksa kemejamu?"
Terlintas di benakku saat ku membuka kemejaku dan melemparnya sembarangan.
"Ah..kaupun tahu saat terbangun aku sudah memakainya.Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan Jeni?" Elakku
Jenipun tersenyum kembali seakan tersirat ledekan.
"Kau menertawakan ku Jeni?"
"Kenapa pagi ini kau begitu sensitif . Seperti sudah melakukan kesalahan saja." Masih dengan menyungging senyuman yang sama dan membuat emosiku tersulut.
"Aku harap kau melupakan kejadian semalam Jeni." akhirnya aku kelepasan.
"ah kau sudah mengingatnya ..?" Jeni terlihat tersenyum karena akhirnya aku terpancing oleh nya.
"Tidak !!"
"Benarkah.?"
"Jeni..jangan memancingku..?!" Jeritku putus asa.
"Sepertinya kau sudah mengingatnya.."
Akupun terdiam karena rasa malu.Roti yang kutelan seakan menjadi duri ditenggorokanku.
"Aku peringatkan jangan pernah sekalipun kau minum minuman beralkohol bersama orang lain."
aku tetap terdiam dalam rasa maluku.
"Baiklah habiskan sarapanmu ! Kau akan membutuhkan energi saat bertemu dengan calon tunanganmu." Terangnya
"Maksudmu Bily.."
Jenipun menarik alisnya mengiyakan
"Kini saatnya aku akan memberi pelajaran padanya.Karena selalu mengganggumu.Farhan sudah menyiapkan dokumen kegiatan pertemuan kita bersamanya."
Akupun terdiam karena hanya itu yang bisa aku lakukan.
Setelah melihat sarapanku habis Jenipun berdiri dan melangkah menuju dimana ku terduduk.Jantungku terasa berdetak kencang.Dan tubuhku tiba-tiba menegang.
"Semalam kau telah menjadi gadis nakal dan hampir saja membuatku memakanmu.Entah apa yang terjadi bila aku terlambat menyadarinya.Kau memang sekertaris penggoda yang luar biasa Frisilia."bisiknya dan pergi berlalu sambil menyunggingkan senyuman
Dan akupun menelan air liurku.Rasa malu menghinggapiku hingga aku tidak bisa berkata apapun.
Akhirnya bertemu kembali Semangat frisilia..
lanjuttttttt thor
lanjutt thor
lanjut thor
ikutan nangis
lanjuttttt
tapi ceritanya bagus banget