Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.
Raisa harus menanggung perjodohan yang di sebabapkan Ardi, sang papa memiliki banyak hutang kepada seorang pengusaha kaya raya, sebagai ganti tidak bisa membayar utang tersebut, Raisa harus menjadi pengganti atau jaminan semua utang keluarganya.
Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Akhirnya Sah
Bab 25 - Akhirnya Sah
Tak lama kemudian, suara pengumuman lantang terdengar jelas di seluruh ruangan:
"Kepada tamu undangan yang terhormat, mari kita sambut kedatangan calon pengantin wanita, Raisa Lestari Baskara binti Ardi Baskara, yang didampingi oleh Ayah tercinta, Bapak Ardi Baskara!"
Pintu utama perlahan terbuka lebar. Cahaya hangat menyinari sosok yang berjalan perlahan di tengah lorong, bergandengan tangan erat dengan Ardi. Seluruh ruangan seketika hening, lalu disusul suara decak kagum yang tertahan dari setiap sudut ruangan.
Senopati yang berdiri di dekat tempat pelaksanaan ijab kabul, seolah terpaku di tempatnya. Matanya tak berkedip menatap sosok yang mendekat—Raisa tampak memukau dengan kebaya pengantin yang membalut tubuhnya, riasan wajah yang menonjolkan keanggunan alaminya, dan sorot mata yang menyimpan ribuan perasaan. Bukan hanya Senopati, hampir semua tamu undangan tak sanggup mengalihkan pandangan, terpesona oleh kecantikan wanita itu.
Saat jarak mereka semakin dekat, Raisa melemparkan senyum manis—senyum yang menyembunyikan banyak hal. Pernikahan ini memang bukan awal yang pernah ia bayangkan dulu, namun kehadiran Senopati membuatnya menyadari: hari ini bukan sekadar kewajiban, melainkan gerbang menuju kedamaian yang selama ini ia cari.
Kini Raisa berdiri tepat di samping Senopati. Mereka saling memandang beberapa detik—detik di mana semua keraguan perlahan luruh, berganti keyakinan. Penghulu pun mempersilakan mereka duduk, karena momen sakral ijab kabul akan segera dimulai.
"Senopati Aditama, apakah Saudara sudah siap melaksanakan ikrar pernikahan ini?" tanya penghulu dengan suara tenang namun tegas.
Senopati menegakkan tubuh, menatap penghulu dengan pandangan tak tergoyahkan. "Saya siap, Pak. Lahir dan batin."
Penghulu kemudian beralih kepada Raisa. "Raisa Lestari Baskara binti Ardi Baskara, apakah Saudari juga sudah siap?"
Jantung Raisa berdegup kencang sejenak, ada getaran gugup yang menyelinap—namun saat ia menoleh dan melihat Senopati yang menatapnya penuh dukungan, keberaniannya kembali utuh. Ia mengangguk pelan, suaranya terdengar jelas dan mantap:
"Saya siap, Pak Penghulu."
"Baiklah," ujar penghulu sambil mengangguk puas. "Jika kedua mempelai sudah siap sepenuhnya, mari kita laksanakan ijab kabul dengan khidmat, memohon ridho Allah SWT."
Penghulu kemudian menatap Ardi Baskara:
"Bapak Ardi Baskara, apakah Bapak berkenan menikahkan putri Bapak, Raisa Lestari Baskara binti Ardi Baskara, dengan Senopati Aditama, dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan berlian, dibayar tunai?"
Ardi menarik napas panjang, menatap putrinya sekilas dengan mata berkaca-kaca, lalu menatap Senopati dengan pandangan penuh kepercayaan, dan berjabat tangan dengan Senopati.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan putri saya, Raisa Lestari Baskara binti Ardi Baskara, kepada Senopati Aditama dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
Giliran Senopati mengucapkan. Ia menatap Ardi Baskara dengan sungguh-sungguh, lalu ucapannya terdengar bulat, lantang, dan tak tergoyahkan:
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Raisa Lestari Baskara binti Ardi Baskara yang dinikahkan oleh Bapak Ardi Baskara, dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
"Sah!" seru kedua saksi bersamaan dengan suara tegas.
Penghulu tersenyum lebar sambil mengangkat kedua tangan berdoa. "Alhamdulillah, sah nikah dan kawin mereka. Semoga Allah SWT memberkahi pernikahan ini, menjadikan kalian berdua pasangan yang saling menyempurnakan, saling setia, dan menua bersama dalam ketaatan serta kasih sayang."
Ruangan seketika bergema doa dan ucapan selamat. Senopati segera menggenggam tangan Raisa—hangat dan kuat. Ia berbisik pelan agar hanya terdengar oleh istrinya:
"Terima kasih sudah mempercayakan hidupmu padaku. Mulai detik ini, aku akan menjagamu dan membimbing kamu Raisa!"
Raisa meremas tangan suaminya erat, lalu mengangguk dan menunduk mencium tangan suaminya sebagai penghormatan kepada Senopati sebagai suaminya yang sah. Setelah Raisa mengangkat kepalanya Senopati lalu memasangkan cincin kejari Raisa dan di persilahkan mencium kening istrinya untuk pertama kalinya.
Setelah prosesi ijab kabul selesai, kedua mempelai dipersilakan duduk di pelaminan untuk menyambut tamu yang ingin memberikan ucapan selamat. Raisa terus menyunggingkan senyum ramah—meski kadang terasa lelah, ia tak ingin terlihat tidak sopan kepada siapa pun. Namun hal itu tak berlaku bagi Senopati. Wajah pria itu tetap datar, dingin, dan seolah tak tersentuh suasana meriah. Hanya sesekali ia mengangguk singkat saat disapa tamu. Meski begitu, sorot matanya tak pernah lepas mengawasi Raisa, seolah takut ada yang membuat istrinya tidak nyaman.
Menjelang pukul tiga sore, panitia mempersilakan mereka meninggalkan tempat acara guna beristirahat sejenak, sebelum kembali melanjutkan resepsi besar pukul delapan malam nanti.
Melihat masih banyak tamu berdatangan, Senopati langsung menggenggam tangan Raisa erat—seolah takut tersesat—lalu menuntunnya keluar perlahan.
"Kita istirahat dulu," ucapnya nada datar, tapi genggamannya terasa begitu melindungi. "Aku tidak ingin kau kelelahan sampai pingsan nanti malam. Kalau kau jatuh, aku yang paling panik."
Raisa sempat tertegun mendengar kalimat terakhir itu, tapi Senopati sudah berjalan lebih dulu, menariknya menuju lantai atas.
Sesampainya di depan pintu kamar, Raisa perlahan mencoba melepaskan tangannya.
"Baiklah... aku ke kamarku dulu ya, Mas Seno. Kamu juga istirahat di kamarmu," katanya pelan sambil hendak berbalik.
Belum sempat kakinya melangkah, pergelangan tangannya ditarik kembali dengan lembut namun tegas. Tubuh Raisa tersentak hingga mundur dan hampir menabrak dada bidang suaminya.
"Kau mau ke mana?" bisik Senopati tepat di samping telinganya, membuat bulu kuduk Raisa meremang. "Kita sudah sah menjadi suami istri. Jadi dari sekarang, kamarmu adalah kamarku juga."
Raisa mendongak, matanya membelalak tak percaya, pipinya perlahan memerah seindah kelopak mawar.
"Tapi... aku mau ganti baju dulu!" cicitnya berusaha mencari alasan, menunduk malu tak berani menatap mata tajam itu. "Baju ini berat sekali, dan aku ingin menyeka wajah dulu..."
Senopati menatap wajah malu istrinya, lalu mengangkat satu sudut bibirnya—senyum tipis yang jarang orang lihat.
"Kau bisa mengganti bajumu di depanku," jawabnya santai, tapi matanya berkilat jahil. "Lagipula, aku suamimu. Mana ada suami yang tak boleh melihat istrinya sendiri?"
Wajah Raisa kini merah padam menahan malu, bahkan sampai ke telinganya. Ia menghentakkan kakinya pelan sambil mendengus kesal yang justru terlihat menggemaskan. "Mas Seno jahat! Kamu sengaja mempermalukanku!"
Melihat tingkah polah istrinya, Senopati akhirnya tertawa pelan—suara rendah yang terdengar begitu merdu dan jarang didengar orang lain. Ia mengusap puncak kepala Raisa dengan lembut, lalu berbisik pelan:
"Ya sudah, aku tidak akan menatap. Aku akan berdiri di depan pintu ini sampai kau selesai ganti baju. Aku hanya takut kau kesepian di kamar sendirian."
Raisa mendongak perlahan, melihat tatapan Senopati yang tak lagi dingin, melainkan penuh kelembutan yang hanya untuknya. Jantungnya berdegup kencang lagi, kali ini bukan karena takut, tapi karena rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya.
"Terima kasih..." ucapnya sangat pelan, hampir tak terdengar.
Senopati tersenyum lebih lebar, lalu mengecup kening Raisa sekilas—sangat cepat, tapi cukup membuat napas wanita itu tercekat.
"Sama-sama, istriku. Cepatlah berganti, nanti aku yang akan memelukmu sampai kau tidur."
Raisa bingung dengan perubahan sikap suaminya yang tiba-tiba, entah kenapa tapi dia merasa tenang dengan perlakuan itu.