NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:620
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Ruangan bawah pelabuhan itu terasa terlalu sunyi. Hanya dengung ventilasi tua di sudut ruangan kini terdengar seperti suara mesin yang terus mengingatkan bahwa mereka terpisah dari dunia luar.

Arga masih terduduk lemas sambil membungkuk di kursinya. Wajahnya masih pucat dan tatapannya kosong.  Biasanya mulutnya tak pernah berhenti bicara, tapi sejak melihat isi amplop merah itu, bahkan ia kehilangan tenaga untuk bercanda.

Nara menatap Han yang berdiri diam di depan lemari besi itu. Ada sesuatu yang tergambar di wajahnya,  bukan sekadar beban, melainkan keputusan akhir yang harus dibuat. Seolah selama ini ia sengaja menahan bagian-bagian ceritanya yang paling gelap. Dan sekarang, ia tahu kalau mereka harus tahu.

“Han.”

Suara Nara pelan, tapi cukup membuat pria itu menoleh. Tatapan mereka bertemu sesaat. Nara menarik napas sebelum melanjutkan omongannya.

“Aku ingin tahu semuanya.”

Han terdiam, tatapannya beralih ke isi lemari besi itu. Lalu perlahan, ia membuka salah satu kompartemen kecil yang tersembunyi di bagian bawah. Dari sana ia mengeluarkan sebuah amplop hitam  yang agak tipis.

Tidak ada label, tidak ada kode. Hanya amplop biasa yang terlihat jauh lebih tua dibanding dokumen lainnya. Damar yang melihat amplop itu langsung menegang.

“Han…” dengan nada suara yang seperti peringatan.

Han tidak menjawab, ia berjalan ke arah meja dan meletakkan amplop itu dengan perlahan.

“Kalau kalian mau tahu siapa Helios sebenarnya…” katanya pelan, “…harus mulai dari sini.”

Ruangan kembali sunyi. Han membuka amplop itu sendiri. berlembar-lembar foto ia keluar perlahan. Dan dalam satu detik, bahkan Nara yang sudah melihat foto eksperimen sebelumnya langsung merasa darahnya menjadi beku.

Foto pertama memperlihatkan satu ruangan besar berbentuk lingkaran dan di tengahnya berdiri sebuah altar batu berwarna hitam.

Di atas altar itu, satu kepala manusia dipajang seperti persembahan. Darah segar masih mengalir melalui saluran kecil yang membentuk simbol melingkar di lantai. Di sekeliling altar, puluhan orang berdiri mengenakan jubah warna gelap dengan wajah yang tertutup topeng putih.

Foto kedua menunjukkan tubuh tanpa kepala yang terbaring di bawah altar. Tangannya dan kakinya masih terikat. Darah masih mengalir ke lantai ruangan.

Foto ketiga lebih buruk.

Deretan tubuh manusia yang terbuka di atas meja logam, sebagian organ mereka disusun rapi dalam kotak transparan berlabel kode. Dengan latar belakang terlihat simbol Helios yang terpasang di dinding. Namun di bawahnya, ada lambang lain. Lingkaran besar dengan garis vertikal seperti tombak menembus pusatnya.

Arga yang tadi sudah setengah pulih langsung membekap mulutnya lagi.

“Oh Tuhan…”

Ia menoleh cepat, namun kali ini ia tidak sempat lari. Ia menunduk sambil menahan mual hebat.

“Bangsat…”

Nara menelan ludahnya. Jari-jarinya gemetar saat menyentuh tepi salah satu foto.

Ia menatap Han,  “Ini…” sambil menelan ludahnya menahan mual,  “…siapa yang memotret semua ini?”

Han menatap foto-foto itu cukup lama.

Matanya terlihat kosong, lalu ia menjawab pelan. “Aku.”

Ruangan itu seketika terasa membeku. Arga mengangkat kepalanya perlahan.

“Apa?”

Han menghela napas panjang, “….bukan atas kemauanku sendiri.”

Ia menatap salah satu foto altar.

“Aku dapat informasi dari seseorang di dalam.”

Nara terdiam. Kemudian Han melanjutkan, “…seorang dokter wanita di fasilitas internal.”

Tatapannya perlahan berubah jauh, seolah kembali ke masa itu.

“Dia secara diam-diam memberiku banyak laporan.”

“Data medis.”

“Jalur distribusi.”

“Nama-nama.”

“Lokasi eksperimen.”

“Semuanya.”

Nara bisa mendengar perubahan kecil dalam suaranya. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Han terdengar rapuh.

“Aku awalnya cuma tahu soal pelatihan dan rekrutmen,” lanjutnya pelan. “Aku pikir Helios cuma organisasi pembunuh yang membungkus bisnis mereka dengan institusi legal.”

Ia tertawa kecil, namun terasa sangat pahit.

“Ternyata aku terlalu naif.” Tangannya menyentuh tepi foto, “…dia yang menunjukkan bagian ini.”

Damar berdiri diam di sudut ruangan dengan wajah yang mengeras. Namun matanya menyimpan sesuatu yang lain. Sebuah duka lama.

Han menatap kosong ke meja.

“Dia mempertaruhkan nyawanya buat kasih semua data ini.”

“Dia tahu kalau identitasku mulai dicurigai.”

“Dia tahu aku bakal dibunuh kalau tetap di sana.”

Han terdiam sejenak, kemudian ia melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.

“Kami kabur bersama.”

Nara merasakan dadanya menegang. Ia tahu bagian ini sangat penting. Han menatap sekeliling ruangan. Tempat itu, bunker ini.

“Dia yang membawaku ke sini.”

Tatapannya kemudian jatuh ke lantai beton.

“…dengan luka tembak di perutnya.”

Arga menelan ludah dan Han mengangkat pandangannya sedikit.

“Dia masih sadar cukup lama untuk membuka semua kode lemari ini.”

“Cukup lama untuk menyerahkan semua data.”

“Cukup lama untuk memastikan kalau aku hidup.”

Napas Han terdengar makin berat, “…lalu dia mati di ruangan ini.”

Sunyi total. Bahkan dengung ventilasi terasa seperti menghilang. Damar akhirnya melangkah maju. Tatapannya tertuju pada salah satu foto.

“Wanita itu adikku.”

Nara membeku. Arga mengangkat kepalanya perlahan.

Damar mengangguk kecil, lalu melanjutkan,

“Namanya Alina.”

Suara pria itu tetap rendah, namun stabil.

“Dia masuk Helios sebagai dokter muda terbaik.”

“Katanya dia mau mengubah sistem dari dalam.”

Ia tersenyum pahit, “…kami semua terlalu bodoh buat percaya itu kalau mungkin.”

Tatapannya beralih ke Han.

“Waktu dia menghubungi kami dari dalam, semuanya sudah terlambat.”

Damar mengepalkan tangannya.

“Pesan terakhirnya cukup sederhana.”

Ia menatap lantai, lalu lanjut bicara ;

Jangan biarkan warga distrik tertipu janji manis Helios, apapun caranya.

Sunyi kembali. Nara kini mengerti kenapa Damar melindungi Han tanpa banyak tanya. Ini bukan soal utang biasa. Ini soal warisan terakhir adiknya. Han mengusap wajahnya pelan.

“Aku tetap bekerja untuk agency pembunuh di bawah Helios setelah itu.”

Nara menatapnya, “Kamu masuk kembali?”

Han mengangguk kecil. “Aku harus….”

“Kalau aku langsung kabur, semua bukti ini tidak akan pernah cukup.”

Tatapannya mengeras.

“Aku kembali sambil mengumpulkan bukti.”

“Mencari celah.”

“Mencari orang-orang yang bisa aku percaya.”

“Sambil menunggu waktu yang tepat.”

Nara memandangnya cukup lama, lalu perlahan berkata,

“Sampai kau memutuskan untuk menyelamatkanku.”

Han menoleh, mata mereka bertemu. Dan untuk beberapa detik, tidak ada suara lain selain ombak kecil yang terdengar memukul dinding di bawah pelabuhan.

Akhirnya Han mengangguk.

“Iya.”

Nara menggigit bibir kecil.

“Kenapa?”

Han terdiam, cukup lama. Seolah jawaban itu adalah sesuatu yang selama ini ia kubur terlalu dalam. Lalu akhirnya ia berkata, dengan suara nyaris seperti bisikan.

“Karena waktu aku melihatmu…” tatapannya jatuh ke foto-foto itu, “…aku teringat dia.”

Nara menegang. Han menutup matanya sesaat. Saat membukanya kembali, ada luka terbuka yang terpancar dari matanya.

“Wanita itu…” ia menelan ludahnya, “…kekasihku.”

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!