NovelToon NovelToon
TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: Rhin Pasker

Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JARING YANG DITEBAR SANG PANGLIMA

Matahari perlahan naik hingga tepat berada di atas langit perbatasan. Cahaya siang menyinari desa pertahanan yang sejak beberapa hari terakhir berada dalam suasana tegang.

Di dalam markas utama, Gu Yanran masih berada di ruang interogasi.

Bandit yang ditangkap di pasar pagi tadi sudah tidak memiliki keberanian untuk berbohong lagi. Setelah berjam-jam diinterogasi, akhirnya pria itu menceritakan semua yang ia ketahui.

Gu Yanran berdiri di depan meja kayu sambil membaca laporan yang baru saja ditulis para prajurit.

Tatapannya tenang.

Namun pikirannya bekerja cepat.

Informasi yang diperoleh jauh lebih berharga daripada yang ia bayangkan.

Kini ia mengetahui bahwa kelompok bandit itu memang memiliki markas rahasia.

Namun masalahnya, markas tersebut berada di lokasi yang sangat sulit dijangkau.

Jalur masuknya sempit, dipenuhi tebing curam dan hutan lebat.

Jika pasukan menyerbu secara langsung, mereka akan kehilangan keuntungan medan.

Bahkan kemungkinan besar akan masuk ke dalam jebakan musuh.

Bandit yang sedang berlutut di hadapannya menundukkan kepala dalam-dalam.

"Aku sudah mengatakan semuanya..." ucapnya dengan suara gemetar.

"Tolong... jangan siksa aku lagi."

Gu Yanran menatapnya sekilas.

"Jika yang kau katakan benar, nyawamu akan tetap berguna."

Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan berjalan keluar dari ruang interogasi.

Jubah hitamnya berkibar pelan mengikuti langkahnya.

Tak lama kemudian, lonceng markas dibunyikan.

DONG!

DONG!

DONG!

Suara itu segera memanggil seluruh prajurit untuk berkumpul.

Dalam waktu singkat, lapangan markas sudah dipenuhi para prajurit pilihan.

Mereka berdiri tegak dalam barisan rapi.

Tatapan mereka tertuju kepada satu orang.

Gu Yanran.

Wanita itu berdiri di atas panggung kayu sederhana sambil memandang seluruh pasukannya.

"Baiklah."

Suara tenangnya langsung membuat lapangan menjadi sunyi.

"Semua sudah berkumpul."

Para prajurit memasang ekspresi serius.

Mereka tahu bahwa sang panglima pasti telah mendapatkan informasi baru.

Gu Yanran membuka peta yang dibawanya.

"Kita telah memperoleh informasi mengenai keberadaan kelompok bandit."

Mendengar itu, mata para prajurit langsung berbinar.

Namun Gu Yanran melanjutkan sebelum mereka sempat berbicara.

"Sayangnya, markas mereka berada di lokasi yang sangat menguntungkan."

Jarinya menunjuk sebuah titik di peta.

"Jika kita menyerang secara langsung, kita justru akan masuk ke dalam perangkap mereka."

Suasana kembali tenang.

Para prajurit memahami maksudnya.

Jika bahkan Panglima Gu menganggap tempat itu berbahaya, berarti risikonya memang besar.

Gu Yanran lalu mengangkat kepalanya.

"Karena itu, kita akan menggunakan cara lain."

Beberapa prajurit saling bertukar pandang.

Mereka mulai penasaran.

"Beberapa orang dari Kalian akan menyebarkan rumor."

"Rumor?" tanya salah satu prajurit.

Gu Yanran mengangguk.

"Katakan kepada semua orang bahwa malam ini aku akan memimpin seratus prajurit untuk menyerang markas bandit."

Para prajurit tampak terkejut.

Namun tidak ada yang berani menyela.

"Berangkat sekarang."

Nada suara Gu Yanran kembali dingin.

"Sebarkan berita itu ke seluruh desa."

"Siap, Panglima Gu!"

Beberapa prajurit segera mengepalkan tangan di dada lalu berlari meninggalkan lapangan.

Setelah itu, Gu Yanran melanjutkan penjelasannya.

"Ketika rumor mulai menyebar, jangan halangi siapa pun yang mencoba meninggalkan wilayah perbatasan."

Kali ini para prajurit benar-benar kebingungan.

Mereka saling memandang satu sama lain.

Tidak ada yang mengerti maksud perintah tersebut.

Biasanya, dalam situasi seperti sekarang, setiap orang yang keluar masuk wilayah desa harus diperiksa dengan ketat.

Namun kini Gu Yanran justru memerintahkan mereka untuk membiarkan orang-orang itu pergi.

Meski demikian, mereka tetap menjawab serempak.

"Siap, Panglima Gu!"

Salah satu prajurit akhirnya mengangkat tangan.

"Panglima..."

Gu Yanran menoleh.

"Ada apa?"

Prajurit itu tampak ragu-ragu.

"Lalu... apakah kita benar-benar akan menyerang markas bandit malam ini?"

Mendengar pertanyaan itu, Gu Yanran tersenyum.

Namun senyum tersebut justru membuat sebagian besar prajurit merinding.

Karena itu bukan senyum lembut seorang wanita biasa.

Melainkan senyum dingin seorang panglima perang yang sedang merencanakan sesuatu.

Beberapa prajurit tanpa sadar menelan ludah.

"Panglima Gu tersenyum seperti itu lagi..."

"Setiap kali beliau tersenyum seperti itu, pasti ada yang akan sial."

"Sepertinya para bandit akan menangis malam ini."

Bisikan-bisikan kecil terdengar di antara mereka.

Gu Yanran memandang seluruh pasukannya.

Lalu perlahan berkata,

"Tidak."

Seluruh lapangan langsung terdiam.

"Tidak?" ulang seorang prajurit.

"Maksud Panglima... kita tidak benar-benar menyerang?"

"Benar."

Jawaban singkat itu membuat semangat para prajurit langsung menghilang.

Beberapa orang bahkan tampak lesu.

"Ah..."

"Sia-sia aku berharap."

"Aku kira kita akan bertempur malam ini."

Melihat ekspresi mereka, Gu Yanran akhirnya tertawa kecil.

"Hahaha..."

Tawa itu membuat suasana menjadi jauh lebih santai.

"Aku sudah menduga kalian akan menunjukkan ekspresi seperti itu."

Para prajurit hanya tersenyum canggung.

Mereka memang terkenal berbeda dari pasukan biasa.

Jika prajurit lain takut menghadapi perang, mereka justru menantikannya.

Bagi mereka, medan tempur adalah tempat terbaik untuk menunjukkan kemampuan.

Gu Yanran menggelengkan kepala.

"Kalian ini benar-benar aneh."

Salah satu prajurit langsung menjawab dengan penuh semangat.

"Panglima, kami hanya menjalankan ajaran Anda."

"Itu bukan ajaranku."

"Itu jelas sifat asli kalian."

Seluruh lapangan langsung dipenuhi tawa.

Seorang prajurit lain ikut berseru.

"Kalau begitu, apa rencana Panglima?"

Gu Yanran kembali memasang ekspresi serius.

"Kita akan menunggu mereka keluar sendiri."

Mata para prajurit langsung berbinar.

Mereka mulai memahami maksudnya.

Salah satu dari mereka bahkan berteriak,

"Panglima Gu memang luar biasa!"

"Benar!"

"Kita tidak perlu masuk ke sarang mereka!"

"Biarkan mereka yang masuk ke perangkap kita!"

Sorak sorai kecil terdengar di antara para prajurit.

Gu Yanran hanya tersenyum tipis.

Hubungannya dengan pasukan ini memang berbeda.

Di depan musuh, ia adalah Panglima Besi yang ditakuti seluruh perbatasan.

Namun di depan anak buahnya, ia sering bercanda dan memperlakukan mereka seperti keluarga.

Kadang ia sedingin es.

Kadang selembut kapas.

Dan kadang memiliki selera humor yang mengejutkan.

Karena itulah para prajurit begitu menghormati dan mengaguminya.

Mereka tidak hanya setia karena kekuatannya.

Mereka setia karena percaya kepada dirinya.

Gu Yanran kemudian mengangkat tangan.

"Baiklah."

Suasana kembali tenang.

"Sampai di sini saja."

"Kembali ke tugas masing-masing."

"Siap, Panglima!"

Para prajurit segera membubarkan diri.

Masing-masing kembali menjalankan tugas sesuai perintah.

Sementara itu, rencana Gu Yanran mulai berjalan.

Rumor menyebar dengan sangat cepat.

Di pasar.

Di kedai teh.

Di jalanan.

Bahkan hingga ke rumah-rumah penduduk.

Semua orang membicarakan hal yang sama.

Konon, malam ini Panglima Gu akan memimpin seratus prajurit untuk menyerang markas bandit.

Kabar itu menyebar seperti api yang tertiup angin.

Dalam waktu singkat, hampir seluruh desa sudah mengetahuinya.

"Benarkah Panglima Gu akan menyerang malam ini?"

"Aku mendengar beliau sendiri yang memimpin pasukan."

"Kalau Panglima Gu turun tangan, para bandit pasti habis."

"Tapi tetap saja berbahaya..."

"Bukankah markas mereka berada di pegunungan?"

"Semoga Panglima Gu kembali dengan selamat."

Penduduk desa memiliki berbagai reaksi.

Sebagian merasa khawatir.

Sebagian lagi merasa tenang.

Karena bagi mereka, Gu Yanran adalah simbol kemenangan.

Selama wanita itu masih berdiri di garis depan, mereka percaya desa ini akan tetap aman.

Menjelang sore hari, efek rumor itu mulai terlihat.

Beberapa orang mulai meninggalkan wilayah perbatasan secara diam-diam.

Mereka berjalan terburu-buru.

Ada yang keluar melalui jalan utama.

Ada pula yang memilih jalur sepi di pinggir hutan.

Mereka mengira tidak ada yang memperhatikan.

Padahal...

Semua gerakan mereka berada dalam pengawasan.

Di atas menara penjagaan, beberapa prajurit melihat mereka dengan jelas.

Salah seorang prajurit tersenyum tipis.

"Lihat."

"Sudah mulai bergerak."

Prajurit lain mengangguk.

"Tepat seperti yang diperkirakan Panglima."

Beberapa orang yang keluar itu jelas bukan penduduk biasa.

Mereka kemungkinan adalah mata-mata yang selama ini bersembunyi di desa.

Kini mereka bergegas menyampaikan informasi kepada kelompok bandit.

Dan itulah yang diinginkan Gu Yanran sejak awal.

Para prajurit sengaja tidak menghentikan mereka.

Tidak ada pemeriksaan.

Tidak ada pengejaran.

Mereka hanya membiarkan para mata-mata itu pergi.

Karena semakin banyak informasi yang sampai kepada musuh...

Semakin yakin musuh bahwa rumor tersebut adalah kenyataan.

Salah seorang prajurit menatap ke arah jalan yang mulai sepi.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

"Taktik Panglima Gu berhasil."

Prajurit lainnya mengangguk.

"Dan para bandit bahkan belum menyadarinya."

Sementara itu, jauh di dalam markas pertahanan.

Gu Yanran berdiri di depan jendela sambil memandang matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat.

Angin sore mengibaskan rambut panjangnya.

Tatapannya tenang.

Namun di balik ketenangan itu, pikirannya terus menghitung setiap kemungkinan.

Ia tahu.

Malam ini akan menjadi malam yang sangat penting.

Jika rencananya berhasil...

Maka para bandit akan keluar dari sarangnya sendiri.

Dan saat itulah...

Perburuan yang sesungguhnya akan dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!