NovelToon NovelToon
Bukan Inginku Jadi MADUMU

Bukan Inginku Jadi MADUMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Single Mom
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.

"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.

Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.

Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Curhat ke mama

Setelah pertengkaran hebat itu, Yusuf berusaha sekuat tenaga menata kembali hubungannya dengan Nora. Ia berusaha menjadi suami yang lebih perhatian, lebih banyak bicara, dan berusaha menutupi segala gejolak di dalam hatinya. Ia juga mencurahkan seluruh kasih sayang dan waktunya untuk Haikal, anak pertamanya. Bagi Yusuf, Haikal adalah kebahagiaan dan kebanggaannya, ia berjanji akan menjadi ayah yang paling baik, paling penyayang, dan paling bertanggung jawab untuk anak itu. Namun, sekeras apa pun ia berusaha, rasa sesal dan rasa sakit yang mendalam itu tak kunjung hilang. Bayangan wajah Siti yang hancur, permohonannya yang menyayat hati, dan tangisnya yang terdengar jelas di telinga seakan terus menghantuinya di setiap langkah yang ia ambil. Rasa bersalah itu melekat erat di setiap sudut hatinya, menjadi beban berat yang tak pernah terangkat sedikit pun.

Kesempatan itu akhirnya tiba. Yusuf mendapat tugas dinas ke luar kota yang tidak jauh dari tempat tinggal orang tuanya. Tanpa memberi tahu atau meminta izin pada Nora, bahkan tanpa berani menyebutkan rencananya itu kepada siapa pun, setelah menyelesaikan tugasnya, ia langsung mengarahkan kendaraannya menuju rumah masa kecilnya. Ia merasa sangat butuh tempat untuk bersandar, butuh telinga yang mau mendengar, dan butuh hati yang bisa memahami tanpa menghakimi. Dan satu-satunya orang yang ia percaya sepenuhnya adalah ibunya sendiri.

Sesampainya di sana, Mama menyambutnya dengan hangat dan senyum bahagia, namun senyum itu perlahan memudar saat melihat raut wajah putranya yang tampak begitu kusut, lelah, dan penuh penderitaan. Mama mempersilakan duduk di teras belakang yang sepi dan sejuk, tempat yang biasa mereka gunakan untuk mengobrol saat Yusuf masih kecil dan remaja dulu.

“Kenapa kamu datang sendirian, Nak? Di mana Nora dan Haikal? Ada apa dengan wajahmu ini? Seperti orang yang sedang menanggung beban seberat gunung saja,” tanya Mama lembut, tangannya terulur mengelus punggung tangan Yusuf yang terasa dingin dan tegang.

Yusuf menunduk dalam, napasnya keluar panjang dan berat. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan gejolak emosi yang seakan akan meledak keluar. Selama ini ia selalu menjadi sosok yang kuat, tenang, dan selalu bisa diandalkan. Ia selalu menyembunyikan segala rasa sakit dan masalahnya agar tidak membuat orang lain khawatir. Tapi saat ini, di hadapan ibunya, benteng pertahanan yang ia bangun begitu kokoh itu akhirnya runtuh seketika. Air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah, mengalir deras membasahi pipinya yang kasar.

“Mama… Maafkan aku yang datang tiba-tiba begini,” suaranya terdengar parau dan gemetar hebat. “Aku tidak tahu lagi harus bercerita pada siapa, Ma. Aku tidak tahu lagi ke mana harus pergi membawa semua rasa sakit dan sesak yang ada di dada ini. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi menahannya sendirian. Rasanya dadaku akan meledak kapan saja.”

Mama segera mendekat, memeluk bahu Yusuf dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. “Ceritakan semuanya pada Mama, Nak. Keluarkan semuanya. Mama ada di sini, Mama akan mendengarkan. Jangan disimpan sendiri, nanti hatimu sakit dan hancur. Apa pun yang terjadi, Mama akan selalu ada di sini buatmu.”

Kalimat itulah yang menjadi pemicu. Yusuf pun akhirnya menumpahkan segalanya, semua yang selama ini ia pendam rapat-rapat. Ia menceritakan mulai dari awal pertemuan dengan Siti, kesalahan besar yang telah ia lakukan terhadap siti, sehingga membuat penyesalan terbesar hingga saat ini.

Lalu Yusuf bercerita tentang kedatangan mereka ke rumah Siti, tentang permintaan Nora agar ia menjatuhkan talak, tentang permohonan Siti yang begitu sederhana namun begitu berharga bagi wanita itu—hanya ingin tetap menyandang status sebagai istrinya saja, tidak meminta tempat tinggal, tidak meminta harta, tidak meminta apa pun selain nama itu saja. Ia menceritakan bagaimana ia menolak permintaan itu, bagaimana ia akhirnya mengucapkan kalimat talak yang memutus segalanya, dan bagaimana hancurnya hati Siti saat itu.

“Mama… Apa aku ini sudah menjadi manusia yang sangat jahat dan kejam?” tanya Yusuf di sela-sela isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi. “Dia tidak pernah berbuat salah apa pun padaku. Dia hanya jatuh cinta padaku, dia hanya memberikan segala yang ia miliki padaku. Dia sudah berkorban begitu banyak hal, Ma! Dia rela dikucilkan, rela dicemooh, rela kehilangan masa mudanya, dan rela hidup jauh dan terpisah hanya demi kebaikan kami semua. Tapi apa balasan yang aku berikan padanya? Hanya rasa sakit, air mata, dan kehancuran. Dia hanya minta satu hal yang begitu kecil dan sederhana, Ma! Cukup dengan status istri saja, itu sudah membuatnya merasa cukup dan bahagia. Tapi aku bahkan tidak sanggup memberikannya satu hal itu saja. Aku terlalu takut pada Nora, aku terlalu ingin menjaga ketenangan dan janjiku, sampai aku mengorbankan harga diri dan perasaan wanita yang sudah begitu baik dan berbakti padaku. Apa aku ini laki-laki yang tidak punya hati nurani, Mama? Kenapa aku bisa sejahat itu padanya?”

Yusuf menyeka air matanya dengan kasar, namun air mata itu terus mengalir tanpa henti.

“Dan sekarang… aku berusaha memperbaiki hubungan dengan Nora, aku berusaha menjadi ayah yang baik buat Haikal, aku berusaha menjalani hidup seperti biasa seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Tapi hati ini tidak bisa berbohong, Ma! Rasa sesal ini begitu besar dan beratnya sampai rasanya tulang-belulangku pun ikut terasa remuk. Setiap malam aku tidak bisa tidur, setiap kali memejamkan mata, yang terbayang selalu wajah Siti yang penuh air mata dan tatapan hancur itu. Suara permohonannya terus bergaung di telingaku, seakan terus menuduhku sebagai penjahat dan pembuat kehancuran hidupnya. Aku tahu aku sudah berjanji pada Nora, aku tahu aku harus memegang teguh kepercayaan yang ia berikan. Tapi kenapa rasanya aku tidak adil? Kenapa rasanya aku sudah melakukan ketidakadilan yang begitu besar pada wanita yang bahkan tidak pernah meminta apa-apa selain dicintai dan dihargai? Aku merasa sangat hina dan sangat berdosa, Ma. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana…”

Mama mendengarkan semuanya dengan tenang namun hatinya ikut teriris melihat penderitaan yang dialami anak laki-lakinya itu. Ia mengusap punggung dan rambut Yusuf dengan penuh kelembutan, membiarkan anaknya itu menangis dan melepaskan segala rasa sakit yang selama ini dipendamnya.

“Nak… Dengar baik-baik apa yang Mama katakan,” ucap Mama dengan suara yang lembut namun tegas dan penuh kebijaksanaan. “Kamu bukanlah orang jahat atau orang yang kejam. Kamu hanya manusia biasa yang sedang berada di antara dua pilihan yang sama berat dan sama sulitnya. Kamu berusaha memegang janji, kamu berusaha menjaga kepercayaan, dan kamu berusaha menjaga rumah tanggamu. Itu memang tugas dan kewajibanmu sebagai suami dan kepala keluarga. Tapi di sisi lain, hatimu juga memiliki rasa nurani dan rasa terima kasih. Kamu merasa bersalah karena kamu tahu betapa besar pengorbanan yang sudah diberikan Siti buatmu. Dan itu justru membuktikan bahwa kamu adalah manusia yang punya hati dan perasaan, Nak. Kalau kamu tidak merasa apa-apa, kalau kamu tidak menyesal dan tidak merasa bersalah, barulah itu yang menjadi tanda bahwa kamu sudah menjadi orang yang tidak berperasaan.”

Mama menghela napas pelan, lalu menatap mata Yusuf dengan pandangan yang penuh pengertian.

“Permintaan Siti memang sangat wajar dan sangat mulia, Nak. Hatinya begitu tulus dan cintanya begitu besar. Mama sangat mengerti perasaannya, dan Mama juga sangat mengerti perasaanmu. Kamu merasa tidak adil karena kamu tahu dia berhak mendapatkan perlakuan yang jauh lebih baik daripada yang kamu berikan. Tapi ingatlah, Nak… Keputusan yang sudah diambil tidak bisa ditarik kembali. Apa yang sudah terjadi sudah menjadi masa lalu dan takdir yang sudah tercatat. Sekarang yang bisa kamu lakukan bukan lagi meratapi apa yang sudah hilang atau apa yang sudah terjadi, tapi bagaimana kamu bisa menebusnya dengan cara yang benar dan pantas.”

“Tapi bagaimana, Ma? Bagaimana aku bisa menebus rasa bersalah sebesar ini? Bagaimana aku bisa membuat hatiku tenang kembali setelah aku melukai hati wanita yang begitu baik itu?” tanya Yusuf dengan pandangan yang penuh kebingungan dan keputusasaan.

“Teruslah bertanggung jawab, Nak,” jawab Mama tegas namun lembut. “Tanggung jawabmu sebagai ayah dari anakmu bersama Siti tidak berakhir dengan perceraian itu. Tetaplah menafkahi, tetaplah memastikan mereka hidup dengan baik dan layak, dan jaga selalu nama baik dan kehormatan mereka. Jangan pernah mengganggu atau kembali mendekat dengan niat yang salah, tapi berikanlah rasa aman dan kepastian bahwa kamu akan selalu ada untuk anakmu. Dan yang paling penting… Maafkanlah dirimu sendiri, Nak. Kamu sudah melakukannya atas dasar keputusan yang kamu anggap benar saat itu, meskipun rasanya begitu sakit dan berat. Kamu tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kamu bisa mengubah masa depan dan cara kamu bersikap selanjutnya. Terimalah rasa sesal itu sebagai pelajaran dan pengingat agar kamu menjadi laki-laki yang jauh lebih baik, jauh lebih bijaksana, dan jauh lebih adil ke depannya.”

Yusuf mendengarkan setiap kata yang diucapkan ibunya, dan perlahan namun pasti, rasa sesak di dadanya mulai sedikit demi sedikit berkurang. Ia masih merasa sakit, ia masih merasa menyesal, namun setidaknya beban itu tidak lagi terasa seberat sebelumnya. Ia merasa lega karena akhirnya ia bisa menceritakan semuanya, dan merasa beruntung memiliki seorang ibu yang begitu memahami dan bijaksana seperti ibunya.

“Terima kasih, Mama… Terima kasih sudah mendengarkan, terima kasih sudah memahami, dan terima kasih sudah memberi aku kekuatan dan pandangan yang lebih baik. Rasanya hati aku sudah jauh lebih lega sekarang,” ucap Yusuf dengan suara yang jauh lebih tenang dan lembut.

“Tentu saja, Nak. Mama akan selalu ada di sini buatmu, apa pun yang terjadi. Pulanglah dengan hati yang tenang, laksanakanlah kewajibanmu dengan sebaik-baiknya, dan jalani hidupmu dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan. Dan ingatlah selalu, Tuhan Maha Pengampun dan Maha Mengetahui segala isi hati manusia,” jawab Mama sambil tersenyum hangat, memeluk erat tubuh putranya seakan memberikan seluruh kekuatan dan perlindungan yang ia miliki.

Malam itu, Yusuf benar-benar menumpahkan segala isi hatinya, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa tidur dengan perasaan yang jauh lebih damai, meskipun rasa sakit dan kenangan itu masih akan selalu ada dan melekat di dalam hatinya selamanya.

Bersambung....

1
Naufal Affiq
istrimu di tempat selingkuhan nya yusuf
Jetva
si Siti ga kerja..??
Jetva
Lah Siti ogeb....ga pux harga diri....
Dewi Habibah
endingnya sudah bisa di tebak🤭
Dewi Habibah
gimana Nora tidak mencari kebahagiaannya sendiri , suami yg di cintai si Yusuf itu memendam cita pada Siti dan Nora di abaikan , lebih baik Nora cari kebahagiaan sendiri la
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
lanjut kak 👍
Naufal Affiq
kasihan aku lihat kamu yusuf,masih saja kau pikir kan perasaan istrimu yang tukang selingkuh di belakang mu
Tri Hastuti
mudah2an mereka bersatu,, nora tinggalin j
Naufal Affiq
nikahin siti yusuf,karena istri mu sudah selingkuh di belakang mu
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
mau lihat reaksi nora gimana nanti 🤧
Suanti
nora sdh selingkuh yusuf tinggal cerai kan nora baru nikah lgi sm siti 🤭
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤: gampang sekali ya kak /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Meri Meri
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Sasikarin Sasikarin
bolak balik g up juga... kecewa sangat
❀∂я 𝗗𝗘𝗪𝗜 𝗥⒋ⷨ͢⚤ : Bentar ya kak, lagi nulis🤗
total 1 replies
Naufal Affiq
yusuf berusaha kuat lagi untuk mencari siti dan dafa,mereka ada di Kalimantan lho
Tri Hastuti
biarin j nora selingkuh, nti siti sama yusuf j 😂
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
tapi kabar buruk dari ibumu Haikal , dia selingkuh 😭😭😭😅
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
ini ada maunya raka 🙄
Suanti
semoga secpt nya yusuf ketemu siti dan daffa
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
salah jalan kamu nora pelampiasan sama suami orang 🙄🤧
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
ujungnya jadi selingkuh kalian 🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!