Luna Amara Kaito adalah wanita cantik yang hidupnya hancur karena dosa masa lalu kakaknya. Karena kesalahan itu, ia dipaksa menikah dengan Galen Arlan Wilson, pria tampan namun berhati dingin dari keluarga yang menuntut balas. Bagi keluarga Wilson, pernikahan itu bukan cinta, melainkan hukuman.
Galen yang memiliki pesona luar biasa tapi penuh amarah memperlakukan Luna dengan kejam. Ia memaksa Luna menjadi ibu susu sambung bagi bayi mungilnya meski Luna belum pernah melahirkan.
Namun segalanya berubah pada suatu malam ketika Galen merenggut kehormatan Luna. Sejak malam itu, Luna hidup dalam ketakutan. Ia takut hamil, takut masa depan, dan takut pada suaminya sendiri.
Hingga suatu keajaiban datang, membawa kebenaran yang selama ini tersembunyi. Luna akhirnya mengetahui bahwa perbuatan kakaknya jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan. Dan satu fakta mengejutkan, bayi yang selama ini ia rawat ternyata anak kandung Kakanya.
Apakah itu anak kandung Galen juga? akankah luluh pada Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phoebeee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebaikan Luna
Galen berkerut tidak nyaman, ia membuka matanya perlahan. Gelap adalah kesan pertama yang Galen dapatkan saat membuka mata.
Ia memutar pandangannya sekitar hingga bertemu dengan
Luna?
Luna masih ada di sini menemaninya.
“Akhh, pusing” lirih Galen
Ia ingin memegang dahinya namun tertahan saat merasakan ada sesuatu yang berat. Galen menoleh ke samping melihat Luna tertidur di telapak tanganya.
Galen termenung, hatinya terasa diremas kencang, ada setitik rasa sesal dan salah di hatinya.
“Jam empat subuh” saat melihat jam diatas dinding.
Galen mengambil kain kompresan yang ada di dahinya. Badanya sudah terasa mendingan, badanya tidak menggigil seperti awal. Dengan perlahan Galen mendudukan badanya.
Matanya terbelalak melihat bajunya sudah di ganti, kenapa bajunya tiba-tiba sudah diganti? ia sontak langsung melihat ke arah celananya.
Tarikan napas lega langsung dari Galen saat melihat celananya masih sama.
“Pasti tidak nyaman” gumam Galen melihat bagaimana posisi tidur Luna yang sangat mengenaskan. Ia tidur di lantai dengan kepala bersandar di sofa menumpu pada telapak pergelangan tangan Luna.
Bagaimana bisa dia masih tetap baik kepada dirinya?
Padahal ia sudah melakukan hal jahat kepada Luna namun wanita itu masih tulus menemani dan mengobatinya. Ia memutar pandangan sekitar, ia melihat rumah sudah lebih rapi, semua botol dan sampah makanan berserakan sudah pergi dan bersih.
Pasti Luna yang membersihkanya.
Kenapa dia bisa sebaik itu?
Ia menunduk melihat wajah Luna, terlihat sangat damai, hidung yang mancung, bulu mata yang lentik dengan alis yang tebal. Dia memang terlihat mirip dengan Lila namun ada yang berbeda
Wajah Luna terlihat lebih lembut, warna mata yang berbeda, hitam kelam, mampu membuatnya tenggelam, dan satu lagi, Luna memiliki banyak tahi lalat.
Di bawah mata, dipipi, di dahi dan tambah satu lagi baru Galen sadari.
Di lehernya depan dan juga di samping.
Terlihat sangat indah.
Kenapa dia jadi seaneh ini?
Galen bangun dari tidurnya, ia meletakkan kepala Luna dengan pelan. Wanita itu jika tidur sama sekali seperti orang mati, tidak mudah diganggu dan sulit bangun. Sama seperti Regan.
Itu sedikit menguntungnya.
“Lebih baik di kamar saja” pikir Galen.
Ia mengangkat bada Luna yang tidur dilantai itu, mengangkatnya ala bridal carry menuju kamarnya. Pasti Luna sudah memasuki kamarnya, ia tahu baju ini ada di lemarinya dan sudah pasti Luna masuk kamar untuk mengambilnya.
Lagian di sini juga hanya satu kamar.
Galen membaringkan badan Luna di kasur. Menyelimutinya dengan selimut miliknya.
Ia terdiam sejenak, jika tidak ada Luna mungkin ia sudah mati sakit di rumah ini.
“Maaf dan terima kasih sudah merawatku” ujar Galen dengan pelan saat melihat Luna tertidur di depannya.
Ia baru tahu cerita tentang kehidupan Luna, pantas saja ia baru tahu bahwa Lila memiliki kembaran.
Ternyata Luna tidak tinggal dengan keluarganya melainkan bersama Kakek dan Neneknya.
Satu yang membuat mereka terlihat sama.
“Sama-sama bukan anak kesayangan”
Sama-sama anak yang tidak terlihat dan buangan. Apa Luna memang berbeda? Namun melihat Luna mengeluarkan air mata dengan sendu membuatnya sesak.
Luna selama ini terlihat tulus kepada dirinya dan begitu juga dengan Regan. Ia tidak pernah melihat Luna berbuat jahat kepada Regan bahkan wanita itu menganggap Regan seperti anaknya sendiri.
Luna juga tidak pernah menuntut sesuatu kepada dirinya, ia tidak pernah terlihat ingin melakukan kejahatan.
“Apa memang kamu berbeda?” gumam Galen menatap lurus ke arah Luna.
Lamunan seketika buyar saat handphonenya kembali berbunyi, ia segera keluar kamar menutup pintu dengan pelan, mengambil handphone miliknya.
Banyak pesan yang masuk.
Mama
Seketarisnya
Klien
Dan kolega yang lain menuntut penjelasan dari dirinya. Sejak kejadian malam itu, ia hanya di rumah ini, mengabaikan semua panggilan dan pesan. Tidak peduli apa yang terjadi.
Ia sedikit tenang dan lega bisa melepaskan itu.
Namun, ia juga merasa berat ada beban lain yang harus ia tanggung setelah ia kembali.
Jujur ia tidak ingin kembali namun ia tidak bisa.
Panggilan kembali masuk, namun kali ini berbeda, ini bukan dari orang yang ingin memaksanya namun orang yang peduli padanya.
“Kai?”
Galen menerima panggilan itu, rasanya Ia masih bersyukur memiliki orang yang masih peduli padanya sebagai orang kepercayaannya.
"....... "
“Saya aman, tolong carikan informasi mengenai Luna. Dia kembaran Lila, apapun informasinya, sekecil apapun informasikan ke saya”
"...... "
“Tidak perlu. Saya sudah ada yang merawat, biarkan saja mereka. Saya belum tentu kembali pulang”
"........ "
“Ada hal lain yang harus saya urus” ujar Galen terakhir