NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pak AL

Istri Kontrak Pak AL

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asni Diyanti

Ketika hidup tak lagi memberi ruang bernapas—diusir dari kos, ditolak pekerjaan, dan janji keluarga di kampung tak kunjung ditepati—Cika memilih langkah paling nekat: menawarkan pernikahan kontrak.

Al, CEO muda dan dingin, tak mencari cinta. Tapi ia butuh istri, cepat dan tanpa drama. Tawaran Cika datang di saat yang tepat—meski ia yang menentukan semua syarat dan batasannya.

Mereka hanya sepakat satu hal: tak melibatkan perasaan.

Namun, siapa yang bisa mengatur hati?
Ketika peran pura-pura perlahan terasa nyata, dan rumah yang dingin mulai hangat oleh tawa, benarkah mereka masih bisa berpura-pura?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Dunia, Satu Hati

Pagi itu, Cika terburu-buru keluar rumah. Ia mengenakan blouse putih dan celana bahan krem, rambutnya dikuncir setengah, dan tas kanvas besar tergantung di bahu. Di dalamnya, penuh dengan buku bacaan anak, worksheet, dan catatan program komunitas. Hari ini, ia dijadwalkan mengisi workshop literasi di salah satu RPTRA di kawasan Jakarta Selatan.

Al masih duduk di meja makan, menyelesaikan kopi pagi sambil membaca laporan. Ia menoleh ketika Cika lewat sambil memakaikan sepatunya.

“Enggak sempat sarapan?”

Cika menengok dan tersenyum cepat. “Terlambat kalau masak. Tapi aku bawa roti isi. Tenang.”

Al berdiri dan meraih jaketnya. “Aku antar sampai depan.”

Sepanjang perjalanan menuju gerbang, Cika bercerita cepat soal kegiatan hari ini. Al hanya mengangguk sambil sesekali menatap wajah istrinya yang bersinar semangat. Sesampainya di depan pagar, Cika mengecup pipi Al singkat.

“Doain ya, semoga lancar.”

“Pasti. Hati-hati, ya.”

---

Beberapa hari belakangan ini, kesibukan Cika meningkat. Program kerja barunya di AksaraKita berkembang cepat. Ia sering turun ke lapangan, mengatur pertemuan dengan relawan, dan kadang pulang malam. Al tidak pernah protes secara langsung, tapi Cika bisa membaca perubahan. Tatapan Al saat ia pulang larut, diamnya saat makan malam, dan cara ia menyibukkan diri dengan kerjaan—semuanya terasa.

Malam-malam mereka tak lagi penuh obrolan. Kadang hanya ada diam dan senyum singkat sebelum tidur. Bukan karena marah, tapi karena waktu tak lagi tersisa.

Suatu malam, saat hujan turun deras, Cika pulang pukul sembilan malam. Ia masuk ke rumah dalam keadaan lelah, dan mendapati Al duduk di ruang tengah, masih mengenakan kemeja kerjanya yang sudah lecek.

“Kamu belum makan?” tanya Cika.

“Baru mau pesan. Tapi akhirnya nunggu kamu.”

Cika merasa bersalah. Ia menaruh tasnya dan langsung masuk ke dapur.

“Kita masak bareng aja ya. Cepet-cepetan bikin mie goreng,” katanya sambil membuka kulkas.

Al hanya mengangguk, tapi suaranya rendah, “Cik... kita bisa bicara sebentar setelah makan?”

---

Setelah makan malam instan yang penuh tawa palsu, mereka duduk di ruang tamu. Cika membawa dua cangkir teh hangat. Al membuka pembicaraan dengan hati-hati.

“Aku senang kamu berkembang. Aku bangga kamu bisa jalani apa yang kamu suka.”

Cika menunduk. Ia tahu kalimat itu bukan sekadar pujian. Ada sesuatu di baliknya.

“Tapi?”

Al menghela napas. “Tapi aku rindu. Kita jarang ngobrol. Jarang makan bareng. Bahkan nonton film pun udah nggak sempat.”

Cika mengatupkan bibir. “Aku juga rindu. Tapi aku juga... takut. Takut kalau aku berhenti, aku kehilangan diriku lagi. Aku nggak mau hidupku cuma muter di rumah dan jadi bayangan kamu.”

“Aku nggak mau kamu berhenti. Tapi aku juga nggak mau kamu kehilangan rumah ini.”

Diam. Hujan masih turun di luar. Suara rintiknya memenuhi sela-sela percakapan.

“Kita atur ulang ritme, ya?” kata Al akhirnya. “Mungkin kita nggak bisa punya semua waktu. Tapi kita bisa punya waktu yang cukup.”

Cika menatapnya. “Kamu marah?”

“Enggak. Tapi aku butuh kamu tahu kalau aku kangen.”

Cika berpindah duduk, memeluk Al dari samping. “Aku juga kangen, Mas.”

---

Hari berikutnya, mereka membuat kesepakatan kecil: satu malam dalam seminggu bebas dari kerjaan—“malam kita”. Satu akhir pekan setiap bulan, mereka akan jalan-jalan ke tempat baru, meski cuma ngopi di warung pojok jalan.

Cika mulai menyusun jadwal kerjanya lebih rapi, menolak beberapa kegiatan relawan jika sudah terlalu padat. Al pun mulai lebih fleksibel dalam urusan kantor, berusaha hadir di rumah saat waktu istirahat. Mereka bahkan membuat playlist bersama untuk malam santai mereka.

Suatu malam Jumat, mereka menonton film lawas sambil berselimut di sofa, makan popcorn buatan sendiri. Cika bersandar di bahu Al.

“Kamu tahu?” kata Cika pelan. “Aku takut kehilangan diriku di pekerjaan. Tapi aku lebih takut kehilangan kamu.”

Al mencium keningnya. “Kamu nggak harus pilih satu, Cik. Kita bisa punya keduanya. Kita cuma harus belajar terus.”

Dua dunia yang mereka jalani memang berbeda. Tapi hati mereka tetap satu. Dan dengan sedikit usaha, dua dunia itu bisa tetap berdampingan—asal keduanya tidak lupa saling menengok dan memeluk di tengah kesibukan.

Karena cinta bukan tentang memilih antara dunia. Tapi tentang menyatukan keduanya... dalam satu rumah bernama kita.

Bersambung....

1
Kevin Wowor
Author, chapter baru kapan? Saya ketagihan nih!
Asni Diyanti: terimakasih! wait tidak lama lagi.
total 1 replies
<|^BeLly^|>
Nggak bisa bayangkan hidup tanpa cerita dan karakter dalam karya ini!
Asni Diyanti: eh gimana maksudnya kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!