Berawal dari seorang penulis Novel yang bernama Emily yang mendapatkan tantangan menulis cerita horor.
Dia mendapatkan ide dari temannya Vanessa yaitu, menulis kisah seorang pengusaha muda yang mati dalam kecelakaan tragis.
Ternyata arwah pengusaha muda yang bernama Harva gentayangan, Emily bisa melihat arwah itu dan berkomunikasi.
Apakah Emily berhasil menulis cerita horor?
Bagaimana Kisah Emily? Mari kita simak ceritanya🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MTCM 25
Percuma Lily teriak, tidak akan ada orang yang mendengarnya. Harva juga tidak tinggal diam, karena orang itu hampir menyentuh Lily. Ia kemudian menyeret kedua orang itu, dan memasukkan ke dalam ruang kosong tadi. Harva mengunci pintu dari luar, kebetulan kuncinya masih menggantung.
"Ayo kita pergi dari sini! sebelum ada orang," ucap Harva sembari menarik tangan Lily yang masih berdiri mematung.
"Lily!" teriak Harva.
"Gue takut mereka ketakutan, soalnya mereka tidak melihat lu," ujar Lily.
"Jangan memikirkan itu! mereka penjahat, Lily," kata Harva.
Harva langsung membawa Lily pergi dari tempat itu, tidak sengaja mereka berpapasan dengan Joy dan Alena. Tetapi Lily tidak menyapa mereka, justru Alena yang menyapa Lily.
"Lu, kok ada disini!" kaget Alena melihat Lily dari atas sampai bawah dengan tatapan sinis.
"Gue tamu undangan," kata Lily.
"Seorang pengusaha sekelas Harva, mengundang lu! penting juga ternyata," ujar Alena.
Joy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia juga mengedipkan mata ke Lily agar pergi. Berbeda dengan reaksi Harva, melihat Alena seperti itu justru membuatnya semakin sadar kalau Alena ternyata memang tidak pantas bersamanya. Seandainya dia yang jalan bareng dengan Alena, justru akan malu dengan orang.
"Sejak kapan Alena merendahkan orang seperti itu, kenapa sikapnya berubah," kata Harva.
"Mana gue tau," kata Lily.
"Yuk kita pergi! ladenin orang gila gak ada habisnya," kata Alena.
Lily hanya bisa mengelus dadanya, sudah dua kali dikatakan gila dalam waktu satu jam. Dia kemudian berjalan menuju dimana mobilnya berada, ternyata Vanessa berada di dalam mobil.
"Kemana aja lu, lama banget," kata Vanessa.
"Gue tadi nyariin lu," ucap Lily tidak masuk akal, padahal dia tadi yang meninggalkan Vanessa lebih dulu.
Vanessa hanya tersenyum lalu mengajak Lily untuk pulang, kali ini dia hendak ikut menginap di rumah Harva. Karena perasaannya saat ini sedang tidak baik, gara-gara Joy dan Alena berduaan.
Lily meminta izin pada Harva lebih dulu, tentu saja Harva mengizinkan. Tetapi tidak mengizinkan mereka berdua tidur didalam kamarnya, kalau Lily sendiri diperbolehkan.
"Van, lu duduk sebelah aja! biar gue yang bawa mobilnya," kata Lily takut terjadi apa-apa.
"Gue aja yang bawa! biar cepat sampai rumah," kata Harva.
"No! lu dibelakang aja, jangan bikin gue gila lagi," ujar Lily bertukar tempat dengan Vanessa lalu melajukan mobilnya menuju ke rumah Harva.
Mereka tidak menunggu selesai pesta, karena keadaan Vanessa tidak memungkinkan. Bisa-bisa Joy langsung dia tonjok, saat melihat Joy dengan Alena.
"Harva, lu gak cemburu kalau Alena jalan sama Joy?" tanya Vanessa.
"Gak lah! kurang kerjaan aja Alena dicemburui," kata Harva.
Vanessa bertanya pada Lily, apa jawaban Harva. Di perjalanan Lily menjadi perantara percakapan antara Vanessa dan Harva, membuat Lily kesal.
"Kalian berdua bikin gue gila aja! ngobrol berdua aja," kata Lily masih fokus menyetir mobil.
"Gue gak denger dia ngomong apa, kalau bisa pasti ngomong sendiri," kata Vanessa.
Lily tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya, lalu turun dari mobil. Ternyata dia melihat penjual martabak dipinggir jalan, dia sengaja ingin membeli martabak untuk dia makan di rumah Harva nanti.
Vanessa menyusul Lily, dia juga ingin membeli tetapi Lily sudah membeli banyak. "Banyak banget! buat siapa aja," ucapannya.
"Buat kita dong! kalau gak habis bisa buat besok pagi," kata Lily padahal kalau mereka makan sambil mengobrol pasti akan habis.
Selesai membeli martabak mereka membeli minuman, kemudian baru pulang ke rumah Harva.
"Nanti malam kita tidur disini saja, Van," ucap Lily saat sudah sampai di rumah Harva dan mereka berada di ruang televisi.
"Terserah lu aja, Ly! gue ikut yang penting diperbolehkan untuk tidur disini," ujar Vanessa.
Lily menyuruh Vanessa untuk mengganti gaunnya dengan baju tidur miliknya, dia sendiri juga mengganti gaunnya.
"Harva!" teriak Lily.
"Gue gak sengaja, Lily! gue gak lihat kok," ucap Harva sembari menutup mata. Saat Lily hendak mengganti pakaiannya tiba-tiba Harva muncul, untung saja Lily belum melepas gaunnya.
Lily menyuruh Harva untuk keluar lebih dulu, tetapi Harva tidak mau karena dia sudah menutup Matanya.
"Harva, keluar! gue ganti baju dulu," ujar Lily sembari berkacak pinggang.
"Iya, bawel," ucap Harva tak lupa sebelum keluar dari kamarnya mencolek hidung Lily lebih dulu.
Lily berteriak lagi, hingga membuat Vanessa mengatakan kalau dia gila. Setiap diganggu oleh Harva, ia selalu berteriak tidak jelas.
Selesai berganti pakaian mereka berdua berkumpul di ruang televisi, sembari memakan martabak yang dibeli oleh Lily tadi.
"Ly, novel yang lu tulis sampai mana?" tanya Vanessa lalu memasukkan potongan martabak ke mulutnya.
"Yang nulis Harva bukan gue, awas saja kalau sampai belum ditulis," kata Lily.
"Gila lu! gimana bisa hantu nulis," ujar Vanessa.
"Kalau tubuh gue belum ketemu, novel itu juga gak ada endingnya," sahut Harva.
"Kalian bisa gak jangan bikin gue pusing? yang satu nanyain novel, yang satu lagi tubuhnya," kata Lily sedikit merasa kesal, belum lagi Joy yang menanyakan novelnya.
Lily kemudian mengambil laptopnya dan menunjukkan novel yang sedang dia kerjakan, agar Vanessa percaya. Tetapi sayangnya tulisan Lily tidak ada, karena Harva sudah menyembunyikan.
"Mana yang lu ketik?" tanya Vanessa.
"Biasa Van, kerjaan siapa lagi," ujar Lily melirik ke arah Harva yang ada disebelahnya.
Lily menunjukkan novel lain yang dikerjakan olehnya pada Vanessa, agar tidak penasaran dengan hasil kerjanya. Mereka juga membahas soal rencananya dalam menemukan tubuh Harva.
"Siang, malam bahas kerjaan terus! istirahat saja kalian," ujar Harva.
Lily lalu mengajak Vanessa untuk istirahat, karena sudah tengah malem. Dia juga takut kalau besok sampai telat masuk kerja.
***
Disisi lain dua insan yang sedang berbahagia masih menikmati pesta ulang tahun, acara pesta itu juga belum selesai. Mereka semua masih berdansa sembari mendengarkan alunan musik yang begitu sangat romantis.
"Joy, gue udah pesan kamar buat lu," kata teman Joy yang bernama Bara.
"Makasih, tapi gue mau pulang aja," ujar Joy.
"Gak papa kok kalau kita menginap di hotel ini," kata Alena yang sebenarnya ingin menginap di hotel berbintang, karena dia belum pernah menginap sama sekali.
"Alena, lu seorang perempuan! masa iya kita tidur satu ranjang, gue ogah kalau tidur di sofa," terang Joy.
Bara juga terus memaksa Joy, karena dia akan memberikan kamar yang berbeda dengan Alena. "Gimana kalian mau kan?" tanyanya.
Joy masih memikirkan lagi, kalau sampai Vanessa tau pasti akan berfikir buruk tentangnya. Dia tidak ingin mengecewakan Vanessa, tetapi dia tadi keasyikan dengan Alena hingga membuatnya lupa waktu.
lanjutin donk ..,....
kangen Ama karya author yang 1 ini