21+
Harap perhatikan usia anda.
Sudah dua tahun Joana mengontrak di sebuah rumah tak berpenghuni. Di rumah itu, hanya ada dirinya dan seorang nenek pemilik rumah. Joana betah tinggal di rumah itu, selain harganya murah, pemiliknya juga sangat baik padanya, sudah menganggapnya seperti cucu sendiri. Sampai suatu hari, dengan mudahnya Nek Merry mengizinkan seorang lelaki muda, tinggal bersama mereka. Lebih parahnya lagi, Nek Merry meninggalkan mereka berdua selama berbulan-bulan karena dia harus pergi ke Singapura mengunjungi anaknya. Bagaimana nasib Joana selanjutnya?
“Jangan lebay, kita nggak tinggal sekamar, hanya seatap. Tenang aja, kamu bukan tipeku sama sekali. Jangan terlalu pede sesuatu akan terjadi di antara kita. Urus aja urusan masing-masing!” Desis Alvandro dengan tatapan sinis ke arah Joana.
“Baik. Tolong kerja samanya. Selama ini hidupku aman tanpa gangguan,” jawab Joana tak kalah ketus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenyaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Alva
Joana keluar dari kamarnya, secara diam-diam persis seperti maling. Bahkan dia tidak menimbulkan suara sama sekali setelah menutup pintu. Pelan, sangat pelan tanpa suara.
Gadis itu berjalan mengendap-endap, tanpa melirik ke kiri dan kanan, apalagi Zea mengatakan bahwa dia sudah dekat itu artinya Joana harus bersiap-siap, jalan menjauh dari rumah sebelum Zea tiba.
“Hai, mau ke mana?”
Hampir saja Joana tersandung kaki meja karena kaget. Suara khas cowok keren itu terdengar saat Joana melintasi ruang keluarga tepat di depan kamar Alva dan lelaki itu ternyata sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
“Mau keluar,” sahut Joana singkat. Dia hanya menoleh sedikit saja.
“Sama siapa dan ke mana?” Rasanya Alva ingin merutuki dirinya sendiri, mengapa mulutnya lemas sekali bertanya-tanya seakan kepo dan ingin tahu segala aktifitas Joana.
“Sama teman, mau makan.” Joana sudah berdiri di sekitar pintu utama, menoleh pada Alva yang ternyata mengikuti langkah. “Mau ke mana, Pak?”
“Saya juga mau keluar. Tadinya mau ngajak kamu. Tapi karena kamu-“
“Sekarang?!” tanya Joana panik.
“Ya… kenapa? kamu berubah pikiran dan mau ikut saya?” Alva tersenyum senang, dia akan merasa bersyukur jika Joana bersedia ikut dengannya.
“Nggak pak, enggak.”
Ponsel Joana berdering, dia membuka resleting tasnya, lalu merogoh di dalam sana. Nama Zea tertera di layar, saking gugupnya dia menjatuhkan ponsel itu tanpa sengaja hingga Alva pun membaca nama yang sedang menelponnya itu.
“Zea?”
“Pak, bisa nggak Bapak keluarnya nanti setelah saya pergi.” Jona memelas.
“Saya mau jalan sampai ke depan sana, Bapak tunggu di sini dulu ya. Please. tolong ya Pak.” Joana terpaksa sedikit banyak bicara pada lelaki menyebalkan ini, demi rencananya. Dan dia tak ingin Zea tahu bahwa selama ini dia tinggal bersama Alva.
“Sebentar, itu Zea? sekretaris saya bukan?” Alva curiga, bukan hanya dari nama tapi dari poto profil wanita itu.
“Iya Pak, ini Zea sekretaris Bapak. Dan saya berteman dengannya sejak lama. Jadi, tolong bapak jangan keluar dulu. Saya nggak mau bikin heboh kalau sampai ada yang tau kita tinggal serumah.” tegas Joana, dengan mata memohon.
“Memangnya ada yang salah? lama kelamaan Zea juga bakalan tau kalau saya tinggal di sini.”
Alva tidak peduli, dia tetap keluar melewati pintu dan sesegera mungkin Joana menarik lengannya secara paksa. “Pak. Please, tolong saya kali ini aja?”
Joana masih memasang tampang melasnya, tangannya belum berpindah masih memegang lengan Alva hingga lelaki itu melihat ke arah tangan Joana sekarang.
“Please ya Pak, tunggu di sini sebentar setelah saya pergi nanti Bapak-“
Joana membulatkan matanya kala Alva menariknya kembali masuk ke dalam rumah dengan pintu tertutup. “Kamu butuh bantuan saya kali ini?” Alva menyeringai iseng, jelas saja lelaki ini merasa menang karena merasa dibutuhkan oleh Joana.
“Iya Pak.” Joana menundukkan pandangannya. Enggan menatap Alva dengan jarak sedekat ini, membuatnya ingat akan malam sialann itu di mana bibir mereka menyatu.
“Kalau gitu kamu juga bantu saya?”
“Bantu apa Pak?” Joana mengerjapkan matanya kala Alva mendekatkan wajah. Jarak mereka yang cukup dekat, membuat Joana bisa merasakan aroma parfum mahal yang digunakan lelaki itu. Sialnya dia menyukai aroma itu dan bikin candu.
Alva menyelipkan tangannya di antara rambut Joana yang tergerai, lalu berhenti di tengkuk wanita itu. Reflek Joana ingin menjauh tapi posisinya kini terhimpit. “Be my friend,” bisik Alva.
Joana mengangguk. Ya jika hanya itu tidak masalah. Atau setidaknya setujui saja dulu permintaannya sekarang. Urusan bagaimana nanti, itu urusan belakangan.
“Jangan abaikan saya, jangan cuekin saya atau rahasia ini akan saya bongkar pada Zea bahkan seisi kantor mengetahui kita tinggal seatap?”
bersamaan dengan ancaman Alva yang terdengar tidak main-main itu. Ponsel Joana kembali berdering dan lebih parahnya lagi suara klakson mobil terdengar di luar.
duh mampuss gue. jangan sampai Zea turun dari mobil.
“Tolong biarkan saya pergi Pak.” bisik Joana.
“Asalkan kamu setuju dengan yang tadi.”
“Iya saya mau jadi teman bapak.” terserah lelaki ini sajalah, Joana hanya tak ingin masalah bertambah.
“Dan satu lagi, Joana…” lirih Alva masih memegang lengan gadis itu.
Joana mendesah kesal. “Apa lagi?” dengan suara yang masih berbisik karena dia tahu Zea sudah menunggunya di luar pagar.
Alva kembali menunduk dan mendekatkan wajah mereka.
Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir Joana, mengakibatkan dirinya menegang seketika. Tak bisa berkutik.
“Jangan pulang terlalu malam ya, saya mengingatkan sebagai teman.” Alva mengusap lembut puncak kepala Joana, dan hal itu berhasil membuat jantungnya berdebar semakin hebat setelah satu kecupan tanpa izin yang didapatnya.
Joana langsung kabur ketika Alva menjauhkan tubuhnya.
Alva tersenyum senang, menyeringai menang dan merasa bangga. Mudah sekali membuat gadis seperti Joana luluh kepadanya.
“Nggak ada yang bisa melawan pesonaku,” gumamnya dengan rasa bangga.
🍑
aur mengalir alus dengan konflik yang pas
semoga bisa happy ending
pelan" nti mama Alva bkl.luluh