⚠️Ngapak Alert⚠️
Novel ini terdapat beberapa part percakapan bahasa derah, terlebih di part-part awal🙏jadi mohon bersabar bacanya ya😊kalau pusing, bagian itu silakan di skip aja👉
💐selamat membaca💐
Ayu Anindita, seorang gadis desa, yatim piatu, yang dibesarkan oleh sang Nenek. Mencoba mandiri demi bertahan hidup hingga rela kehilangan masa kecil dan remajanya. Hingga suatu hari, Ayu memutuskan merantau ke kota demi sang Nenek. Namun sayang, Ayu justru kehilangan saat-saat terakhirnya bersama neneknya.
"Kamu harus bahagia, Yu!" pesan Nenek.
"Selamat jalan, Mbah! Tenang di sana ya. Ayu di sini akan baik-baik saja," batin Yudi.
"Aku janji akan selalu melindungimu. Walaupun, kita sama-sama tahu, tidak ada cinta di antar kita," ucap Elang.
Akankah Ayu bahagia? Siapakah yang akan mewujudkan permintaan Nenek?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner bertiga
Setelah keluar dari butik, Ayu dan Nenek Hera menaiki lift menuju ke lantai atas di mana ada sebuah restoran roof top di sana.
Clara tampak sudah duduk di salah satu sudut restoran itu. Nenek Hera dan Ayu lalu menghampiri Clara.
“Sudah lama, Ra?” sapa Nenek Hera.
“Lumayan, Nek.” Jawab Clara sambil menyalami neneknya.
“Mbak!” sapa Ayu sambil hendak menyalami Clara yang ternyata disambut oleh Clara.
Melihat tingkah Clara, Nenek pun tersenyum.
“Habis belanja nih!” Tanya Clara melihat masing-masing mereka membawa Shopping bag.
“Cuma beli tas,” jawab Nenek dengan entengnya.
“Wong sugih kwe sak karepe ya! kaya kue jare ne 'mung', padahal tas loro regane se umah gedong! (orang kaya itu semaunya ya! sperti itu katanya 'cuma', padahal tas dua harganya se rumah mewah)” batin Ayu.
“Coba lihat, Nek!” kata Clara yang kemudian melihat tas Nenek Hera.
“Bagus! Berapa, Nek?” tanya Clara sambil mencoba memakai tas baru Nenek.
“Cuma satu koma lima,” Jawa Nenek enteng.
Ayu yang mendengar percakapan dua wanita itu pun hanya geleng-geleng kepala.
Clara yang menyadari ekspresi terkejut Ayu pun, beralih menanyainya.
“Kamu juga beli tas, Yu?” tanya Clara.
“I ... Iya, Mbak! hehehe ... dibeliin Nenek,” jawab Ayu dengan senyum kikuknya.
“Coba lihat!” pinta Clara.
“Lucu! Pas buat kamu!” kata Clara.
“Iya sih bagus! Tapi, harganya nggak bagus, Mbak!” kata Ayu.
“Ya namanya juga tas bermerek, Yu” jawab Clara.
“Tapi kan sayang, Mbak. Itu bisa buat bangun masjid gede lho!” Kata Ayu polos.
“Nenek rencana bangun masjid lagi?” tanya Clara ke neneknya yang di balas mata melotot oleh neneknya.
“nNenek punya masjid?” tanya Ayu terkejut.
“mMau lihat?” ajak Clara.
“Sudah! Ke masjidnya nanti kalau sudah waktu Shalat. Ini waktu makan. Nenek sudah laper!” kata Nenek tersenyum sambil menyenggol kaki Clara.
“Mbak!” panggil Clara ke salah satu Pramusaji.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Pramusaji itu.
“Bisa lihat buku menunya?” kata Clara.
“Tunggu sebentar,” Kata Pramusaji itu yang kemudian pergi mengambilkan buku menu.
“Silahkan!” kata Pramusaji itu setelah kembali dengan beberapa buku menu.
“Alhamdulillah....makanannya nggak aneh-aneh lagi,” batin Ayu.
Ayu tersenyum semringah melihat daftar menu yang ada di hadapannya. Nenek Hera yang melihat ekspresi senang Ayu, langsung menanyai Ayu.
“Gimana, Yu? Mau pesan apa?” tanya Nenek tersenyum.
“Ehm ... bingung, Nek!” jawab Ayu yang masih senyam-senyum.
“Menu di sini juga bikin kamu bingung juga?” tanya Nenek.
“Eh ... maaf, Nek! Hehehe ... habisnya enak-enak, Nek,” Jawab Ayu yang membuat nenek tertawa.
“Ya sudah, pesen aja apa yang kamu mau. Yang banyak juga nggak papa,” Kata Nenek.
“Saya pesen beef steak with mushroom sauce, sama salad, dan minumnya ice lemon tea” kata Clara pada Pramusaji itu.
“Pesen satu buat kamu makan di sini, terus yang lain kamu bawa pulang aja,” Kata Clara ke Ayu.
“Gitu juga boleh,” sambung Nenek Hera.
“Boleh, Nek?” tanya Ayu antusias.
Clara dan Nenek Hera tertawa melihat ekspresi kegirangan Ayu.
“Hahaha ... Iya, boleh kok!” kata Nenek Hera.
“Hehehe ... Aku mau sama kaya Mbak Clara yang di makan di sini, trus ini, ayam bakar, iga bakar, cumi, sop ikan ... ,” kata Ayu.
Nenek Hera dan Clara yang mendengar pesanan Ayu, melongo seketika.
“Yu? Emang muat kamu makan sendiri?” tanya Nenek Hera memotong pesanan Ayu.
“Eh! Kebanyakan yah? Hehehehe ... , maaf, Nek,” kata Ayu.
“Hahaha ... kaya orang kesetanan tau nggak pesennya. Secukupnya aja! Nanti kalau kamu mau, kita bisa sering-sering makan di sini kok,” kata Clara.
“hehehe ... iya, Mbak. Ya udah, Saya pesen sama kaya Mbak Clara buat makan di sini. Terus ayam bakar sama iga bakar buat dibawa pulang, boleh?” tanya Ayu kepada Nenek Hera.
“Iya, Nggak papa. Saya samain aja ya pesennya,” kata Nenek Hera.
“Baik, berarti untuk makan di sini tiga beef steak, salad dan ice lemon tea. Untuk take away, roasted chicken dan roasted rib. Ada lagi?” kata Pramusaji itu.
“Cukup!” jawab Clara.
Sepeninggal Pramusaji itu, Clara langsung mengalihkan tatapannya kepada Ayu.
“Yu, katanya, Kamu kerja di salah satu unit apartemen green field, ya?” tanya Clara menyelidik.
“Iya, Mbak. Kenapa ya?” tanya Ayu.
“Elang 'kan juga tinggal di situ. Kamu nggak tau?” tanya Clara lagi.
“Iya tahu, Mbak. Nenek pernah bilang waktu pertama kita ketemu. Iya ‘kan, Nek?” jawab Ayu.
Nenek hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman. Nenek Hera paham sekali kalau Clara begitu penasaran dengan cerita Ayu. Jadi, Nenek tidak mempermasalahkan Clara yang menginterogasi Ayu.
“Kamu nggak ada ketemu atau papasan atau gimana gitu?” tanya Clara lagi.
“Ehm ... kayanya nggak ada deh, Mbak,” jawab Ayu geleng-geleng.
“Memangnya ada apa sih, Mbak?” tanya Ayu balik.
“Ya, nggak papa. Cuma penasaran aja. Kemaren waktu makan malam kan kalian nggak saling kenal, padahal dia tinggal di situ, kamu juga kerja di situ. Aneh aja kalau selama ini nggak pernah ketemu.” Jawab Clara.
“Mungkin Mas Elangnya udah berangkat pas saya ke situ, dan pulang pas saya udah balik ke kontrakan. Bisa aja ‘kan, Mbak?” kata Ayu.
“Betul itu, Ra.” Seloroh Nenek.
“Iya juga sih. Oh iya, majikanmu baik nggak?” tanya Clara lagi pantang menyerah dan semakin antusias.
“Ehm ... Nggak tau, Mbak,” jawab Ayu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Ih ... kamu. Profesional kerja nih ceritanya,” kata Clara pura-pura kecewa.
“Bu ... Bukan gitu, Mbak! Gimana ya? Aku belum pernah ketemu sekalipun sama majikanku ini, Mbak,” jawab Ayu.
“Hah ... kok bisa? Kamu kan harusnya ketemu waktu awal-awal membicarakan perjanjian kerja. Gimana sih? Kalau mau bohong, yang masuk akal dong!” kata Clara pura-pura kesal.
“Ya, jadi gini, Mbak. Waktu dulu memang aku ditelepon langsung sama majikanku ini. Tapi pas ketemuan, yang nemuin aku itu, kalau nggak salah, pegawainya. Dan saat hari pertama kerja pun, yang menemani saya melihat-lihat apartemen juga pegawai bapak-bapak itu,” terang Ayu.
“Sampai sekarang, kamu belum pernah ketemu sama sekali?” tanya Clara.
“Belum pernah,” jawab Ayu geleng-geleng.
"Week end 'kan dia nggak kerja dong? Masa nggak ketemu juga?" cecar Clara.
"Kalau akhir pekan, dia ngga pulang ke apartemen, Mbak. dan aku nggak tahu soal itu," jawab Ayu.
“Iya juga sih! Elang ‘kan tiap malam minggu sampai senin, nginep di rumah Nenek terus. Nenek yang minta gitu ‘kan” batin Clara.
“Tapi tadi, kamu bilang Bapak-bapak ‘kan. Kok tau Bapak-bapak?” tanya Clara.
“Ya, setahuku aja sih, Mbak, hehehe ... ,” jawab Ayu.
“Atas alasan apa? Kan tadi kamu bilang nggak pernah ketemu,” cecar Clara.
“Kan tadi dia Bos, berarti kemungkinan tua. Terus dia juga udah nikah, jadi ‘kan kalau nggak dipanggil Bapak, terus apa?” kata Ayu menjelaskan.
“What! Nikah?” kata Clara terkejut.
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
**Hai readers...jangan lupa tinggalkan jejak kalian di bawah ya😊
aku juga nunggu komen kalian lho😁
yang udah mau mampir, trimakasih🙏**
lanjutin donk ceritanya,😘😘😘
adakah season 2 buat Adiba potrinya Elang dan Ayu.Dan klnjtan hub Yudi dn Bianca😀
Kutunggu deh thor💪
semoga kamu makin kreatif ya Thor.. ditungguin cerita lainya yg pasti sarat dgn pembelajaran hidup..😘😘🌹🌹❤️❤️
1 lg..jangan lupa ngopiiii....☕😁💪
lanjy Thor..💪😍