21+
Harap bijak memilih bacaan yah!
Semua kamu yang mengaturnya Sheva sayang. Nasib lelaki itu apakah hidup atau mati atau cacat semua tergantung dari sikapmu. Cukup mudah, jadilah gadis baik dan turuti semua kemauanku.
- Arion Caramont Nostra
Catat ini dipikiran anda tuan Arion yang agung! Baik lima tahun lalu maupun hari ini perasaan yang tersisa tetap sama yaitu rasa benci yang besar hingga ketulang tulangku!
- Shevanya Bernand
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duajempol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Arion
Sudah dua kali Arion merasa kecolongan dari Sheva, kemarin saat dia mendatangi rumah Sheva dia melihat kemesraan yang dia pikir hanya Sheva lakukan dengan dirinya. Arion tidak bermaksud mendatangi Sheva tiba tiba malam itu, jelas dia menelpon Sheva berulang kali dan berakhir dengan tidak aktifnya ponsel gadis itu. Arion cukup kesal Sheva mengabaikan panggilannya, seolah belum cukup disana, Arion masih harus melihat kemesraan Sheva dengan lelaki dari keluarga Fazio itu. Arion bukanlah pria kekanak kanakan yang gegabah, dengan sekali perintah saja dia bisa menghancurkan bisnis keluarga Fazio hingga pada keturunannya sekalipun. Tetapi ini belum saatnya, jika dia berbuat seperti itu sudah pasti Sheva akan semakin membencinya dan yang kedua itu sudah pasti tidak membuat keuntungan apapun untuk Arion. Hari ini juga Sheva kembali berulah dengan menemui pria yang jelas jelas Arion sudah larang, bukan, ini bukan rasa cemburu yang membabi buta. Ok Arion mengakui dia juga cemburu tetapi itu bukan yang utama, yang paling Arion kuatirkan adalah bahwa bisa saja Mitch bermaksud jahat karena bahkan Leonard orang kepercayaannya tidak menemukan sesuatu yang janggal dari kehidupan Mitch.
Terlalu sempurna juga merupakan cela dimata Arion, tidak mungkin ada manusia yang tidak melakukan cela. Bahkan cela dalam kekuarga Benjamin pun sudah ada di tangan Arion, setiap manusia akan gelap mata jika sudah berhubungan dengan uang itulah prinsip Arion yang dia dapatkan dari menjalani berbagai bisnis.
Kemarin Arion cukup bisa menahan gejolak amarah dan cemburunya untuk memilih langsung pulang ketika melihat Sheva bercumbu dengan pria lain, Arion kuatir bisa saja dia berbuat sedikit brutal jika sudah berada di dekat Sheva dan hari ini dia juga memilih untuk tidak mendatangkan Sheva ke manssionnya seperti hari hari sebelumnya juga alasan yang sama, dia hanya kuatir tidak bisa menahan dirinya. Keinginan dan obsesinya cukup besar terhadap Sheva, dia ingin memiliki seluruh hidup Sheva tanpa ada pengganggu.
"Rasanya gadis ini seperti sedang menguji batas sabarku!" Arion mengeratkan tangannya hingga beberapa berkas yang di pegangnya ikut teremat.
****
Sheva dan Mitch menghabiskan waktu makan siang mereka di sebuah restauran cepat saji sesuai permintaan Sheva, dia sangat ingin memakan hamburger dengan toping keju dan daging yang tebal. "Aku sudah hampir tiga bulan tidak memakan ini, kenapa rasanya menjadi selezat ini!" Sheva mengepalkan tangannya dan senyun mengembang sempurna di wajah manisnya.
Mitch ikut tersenyum melihat Sheva, "kau sungguh gadis yang menarik, menolak makan siang mewah hanya untuk sepotong burger ini." Mitch tertawa pelan, tentu saja dia mengajak Sheva untuk menikmati makan siang disebuah restauran ternama bintag lima, tetapi Sheva menolak mentah mentah dia tau bahwa yang bisa membahagiakan perutnya hanya hal hal sederhana saja.
"Aku memakan dalam porsi yang besar Mitch, aku tidak suka dengan restoran mewah yang menyajikan hanya setengah atau bahkan seperempat dari porsi makanku!" Sheva tertawa riang, "Kau bisa bangkrut nanti mentraktir ku, ini lebih dari cukup!" Sheva mengangkat gelas soda nya dan meminumnya dengan bahagia.
Mitch menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, "Ceritakan padaku Shev, bagaimana kau bisa masuk bekerja di Nostra? Sepupu ku tidak pernah berhasil masuk kesana."
"Ah jadi ini bayarannya?? Kau meminta tips dariku??" Sheva tertawa diikuti Mitch.
"Benar, pikirmu ini gratis nona Sheva?" Mitch menunjuk Sheva berguyon.
Sheva terbahak, "Aku direkomendasikan langsung Mitch oleh universitas, aku tidak melewati tahap seleksi." Gadis itu tersenyum simpul.
"Woow aku sungguh terkejut kali ini, berarti kau sungguh jenius. Aaah aku terlambat andai aku masih bisa merekrutmu Shev, aku membutuhkan asisten pribadi saat ini." Mitch memasang wajah kecewanya.
"Astaga suatu kehormatan Mitch haha!" Sheva kembali tertawa, "Andai aku bisa bekerja denganmu mungkin akan lebih menyenangkan." Sheva memasang wajah kecewanya juga.
"Bukankah menarik bekerja di Nostra?? Apa atasanmu galak?"
"Iya cukup menarik bekerja disana tentu dengan standart gaji diatas rata rata, tetapi.." Sheva menjeda kalimatnya, "Ah terlalu sulit untuk diceritakan." Sheva mengibas tangannya tersenyum.
"Ceritakan aku pendengar setia." Senyum Mitch seolah mendesak, membuat Sheva terdiam sesaat.
"Bukan hal penting, aku hanya... dulu 1 sekolah dengan atasanku dan itu canggung. Itu saja, lupakan membahas ini. Ceritakan tentang dirimu saja Mitch." Sheva tersenyum.
"Baiklah." Mitch membalas tersenyum. Mereka kembali mengobrol panjang siang itu hingga waktu makan siang berlalu.
****
Sheva membawa beberapa dokumen keruangan Arion setelah dia kembali dari makan siang tadi, "Permisi Tuan Arion, ini ada beberapa berkas untuk ditanda tangani." Sheva meletakkan berkas itu di sudut meja Arion. Pria itu tengah menopang dagunya dengan sebelah tangannya yang bertumpu pada pegangan kursinya dan menatap Sheva tajam. Ditatap seperti itu sungguh membuat perasaan Sheva tidak enak bercampur takut, apa aku membuat kesalahan. Sheva membatin dan menatap Arion takut takut. "Saya akan keluar dan.." sheva berancang untuk mundur diri dan menuju pintu keluar.
"Shev.." Suara berat Arion membekukan langkah Sheva.
"Dari mana kamu tadi saat jam makan siang?"
Sheva yakin pertanyaan Arion hanyalah sebuah pertanyaan untuk memancing Sheva berbicara jujur sebab pasti Arion sudah mengetahui kebenarannya. Sheva menelan ludahnya kasar, "Saya.. keluar untuk makan siang."
"Dengan siapa?"
"Temanku, Mitch." Sheva mendengus tak suka diintrogasi oleh Arion.
"Bukankah aku sudah melarang kamu untuk menemui dia Shevanya???!" Kali ini nada suara Arion meninggi hingga Sheva terkejut.
"Apa hak anda melarang saya??! Ingat tuan Arion anda bukan siapa siapa!" Emosi Sheva meluap begitu saja dan dia selalu memakai kata kata formal untuk Arion agar pria itu sadar bahwa hubungan mereka tidak sedekat itu.
Kalimat Sheva benar benar memprovokasi Arion hingga pertahanan kesabarannya bobol sudah, pria itu dengan segera bangkit dari kursi nya dan memaksa Sheva untuk mengikutinya menuju ruang beristirahat Arion yang berada di dalam ruanga kerjanya. Sudah pasti Sheva memberontak sekuat tenaga berupaya untuk melepaskan tangan Arion dari pergelangan tangannya, "Lepaskan aku Arion!!" Seolah tidak peduli pada pemberontakan Sheva, pria itu tetap menyeret Sheva untuk mengikutinya. Begitu mereka tiba diruang istirahat Arion, pria itu menghempas Sheva begitu saja keatas kasur berukuran king size miliknya.
Wanita itu memekik terkejut dan marah, nafasnya terengah karena lelah memberontak pada Arion yang jelas saja dia pasti kalah tenaga dari pria itu. "Apa maumu??!" Tanpa menjawab pertanyaan Sheva, Arion mengungkung tubuh Sheva dibawah nya dan menahan tangan Sheva dengan kedua tangannya. Sheva sekuat tenaga melindungi dirinya, meronta mencoba melepaskan kungkungan Arion, "Apa yang mau kamu lakukan???!!" Tangis Sheva sudah pecah karena takut, sepanjang dia mengenal Arion tidak pernah sekalipun Arion marah sampai seperti ini. Tatapan mata Arion tajam dan dalam, nafasnya juga memburu naik turun membuat Sheva semakin kalut dalam pikirannya. Tanpa aba aba lagi Arion menanamkan bibirnya pada bibir Sheva, menciumnya dengan segenap hasrat yang sudah dipendam. Gadis itu tetap meronta dan menolak perlakuan Arion tetapi seolah tuli, Arion tidak menggubris penolakan Sheva meskipun airmata Sheva mengalir disela ciuman mereka.
Arion semakin mengeratkan pegangan tangan Sheva hanya dengan sebelah tangannya untuk menahan kedua tangan Sheva, satu tangannya lagi berusaha untuk membuka kancing kemeja kerja Sheva dan Sheva semakin memberontak ketika dia merasakan tangan Arion mulai menyusup masuk kedalam kemejanya. Ciuman Arion semakin dalam dan ******* bibir Sheva seolah tidak puas, mengabsen di tiap sisi tidak memberi cela sedikitpun. Kancing kemeja Sheva sudah terbuka sepenuhnya menampilkan dada Sheva yang masih terbalut dengan bra berwarna putih, perlahan tapi pasti bibir Arion turun menyusuri tungkai leher Sheva, tulang selangkanya dan berakhir pada dada Sheva. Arion meresap aroma harum tubuh Sheva, menciumi belahan tubuh sensitif Sheva dan meninggalkan bekas disana. "Ar.. hentikan..." Isak tangis Sheva terdengar lemah bercampur dengan desahan nafasnya.
Mendengar namanya disebut Sheva seperti dahulu Sheva selalu memanggilnya 'Ar' membuat Arion menghentikan perbuatannya. Dia menatap gadis yang selalu bersikap formal padanya sejak pertama mereka bertemu kembali, Sheva masih terisak dan kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang telah di lepas oleh Arion. Sheva masih menangis sesengukan saat Arion mengancingkan kemejanya kembali dan merapikan rambut Sheva, "Kenapa kamu tegar Ar??" Sheva masih saja terisak, saat Arion hendak memeluk Sheva, gasis itu mersingut mundur dan menatap Arion tajam. "Akumembencimu!!" Sheva terengah di isak tangisnnya, "aku sungguh membencimu Arion Caramont Nostra!!"