NovelToon NovelToon
Pacar Sewa Satu Milyar

Pacar Sewa Satu Milyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.

Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.

Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.

Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hapus Air Mata, Nay

Sunyi tidak pecah secara tiba-tiba, melainkan menumpuk perlahan—lapis demi lapisan menjadi beban menyelimuti setiap ruang kamar kecil.

Gadis itu terbaring telentang, tangan terlipat di atas perutnya, ponsel tergeletak terbalik di sisinya. Langit-langit kos retak halus seperti peta yang tak berguna membuat jalur kecil mengarah ke mana-mana tidak beraturan tanpa menemukan jalan keluar.

Setiap tarikan napas pendek terasa sesak menghimpit dadanya —hanya tubuhnya mencoba bertahan menahan, sampai lupa bagaimana rasanya menghela dengan bebas.

Nayla menunggu tidak untuk sebuah balasan manis atau permintaan maaf kecil tapi sebuah keputusan berat yang akan mengubah hidupnya.

Di tempat lain, jauh dari gang sempit dan lampu warung warung kumal menyala, Andi duduk di apartemennya yang sunyi, teratur dan tidak wajar. Jasnya tergeletak di atas sofa, sepatunya masih terpasang—pertanda ia belum benar-benar mau pulang, belum bisa melepaskan kulit yang dikenakannya setiap hari.

Ponsel menyala pesan dari gadis berambut panjang itu masih terbuka di layar: Kalau kakak mau gue tinggal… itu sebuah keputusan berat dengan semua risiko yang harus kakak tanggung. Bukan hanya kontrak, rasa kasihan, tapi kakak siap kehilangan hidup demi Nayla.

Ia menutup mata, selama ini hidup baginya adalah ritme yang harus dijaga dengan erat—dirawat, dilindungi, dibatasi dalam pagar yang aman. Kehilangan adalah bentuk kegagalan, risiko adalah hal yang perlu dikendalikan, bukan diterima sebagai bagian dari hidup. Bahkan mencintai pun ia anggap sebagai investasi emosional,: harus masuk akal, bisa diukur, tidak pernah mengancam kestabilan yang telah lama dirintis.

Kini, satu orang—dengan kamar kos yang sesak, meja lipat goyah, dan kejujuran yang tidak bersembunyi di balik apa pun—memintanya untuk memilih. Bukan antara aman dan bahagia, melainkan hidup dengan kejujuran atau terus bersembunyi di balik kedok nyaman.

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di lantai yang licin, lalu berhenti di depan jendela besar menghadap kota. Lampu-lampu kota Jakarta berkilau seperti bintang buatan pabrik—janji-janji yang pernah ia kejar dengan gigih, hingga akhirnya digenggam semua itu ada disana, masih ada, tapi saat ini, terasa jauh seolah berada di alam lain melintas dimensi.

Ia mencoba untuk mengetik, menghapus, mengetik lagi. Setiap kata tertulis terlalu ringan untuk muatan yang harus dibawa. Akhirnya, ia berhenti berpikir merangkul hidup dengan segala konsekuensinya.

Di dalam kamar kos kecil , ponsel Nayla bergetar lembut. Ia tidak segera meraihnya, ada rasa takut yang tumbuh perlahan di dalam dada membangun dunia tidak sesungguhnya

Pesan laki laki itu hanya satu baris tidak panjang dan penuh kata-kata indah

“Gue datang.”

Nayla duduk tegak, jantungnya berdetak cepat—kesadaran menusuk: apa pun yang terjadi setelah ini adalah titik balik. Tidak ada lagi kesempatan sebagai latihan.

Beberapa menit kemudian, suara mobil terdengar berhenti di luar gang. Langkah kaki terdengar di aspal tidak rata—cepat pada awalnya, lalu melambat, setiap langkah membawa beban baru saja dipahami. Ketukan di pintu pelan tidak ada ragu, tapi juga tidak ada paksaan.

Nayla berdiri menyentuh gagang lalu berhenti sepersekian detik—cukup lama untuk bertanya pada dirinya sendiri: apakah benar ada jalan yang benar di tengah pilihan yang sulit?

Laki laki berkulit putih itu berdiri di sana tanpa jas, tanpa senyum yang biasa ia tunjukkan di kantor, tanpa lapisan apapun yang dapat menyembunyikan diri. Wajahnya terlihat lelah ,—matanya merah, bahunya terkulai, seperti orang baru saja melepaskan beban yang dipikul selama bertahun-tahun.

“Gue bukan datang buat melindungi lu,” katanya dengan suara rendah tapi pasti. “Gue hanya memberikan jawaban yang sudah terlambat.”

Nayla menyingkir sedikit, memberi jalan masuk.

Kamar kecil kini terasa sempit dengan kehadirannya. Bukan karena tubuhnya besar, melainkan keputusan yang dibawa sampai tidak ada lagi tempat untuk keraguan.

Mereka berdiri berhadapan, jarak yang men jangkau dari kedua sisi.

“Lu benar, Nay, selama ini hidup gue hanya untuk aman, bahkan ketika gue mengatakan sebuah ke jujuran orang masih beranggapan gue berpura pura”

Gadis itu menelan ludah, terasa pahit di tenggorokannya.

“Tadi di dalam mobil,” lanjut Andi dengan tangan menggigil, " seharus ini sejak lama gue ungkapkan, gue takut bukan kehilangan karier, bukan uang, bukan nama baik yang telah dibangun..tapi..."

Gadis itu tertunduk wajahnya berkaca kaca.

“Tapi kehilangan jati diri. "

Sunyi menghimpit ruangan, membawa muatan berat

“Kak Andi,” ucapnya lirih, " ini bukan tentang keberanian pada satu saat saja—”

“Gue tahu,” potong Andi lembut. “Makanya gue datang sekarang, bukan besok berpikir dengan pola lama.

Nayla menatapnya lamat, air mata mulai mengumpul di sudut matanya tapi ia tahankan agar tetap tegak, " Tapi kak..."

“Ini adalah kenyataan gue memilih lu,” jawab Andi tegas, " tidak sebagai tokoh peran harus dimainkan, kontrak yang harus ditepati, tapi sebuah keputusan dengan kesadaran—dengan segala risiko dan konsekuensinya.”

Air mata gadis berwajah lembut itu akhirnya jatuh “Kak, gue tidak bisa memberikan janji gue hanya seorang gadis talent terikat kontrak dengan harapan dan kepura-puraan palsu."

" Gue tahu nay, ini semua demi pekerjaan dan profesional..."

" Tapi ...tidak untuk kak Andi..." ujarnya lagi menutup mata dengan kedua tangannya, air matanya mengalir di sela jemar.

" Nay....Andi menyentuh tangannya lembut, "boleh gue genggam jemari lu sedikit saja, gue tidak datang untuk meminta janji indah, Nay. Seandainya gue jatuh, gue tidak jatuh dalam keadaan terlentang dan menyerah, tapi jatuh bersama lu—berdiri berdampingan bahkan ketika dunia berusaha membuat kita tumbang.”

Gadis itu terpejam air mata masih ada di pipinya "

" Inilah jalan hidup kita, Nay..." Andi tersenyum

manis tanpa ciuman atau pelukan yang dramatis." Hapus air matanya ya cantik."

Nayla ikut tersenyum, dadanya terasa lapang di tengah kontrak berat, masa lalu yang belum selesai, serta masa depan yang penuh ketidakpastian—ia tahu satu hal dengan pasti

tidak lagi sendiri membayar harga kejujuran..

Di luar, suara motor kembali melintas, lampu jalan terus berkedip, kota tetap bergerak seperti biasa.

1
Greta Ela🦋🌺
Dah ketebak pasti si Nayla/Facepalm/
Ddie: 🤣🤣 ...ya gitu dk...Nayla
total 1 replies
Greta Ela🦋🌺
Jadi dia ini anak mama yang manja ya/Chuckle/
Ddie: ya begitu lah dk ...kalau dk gak begitu ya..mandiri ...mandi sendiri
total 1 replies
Ddie
lucu absurd tapi mengena di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!