Shafiya Alifa gadis manis dan shalehah yang terlahir di keluarga sederhana. Kerja kerasnya yang tinggi menjadikan ia karyawan di sebuah perusahaan besar. Namun siapa sangka itu awal dari hujan ujian hidup baginya. Pertemuan dengan Fatih menjadi awal mendung baginya. Namun yakinlah tidak semua hujan itu buruk, akan ada pelangi setelahnya. Warna warni perjalanan cinta Shafiya hadir di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shakila kanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
Padi menguning di sepanjang tepi jalan, burung-burung kecil berterbangan dan bercuit menari kesana kemari. Sementara mentari semburat kuning di balik gunung.
Di tepi jalan nampak seorang gadis memarkir sepedanya, hari ini hari minggu dia malas untuk bekerja, dia berkeliling-keliling mencari keringat di pagi hari sambil menikmati udara segar serta pemandangan sawah di hadapannya.
Saat tengah asik berselfi tiba-tiba Hpnya berbunyi, ada panggilan masuk dari Bundanya, dia pun lalu menangkat panggilan itu.
" Assalamuallaikum Bun... "
" Walaikumsalam Sayang... Fiy... " Jawab Bunda dari sebrang.
" Apa kabar Nak, Bunda sama Ayah kangen... " Lanjut Bundanya bertanya.
" Baik Bun... Fiya masih sibuk Bun, belum bisa pulang... " Jawab Shafiya.
" Nak... kamu sudah besar, Ehm... begini kemarin 2 hari yang lalu, ada pemuda datang ke Ayah dan Bunda melamarmu, dia bilang sangat mencintaimu, katanya sudah mengunjungimu di tempat Kakek dan Kakek meminta dia melamarmu segera. Apa benar begitu? lalu apa jawabanmu Sayang... ? " Brondong Sang Bunda.
Shafiya diam, bingung harus menjawab apa terhadap Bundanya. Ada yang berperang di dalam dirinya, antara logika dan sedikit getaran yang dia rasakan akhir-akhir ini.
" Fiy... Nak... Kau masih di situ, apa kau tak mendengar, kenapa diam saja...? " Kata Bunda dari seberang bertanya karena tak ada jawaban.
" Ah iya Bun... masih, Fiya dengar... Maaf Fiya belum bisa jawab sekarang Bun... " Jawab Shafiya.
" Ehm, nanti jika sudah ada jawabanya Fiya kabari Bun... " Lanjut Shafiya.
" Jangan lama-lama ya Sayang, tidak baik memainkan perasaan orang, jika tidak suka , jangan Kau beri harapan, jika memang Kamu juga ada rasa yang sama, jangan pula berlama-lama. Cinta Yang Allah Ridhoi itu, Cinta Yang di ikat dengan tali pernikahan... " Tutur Bundanya.
" Iya Bun... Maafin Shafiya... Nanti segera Shafiya kabari. " Jawab Shafiya.
" Ya sudah Bunda tutup ya, baik-baik di sana ya Nak... Assalamuallaikum... " Tutup Bundanya.
" Ya Bun, Walaikumsalam... " Shafiya menutup Hpnya lalu memasukkannya ke saku.
"Dia tidak main-main dengan ucapanya... Ya Allah... " Batin Shafiya lalu dia menggayuh sepedanya untuk pulang ke rumah Kakek.
***
Baru saja Shafiya memarkir sepedanya di depan rumahnya, tiba-tiba Hpnya berbunyi lagi, ada panggilan masuk dari nomor yang tak di kenal. Shafiya duduk di kursi depan dan menjawab panggilan itu.
" Hallo... "
" Maaf apa benar ini dengan istri Mas Fatih? " Tanya orang di sebrang.
" Bukan... " Shafiya kebingungan.
" Tapi di Hpnya Mas ini ada nomor yang bertulisan Istriku, maaf kalau gitu bisa di hubungkan dengan keluarga Mas Fatih? " Kata sang penelpon.
" Sebenarnya ada apa ya Pak ? " Fiya semakin kebingungan.
" Mobil yang di kendarai beliau mengalami kecelakaan menabrak pembatas jalan, beliau dan supirnya mengalami luka parah dan sudah kami larikan ke Rumah Sakit Pelita Husada. " Kata sang penelpon.
Langit serasa mendung, dan bagaikan mendengar petir, Shafiya gemetar, wajahnya memucat, ada kekawatiran yang mendalam dalam hatinya.
" Saya ke sana Pak, terimakasih. " Kata Shafiya menutup panggilan, lalu berlari masuk mengambil tas dan jaketnya juga kunci motor. Kakek dan Nenek yang melihat kepanikan Shafiya lalu menghampirinya.
"Ada Apa Fiy... kok kamu tampak buru-buru ? " Tanya Nenek.
" Pak Fatih kecelakaan Nek, Fiya mau kesana. " Jawab Shafiya sambil memakai jaketnya.
" Apa... !! kondisinya bagaimana ? " Tanya Kakek ikut kawatir.
" Entahlah Kek.. Fiya pamit... "
" Assalamuallaikum Kek, Nek... " Bersaliman pada keduanya.
" Walaikumsalam... hati-hati... " Ujar Kakek dan Nenek bersamaan.
Shafiya meyalakan motornya di garasi, keluar dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit Pelita Husada.
Tidak butuh waktu lama 20 menit perjalanan Shafiya sampai ke lokasi itu.
Menuju parkiran memarkir motornya, lalu masuk ke dalam Rumah Sakit. Di depan nampak Polisi menunggunya.
" Dengan istri Mas Fatih? " Tanya Polisi itu.
" Ah... Iya... " Tak mau memperumit dan mengulur waktu bila harus menjelaskan setatusnya yang sebenarnya pada Polisi itu.
" Mari saya antar. " Sang polisi nengantar Shafiya ke ruangan Fatih.
Deg Deg Deg
Jantung Shafiya berdetak tak karuan setelah melihat pemuda di depannya benar-benar Fatih mantan Bosnya. Fatih masih menutup mata, kepalanya di perban, tangan kanannya juga di perban, kaki kanannya juga.
" Beliau mengalami patah tulang, pada tangan kanannya dan sedikit retak di kaki kanannya. " Ucap Dokter yang menanganinya.
Shafiya tidak menjawab, matanya berkaca-kaca entah ada perasaan sedih dan tidak terima melihat kondisi Fatih saat ini.
" Beliau akan siuman sebentar lagi, kami permisi. " Kata Dokter lalu ke luar ruangan.
" Sopirnya tidak terlalu parah Bu, yang menyetir Mas Fatih sendiri. " Kata Polisi itu.
Lalu masuklah sang Sopir dengan perban di kepala juga ada goresan di lengan dan bagian tangan lainnya.
" Saya permisi kalau begitu. " Polisi itu pamit keluar. Tinggalah Shafiya, Fatih dan Sang Sopir di ruangan itu.
***
Fatih membuka matanya yang terasa berat, Kepalanya terasa pusing , badannya serasa di remuk, sakit semua, namun begitu melihat gadis di depannya bibirnya langsung tersenyum dan matanya berbinar.
" Kau di sini Fiy... " Ucapnya lalu ingatannya berputar di kepalanya, bagaimana dia yang kelelahan karena perjalanan jauh, dan memaksa menyetir sendiri dengan kecepatan tinggi, tidak sabar ingin menemui gadis di depannya itu. Menurutnya sopirnya terlalu lambat jadi dia memintanya bertukar, siapa yang menyangka akan berakhir di Rumah Sakit ini.
" Kau menangis Fiy ? " Fatih melihat bekas air mata di sudut mata gadis itu, dan matanya pun memerah.
Yang di tanya hanya membisu menggigit bibir bawahnya, entah Shafiya bingung dengan perasaan yang ada di dirinya saat ini.
" Kenapa bisa seperti ini? " Tanya Shafiya, ada getaran dari suaranya.
" Aku tidak apa - apa jangan kawatir. " Fatih tersenyum bahagia, melihat ke kawatiran di mata Shafiya untuk dirinya.
" Maaf Nona Shafiya, Pak Fatih memaksa menyetir menggantikan Saya, beliau tidak sabar ingin bertemu Anda, Saya sudah menolaknya karena beliau sepertinya kelelahan setelah perjalanan jauh, Tapi beliau tetap kekeh dan akhirnya ini terjadi. " Cerita Sang Sopir.
" Maafkan Saya Pak Fatih... " Kata Sopir pada Fatih.
" Tak apa, Aku masih hidup, Alhamdulillah Allah masih sayang padaku... " Kata Fatih.
" Istirahatlah ke kamarmu, Kau juga sakit." Kata Fatih ke Sopirnya.
Sopirpun kembali ke ruang rawatnya, tinggal Shafiya dan Fatih di ruangan itu. Keduanya membisu, larut dalam pikirannya masing-masing.
" Fiy... " Fatih membuka suara.
" Aku mencintaimu... Sungguh... "
" Allah masih memberi nafas ini untukku."
" Allah juga mempertemukan kembali, meski di sini... "
" Apa itu artinya kita beneran berjodoh ?"
" Fiy... "
" Jawab jangan diam saja ."
" Fiy... "
Shafiya membisu, getaran dalam dirinya semakin tidak bisa dia kendalikan, ada pergolakan dalam hati dan pikirannya.
Semua yang di ucapkan Fatih barusan membuat getaran yang ada di hatinya semakin menjadi namun logikanya selalu berusaha menggalahkannya.
" Fiy... "
" Aku mencintaimu, Semoga karena Allah, Maukah kau jadi istriku, jadi ibu dari anak-anakku nanti? " Ucap Fatih bersungguh-sungguh, ada setitik air mata mengalir di sudut matanya.
.
.
.
.
.
Jika dulu aku salah memintamu dengan nafsu, namun kali ini kuminta dirimu dengan segenap cinta di hatiku. Allah yang telah menitipkan rasa ini padaku , bukan tanpa sebab, mungkin memang benar engkau gadis yang Allah tunjuk untuk melengkapi hidupku, mengisi kekosongan jiwaku.
__ Al Fatih Putra __
# **Terimakasih udah setia baca, dukung terus karyaku ya...
💖💖💖💖**
merajok tuee..
restu sudah didapat tidak ada yg merintangi...
tinggal hati yg belum mantap