( proses revisi ) Novel ini menceritakan tentang seorang cewek yang bernama Nindy di taksir seorang cowok dan tak lain adik dari sahabatnya sendiri.
Cowok itu bernama Vano. Meski usia terpaut sangat jauh, mereka tidak peduli. Bahkan ketika keluarga Nindy menentang dengan keberanianya Vano melamar Nindy...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Ahza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Author ucapin terima kasih buat kaka yang udah ngasih dukungan berupa like, rate, vote serta komenya. Jangan bosan ya buat dukung author terus.
Selamat membaca...
**********
Dengan wajah berseri, Nindy keluar dari ruangan pak Badri. Karena ia sangat puas dengan hasil kerja kerasnya hari ini. Saat ia akan memasuki ruanganya, ia sempat berpapasan dengan Vano.
"Mbak Nin..?"
"Ehh, kamu Van..?"
"Kayanya ada yang lagi bahagia nih?"
"Emmm, begitulah.."
"Boleh dong kasih tau bocoranya dikit?"
"Emm kasih tau nggak ya?" ucap Nindy becandain Vano.
"Jangan pelit mbak.."
"Emm, kepo ah..." ucap Nindy yang meninggalkan Vano begitu saja tanpa memberitahu apa yang membuatnya tersenyum, dan membuat Vano bengong karena penasaran.
"Mbak Nin...?" ucap Vano sambil menghembuskan nafas kesalnya.
Mbak Nin, bikin gemes saja.., andai kamu jadi pacar aku mbak, udah akuuu....
Ah, ngomong apa sih aku ini..?
Batin Vano sambil menepuk dahinya sendiri, lalu beranjak dari tempat itu. Sedangkan Nindy yang memasuki ruanganya, tanpa merasa bersalah kepada Ellen, berjalan ke mejanya dan sesekali memutar badanya sambil tersenyum.
"Nindy? Kemana aja sih? Dari tadi aku telfon nggak diangakat? Pesan pun tidak kamu balas? Aaa...kamu jahat!! Aku kan khawatir sama kamu..?" Ucap Ellen yang kini dengan raut wajah yang sewot.
"Maaf Ellenku sayang, Ellen yang cantik, tadi aku ada urusan penting, dan menyangkut perusahaan, dan handphone aku matikan, ini baru saja aku nyalain.."
"Ga like pokoknya...!!"
"Iya.., iyaa..., aku minta maaf, tapi tenang saja, nanti malam kita di undang makan malam oleh pak Badri...."
"Benarkah..?"
"Iya beneran...?"
"Nggak bohong..?" sahut Lily tak mau kalah.
"Iya Ellen, Lily.., karena tadi aku berhasil meyakinkan klien kita untuk berinvestasi, maka sebagai ucapan terima kasih, pak Badri mengundang kita makan malam, semua karyawan di divisi kita..."
"Yeaaaayyyyy...." Sorak Ellen dan Lily barengan. Lalu mereka bertiga berpelukan karena senang.
Mereka bertiga lalu melanjutkan kembali pekerjaanya. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 17.00 WIB. Semua aktifitas kantor usai sudah. Para karyawan ada yang langsung pulang dan ada pula yang mampir ke suatu tempat karena ada urusan.
Nindy, Ellen dan Lily langsung pulang ke rumah, karena nanti malam mereka ada undangan jamuan makan dari pak Badri.
Sedangkan Vano, setelah dari kantor, ia meluncur mengendarai mobilnya menuju Mall yang kemarin ia kunjungi bersama kakaknya. Setibanya di Mall tersebut, ia langsung menuju autlet tempat ia melihat Nindy kemarin setelah memarkirkan mobilnya.
Dan benar, ia melihat sebuah boneka beruang putih kecil dengan membawa setangkai bunga mawar.
Rupanya ini yang membuat kamu tersenyum mbak..
Gumam Vano lirih, dan terselip sebuah senyuman di kedua sudut bibirnya. Tak buang waktu lagi, ia memanggil sang pelayan dan untuk membungkus boneka tersebut.
"Buat pacarnya ya mas..?" tanya pelayan cewek tersebut. Vano hanya tersenyum menanggapi pertanyaan pelayan tersebut.
Tak berapa lama, sang pelayan sudah membungkus boneka tadi dengan rapi, lalu menyerahkanya kepada Vano. Setelah membayar, Vano dengan tersenyum simpul berjalan ke parkiran kembali. Ia tipe-tipe cowok yang tak suka nongkrong sendirian dan lirik sana-sini alias tebar pesona ke semua cewek.
Ia lebih memilih pulang dan berolah raga di apartemenya. Kalau soal cewek, ia tak suka main-main. Ia ingin mencari yang serius, karena akan menemaninya seumur hidup. Sesampainya di apartemen, ia meletakan bungkusan yang berisi boneka tersebut di atas meja di dalam kamarnya.
Tuhan, semoga mbak Nindy mau menerimanya...amin
Vano melepas bajunya sambil senyum-senyum sendiri. Berulang kali ia mengangkat dan memutar-mutar bungkusan tersebut, sebelum akhirnya ia segera mandi karena badanya sudah sangat lengket sekali.
Jam sudah menunjukan pukul 19.00 WIB. Saatnya Nindy, Ellen dan Lily menghadiri undangan jamuan makan malam yang di adakan oleh pak Badri. Ketiganya naik taksi secara terpisah, dan bertemu di depan restoran tersebut.
"Nindy.., sini..!" Panggil Ellen yang melambaikan tangan dan menunggu bersama Lily. Nindy berjalan ke arah mereka setelah turun dari taksi.
"Yaahh, aku telat nih...?"
"Enggak, kita baru aja sampai juga kok.." sahut Ellen. Lalu ketiganya berjalan memasuki restoran tersebut. Dari kejauhan, pak Badri melambaikan tangan yang sudah sampai duluan.
"Udah lama pak? Maaf kami agak telat.."
"Enggak kok, baru juga seperempat jam bapak di sini.."
"Hehe..., iya pak..."
Mereka pun mulai acara makan malam. Dua orang pelayan datang dan membawa hidangan yang sudah di pesan oleh pak Badri. Dari mulai hidangan pembuka sampai hidangan penutup tersedia di atas meja tersebut. Sambil sesekali canda dan tawa menghiasi acara makan malam itu.
Tepat jam 22.00 WIB, acara makan malam selesai sudah.
"Terima kasih pak, sudah di undang makan malam.." ucap Nindy.
"Sama-sama Nindy, bapak sangat berterima kasih sama kamu, karena kamu, klien kita kembali percaya kepada perusahaan kita lagi.."
"Sama-sama pak, saya juga senang..."
"Pokoknya tetap berikan yang terbaik buat perusahaan ya..? Dan jadi karyawan-karyawan yang membanggakan..."
"Baik, paakk.." Jawab ketiganya barengan.
Setelah berkata, pak Badri pamit pulang duluan, karena istrinya sudah menunggu di rumah. Sedangkan Ellen, Nindy dan Lily, pulang ke rumah masing-masing dengan naik taksi.
Taksi yang di tumpangi Nindy melaju dengan cepat, karena jalan malam itu tidak begitu ramai. Tak butuh waktu lama, Nindy sampai di rumahnya.
"Baru pulang Nin...?" tanya ayahnya yang belum tidur dan masih menonton televisi. Laki-laki yang di sebut ayah itu memang sengaja menunggu putrinya pulang, karena ia khawatir.
"Ayah? Iya yah, habis ada jamuan makan malam yah..?"
"Acara kantor..?"
"Benar sekali yah, maaf pulangnya agak malam, membuat ayah khawatir.." Ucap Nindy yang duduk di samping ayahnya. Laki-laki setengah tua itu tersenyum, ada guratan halus di sekitar bibir dan pipinya. Nindy dapat melihat dengan jelas kasih sayang yang tulus dari wajahnya.
"Sebaiknya ayah istirahat, Nindy sudah di rumah sekarang..."
"Baiklah, kamu cepat istirahat, besok masuk kerja kan..?"
"Iya, ayah..." nawab Nindy. Ayahnya menepuk bahunya dengan pelan lalu beranjak pergi ke kamar. Nindy sendiri masuk ke kamarnya dan segera merebahkan tubuhnya setelah melakukan ritual malam, cuci muka, dan gosok gigi. Udara dingin malam itu membuat Nindy memakai sweater yang tebal serta mengenakan kaus kaki. Karena dingin sekali, ia tak menyalakan AC di kamarnya. Ia pun segera terlelap dan nyenyak dalam mimpi yang indah.
Di tempat lain, Vano bermaksud akan menelfon Nindy, namun ia mengurungkan niatnya. Takut mengganggu istirahatnya dan juga karena hari sudah larut malam. Ia pun akhirnya memejamkan mata karena sudah ngantuk juga. Malam yang dingin dengan sejuta bintang dan rembulan yang menghiasi langit malam itu, menambah sempurna keindahan ciptaan Tuhan.
Bersambung dulu yach....
*****
vano itu cinta mati sm nindy jd gak bisa selain hati...
SEQUEL 2 NYA DI UP THOR.......🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
MOHON MAAF JIKA KOMEN2 BNYK YG TDK PANTAS.. KRN SMUA FAKTOR TRBAWA SUASANA CERITA THE BEST DARI OTHOR, YG BUAT READER TERBAWA EMOSI MAUPUN BAHAGIA..
SEKALI LGI JGN LUPA, UP THOR SEQUELNYA..
SIAP2 LO VANO KNK MORNING SICKNESS, ALIAS SINDROM COUVEDE, AKU UDH MRASAKN SAAT ISTRI HAMIL ANAK KMBARKU, SEGALA MAKANN YG AKU TK SUKA & TK AKU MAKAN, LGI NGIDAM KU MAKAN, SEPERTI LELE, BELUT, IKAN GABUS ATAU RUAN, AKU MAKAN, PADAHAL AKU GK MKN 3 MAHLUK AIR TRSEBUT, KLO BUAH, SUKA MAKAN ASAM PAYAK, JAMBU BATU, PKE GARAM DOANK.. KLO BAYANGINNYA KMBANG LIUR KU..
SEKRG LO MAU JDI ULAT BULU..
KYK VANYA DLU LO, VANO CINTA BANGET, TPI DISEKINGKUHI..