Nara seorang gadis biasa dan sederhana terpaksa harus menikah dengan pria yang tidak pernah dia kenal sebelumnya karena sebuah surat wasiat dari kakeknya.
Dia harus rela berpisah dengan kekasihnya dan menjalani kehidupan pernikahannya yang bagaikan neraka.
Follow IG Author : @hanania442 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
“Oh god! Akhirnya aku bisa bertemu dengan my love,” Mira memeluk sahabatnya dengan begitu erat.
“Kau sudah pesan minum untukku?” tanya Nara sambil meletakkan beberapa barang bawaannya.
“Sudah dong! Ice Vanila Latte ‘kan,” Mira melihat barang-barang yang dibawa Nara. “Tumben banget belanja banyak?”
Nara mengedikkan bahunya dan tersenyum masam “Lagi pengen saja.”
“Beberapa hari lalu aku kerumahmu, tapi orang-orang bertubuh besar dan seram berjaga disekitar rumahmu. Aku jadi takut terus putar balik...hehehe.”
Nara meminum ice vanila latte pesanannya dan terdiam beberapa saat menikmati minuman itu. “Ya, begitulah keadaannya.”
“Aku dapat info dari pelayanmu waktu itu, dia bilang kamu dijadikan istri kedua sama Revan,” Mira merendahkan nada bicaranya agar tidak di dengar orang lain.
“Pelayan? Siapa? Bukanya kamu bilang gak jadi kerumahku” tanya Nara penasaran
“Iya sebelum aku pergi ada pelayan yang mengantar minum untuk penjaga di pintu gerbang jadi aku tanya keadaan kamu. Tapi malah dia ngomong panjang lebar. Dia juga bilang istri pertama Revan itu pernah menampar kamu?” Mira kini sudah duduk disamping Nara.
Nara enggan menajawab semua pertanyaan sahabatnya itu. Sebenarnya dia tidak ingin masalah keluarganya di ketahui orang lain. Tapi Mira akan teru mendesaknya untuk mengatakan semunya.
Nara *** ujung dresnya menahan kesal pada pelayan yang mengatakan semua ini pada Mira dan Nara tahu siapa orangnya. Untung saja Mira jika sampai dia mengatakan pada orang lain ini akan jadi bencana.
“Ya.. aku bingung mau mulai dariman,” Nara menggaruk kepalanya yang tidak gatal
“Tenanglah, katakan satu persatu aku akan mendengar semuanya dan jangan khwatir rahasia aman” Mira memberikan isyarat resleting di bibirnya.
Nara menceritakan semuanya dari awal sampai akhir pada Mira. Seperti yang dia katakan Mira hanya diam dan sesekali mengangguk kecil. Namun enggan bertanya sebelum Nara selesai menjelaskan semuanya.
“Aku rasanya ingin mati saja jika jadi kamu. Kehilangan calon bayi mu saja sudah menyesakkan dada ditambah lagi dengan kehadiran wanita itu,” Mira memeluk sahabatnya mencoba untuk menguatkan
“Entahlah, tapi aku tidak bisa berbohong bahwa aku masih mencintai Revan walaupun sudah seperti ini. Bukankah aku terlihat sangat bodoh?” Mata Nara berkaca-kaca menatap sahabatnya
Mira mendengus kesal dan mengganggam jemari Nara “Lebih bodoh lagi jika kamu pergi dan menyerah. Setidaknya beri pelajaran pada Revan dan wanita itu.”
Nara hanya tersenyum seadanya menanggapi komentar sahabatnya. Tidak mungkin dia melakukan itu. Walau bagaiman pun dia harus mempertimbangkan keadaan Mona, wanita itu sedang sakit dan sangat parah. Tapi aku juga tidak ingin pergi meninggalkan Revan.
Mira menggambil minumannya untuk meredakan emosinya saat mendengar cerita Nara “Jadi sekarang kamu lagi berantem sama Revan terus melampiaskan dengan belanja?”
“Enggak!” Nara menggelengkan kepalanya dengan cepat “Aku sudah baikan sama Revan.”
“Shit! Aku tarik kata-kata ku. Kau memang bodoh!”
\*\*\*
Aku menatap langit-langit kamarku. Lamunanku melayang disaat awal pernikahanku begitu penuh misteri dan menguras air mata. Satu hal yang bisa aku pahami. Bahwa apapun yang telah kita rencanakan tidak akan berhasil jika Sang Pencipta tidak menginginkan itu terjadi.
Diluar sana masih banyak orang yang lebih menderita dari pada aku. Aku harus lebih bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini.
Mungkin ada benarnya yang dikatakan Mira bahwa aku bodoh memaafkan Revan begitu saja. Jika mencintai seseorang itu kebodohan maka aku akan bertahan dengan kebodohanku.
Jika aku dan Mona harus berbagi mencintai orang yang sama maka akan aku lakukan.
Satu hal yang harus aku lakukan saat ini. hampir saja aku lupa.
Aku beranjak dari ranjang dan mengambil gagang telpon. Aku akan melakukan panggilan ke bagian dapur.
Setelah beberapa saat diujung telepon ada suara seorang wanita mengngkat panggilan ku dan aku langsung mengatakan maksudku “Katakan pada Bia. Aku menunggunya diatas.”
Cukup lama aku menunggu pelayan itu tidak muncul juga. Apa yang dia lakukan sebenarnya sampai mengabaikan panggilan ku. Aku menuju balkon menikmati udara sore yang tidak begitu panas.
Tok..tok..
Akhirnya dia datang juga. “Darimana saja kamu. Aku menunggu sejak tadi. Setelah kamu tahu aku istri kedua tuan rumah ini maka kamu dengan mudahnya mengabaikanku?” aku sungguh kesal saat melihat wajahnya begitu masih jelas di benakku bagaimana Mira menceritakan semuanya.
“Bu..bukan begitu, Nyonya. Aku sungguh tidak berpikir seperti itu” dia menundukkan kepala tanpa berani memandangku
“Kamu mengatakan masalah pribadi keluarga ini pada orang yang tidak kamu kenal. Bahkan kamu mengatakan semuanya secara terperinci. Sebenarnya apa tujuanmu Bia!!” aku sungguh tidak bisa menahan amarahku
Pelayan itu terkejut saat mendengar nada tinggi suaraku dan dia terduduk di lantai.
“Maafkan saya, Nyonya. Sungguh saya tidak bermaksud apapun. Saya memang mengatakan itu pada seorang wanita tapi dia bilang dia sahabat anda jadi saya tanpa sadar menceritakan semuanya.”
Dia terus memohon untuk memaafkan perbuatannya. Dia benar-benar keterlaluan. Kemarahan ku sangat beralasan begitu banyak kejanggalan pada Bia. Dia tiba-tiba menggantikan pelayan pribadi ku sebelumnya dan aku tertidur begitu lama setelah meminum vitamin yang dia berikan.
“Dan satu hal lagi obat apa yang kamu berikan padaku waktu itu. Setelah minum obat yang kau berikan aku tertidur begitu lama. Kamu ingin meracuniku?”
“Tidak, Nyonya. Aku tidak tahu itu obat apa. Tuan yang memintaku untuk memberikan pada nyonya sebelum tuan pergi bersama nyonya Mona”
Aku melihat bulir air mata mengalir di pipinya dan terus meminta maaf atas kesalahannya.
Aku melihat kelantai bawah melalui balkon disana aku melihat salah satu pengawal sedang berjaga.
“Hey... panggilkan kepala pelayan untuk menghadapku,” pria itu hanya menggangguk lalu pergi.
Beberapa saat kemudia kepala peayan itu masuk dengan tergesa-gesa dan telihat cemas saat melihat Bia sedang terduduk dilantai menangis.
Aku menyandarkan tubuh ku di pintu menuju balkon melipat kedua tangan ku “Bagaimana Bia bisa begitu ceroboh, kau tidak bisa mengajarinya dengan baik?”
“Maaf, nyonya saya akan memberi dia hukuman atas perbuatannya. Sebelumnya dia sudah saya beri pelajaran saat saya memergoki dia sedang berbicara dengan salah satu teman anda. Tetapi sepertinya dia tidak jera juga.”
Kepala pelayan itu terlihat panik dan wajahnya memerah menahan malu. Bagimana tidak selama ini dia tidak pernah gagal mendisiplinkan para bawahannya.
“Bawa dia pergi dan aku tidak ingin dia melayani aku lagi. Beri dia tugas lain!”
Mereka pergi meninggalkan kamarku. Bia mengatkan bahwa Revan yang memberiku obat itu tapi untuk apa? Apakah itu hanya obat tidur biasa.
“Apa ada masalah?” aku tahu siapa pemilik suara itu yang semakin mendekat kearahku dan memeluk pinggangku posesif
“Tidak hanya masalah pekerjaan rumah saja.”
Dia mencium pundakku dengan lembu “Sepertinya mata-mata ku sudah tertangkap” Revan mencium leherku dengan lembut
“Jadi benar kamu yang memberikan obat tidur itu padaku?” aku membalikkan tubuhku dan berhadapan dengannya.
“Bia mengatakan bahwa kamu susah tidur bahkan sampai pagi kamu juga belum bisa tidur. Aku hanya ingin kamu istirahat dan dosisnya sangat rendah, tetapi sepertinya kamu benar-benar mengantuk jadi sampai tertidur begitu lama.”
“Kamu gila. Bagaimana kalau aku mati!” aku mendorong tubuhnya agar menjauh dariku
“Aku mendapatkan obat itu dari dokter dan itu aman. Setidaknya sekarang kita sudah berbaikan.” Revan tersenyum lebar kearahku
Dasar pria berpikir bahwa dengan satu kata maaf semuanya akan hilang. Mereka bahkan tidak tahu wanita akan mengingat semua yang telah terjadi dengan begitu detail dan ingatan itu akan muncul saat hatinya tersakitit.
Ternyata dugaanku salah. Aku sempat berpikir ini perbuatan Mona ternyata bukan.
Sepertinya aku terlau keras pada Bia. Tapi tidak mengapa ini sebagai pelajaran agar dia tidak sembarang bicara.
Aku berbaring kembali di ranjang dan Revan sedang berada di kamar mandi sepertinya dia sedang mandi.
Oh tidak! jangan pikirkan hal seperti itu. Karena kejadian di kolam malam itu aku jadi berpikir yang tidak-tidak.
sejauh ini memang menarik ceritanya....
Mampir jg ke novelku ya : HARD TO SAY GOODBYE, ini bikin baper jg lho... Thx...