*KHUSUS PEMBACA UMUR 17+*
Pertemuan mereka berdua membuat roda takdir berputar.
Hari – hari indahnya bermula saat Dion bersama dengannya, mengawali dan menutup hari dengan mengucap namanya yang sudah terukir didalam hati. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua dari kebahagian itu, hingga suatu saat....
“Lebih baik aku tidak pernah bertemu denganmu.” Gumam Dion
Di malam hari, gelap, tanpa cahaya aku berdiri dan kembali menyesali perbuatanku. Awan besar menutupi rembulan, aku tak dapat berkata – kata lagi tanpa kusadari air mata telah mengalir.
“maafkan aku teman – teman....”
Disini, dikelas ini, diantara jasad seluruh sahabat2ku, aku menangis.
Dengan tatapan kosong dan tubuh bermandikan darah.
“anak iblis”
“Pembunuh”
“Penjahat”
Satu persatu sebutan itu terdengar ditelingaku hingga sampai membuatku lupa akan identitasku sendiri. 1 minggu kemudian Aku terbangun disebuah rumah sakit jiwa tanpa mengingat apapun dan langsung pindah ke kota Lando dan berseklah di SMA Violet
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahroni nurhafid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 - Terror dalam kegelapan
Imelda?!
Apa aku tidak salah
baca, mungkin saja begitu. Ku berjalan meraba dindin mencari tombol lampu
kelas.
*klik
Lampu berhasil
dihidupkan,
Ku coba
membacanya sekali lagi dengan penerangan yang cukup namun tiba – tiba saat aku
melihat kearah surat lampunya tiba – tiba mati.
Apakah lampunya
sudah rusak?
Kuperiksa dan
kutekan kembali tombol lampunya,
*Klik
Hmm?
*klik
.
.
*Klik
Lampunya tetap
tidak menyala,
Mungkin saja
rusak, cahaya dari bulan juga kurang.
Ku lihat sekitar,
Seluruh ruang
kelas yang begitu gelap membuatku berfikir tak mungkin untuk membacanya disini
sesaat aku melangkah keluar menuju lorong tiba – tiba lampu yang ada di ujung
lorong padam.
Saat kuperhatikan,
didalam kegelapan itu terlihat sesosok wanita memakai seragam sekolah kami
namun wajahnya tak terlihat karena rambut panjangnya menghalangi dan juga
begitu gelap.
*tak
Wanita itu
melangkah kearahku,
*tak tak
Lampu yang
didekati wanita itu langsung padam.
*tak tak tak
Sekitar 5 meter
dariku ia berhenti,
Berdiri diperbatasan
cahaya dan kegelapan....
“hey, apa yang
kau lakukan disekolah malam – malam begini?” tanyaku
Namun ia tak
menjawab pertanyaanku dan hanya berdiri tak bergerak....
Ku coba
mendekatinya,
“Hey, apa kau
baik – baik saja?”
Semakin ku
bertanya dan semakin ku mendekatinya aku merasa ada sesuatu yang tidak beres,
Semakin kumendekat
aku mencium aroma yang tak asing namun tak dapat ku kenali,
“Hey?”
*brak
Wanita itu
langsung roboh,
Saat tubuhnya
tersinari cahaya aku menyadari aroma yang sedari tadi kucium,
Itu adalah aroma
“Darah?!”
Sebuah Cutter
menancap di punggungnya,
Darah segar
mengalir dan membanjiri lantai dan tubuhnya,
“Di-Dion...”
Sesaat ia
memanggil namaku, dan juga suaranya aku langsung mengenalinya,
“IMELDA?!”
Dengan panik
kuberlari kearahnya,
“Di, Dion!” ia
mengangkat wajahnya dan menyeret tubuhnya kearahku,
“IMELDA!”
Imelda yang
selalu terlihat tenang dan menawan kini ia terlihat begitu kesakitan sampai
meneteskan air mata dan juga mulutnya yang terus mengeluarkan darah.
Sedikit lagi,
Sedikit lagi aku
akan menggapaimu!
“Di...on......larilah.”
“apa maksudmua?”
Disaat yang sama kumelihat sebuah bayang – bayang hitam
dibelakang Imelda,
dengan mata merah
dan wujud tidak terlalu jelas itu ia mengambil Cutter yang tertancap di
punggung Imelda.
“Ugh!” Imelda
menutup mulutnya menahan sakit dan darah yang keluar semakin banyak
Saat melihat
sosok itu tanpa kusadari kakiku sudah tak dapat digerakkan lagi, aku tak dapat
berkata – kata.
Bayangan itu
dengan sadisnya menusuk punggung Imelda lagi lalu mencabutnya dan mengulanginya
lagi,
Imelda menjerit
kesakitan,
Namun bayangan
itu melakukannya lagi,
Lagi,
Dan lagi,
Sampai membuat
Imelda tak bersuara lagi.
Melihat pemandangan
sadis itu membuat tubuhku bergetar ketakutan,
(bodohnya aku!)
(mengapa aku
tidak bisa menyelamatkan orang yang kucintai!)
(Padahal dia
berada didepanku.)
(BERGERAKLAH!)
(BERBICARALAH!)
(AYOLAH TUBUHKU!)
“WOY, KAU! APA
YANG KAU LAKUKAN PADA IMELDA?!”
Tiba – tiba bayangan
itu menatapku,
Mata merahnya dan
wujudnya yang agak transparan itu tertuju padaku,
(jangan takut!)
*glup
Saat aku bersiap
melawannya tiba –tiba seluruh lampu dilorong padam secara bersamaan.
“hah?!” karena
kaget aku langsung terjatuh
*Stab!
Sebuah Cutter
tiba – tiba menancap disamping kepalaku,
Saat kusadari
bayangan itu sudah berada diatasku.
(apakah aku akan
mati disini?)
Saat kumulai
pasrah aku teringat akan Imelda yang kesakitan tadi,
(TIDAK! AKU HARUS
MEMBALASKAN DENDAM IMELDA!)
Ku tendang
makhluk itu,
*wush
“hah?”
(Tembus?!)
Ia menggapai Cutter
yang tertancap disampingku disaat yang sama ku gunakan kesempatan itu untuk
kabur darinya.
Lari!
Lari!
Ku berlari sejauh
yang kubisa,
Apa – apaan makhluk
itu?!
Dia pasti dalang
dibalik semua kejadian ini.
Mengapa dia
melakukan hal seperti ini?
Tolong!
“Siapa saja tol-“
*sret!
Sebuah Cutter melesat
melewati kepalaku dan menggores pipiku,
Ku lirik
kebelakang ia sudah berada tepat dibelakangku,
“hi.” Bisiknya tepat disamping telingaku
Dengan reflek aku
langsung melompat ke tangga,
Kubergelinding
ditangga sampai menuju dilorong lantai 1,
*aduh,duh!”
Bergegas kubangun
dan berlari selagi ia tak didekatku, ia pasti sedang mengambil cutternya tadi.
*grak
Kubuka pintu
ruang guru lalu menutupnya dengan segera dan bersembunyi didalam lemari
penyimpanan alat kebersihan.
*krek krek
Suara cutter yang
sedang dimainkan,
*krek krek
Suara itu
terdengar semakin keras,
*grak
Suara pintu ruang
guru terbuka,
*krek krek
Suara cutter
semakin mendekat,
Ku intip dari
ventasi udara dilemari
Bayangan itu
berjalan lurus kearah ku,
*krek krek
Gawat!
Apa yang harus
kulakukan!
Dia semakin
mendekat!
*krek krek
Kuberdoa didalam
hatiku,
Semoga dia tidak
menemukanku disini!
Pergilah!
*Krek krek
Bayangan itu
berhenti tepat didepanku.
Keringat bercucuran,
aku bahkan tak bisa bernafas,
Ku tutup mataku
dan kembali berdoa,
*krek krek
Saat ku intip Tiba
– tiba bayangan itu mengganti arahnya dan berjalan ke arah kiri,
Bagus!
Sekarang pergilah!
Setelah suara
cutter itu menghilang aku pun mulai merasa lega dan kembali bernafas dengan terenggah
– enggah.
*bruak!
Sebuah tongkat
sapu melesat dengan kuat menembus lemari kayu tempatku bersembunyi,
Tongkat itu
hampir saja mengenai kepalaku, jika tadi aku bergerak sedikit saja mungkin
kepalaku sudah hancur terkena tongkat itu.
(huh?!)
*bruak!
Sekali lagi
tongkat itu menembus lemari dari belakang dan hampir mengenai tangan kananku,
Karena lemari ini
posisinya ada ditengah ruangan maka akan sulit menebak dari mana dia datang,
*Bruak!
Kali ini dari
depan dan hampir menembus leherku,
(kalau aku terus
disini aku bisa mati!)
(Aku harus keluar
dari sini!)
Kudorong pintu
lemari namun tak bisa digerakkan karena terhalang oleh tongkat – tongkat ini.
(Ba-Ba-Bagaimana
ini! aku terjebak!)
*Bruak!
Kali ini dari
samping kanan bawah dan menggores kedua kakiku,
“Hmm!!!”
Kututup mulutnya
yang hampir berteriak,
Kalau begini
terus aku bisa mati tertusuk!
Berpikir!
Berpikir!
.
.
.
.
Oh iya,
Kutarik tongkat
yang menghalangi pintu,
Satu persatu
namun saat tongkat terakhir berhasil kucabut keluar dari bekas lubang mata kamipun
bertemu,
“hahaha”
terdengar suara tawa kecilnya
Gawat!!
*Bruak!
Tongkat itu langsung
mengarah tepat kekepalaku namun untunglah aku berhasil menangkapnya dan
menahannya.
“UGHH!!! A- APA
YANG KAU INGINKAN DARIKU?”
“hahaha.” Lagi –
lagi tawa kecil yang kudengar
Disaat yang sama
kekuatan bayangan itu semakin kuat mendorong tongkat itu agar bisa menembus
kepalaku.
“ARGHH!!!”
Perlahan demi
perlahan tongkat itu mendekati kepalaku,
Bagaimana ini?!
Kalau begini
terus jelas aku akan mati,
Aku harus
menemukan solusi sebelum tenagaku habis,
Kulirik kesekitar
namun tak ada alat yang bisa dipakai di lemari ini,
Hanya ada sapu,
kain lap, ember saja
Aku tidak bisa
melemparnya dengan alat – alat ini karena pasti hanya akan terbang melewatinya
saja.
Lagi pula aku
tidak bisa membuka pintu lemari ini.
Oh iya! Aku ada
id-
Tiba – tiba
telapak tanganku berkeringat dan tongkat itupun melesat,
Sial!
*Bruak!!
Tongkat itu
menembut lemari,
Darah mengalir
dari dalam lemari,
Tak ada gerakan
ataupun suara dari dalam lemari dan disaat yang sama bayangan itupun menghilang
begitu saja,
ISTRI MUDAKU MAFIA
kalo seru saya supor
kalo enda seru saya like