Terlahir dari isteri kedua seorang pengusaha besar, tersisih, terasing, bahkan terbuang membuat Leo merasa hidupnya begitu memuakkan.
Hingga ia bertemu Aleena dan mulai merasakan arti hidup yang sesungguhnya. Sayangnya, Aleena yang begitu Leo cintai itu tak lama mendampingi Leo.
Dalam frustasi nya, Leo yang terasing sekian lama akhirnya memaksa kembali ke Indonesia dan justeru menemukan begitu banyak rahasia yang terungkap atas Ayahnya Ibunya dan juga kekasihnya.
Rahasia apakah gerangan? Yuk ikuti kisah Leo... 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Terasa Aneh
"Duduklah, temani aku makan."
Kata Leo pada Viera.
Viera sejenak terdiam, sampai kemudian Leo bangkit dari duduknya, menarik kursi di dekatnya lalu mendudukkan Viera di sana.
"Kau bilang dulu punya kakak dan sekarang tak tahu dia ada di mana, mulai sekarang anggap saja aku kakakmu."
Kata Leo.
Viera menatap Leo masih dengan diam.
Tentu saja ia bingung harus menjawab apa.
Leo melirik Viera yang terus memandanginya.
"Kenapa? Kau tak suka mempunyai kakak yang tampan?"
Tanya Leo membuat Viera mendesis.
Ish yang benar saja, bagaimana bisa dia sepercaya diri itu. Batin Viera.
Apalagi Leo juga kemudian menambahkan kalimatnya.
"Aku yakin kakakmu tak akan setampan aku, harusnya kau sekarang merasa bangga."
Viera menggelengkan kepalanya.
Sepertinya ia masih mabuk. Batin Viera. Lalu memilih mengambil piring dan nasi saja.
Mereka kemudian menyantap makan malam mereka dengan lahap, terutama Leo yang sejak pagi belum makan sama sekali.
Viera cukup lega karena akhirnya Tuan mudanya itu bisa makan dan makannya sangat lahap.
Dalam kondisi yang pasti sangat sulit untuk ia hadapi saat ini, pasti ia berusaha mati-matian untuk menekan rasa sedih yang bisa berlarut-larut jika dibiarkan.
Setelah sesi makan malam selesai, Viera membenahi meja makan dan mencuci semua peralatan makan di dapur.
Sedangkan Leo memilih duduk di ruang TV, menonton TV luar negeri yang menayangkan acara tinju.
"Perlu saya buatkan jus?"
Tanya Viera.
Leo menggeleng.
"Temani aku nonton TV saja."
Kata Leo sambil menepuk sofa di sampingnya.
Lagi? Batin Viera heran.
Leo menoleh pada Viera.
"Kau tak dengar permintaan kakakmu?"
Tanya Leo.
Viera menghela nafas.
Bagaimana bisa ia tiba-tiba menjadi kakak untuk Viera lalu minta ditemani makan dan nonton TV.
Ah yah, asal jangan minta ditemani tidur juga, karena jelas kakaknya tak mungkin melakukannya. Batin Viera sambil akhirnya terpaksa duduk di sofa menemani Leo menonton TV luar negeri yang jelas-jelas acaranya memakai bahasa inggris dan tidak ada teksnya.
Ah, ngomong apa juga Viera tidak tahu.
Dia hanya sekolah hingga SMA dan Viera tak begitu jago Bahasa Inggris. Selain yes, no, thank you dan i love you, buat Viera bahasa Inggris terlalu susah ia pahami.
"Kenapa keningmu berkerut?"
Tanya Leo yang melihat kening Viera mengerut saat menatap layar TV.
"Aku ngga ngerti mereka ngomong apa."
Kata Viera jujur.
Leo mengulum senyum.
"Pertandingan tinju yang penting lihat tinjunya, buat apa tahu soal yang mereka katakan."
Ujar Leo.
"Yah kan kita juga ingin tahu mereka komentar apa."
Kata Viera.
Leo tertawa.
Viera menatap Leo.
"Apanya yang lucu?"
Viera jadi heran.
"Kamu lucu, apa bagusnya mendengar orang komentar, bukankah kebanyakan orang yang suka komentar belum tentu bisa melakukan hal yang lebih baik?"
"Hmm... Yah, mungkin."
Sahut Viera.
"Aku tak suka orang banyak bicara. Tapi aku harap mulai hari ini kamu bisa lebih banyak bicara, agar aku ngga merasa kesepian."
Kata Leo dengan tatapan yang kembali ke arah layar TV.
Viera menatap Leo sejenak, lalu menghela nafasnya untuk membuat jantungnya yang berdebar tak karuan bisa sedikit mereda.
"Sudah kubilang, anggap aku kakakmu mulai sekarang, aku janji akan membantumu menemukan dia."
Kata Leo.
Viera yang mendengarnya jelas saja langsung senang bukan main. Tanpa sengaja ia sampai meraih lengan baju Leo.
"Sungguh?"
Tanya Viera.
Leo melirik tangan Viera di lengan bajunya, sebelum kemudian mengangguk.
**-------**
Kevin baru akan membawa mobil yang ia kemudikan memasuki rumah Leo, saat sebuah mobil hitam terlihat juga memasuki rumah yang berada di sebelah rumah Leo.
"Sepertinya rumah itu juga mendapatkan pemilik baru."
Gumam Kevin.
Ia ingat sebulan lalu ia juga sempat mengunjungi rumah itu saat di perintahkan Tuan William mencarikan rumah untuk Leo, tapi kemudian pilihannya jatuh ke rumah yang sekarang karena kata Tuan William, Leo senang kamar yang ukurannya luas seperti rumahnya di Hamburg.
Kevin kemudian memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
Seharian ini ia begitu lelah rasanya. Mengantar Leo ke pemakaman hingga mengurus persiapan pembukaan Cafe milik Leo membuatnya ingin cepat berendam air hangat lalu pergi tidur.
Kevin turun dari mobil dan bergegas masuk akan masuk ke dalam rumah saat ia tak sengaja melihat Leo dan Viera duduk bersama di sofa ruang TV yang bisa dilihat dari luar kaca jendela besar.
Kevin mengerutkan kening. Kenapa tiba-tiba mereka seperti begitu akrab? Kevin jadi heran.
Tapi, ah sudahlah, bukankah itu lebih baik? Setidaknya di masa-masa seperti saat ini, di mana Leo butuh teman, Leo akan merasa tak terlalu sendirian dengan adanya Viera.
Toh Viera adalah adik Roy, sahabat yang telah ia anggap saudaranya sendiri. Apalagi setelah Leo pergi ke luar negeri ternyata Roy diam-diam menjaga Karlita, Ibu Leo sebagaimana Ibunya sendiri hingga menempatkan saudaranya mengurus dan menemani Karlita.
Kevin ikut tersenyum lega. Ia rasa ke depannya Tuan mudanya itu hidupnya akan lebih baik. Semoga saja, Roy juga segera ditemukan. Batin Kevin.
Kevin, si kaki tangan Leo itupun masuk ke rumah lewat pintu samping dan langsung menuju kamarnya.
Biarlah soal cafe akan ia laporkan besok saja saat Leo akan sarapan atau saat ia olahraga.
Viera yang menemani Leo nonton TV mulai merasa mengantuk, tapi ia tak enak jika harus mengatakan pada Leo jika ia ingin tidur saja dan meninggalkan Tuan Muda itu sendirian hingga akan merasa kesepian di hari berdukanya ini.
Viera akhirnya memaksa matanya terus terbuka menonton pertandingan tinju yang belum juga usai.
Hingga entah saat masuk ronde ke berapa, mata Viera tak lagi bisa ditahan, ia tanpa sadar tertidur dan kemudian tubuhnya jatuh ke arah Leo.
Leo yang terkejut tiba-tiba Viera bersandar ke lengannya menoleh, dan didapatinya gadis itu tertidur pulas.
Ya Tuhan, dia mengantuk tapi tak berani bilang. Batin Leo.
Leo kemudian pelahan membenahi posisinya, mengambil bantal sofa, lalu meletakkan kepala Viera pelahan di atas bantal.
Ia berdiri dan meluruskan kaki Viera agar naik ke atas sofa seluruhnya.
Viera tampaknya bukan hanya mengantuk, namun juga kelelahan.
Jelas saja, ia bahkan tadi memindahkan Leo saat mabuk sampai dua kali. Ia juga mengurusi Leo selama mabuk.
Leo sejenak pergi ke kamar yang tak jauh dari ruang TV. Ditariknya selimut dari tempat tidur itu dan membawa satu bantal tidur lalu dibawanya ke ruang TV.
Leo menyelimutkan selimut itu ke tubuh Viera, sementara ia berbaring di atas karpet tepat di dekat sofa di mana Viera tertidur.
"Sama seperti kau menjaga Ibuku, aku juga akan menjaga adikmu dengan baik Roy, jangan khawatir."
Gumam Leo.
**-------**
apalagi untuk kaum papa