Zifara, seorang gadis cantik terpaksa menikah dengan Daniel Anggoro karena sebuah kesalah fahaman.
Dalam pernikahan tak ada cinta sama sekali untuknya, bahkan Daniel menganggapnya sebagai pembantu, hingga membuatnya jenuh dan terpaksa pergi dari rumah dalam keadaan hamil.
Dan di saat itulah cinta Daniel mulai tumbuh, namun terlambat, Zifa terlanjur pergi dan tak di ketahui keberadaannya.
Perceraian pun di ajukan Zifara setelah melahirkan, dan tak memberi kesempatan untuk Daniel,
Hingga akhirnya Zifara bertemu dengan Dimas Kurniawan, kekasih lamanya.
Meskipun sudah menjadi Janda, Dimas tetap kekeh menikahinya, namun itu bukan awal kebahagiaannya, karena sehari setelah menikah Dimas meninggal karena kecelakaan,
Sedangkan Zifara mengalami kebutaan,bagaimana nasib Zifara selanjutnya dan pada siapa cintanya itu kembali berlabuh,
Begitu pun nasib adiknya Devina yang tak kalah sengsara darinya, apakah keduanya bisa mendapatkan kebahagiaan, mampukah keduanya menjalani rumitnya kehidupan? ''
kita kepoin saja ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penggemar rahasia
Demi bumi dan seisinya, Zifara merasa sangat malu, andaikan bisa, ia ingin lenyap dari penglihatan semua sahabatnya di butik, hanya sebuah surat yang ia pun tak mengerti asal nya.
''Kuno banget sih Zi, kan bisa chat kita kita, iya nggak, ucap Lia menyungutkan kepalanya ke arah sahabatnya yang lain.
Meski berulang kali Zifara bilang tidak mengirim surat, faktanya surat itu kini ada di genggamannya, dalam isinya benar benar menjelaskan kalau dirinya tidak bisa masuk kerja karena lelah.
''Suwer... ini bukan aku yang nulis, malahan aku pikir hari ini aku kena semprot bu Cantika karena kemarin nggak izin, sambil mengangkat dua Jari telunjuk dan jari tengahnya.
''Terus siapa yang buat ini?'', Lia menarik kembali surat yang ada di tangan Zifara dan menggantungnya.
Zifara hanya bisa mengangkat kedua bahunya.
''Memang siapa yang ngasih?'', tanya Zifara mencoba mencari tau.
''Anak kecil, katanya dari orang di dalam mobil, pas aku lihat mobil yang di tunjuk sudah jalan.
Zifara mengingat lagi bahwa yang tau dia tidak masuk karena lelah hanya pak Bejo dan Daniel, namun kembali lagi yang tau tempat kerjanya hanya Daniel.
Ctk..... menjentikkan jarinya, ''Aku tau siapa yang buat surat ini, melipat kembali satu lembar kertas dan memasukkan ke dalam tasnya.
''Siapa?'', tanya yang lain bersamaan semakin kepo.
''Rahasia, nanti deh aku bilang ke kalian.
Tapi apa iya pak Daniel yang memberikan surat ini ke sini, untuk apa, dia kan nggak peduli padaku, kenapa dia harus rela mengantar surat izin ke sini.
Meskipun sudah ber kesimpulan siapa yang membuat surat itu, namun dalam hatinya masih ragu, takut dugaannya itu salah.
Jam makan siang selesai, Namun Daniel dan Norman serta Kevin yang mengintil masih saja tak bergeming dari restoran.
''Jangan bilang ini untuk balas budi ke mama ya kak, menatap sekantong kresek makanan yang serba mahal.
''Idih, tante Livia kan bisa masak sendiri, ngapain juga aku kirim makanan ke dia. jawabnya enteng.
''Pak antar ke alamat ini, menyodorkan sebuah kertas ber ukuran kecil.
Norman dan Kevin hanya saling bersungut melihat Daniel yang terlihat serius bicara dengan pelayan restoran.
''Kalian mau nginep disini, celetuknya saat melihat Kevin dan Norman tak berdiri dari duduknya.
''Makanan tadi buat siapa sih kak, untuk kak Monica?'',. tanya Kevin lagi saat di mobil menuju kantor.
''Kepo ,jawabnya singkat malas untuk meladeni Kevin.
Akhirya Kevin pun memilih diam setelah beberapa kali bertanya tak mendapat jawaban.
Di butik....''Zi makanan untuk kamu, teriak Lia di depan pintu.
Zifara berlari kecil menghampiri Lia yang berbicara dengan driver.
''Buat aku, seperti tak percaya bekerja dua tahun di butik baru kali ini ada yang mengirim makanan, setelah di tanya pun pengirimnya tak jelas, itu yang membuat Zifara enggan untuk menerimanya, memikirkan hal yang negatif, bagaimana kalau dalam makanan itu ada racunnya,.
''Mbak nggak perlu khawatir, yang memberikan ini orangnya baik kok dan tidak beracun, beliau langganan kami dan orang terpandang, jika nanti terjadi sesuatu dengan mbak, kami akan bertanggung jawab, sang driver pun sepertinya tau apa yang di fikirkan Zifara saat terdiam.
''Terima kasih ya pak, meraih kantong kresek yang dari tadi menggantung.
''Kamu kenapa sih Zi?'', tanya Lia menatap manik mata Zifara yang masih terlihat takut.
''Aku tu makin nggak ngerti deh Li, kemarin surat sekarang makanan, tapi aku nggak tau dari siapa, Zifara semakin bingung.
''Mungkin dari penggemar rahasia kamu kali, udah kita makan saja, kelihatannya banyak, mencomot kresek dan membukanya.
''Wah... ini mah makanan mahal Zi, sayang kalau nggak di makan.
Sekotak pizza ber ukuran besar dan beberapa burger yang sudah siap di makan, namun mereka tak langsung menyantapnya melainkan memandangnya saja seperti hiasan.
''Tunggu deh, ini bukan pizza biasa lo... ucapan itu berhenti karena Zifara pun ikut menyeretnya.
''Ah.. makan saja lah, mau ini biasa atau luar biasa ujung ujungnya juga masuk ke perut, lalu mengambil sepotong dan melahapnya.
Apa ini juga dari pak Daniel, kalau bukan dia siapa lagi, batinnya menerka.
Melihat satu persatu sahabatnya yang menikmati makanan itu Zifara ikut tersenyum.
Senja itu, Zifara yang sudah tidak sabar dengan apa yang di terimanya itu pun hanya bisa menatap halaman dari jauh, berharap mobil Daniel segera masuk, pucuk di cinta ulam pun tiba, baru saja Zifara berdiri, mobil mewah Daniel memasuki halaman, itu membuatnya mengurungkan langkahnya untuk masuk dan kini berjalan menuju rumah besar, dan beruntungnya ia, karena Kevin dan Norman pun langsung pulang.
Sedangkan Daniel seperti malu dan mengusap tengkuk lehernya saat Zifara sudah mematung di depan pintu.
''Mau apa kamu?'', tanya nya dengan wajah datar.
Tidak mengucapkan sepatah kata pun Zifara mengeluarkan surat yang membuatnya malu tadi siang.
''Apa itu?'' pura pura tidak tau, dan mengalihkan pandangannya.
''Bukannya bapak yang membuat ini, celetuknya ,mengangkat surat itu tepat di depan wajah Daniel.
Makin malu saja pria itu, tapi Daniel mencoba menyembunyikan rasa malunya dan masih pura pura tidak tau.
Alasan apa ya.
''Bawain tasku ke dalam, titahnya mengulurkan tangannya yang menenteng tas kantornya. Zifara menarik tas namun menghalangi langkah Daniel yang hendak melangkah masuk.
''Bapak mau jadi penggemar rahasia saya, ucapnya lagi dengan lantang.
Daniel yang makin terpojok hanya diam, namun otaknya traveling mencari cara untuk lepas dari penekanan Zifara.
Benar saja, sekarang pria selalu saja menang, Daniel mendorong Zifara hingga ke tembok , di himpitnya tubuh mungilnya hingga terkunci.
Di ciumnya bibir mungil nan cerewet Zifara dengan lembut hingga Zifara pun tak melawan dan malah terbuai dalam suasana.
Aaaa.... Apa ini, aku kan ke sini mau marah, kenapa malah jadi begini, makin berani saja dia sekarang.
Tubuhnya yang merespon ciuman Daniel hanya diam dengan mata terpejam.
Daniel tersenyum setelah melepaskan ciumannya.
''Ternyata kamu minta cium, bilang dong dari tadi, kenapa harus basa basi sih, ucapnya lalu kembali melangkahkan kaki masuk ke dalam.
''Bapak Jangan pura pura nggak tau, teriaknya lagi membuat Daniel menghentikan langkahnya.
''Kemarin bapak kirim surat ke butik kan, dan tadi siang bapak juga kirim makanan untuk saya kan, jawab yang jujur, masih dengan meninggikan suaranya.
Maaf ya Zi, jika menjadi penggemar rahasia adalah jalan satu satunya untuk menunjukkan kepedulianku padamu kenapa tidak, aku akan Terus melakukannya sampai kita benar benar berpisah, batinnya.
Daniel memutar badannya dan kembali berjalan menghampiri Zifara.
Mengusap pucuk kepalanya dengan lembut dan menampilkan senyum kecilnya.
''Tidak perlu di bahas, ini bukan masalah besar, lagi pula untuk apa aku repot repot ngurus hal yang tidak penting seperti itu, ucapnya lalu meninggalkan Zifara.