NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Taruhan di Atas Meja Steril

Desis tajam dari mesin ventilator mendadak tenggelam oleh bunyi alarm peringatan yang melengking panjang tanpa jeda. Di dalam ruang isolasi ICU, kepanikan yang terukur dari para tenaga medis profesional mulai terlihat. Profesor Gunawan bergerak dengan kecepatan yang luar biasa untuk ukuran pria paruh baya, sementara tangannya dengan cekatan memasang sarung tangan bedah yang baru.

"Cairan di kantung perikardiumnya terlalu banyak! Jantungnya terjepit, tidak bisa memompa darah keluar!" teriak Profesor Gunawan kepada asisten dokternya.

"Tekanan darahnya 42/30. Kita tidak punya waktu untuk memindahkannya ke ruang operasi. Siapkan peralatan perikardiokesis sekarang juga di sini!"

"Dok, apakah kita akan memberikan anestesi total?" tanya seorang perawat dengan tangan gemetar memegang botol obat bius.

"Tidak bisa!" seru Profesor Gunawan tegas. "Kondisi jantung dan parunya terlalu lemah. Jika kita memasukkan obat bius total sekarang, jantungnya akan langsung berhenti berdetak secara permanen. Kita hanya bisa memberikan anestesi lokal di permukaan kulit dadanya. Dia harus tetap setengah sadar agar kita bisa memantau respons sistem saraf pusatnya."

"Tapi Dok, itu akan sangat menyakitkan bagi pasien..."

"Lebih baik dia kesakitan daripada dia mati di tangan kita! Lakukan sekarang!"

Di luar dinding kaca, Arvin mencoba mendobrak pintu steril saat melihat Profesor Gunawan mengeluarkan sebuah jarum panjang—hampir lima belas sentimeter—yang terhubung dengan selang kateter penampung cairan.

"Jangan siksa adik gue lagi! Dok! Stop!" teriak Arvin, suaranya serak hingga tenggorokannya mengeluarkan rasa hangat guratan darah.

Eros dan Juna harus mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk memiting tubuh Arvin yang mengamuk, menjatuhkannya ke lantai koridor agar tidak mengacaukan tindakan medis di dalam.

Bramantyo Tenggara hanya berdiri mematung. Matanya yang biasa menatap angka-angka saham triliunan kini terkunci pada jarum panjang yang mulai diarahkan ke dada putri bungsunya.

Di dalam ruangan, perawat mengoleskan cairan antiseptik kuning di bawah tulang dada Aurora. Meskipun dalam kondisi koma medis yang dangkal, tubuh Aurora tampak tersentak kecil saat kesadarannya dipaksa naik oleh rasa tidak nyaman yang hebat.

"Aurora, anak manis... dengar suara kakek, kan? Tahan sebentar ya, Sayang," bisik Profesor Gunawan dengan suara yang mendadak melembut, mencoba menenangkan jiwa gadis kecil yang sedang berada di ambang maut itu.

Jleb.

Jarum panjang itu ditusukkan secara perlahan namun pasti, menembus lapisan kulit, otot dada, dan masuk ke dalam kantung pembungkus jantung Aurora. Tanpa bius total, tubuh Aurora seketika melengkung ke atas. Sebuah jeritan tertahan yang sangat menyakitkan keluar dari tenggorokannya, tertahan oleh tabung endotrakeal yang menyumbat mulutnya. Matanya terbuka lebar, menumpahkan air mata yang langsung mengalir ke pelipisnya.

Garis di monitor otak menunjukkan lonjakan drastis—sinyal rasa sakit yang luar biasa sedang membakar seluruh saraf tubuhnya.

Cairan berwarna merah tua bercampur plasma pekat mulai mengalir keluar melalui selang kateter, memenuhi botol penampung di bawah ranjang. Perlahan, seiring berkurangnya cairan yang menjepit otot jantungnya, angka tekanan darah di monitor mulai merangkak naik.

50... 65... 80...

Tubuh Aurora kembali melemas, jatuh pasrah di atas kasur dengan napas yang tersengal-sengal di balik mesin ventilator. Kelopak matanya perlahan menutup kembali, menenggelamkannya ke dalam kegelapan yang lebih dalam, meninggalkan sisa rasa sakit yang teramat sangat pada tubuh ringkihnya.

Profesor Gunawan menghela napas lega, menyeka keringat di dahinya dengan lengan bajunya.

"Tindakan berhasil. Cairan sebanyak 300 cc berhasil dikeluarkan. Tapi ini hanya solusi sementara. Jantungnya sudah terlalu rapuh."

Satu jam setelah badai medis itu mereda, atmosfer di koridor rumah sakit berubah menjadi dingin dan penuh perhitungan. Eros berdiri dari kursi besi, merapikan kemejanya yang sudah kusut. Tatapan matanya kini sedingin es, mencerminkan sosok pangeran mahkota Tenggara yang sesungguhnya.

Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor pengacara utama Tenggara Group.

"Hubungi Kepala Kepolisian Daerah sekarang juga," perintah Eros tanpa basa-basi, suaranya terdengar sangat rendah namun berwibawa. "Pastikan surat penangkapan untuk Kaila Ranisatya ditandatangani malam ini. Saya tidak mau menunggu sampai besok pagi."

Bramantyo menoleh ke arah putra sulungnya. "Eros, ayah Kaila adalah salah satu pemegang saham di anak perusahaan kita. Kasus ini bisa berdampak pada—"

"Aku tidak peduli dengan saham, Papa!" potong Eros tajam, menatap ayahnya dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Jika Papa memikirkan kerugian bisnis karena anak pejabat itu telah menginjak-injak adikku sampai sekarat, maka biarkan aku yang mundur dari perusahaan dan menghancurkan keluarga mereka dengan caraku sendiri."

Bramantyo terdiam. Ia melihat bayangan dirinya sendiri yang keras kepala di dalam diri Eros, namun kali ini, kekerasan itu digunakan untuk melindungi sesuatu yang selama ini ia telantarkan. Bramantyo akhirnya mengangguk pelan, memalingkan wajahnya kembali ke arah kaca ICU. "Lakukan apa yang menurutmu benar, Eros."

Di sudut lain, Juna menutup laptopnya dengan suara klik yang tegas. "Semua bukti digital sudah terkunci di server kepolisian pusat. Media-media nasional sudah mulai menaikkan berita tentang perundungan ini tanpa menyebutkan nama asli Aurora demi privasi medis, tapi nama Kaila sudah hancur total di internet. Ayahnya dipastikan akan dipecat dari partainya besok pagi."

Arvin yang masih terduduk di lantai dengan tangan diperban menatap kedua kakaknya. "Gue mau ikut saat polisi tangkap cewek itu. Gue mau liat wajahnya saat dia sadar kalau uang dan jabatan bapaknya nggak bisa menyelamatkan dia dari Tenggara."

"Tidak, Arvin. Kamu tetap di sini," ucap Eros sambil memegang bahu adiknya. "Jaga Aurora. Jangan biarkan dia sendirian saat dia membuka matanya nanti. Kita sudah terlalu sering meninggalkan dia di masa lalu. Jangan lagi."

Malam semakin larut di kota A menyisakan keheningan yang panjang di dalam ruang steril itu. Aurora Tenggara masih terlelap, detak jantungnya kini sepenuhnya digerakkan oleh algoritma mesin penopang hidup.

Kakak-kakaknya telah berubah menjadi pelindung yang kejam bagi dunia luar, namun di dalam hati mereka, ketakutan terbesar tetaplah sama: ketakutan bahwa saat Aurora benar-benar bangun nanti, ingatan yang tersisa di kepalanya hanyalah rasa sakit yang mereka tanamkan selama enam belas tahun ini.

1
Emily
bapaknya biang keroknya udah tua Bangka kelakuan macam iblis
Emily
salah lu sendiri nyet
Emily
pesong
Emily
keluarga goblok gak waras pikirannya sinting penampilan aja mentereng
Emily
wah keluarga odgj kah
Emily
apa itu keluarga psikopat dgn anak dan saudara kandung berperilaku kejam
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
merry
aihh sedih yaa /Sob//Sob//Sob//Sob/kluarga kaya raya tp Rora hrs gmbr di akun rahasia y supaya dpt uang,, emng kluarga latnah ra kluarga mu
merry
harusnya ada 1 palwan setelah in bw Rora pergi dr mrkk krn percm dekt dgn abng y nyata y abng y monster bagi Rora ap Bpk y
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!