Ini kisah lanjutan #LuckyDaisy yang bercerita keluarga Buwono setelah kelahiran Kenzie. Bagaimana dokter Lucky dan istrinya dokter Daisy menikmati kehidupan rumah tangganya bersama dengan pebinor nya, Winston. Belum kasus dengan divisi kasus dingin termasuk dokter Lucky masih saja takut dengan tim arwahngers. Kemungkinan sampai kehamilan Elina dan kelahirannya yang penuh warna.
Generasi ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sok Romantis
"Kamu sudah pesan kan Sus Lia?" tanya dokter Lucky sambil keluar dari lift menuju ruang kerjanya.
"Makan siang dan Yakult kekinian? Sudah Dok." Suster Lia melihat pegawai kantin datang membawakan pesanan mereka. "Tuh, si Asep sudah datang."
"Sus Lia, pesanannya," ucap Asep sambil mengangkat dua bungkusan makan siang dan minuman kekinian.
"Ah, nuhun kang Asep. Ini u ...."
"Nih, Sep." Dokter Lucky memberikan tiga lembar uang bewarna biru. "Yang satu buat kamu."
"Nuhun Dok!" ucap Asep senang. "Mari Dok, Sus Lia."
"Mangga." Dokter Lucky dan Suster Lia masuk ke dalam ruang kerja dokter bedah. Keduanya terkejut saat melihat Daisy disana dengan wajah marah. Mereka melihat amplop pink yang dipegang Daisy.
"Mas ... Ini apa?" desis Daisy dengan mengacungkan amplop itu.
"Itu ...." Dokter Lucky menoleh ke Suster Lia.
"Aku bisa jelasin Dok Daisy," ucap Suster Lia.
"Jelaskan!" hardik Daisy membuat Suster Lia menelan salivanya susah payah.
"Jadi begini ... Dok Lucky juga baru dapat tadi. Kalau Dok Daisy tidak percaya, kan ada CCTV di sana," jawab Suster Lia.
Daisy menatap tajam ke arah dokter Lucky. Suaminya hanya menatap memelas.
"Begini ceritanya ...." Suster Lia menceritakan kronologisnya dan Daisy menatap bergantian antara Suster Lia dan dokter Lucky.
Dalam hati Daisy, dia tahu suaminya tidak akan macam-macam karena tim bedah tidak menormalisasi perselingkuhan. Dia mendengarkan tanpa menyela sementara Suster Lia dan dokter Lucky saling bercerita.
"Rencananya aku akan memberitahukan soal ini padamu nanti, Jeng. Tapi kan aku baru pulang nanti sore. Eh ternyata istriku malah tahu duluan. Aku tidak tahu Jeng. Susana menitipkan ke suster dan dia kasih ke Suster Lia." Dokter Lucky menatap serius ke Daisy. "Aku tidak ada niatan macam-macam. Justru aku mau memperlihatkan ini ke kamu."
Daisy menatap keduanya. "Akan aku cek CCTV!"
"Dicek saja tidak masalah!" jawab dokter Lucky.
Daisy mengambil ponselnya dan membuka aplikasi CCTV kancing yang dia tempel di ruang kerja suaminya.
"Kamu ... pasang CCTV kancing? Kapan?" tanya dokter Lucky kaget.
"Sejak hamil Kenzie. Biasa, hormon hamil. Tapi malah lupa melepaskannya." Daisy melihat ponselnya dan dia bisa melihat jika dokter Lucky memang baru tahu soal surat itu dari Suster Lia tadi pagi.
"Aku bicara yang sejujurnya kan?" tanya dokter Lucky.
Daisy mengangguk. "Aku akan menemui Sundel bolong!" ucapnya sambil hendak keluar tapi ditahan dokter Lucky.
"Sayang, kamu kan sudah labrak sana. Masih mau labrak lagi?" tanya dokter Lucky.
"Dia bebal!" jawab Daisy.
"Mana ada pelakor tidak bebal, Jeng. Sudah, begini saja. Aku dikawal perawat cowok deh!" usul dokter Lucky.
"Tidak menyelesaikan masalah itu!" balas Daisy judes.
"Salah satunya adalah, Susana dipindahkan dari Bhayangkara ke rumah sakit lain atauuu ... Dok Lucky yang pindah. Sementara," usul Suster Lia.
"Tidak usah. Aku tidak pergi. Akan aku hadapi dunia." Dokter Lucky tiba-tiba terdiam. "Itu judul lagu atau judul film?"
Daisy dan Suster Lia menatap sebal ke pria berkacamata itu.
"Bisa kasih tahu nggak Jeng?" tanya Dokter Lucky dengan wajah bingung.
"Nyebelin!" Daisy auto jewer telinga suaminya.
***
"Untung kamu pesan makannya doubel, Mas. Jadi kita bisa makan berdua sok romantis," senyum Daisy.
Dokter Lucky hanya tersenyum dan mencium pipi istrinya. "Kita kan selalu romantis."
Keduanya asyik makan di meja dokter Lucky sementara Suster Lia menatap sebal ke pasangan itu. Dia memang masih jomblo karena tidak ... belum menemukan pria se green flag dokter Lucky dan dokter Rahmat. Dua dokter itu adalah idolanya dan tipe suami yang dicari. Mereka tipe pria yang bucin dengan istrinya dan tidak pernah macam-macam di rumah sakit.
"Sus Lia, besok Minggu jadi jalan-jalan kan?" tanya Daisy sambil disuapi dokter Lucky dengan tangannya.
"Jadi dong! Kita mau ngapain Dok?" balas Suster Lia.
"Bagaimana kalau kita ngopi, terus makan siang lanjut nonton film baru shopping. Gimana?" tanya Daisy sambil mengunyah makanannya.
"Dimakan dulu Jeng, keselek nanti," tegur dokter Lucky.
Daisy tersenyum manis. "Iya mas."
Suster Lia menggeleng gemas. "Kalian itu lho. Justru karena begini jadinya banyak yang berharap sama Dok Lucky! Padahal kalau tahu aslinya, Dok Lucky cuma begitu sama Dok Daisy doang."
"Benar itu," jawab dokter Lucky serius.
Daisy mengangguk. "Tunggu ...." Dokter forensik itu tampak berpikir. "Apakah waktu kita labrak sundel bolong itu, dia mengira kamu kismin karena semua aset kamu berikan padaku? Jadi dia mengira kamu tidak punya apapun? Dan merasa bisa membeli kamu mas?"
"Eh? Bisa jadi Jeng," gumam dokter Lucky sambil menyuapi Daisy dengan tangan karena mereka memesan nasi Padang.
"Bisa jadi Dok. Dia mengira Dok Lucky tidak punya apa-apa karena semua jadi milik Dok Daisy," timpal Suster Lia.
Kedua orang di depan Suster Lia itu tampak berpikir. "Bisa jadi."
Tiba-tiba pintu pun terbuka dan tampak dokter Juno masuk dengan panik. Ketiga orang itu pun terkejut.
"Dok! Ada korban tenggelam!" seru dokter Juno.
"Berapa?" tanya dokter Lucky sambil ke wastafel untuk cuci tangan, begitu juga dengan Suster Lia.
"Enam! Mereka anggota survei kali Ciliwung."
Dokter Lucky dan Suster Lia terkejut. "Mereka tidak pakai rompi keamanan?" tanya dokter Lucky kaget.
"Entah!" Dokter Juno bergegas keluar diikuti oleh Suster Lia.
"Aku pergi dulu Jeng!" Dokter Lucky mencium bibir Daisy dan segera keluar dari ruang kerjanya.
"Semangat mas!" seru Daisy.
***
IGD RS Bhayangkara Jakarta
Lampu IGD menyala terang, suasana tegang bercampur panik. Pintu otomatis terbuka dengan keras saat seorang pria muda didorong masuk di atas brankar, tubuhnya basah kuyup, kulitnya pucat kebiruan.
“Korban tenggelam! Ditemukan di sungai, tidak sadar!” teriak petugas yang mengantar.
Dokter Lucky yang sudah bersiap langsung bergerak cepat. “Taruh di sini! Sus Lia, cek nadi dan pernapasan!”
Suster Lia dengan sigap mendekat, tangannya sedikit gemetar namun tetap terlatih. “Tidak ada napas spontan, Dok… nadi sangat lemah.”
“Baik, kita mulai resusitasi. Siapkan oksigen dan suction,” perintah dokter Lucky tegas.
Air masih keluar dari mulut korban saat Suster Lia memiringkan kepala pasien. Suara mesin monitor mulai berbunyi, garis datar yang membuat suasana semakin mencekam.
“Kompressi dada, sekarang!” Dokter Lucky mulai melakukan CPR dengan ritme cepat dan stabil.
Suster Lia memasang masker oksigen sambil terus memperhatikan monitor. “Ayo… ayo… kamu bisa…” gumamnya pelan, seolah memberi semangat pada pasien yang tak sadar.
Beberapa detik terasa seperti menit.
“Masih belum ada respon, Dok…”
Dokter Lucky tidak berhenti. Keringat mulai terlihat di pelipisnya. “Kita lanjut. Sus Lia, ventilasi.”
Lia membantu memberikan napas bantuan dengan ambu bag, sinkron dengan kompresi Lucky.
Tiba-tiba ... Beep… beep…
Garis monitor mulai menunjukkan aktivitas.
“Dok! Ada ritme!” seru Suster Lia, matanya membesar.
Dokter Lucky segera berhenti sejenak, memeriksa.
“Bagus … kita dapat kembali denyutnya.”
Beberapa detik kemudian, korban tersedak keras, mengeluarkan air dari paru-parunya. Tubuhnya bergerak lemah, napasnya mulai kembali meski masih berat.
“Dia bernapas …!” Suster Lia hampir tidak percaya.
Dokter Lucky menghela napas panjang, lega. “Pasang oksigen high flow. Kita stabilkan dulu. Setelah itu, siapkan untuk observasi intensif.”
Suster Lia mengangguk cepat, kini gerakannya lebih ringan, lebih cekatan seperti biasanya.
Di tengah hiruk pikuk IGD, satu nyawa berhasil ditarik kembali dari batas antara hidup dan mati.
Dokter Lucky menatap pasien itu sejenak, lalu berkata pelan, “Kamu beruntung, Bro.”
Suster Lia tersenyum tipis. “Kadang, Dok … keberuntungan juga butuh orang-orang yang tidak menyerah. Seperti nama anda. Dokter Lucky."
Dokter Lucky hanya mengangguk kecil, sebelum kembali bersiap menghadapi pasien berikutnya.
***
Yuhuuu up Siang yaaaa gaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
kasihan banget flint, padahal dia nggak tau apa-apa
ayahnya itu ampun deh...
ibunya juga kurang aware😓😓😓
lgian,spa jg yg bkln sbar kl ktmu orng ga wrs ky gt....bgus bgt idenya dok gabut yg mau bkin dia gatal2,biar kapok....
yang dikhawatirkan sama kan.... pispot🤣🤣🤣🤣