NovelToon NovelToon
Between Love And Lies

Between Love And Lies

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Nikah Kontrak / CEO / Tamat
Popularitas:35.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

"Kau bebas untuk berkencan dengan siapapun. Tetapi jika kau sampai hamil, maka secara otomatis kau tidak akan mendapatkan apapun setelah perceraian terjadi."

Evelyn Valencia Ariesandy terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Gavin Rafael Adhitama, Presiden direktur dari Natama group, yang terkenal di Asia. Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua keluarga besar.

Namun suatu hari, Evelyn mendapatkan kejutan di saat-saat pernikahan kontraknya akan berakhir hanya dalam hitungan bulan saja.

Ia hamil.

Apa yang akan dilakukan Evelyn untuk menutupi kehamilannya dari Gavin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Sikap Gavin yang tidak terbaca.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Gavin dengan nada datar, sesaat setelah Dokter Sarah menyelesaikan pemeriksaannya terhadap Shopia.

Di dalam ruangan itu, suasana terasa sesak. Bukan hanya mereka bertiga yang ada di sana, melainkan juga Bibi Almira dan kepala pelayan yang berdiri membisu menunggu kabar.

"Kondisinya sudah stabil, namun ia masih butuh istirahat total," jelas Dokter Sarah tenang sambil merapikan peralatannya.

"Namun, ada satu hal lagi," lanjut Dokter Sarah, gerakannya terhenti sejenak. Ia menatap Gavin lamat-lamat, mencoba mencari celah di balik wajah datarnya. "Kira-kira apa pemicu spesifik yang membuatnya tiba-tiba bersikap tidak terkendali seperti ini?"

Gavin hanya diam, namun rahangnya tampak mengeras. Ia menceritakan awal mula kejadian itu pada Dokter Sarah secara detail.

"Itu artinya pemicunya adalah api?" tanya Dokter Sarah langsung. "Sepertinya dia menunjukkan tanda trauma post-traumatic yang sangat kuat. Tubuhnya bereaksi seolah ia terjebak di tengah kobaran api."

Mendengar itu, membuat Bibi Almira tersentak, wajahnya semakin memucat.

"Apa dia pernah mengalami kecelakaan sebelumnya? Misalnya terjebak di sebuah gedung yang terbakar atau ia tidak sengaja terkena api?" tanyanya lagi, mencoba untuk menganalisis pemicu trauma yang dialami Shopia.

Dokter Sarah memang bukan seorang psikiater, tetapi ia pernah mendalami ilmu kejiwaan selama beberapa semester. Sedikit-banyak ia bisa memahami tentang kondisi mental yang menghimpit pasiennya.

"Untuk itu, Anda bisa bertanya langsung pada Bibi Almira." Gavin menoleh ke arah Bibi Almira yang terlihat meremas jemarinya dengan gelisah. "Dia pasti tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya."

Mendengar namanya disebut, Bibi Almira lagi-lagi tersentak. Keheningan di ruangan itu terasa semakin mencekam. Kepala pelayan yang berdiri di sampingnya bahkan refleks mundur satu langkah, seolah ingin menjauh dari aura dingin yang dipancarkan oleh Gavin.

"Tuan... saya..." Bibi Almira tampak terbata, wajahnya kini seputih kapas. "Saya tidak bisa menjelaskannya di depan Dokter, Tuan. Ini masalah pribadi. Apa kita bisa bicara berdua saja?" tanyanya gemetar, menatap Gavin penuh permohonan.

Gavin tetap bergeming, matanya terkunci pada gerakan jari wanita paruh baya itu yang masih bergetar, seolah ia sedang menimbang-nimbang.

"Baiklah." jawab Gavin singkat.

Ia memberikan isyarat mata yang tegas kepada Dokter Sarah dan kepala pelayan untuk meninggalkan ruangan.

Dokter Sarah mengangguk paham, ia segera merapikan peralatannya dan melangkah keluar kamar diikuti oleh kepala pelayan yang menutup pintu dengan sangat pelan, meninggalkan Gavin dan Bibi Almira dalam keheningan yang menyesakkan.

Gavin perlahan memutar tubuhnya, berdiri tegak dari kursinya menghadap Bibi Almira yang masih bergetar di posisinya. "Sekarang mereka sudah pergi." ucap Gavin dengan nada rendah yang mengintimidasi. "Apa yang sebenarnya terjadi pada Evelyn?"

Bibi Almira tampak menelan ludahnya dengan susah payah. Dia terpaksa berbohong pada Gavin untuk menyelamatkan situasi.

"Anda pasti tahu kan, jika saudara kembar Nyonya Evelyn telah meninggal?" tanyanya pelan, nyaris berbisik, seolah memastikan tidak ada siapapun yang bisa mendengar pembicaraan mereka.

"Iya. Kudengar dia meninggal karena kecelakaan." jawab Gavin datar, meskipun kini keningnya terlihat sedikit berkerut, mulai merasakan arah pembicaraan yang tidak biasa.

Bibi Almira menarik nafas panjang yang gemetar, matanya mulai berkaca-kaca. "Kecelakaan itu... bukan sekedar kecelakaan biasa, Tuan. Itu adalah kebakaran hebat. Dan Nyonya ada di sana, melihat bagaimana kebakaran itu merenggut nyawa saudarinya."

Gavin tertegun, rahangnya mengeras. "Maksud Bibi, Evelyn menyaksikan kematian saudarinya sendiri? Apa itu yang membuatnya jadi tidak terkendali seperti tadi ketika melihat api?"

"Iya." jawab Bibi Almira dengan suara yang nyaris hilang, air matanya kini benar-benar jatuh membasahi pipinya. Wanita itu berusaha keras untuk menutupi rasa gugupnya, ia hanya bisa mengubah alur cerita asli agar rahasia yang jauh lebih gelap tetap terkubur bersamanya.

"Dia ada di sana, Tuan. Melihat semuanya hingga detik terakhir." lanjut Bibi Almira dengan nada yang dibuat sesedih mungkin untuk memancing simpati Gavin.

Gavin terdiam, namun matanya yang tajam tidak lepas dari gerak-gerik wanita tua di hadapannya. Sebagai pria yang terbiasa menghadapi banyak orang, ia menangkap ada sesuatu yang tidak sinkron antara tangisan itu dan tatapan mata Bibi Almira yang sesekali menghindar. Ada jeda yang terlalu lama, seolah wanita itu sedang menyusun kata yang akan ia ucapkan kepada Gavin.

"Hanya itu?" tanya Gavin rendah, langkahnya mendekat satu langkah, membuat Bibi Almira seketika menahan nafas.

Suasana di kamar yang kedap suara itu kini semakin mencekam.

Namun perhatian mereka teralihkan ketika melihat Shopia mulai merintih dalam tidurnya. Wanita itu tampak meringkuk dalam tidurnya, dengan tubuh yang gemetar hebat.

"Panas... panas..." rintihnya dengan nafas yang berat. Meski matanya masih terpejam erat, Shopia meracau hebat, memecah kesunyian tidurnya yang gelisah.

Bibi Almira menghampiri Shopia. Menatap nanar dahinya yang basah karena keringat dingin. Tubuhnya gemetar, dengan nafas yang memburu, seolah ia sedang melawan api yang tidak terlihat.

Ini adalah pola yang sama, pengulangan yang selalu terjadi ketika traumanya muncul. Biasanya Bibi Diana yang menemani dan menenangkannya. Tapi kini, wanita itu berada jauh darinya. Satu-satunya orang yang bisa diandalkan hanya Bibi Almira.

Bibi Almira meraih tangan Shopia dan menggenggamnya erat. Seakan sedang menyalurkan kekuatan padanya untuk tenang.

"Tidak apa-apa, Nona. Kau sudah aman sekarang. Api itu sudah padam." dengan suara rendah yang bergetar, ia mencoba untuk menenangkannya.

"Pa...nas..." rintihnya semakin parau. Suaranya tercekat di tenggorokannya yang kering, sementara jemarinya kembali mencengkram balik tangan Bibi Almira dengan kekuatan yang menyakitkan, seolah ia sedang berpegang pada satu-satunya tali penyelamat.

Bibi Almira meringis, bukan karena cengkraman tangan Shopia yang kian menyakitkan, melainkan karena ia menyadari seberapa perih luka yang harus ditanggung Shopia selama hidupnya. Pertahanannya runtuh, seiring dengan suara isakan yang tertahan. Perlahan air matanya mengalir, membasahi pipinya, seolah ia bisa merasakan kepedihan yang diderita oleh Shopia seorang diri.

Perlahan, rintihan itu mereda. Nafas Shopia mulai terdengar teratur, ia kembali terlelap dalam tidurnya. Bibi Almira akhirnya bisa bernafas lega, ia menghapus sisa air mata di pipinya sendiri. Lalu dengan hati-hati membenahi selimut Shopia yang berantakan.

Namun perhatiannya teralihkan ketika menatap Gavin yang tampak bergeming memandangi Shopia sejak tadi. Pria itu tidak bertanya, tidak juga terlihat cemas, ia hanya berdiri mematung di tempatnya dengan raut wajah yang datar.

Bibi Almira tidak bisa menebak apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh pria itu saat ini. Ia hanya bisa pasrah, menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Karena hanya Tuhan-lah yang mampu menyelamatkan hidupnya juga kehidupan Shopia saat ini.

Gavin memutar badannya, melangkah keluar dari kamar dengan langkah presisi yang tenang. Ia tidak terlihat marah atau bersimpati. Wajahnya terlihat datar seperti permukaan es yang membeku, seolah sedang menyimpan rapat apapun yang berkecamuk di dalam kepalanya.

Pintu itu bahkan dilepaskan perlahan, seolah ia takut untuk mengganggu ketenangan Shopia yang baru saja kembali.

Apa yang sebenarnya sedang dipikirkan olehnya? Sikapnya malah membuatku bertambah cemas. Akan lebih baik jika dia melampiaskan kemarahannya atau membanting sesuatu. Setidaknya aku tahu jika dia sedang marah. Bibi Almira menatap pintu yang tertutup itu dengan hati yang gelisah.

...^^^🌷🌷🌷🌷🌷^^^...

Shopia mengerjab perlahan ketika mendapati kesadarannya kembali. Pandangannya sedikit buram, terpaku pada langit-langit kamar yang tampak asing baginya. Bayangan tentang api dan rasa panas masih membekas jelas dalam ingatannya. Dan... ingatannya tentang makan malam bersama Gavin.

Shopia tersentak, kesadarannya kembali ketika mengingat sosok Gavin yang berada di hadapannya, menyaksikan semua trauma itu tanpa ia sadari. Pikirannya mendadak kalut, nafasnya kembali memburu dengan cepat.

Dengan sisa tenaganya, ia memaksakan tubuhnya untuk duduk di atas ranjang. Namun, jemarinya yang meraba sprei yang terasa berbeda. Bau ruangan, tekstur kain dibawah tangannya... ini bukan miliknya.

Ia melihat ke sekeliling, dan menyadari jika ruangan itu bukan kamar Evelyn. lalu... dimana ia berada saat ini.

"Nona, syukurlah kau sudah sadar." Bibi Almira yang tertidur di sofa, tersentak dan bergegas menghampirinya dengan wajah cemas.

"Bibi... k-kita ada dimana sekarang?" Shopia terlihat menatap bibi Almira dengan pandangan menuntut.

"Kita..." jedanya sejenak, mengatur nafasnya sendiri agar tidak terdengar gemetar. "Kita berada di kediaman Tuan Gavin, Nona."

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Gavin si 'kulkas 2 pintu' kira-kira apa yang ada dipikirannya?

Kenapa dia tiba-tiba bawa 'Evelyn' ke rumahnya?

Jika kalian penasaran dengan kelanjutan ceritanya, jangan lupa like dan komentar untuk cerita ini, ya.

Oh, jangan lupa juga untuk subscribe ♥️ biar kalian nggak ketinggalan update terbarunya.

Maaf, belum bisa update setiap hari, karena kesibukan di dunia nyata juga. Semoga kalian nggak bosen nunggu ya. 😅

Terima kasih untuk semua orang yang sudah memberikan dukungannya pada karya ini. 🤗

Sampai ketemu di episode selanjutnya ya. 🌷♥️

1
yrputri
yang biasanya tampak kuat, tapi wanita tetap seorang wanita ya, ada sisi lemahnya juga...
yrputri
tatapan maut ya /Hey/
yrputri: tapi kalau ada yang menggangu ego spertinya tidak apa apa kalau harus menatap maut hehe
total 1 replies
Filan
wajar sih kalau nggak pede. Cewek ingin kelihatan cantik di mata orang yang dia cinta
Filan
akhirnya nikah juga mereka
Filan
dikasih jodoh ya, Martin 🤣
-Thiea-: kasihan jomblo sendirian 😁
total 1 replies
Filan
belom tamat di sini kan
Filan
asrama.. kubaca ulang emang asrama 😆
-Thiea-: typo 😁 asmara maksudnya
total 1 replies
Filan
oh, salah Gavin toh
Filan
masih bayi padahal... mainan aja kali shopia
Filan
udah cerai sama Gavin belum sih? nikah sama Alex?
-Thiea-: udah loh, di bab 86.
total 1 replies
Filan
kamu bahkan tidak berani tinggal di penjara malah bundir.
Filan
benarlah ya. Ga ada tanggung jawabnya itu sih. harusnya, biar hendry diproses hukum. dirinya juga biar hidup menyelesaikan semua tanggung jawab. malah bundir.
Filan
kasihan sekali Evelyn dan Sophia ortunya meninggalnya tragis
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh, nunggu upnya kembali.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
selamat thor semangat untuk berkarya.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Congrats 🎉🎉
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
wah twins gaes
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ih bener loh, kenapa masakan laki² itu ngerasa paling teristimewa dan enak banget, aku pernah di bikinin makanan sama sodara laki aku sama bapak tiriku itu makan bersama beh enak banget 🤤🤤.
-Thiea-: enak walau bentuk gak karuan..😁
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
good keluarga serbah guna
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tenang shopia si Gavin bakal jadi bapak yg baik kok, klw kamu harus 24/7 maka juga dia harus bantu bukan cuma dapet senengnya doang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!