"Mulai malam ini kamu milikku, aku suka 45imu yang manis itu." ujar Kael sambil tersenyum miring.
"Hey kamu bilang anakmu tapi ini apa? Kau berbohong padaku om jelek!" jawab Vanya dengan raut wajah kesalnya.
"Sssttt! diam dan jangan banyak bicara, elus kepalaku!" titah Kael mengusap lembut pipi gemoy Vanya.
>>Mau tau kelanjutannya? simak terus dan jangan skip bab, karna di setiap bab ada kejutannya💥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Ketty?!
Kepala Daryl berdenyut keras, menggema di seluruh ruangan yang dipenuhi dengan suara musik dan tawa riang.
Tangannya yang gemetar menjangkau botol wine yang hampir kosong, meneguk sisa-sisa yang tersedia dengan gerakan yang hampir putus asa.
Matanya yang sembab menatap keluar ke kerumunan orang di bar, mencari sesuatu yang tidak mungkin ditemukan.
"Hai om sendirian aja, aku temenin ya. Kenalin nama aku Rina." ujar seorang wanita malam dengan pakaian ketatnya.
Daryl menoleh ya sebentar, "hmm, duduk aja." jawab Daryl.
Namun ia seakan tak minat untuk menatap atau sekedar main main dengan wanita bayaran itu.
Tak lama datanglah wanita lagi, "Kak Daryl tolong hiks hikss anterin aku pulang aku tadidi tarik ke sini aku mau di jual sama om om hikss hiks." ujar Ketty sambil menangis sesenggukan.
"Hey kok bisa?" tanya Daryl sambil berdiri walaupun ia sedikit sempoyongan tapi dengan dengan pelan langsung memeluk erat Ketty.
"Anterin aku pulang ke rumah kak Kael hikss hikss aku gak bisa di rumah itu, om Candra jahat dia mau jual aku ke om om yang ada di club ini." ujarnya masih menangis sesenggukan.
"Sial, kalau gue anterin ke mansion Kael nanti Vanya gimana? Ada kemungkinan kan kalau mereka berdua nanti akan berantem." ujar Daryl di dalam hatinya.
Sungguh ia bingung kali ini, Daryl menatap Ketty dari atas sampai bawah bajunya sangat sexy bahkan lekuk tubuhnya terlihat semua.
Dengan cepat Daryl melepas kemejanya, "pakai ini, tubuhmu di lihat banyak mata nakal."
"Hikss hikss mau sama kak Kael, aku takut hikss hiksss..." ujar Ketty dengan suara seraknya. "Jangan sampai nih orang jadi perusak hubungan Kael sama Vanya. Walaupun gue rada cinta sama Vanya. Kalau Vanya bahagianya sama Kael gue no problem." ujar Daryl panjang lebar di dalam hatinya.
"Kael lagi dinas ke luar kota." jawab Daryl mencoba mencari alasan.
"Gak mungkin kan ayo hikss hikss aku tau kalau kak Kael ada di mansion. Om Candra yang bilang. Kakak jangan bohongin aku ya." ujar Ketty dengan raut wajah kesalnya.
Ketty langsung menarik lengan Daryl keluar dari bar, entah apa lagi yang akan terjadi setelah ini.
Sebelum dirinya benar benar beranjak Daryl melamunkan sesuatu.
Di tengah keramaian, kehadiran Vanya bagaikan bayangan yang selalu menghantui setiap sudut pikirannya.
"Brengsek sialan, kenapa selalu Vanya yang ada di otak gue?" umpat Daryl dalam hati.
Di sana banyak wanita yang berusaha mendekatinya dengan senyuman manis dan tawa merdu, namun tak satu pun dari mereka yang bisa mengalihkan perhatiannya dari Vanya, kekasih dari Kael, sahabatnya sendiri.
Merasa semakin gila, Daryl bangkit dari kursinya, langkahnya tidak tentu menuju ke tempat yang lebih sepi di bar itu.
"HEY AYO KAK DARYL...!!" teriak Ketty dengan kerasnya.
Sungguh demi apapun yang jelas Daryl takut kalau sampai Vanya terluka. Ia tak akan biarkan hal itu terjadi.
Di mansion mewah, Kael yang tengah menatap lembut kekasihnya yang telah terlelap, menyelimutinya dengan penuh kasih sebelum berbisik lembut.
"Sayang, aku ke markas sebentar untuk survei cek sesuatu. Love you."
Sedangkan Daryl masih aja takut jika Ketty akan melukai Vanya nantinya.
Melihat pemandangan itu, perasaan cemburu dan frustrasi semakin memuncak dalam dada Daryl.
Hatinya terasa seperti dirobek-robek. Dengan setiap detak jantung, bayangan Vanya semakin memenuhi pikirannya, membuatnya semakin tersiksa.
Daryl merasa ia harus menjauh, tapi kemana? Ke mana ia bisa pergi ketika setiap tempat hanya akan mengingatkannya pada apa yang tidak bisa ia miliki?
Di tengah kekacauan emosinya, Daryl mengambil keputusan. Ia harus mengakhiri ini semua, harus menemukan cara untuk melupakan Vanya, meskipun itu berarti ia harus mengorbankan perasaannya pada Vanya.
Langkahnya terhenti, dan dalam keputusasaan, ia mengangkat wajahnya, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi apa yang harus dilakukan selanjutnya.
"Cerita sekarang, kenapa kamu bisa di club itu." titah Daryl.
"Aku di pakasa om Candra, gak tau harus apa lagi aku butuh uang buat lunasin hutang aku sama om Candra." jelas Ketty dengan raut wajah memelasnya.
"Hutang? berapa hutangmu?" tanya Daryl sambil fokus pada jalanan yang lumayan sepi malam ini.
Dengan cepat Ketty mendekat dan memeluk erat tubuh kekar Daryl, "Pinjem uang kakak dulu boleh enggak? Gak banyak kok kak cuma 40 juta aja biar aku bayar bunganya dulu." ujar Ketty dengan suara lirihnya.
Sungguh aura polos polos licik terlihat jelas pada wajah Ketty ini. Namun sayangnya Daryl tak melihat hal itu dengan jelas.
"Hey 40 juta itu banyak Ketty." jelas Daryl.
Sungguh ia sangat kesal dengan perempuan di sampingnya ini, dengan cepat Daryl langsung tersenyum manis.
"Kamu kerja aja gimana?" tawar Daryl.
Ketty dengan cepat mengubah raut wajahnya jadi sedih ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak mau hikss hikss... tubuhku sakit semua aku juga punya penyakit lambung akut kak kalau kecapekan atau telat makan langsung kambuh hikss hikss...." jelas Ketty panjang lebar.
Sumpah demi apapun Daryl sangat malas sekali kali ini, "Mau gue bawa kemana nih anak, gue harus apa sialan? gak mungkin kan gue bawa ke mansion Kael beneran. Yang ada gue nanti bakalan kena tampol sama tuh orang." ujarnya lagi di dalam hatinya.
"Mending gue bawa ke markas aja dulu daripada bingung mau kemana." ujarnya di dalam hatinya.
"Ini mau kemana kok ke hutan hutan sih? kan harusnya ke mansion mewah kak Kael. Kakak gimana sih!" pekik Ketty dengan raut wajah kesalnya.
Bahkan kedua tangan Ketty terkepal erat.
"Diam jangan banyak bicara Ketty, atau mau kakak turunin kamu di sini hah? ayolah jangan brisik aku sedang gak mood Ketty." jelas Daryl panjang lebar dengan sedikit nada dingin.
Ketty menghela nafas, ia menganggukkan kepalanya, "Sialan kenapa susah banget sih kalau sama kak Daryl, kenapa gak gampang kaya kak Dika." ujar Ketty dalam hati dengan raut wajah kesalnya.
Kael baru saja memarkirkan mobilnya di markas besar perusahaannya, sebuah gedung yang tampak kokoh dengan penjagaan keamanan yang ketat.
Langkahnya cepat dan tegas menuju ke ruangan penyimpanan senjata. Cahaya lampu neon menyinari ruangan tersebut, memantulkan kilauan pada revolver keluaran terbaru yang baru saja tiba.
Kael memeriksa setiap sudut dan sela pada senjata itu, memastikan tidak ada cacat sedikit pun.
Kepuasan tergambar jelas di wajahnya saat ia memastikan kualitasnya sempurna. "Bagus, pasok sekarang!" perintahnya pada salah satu asisten yang berdiri di sampingnya, siap menuruti setiap komando.
Tanpa membuang waktu, Kael bergegas menuju ruangannya untuk mengambil dua berkas penting yang perlu dibawa pulang.
Ia berjalan dengan langkah yang terburu, dipenuhi kekhawatiran akan kemungkinan Vanya terbangun dari tidurnya.
Kekasihnya itu sangat membutuhkan istirahat setelah minggu yang melelahkan dan Kael tidak ingin mengganggunya.
Saat ia melangkah keluar dari gedung, sebuah mobil baru terparkir di area parkiran markas. Refleksi cahaya lampu jalan memantulkan siluet mobil Daryl yang elegan.
Tiba-tiba, sebuah suara familiar memecah kesunyian malam. "KAK KAEL KANGEN!"
teriak Ketty sambil berlari ke arah Kael.
Wanita itu langsung melompat memeluknya dengan erat, namun reaksi Kael tak sehangat sambutannya.
"DON'T TOUCH, BITCH!" bentak Kael dengan suara yang keras dan tajam.
Wajahnya menegang, mata memandang tajam pada Ketty yang tampak terkejut dengan reaksi tersebut.
Kael mendorong Ketty agar menjauh darinya, menunjukkan batas yang tidak ingin dilanggar. Ketty, dengan rasa malu dan sedikit takut, melangkah mundur, matanya tidak bisa menyembunyikan kekecewaan dan sedikit air mata yang mulai terbentuk.
"Kak...kak Kael hikss hikss kakak kenapa jahat sama Ketty sekarang, Ketty gak punya siapa siapa lagi kak, tolong izinin Ketty tinggal sama kakak sementara ini hikss hikss...!" ujar Ketty sambil menangis keras.
Kael tanpa menoleh lagi, berjalan cepat menuju mobilnya, meninggalkan Ketty yang masih berdiri terpaku.
Saat ia memasuki mobil, pikirannya melayang pada Vanya yang tentunya sedang menunggunya di rumah, tempat yang memberikan kedamaian setelah hari yang panjang dan penuh tekanan.
Hatinya berat meninggalkan markas dengan suasana yang begitu tegang, namun ia tahu, prioritasnya adalah kembali ke sisi Vanya, menjaga dan memastikan kekasihnya itu mendapatkan semua yang ia butuhkan untuk merasa aman dan dicintai.
"Vanya lebih penting dari kau Ketty. Sorry" ujar Kael sambil menekan pedal gasnya.
"KAK KAEL IKUT KAK BUKA PINTUNYA...KAK KAEL....!!" teriak Ketty keras karna ia tak menyangka mendapatkan penolakan dari Kael.
Ia lari mengejar mobil Kael tapi tetap saja tak bisa, ia langsung tersandung dan terjatuh.
BRUGH!
"AARGHH SAKIT HIKSS HIKSS TOLONG....!!" teriak Ketty dengan kerasnya.
Hujan yang turun dengan derasnya seolah ingin menghapus kesedihan yang menaungi hati Ketty.
Gadis itu terjatuh dengan lutut yang berdarah karena terpeleset di jalanan basah, namun rasa sakit di lututnya tak sebanding dengan luka di hatinya.
Air mata bercampur hujan mengalir di pipinya yang pucat, seraya ia menggigil bukan hanya karena dingin, tapi karena kepedihan yang dirasakan.
"Kak Kael kenapa bisa tega begini? Siapa pacar Kak Kael sekarang? Pasti ini semua karena pacarnya yang tidak tahu diri itu!" teriak Ketty, suaranya tenggelam oleh suara gemuruh petir.
Emosinya bercampur aduk, rasa kecewa dan cemburu membuatnya semakin tak terkendali.
Di tengah keheningan yang hanya dipenuhi suara hujan, tiba-tiba Daryl, sahabat Ketty muncul dengan payung besar.
Matanya menyiratkan amarah saat mendengar teriakan Ketty. "DIAM, SIALAN!" bentak Daryl dengan keras, membuat Ketty terdiam seketika.
Ketty menatap Daryl dengan mata berkaca-kaca, "Tapi Kak, ini tidak benar. Kak Kael gak boleh punya pacar lain," suaranya lemah, mencoba mempertahankan argumennya.
Daryl menghela napas, matanya tajam menatap Ketty, "Emang lo siapa nya Kael? bukan siapa siapa kan, jadi gak usah sok ngatur Kael mulai sekarang. Bahkan pacar Kael itu lebih cantik dan lebih segalanya dari lo," ucapnya menohok, tanpa memikirkan perasaan Ketty yang sudah terluka.
Air mata Ketty semakin deras, "Aku orang penting buat Kak Kael!" teriaknya dengan suara yang bergetar, mencoba meyakinkan Daryl maupun dirinya sendiri.
Angin yang berhembus kencang seolah membawa kata-kata Ketty pergi bersama hujan, meninggalkan dia dan Daryl dalam keheningan yang canggung.
Daryl menggigit bibir, tahu bahwa kata-katanya terlalu keras. Ketty duduk lemas di jalanan memeluk lututnya yang berdarah, meratapi baik fisik maupun luka emosional yang dideritanya.
Daryl akhirnya duduk di samping Ketty, membagikan setengah dari payungnya, dalam diam mereka berdua menatap hujan yang turun, masing-masing tenggelam dalam labirin pikiran dan perasaan mereka sendiri.
"Ka...kak Kael hikss hikss...."