Ketika perasaan datang di waktu yang berbeda, ketika perasaan datang di kala harapan sudah sirna. Andra Dwi Anggara, harus menelan sakitnya penyesalan ketika terlambat menyadari perasaan sahabatnya, Gabriella Tamara.
Tujuh tahun Gabriella mencintai Andra, namun lelaki itu tak pernah menyadari. Ketika Gabriella sudah pergi dan membuka hati untuk cinta yang lain, Andra baru menyadari perasaan yang ada dalam dirinya, yang ternyata adalah rasa cinta.
Gabriella dihadapkan pada pilihan yang sulit, mempertahankan Kairi Da Vinci, lelaki yang sudah menjadi keksihnya.
Ataukah kembali pada Andra, sahabat lama yang pernah mencuri hatinya?
Disaat Gabriella sudah yakin pada satu pilihan, lagi-lagi kenyataan mempermainkan jalan hidupnya. Satu fakta pahit menggoyahkan cinta yang telah ia jalin.
Sanggupkah Gabriella melewati ujian yang menderanya?
Kepada siapakah ia melabuhkan hatinya?
Temukan jawabannya hanya dalam novel TENTANG RASA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbang Ke London
Andra Dwi Anggara.
Sedang duduk di sofa kamarnya.
Menghela nafas dengan lega setelah selesai mempelajari beberapa berkas yang diberikan oleh Om Adit padanya.
"Haahhh. Akhirnya selesai juga." ucap Andra sambil merenggangkan otot tangannya.
Ia menatap jam berbentuk gitar yang berada di atas mejanya, menunjukkan angka 10.00 malam.
Senyum terukir di bibirnya saat ia membayangkan dari mana asal-usul jam itu.
"Aku akan ingat pesan kamu El.
Saat kamu kembali nanti, aku pasti sudah menjadi orang hebat." ucap Andra.
Lalu ia meraih sebuah pigura foto.
Foto dirinya dan Ella yang sedang tertawa bersama.
"Kamu gadis yang luar biasa.
Aku yakin kamu pasti bisa menjadi arsitek besar di sana." ucap Andra sambil meraba-raba fotonya dan meletakkan kembali ke atas meja.
Tak berapa lama kemudian, pintu kamar terbuka.
"Mama." sapa Andra saat melihat ibunya masuk ke dalam kamar.
"Kamu lagi apa?" tanya Bu Mirna sambil duduk di sebelah Andra, dan mengusap lembut kepalanya.
"Baru selesai mempelajari ini Ma." jawab Andra sambil menunjuk berkas yang masih berantakan di atas meja.
"Jangan terlalu diporsikan, kamu masih belajar, pelan-pelan saja."
"Iya Ma."
"Mama sangat bangga Andra.
Kamu sudah banyak berubah."
"Ini berkat dukungan dari Mama." ucap Andra sambil tersenyum.
Bu Mirna juga ikut tersenyum.
Beliau menatap setiap sudut kamar Andra dengan miris. Kamar ini telah banyak berubah. Jika dulu hanya ada satu foto keluarga.
Sekarang ada banyak foto yang dipajang di dinding dan juga di meja. Foto Andra dan teman-temannya, juga foto dirinya. Sedangkan foto keluarga yang dulu, beliau tidak tahu lagi dimana Andra menyimpannya.
Pernak-pernik yang dulu banyak menghiasi kamar ini, kini telah tiada entah kemana. Hanya dominan warnanya saja yang dari dulu tetap sama, warna biru terang. Namun ruangan ini tetap terasa asing baginya.
"Selama ini Mama terlalu mengacuhkan kamu Andra.
Sampai tidak tahu seperti apa kamar kamu." batin Bu Mirna dengan tertunduk.
Bu Mirna kembali mengamati kamar Andra. Mengamati setiap foto yang ada di sana. Dari situ Bu Mirna dapat menyimpulkan, betapa dekatnya Andra dengan teman-temannya.
Selama ini dia tidak pernah ada untuk Andra, jadi wajar saja jika Andra lebih dekat dengan teman-temannya dibandingkan dengan dirinya.
Namun ada satu hal yang menarik perhatian Bu Mirna. Dari sekian banyak foto, hanya foto Ella yang menjadi satu-satunya foto wanita selain dirinya. Lalu Bu Mirna tersenyum sambil mengambil salah satu foto Ella.
"Ella itu cantik ya, baik hati lagi." ucap Bu Mirna.
"Iya Ma." jawab Andra.
"Kamu juga mikir gitu?"
"Iya."
"Kamu suka sama dia?"
"Tentu saja. Dia sahabatku Ma."
"Maksud Mama bukan suka yang seperti itu. Kamu gak ada perasaan gitu sama dia?" tanya Bu Mirna sambil menatap Andra.
Andra tersenyum, dan membalas tatapan ibunya.
"Aku tidak punya perasaan apa-apa sama dia Ma. Kita hanya sahabatan gak lebih."
"Kamu yakin? Dia cantik lo, kepribadiannya juga baik. Dia cocok jadi pendamping kamu, Mama akan sangat merestui."
"Dia memang cantik juga baik.
Tapi aku gak bisa cinta sama dia Ma. Siapapun pendamping aku nanti, Mama memang harus merestui." ucap Andra menggoda ibunya.
"Asal pilihan kamu tepat, jangan seperti yang kemarin. Tapi kamu yakin Ndra, gak ada cinta sama Ella. Jangan-jangan kamunya saja yang belum menyadari."
"Yang kemarin itu khilaf Ma.
Mama jangan mengada-ada.
Kalau memang aku ada cinta sama dia, pasti sudah dari dulu aku pacari." jawab Andra sambil terkekeh.
"Iya juga ya." jawab Bu Mirna.
"Ternyata Andra memang tidak mencintai Ella. Dan Ella juga menolak menjadi pasangan Andra.
Rupanya disini cuma aku yang berharap mereka bersama.
Hah sayang sekali, padahal aku sangat ingin punya menantu seperti Ella." ucap Bu Mirna dalam hati.
"Ya sudah kalau begitu, Mama mau istirahat, kamu juga cepat istirahat." kata Bu Mirna sambil berdiri, dan melangkah keluar.
"Iya Ma." jawab Andra.
***
Pukul 08.45 pagi di Bandara Juanda.
"Ella berangkat Bu. Doain Ella ya." ucap Ella sambil menangis dipelukan ibunya.
Pelukan paling nyaman yang pernah ia rasakan. Dan kedepannya, ia tak akan bisa bermanja di pelukan itu untuk sekian waktu.
"Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Ibu berdoa semoga semua hal yang kamu impikan agar selalu diberi kemudahan. Jangan menangis, berbahagialah, kamu akan memulai masa depan kamu di sana." kata ibunya sambil memeluk Ella dengan erat, dan membelai punggungnya dengan lembut.
"Ibu janji ya, harus baik-baik di rumah. Ibu gak boleh sampai kecapekan, Ibu harus istirahat yang cukup. Ella gak mau Ibu sakit."
"Ibu menunggu kepulanganmu Nak, tentu saja Ibu akan baik-baik saja.
Lagipula juga ada Mas mu yang menjaga Ibu." ucap ibunya.
Beliau melepaskan pelukannya, dan menghapus air mata Ella dengan lembut.
"Tersenyumlah." sambung ibunya.
Ella menatap ibunya dengan perasaan sayang.
Lalu ia mengangguk, dan tersenyum.
Setelah itu Ella berpamitan dengan keluarga lainnya, Garnis, Ariel, dan Gilang yang saat itu ikut mengantarkan Ella. Dia juga menciumi ketiga keponakannya.
Arga, Ardi, dan Leon anaknya Garnis.
"Kita pamit ya Bu." ucap Dimas sambil menyalami Bu Halimah.
"Iya Nak hati-hati. Ibu titip Ella ya."
"Iya Bu."
Lalu Dimas dan Ella melangkah pergi. Mereka bersiap untuk melakukan penerbangan.
***
Ella duduk di sebelah Dimas. Merasakan getaran pesawat yang mulai lepas landas. Hatinya ikut bergetar, berusaha keras menahan air matanya agar tidak menetes.
Dia harus bisa, ini demi masa depannya, juga demi ibunya.
Dia harus bisa menjadi arsitek besar seperti mimpinya, agar bisa memperbaiki perekonomian keluarga.
Cita-citanya harus berhasil dengan memuaskan, jangan sampai mengecewakan seperti cintanya.
Ah cinta.
Sedang apa kiranya dia. Katanya hari ini ada rapat penting. Pasti dia terlihat lebih tampan dengan balutan jas formal. Dia merasa berat tidak ya melepasnya pergi. Dia bisa tidak ya menunggunya kembali.
"Ella." panggil Dimas.
"Iya Kak." Ella menoleh.
"Kamu merasa berat?"
"Sedikit." jawab Ella sambil sedikit tersenyum.
"Itu wajar, ini pertama kalinya kamu pergi. Dulu aku juga begitu."
"Benarkah?"
"Iya, tapi demi merintis karir tetap aku jalani, lama-lama aku terbiasa, dan bisa menjadi seperti sekarang."
"Kak Dimas hebat."
"Kamu juga hebat. Aku yakin kamu akan lebih baik dari aku."
"Begitukah?"
"Tentu saja. Sedih boleh, tapi jangan terlalu. Pilihan ini juga demi keluarga kamu kan."
"Iya Kak." ucap Ella.
Lalu mereka terdiam.
Hening untuk beberapa saat.
"Kak." panggil Ella kemudian.
"Ada apa?" jawab Dimas.
"Aku boleh ngomong sesuatu."
"Ngomong saja. Jangan sungkan."
"Kak. Aku nanti sementara saja ya tinggal di rumah Kak Dimas, setelah itu aku ingin cari tempat kos."
"Kenapa?" tanya Dimas sambil mengerutkan keningnya. Dia merasa heran dengan keinginan Ella.
"Aku gak enak kalau numpang terus sama Kak Dimas." jawab Ella sambil menunduk.
Dia takut Dimas tersinggung, tapi memang itulah yang ia rasakan.
"Kamu jangan terlalu menolak bantuanku El. Aku ingin menebus kesalahanku dimasa lalu."
"Itu bukan kesalahan Kak Dimas.
Itu musibah, Kak Dimas jangan terus merasa bersalah."
Bersambung