Penguasa Daratan Merah
Menceritakan tentang seorang Raja Daratan Merah yang diincar oleh ketiga dewa agung, karena membawa ramalan buruk tentang mereka.
Zhen Wu yang mengetahui tentang ancaman itu, mencoba melawan mereka dengan segala kemampuannya. Dia menggunakan sebuah skill khusus yang hanya dia sendiri yang memilikinya, skill tersebut bernama Jiwa Neraka. Skill yang dapat mampu memanggil para Hantu dan mayat hidup yang sudah mati.
Namun karena kecerobohannya, dia pun terbunuh oleh ketiga Dewa Agung tersebut. Untungnya dia bisa memanfaatkan kelengahan para dewa, dan berhasil membawa jiwanya ke alam dunia bawah.
Zhen Wu yang telah berhasil berpindah tubuh, kini mulai bertekad akan membalas dendam terhadap para dewa yang mengincarnya, dan membuat ramalan yang ditakuti oleh mereka menjadi kenyataan.
*diusahakan update 2 chapter sehari atau lebih
*maaf jika masih terdapat banyak kekurangan, nantinya akan terus saya perbaiki.
terima kasih sudah membaca 😁
ig : @man_gervis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Man Gervis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chp 23 : Berdebat
Zhen Wu dan dua hantunya kini telah menemukan sebuah penginapan yang cukup sederhana. Mereka bertiga kemudian masuk dan memesan kamar di meja resepsionis.
"Kami ingin memesan 2 kamar untuk 3 minggu," ucap Zhen Wu datar.
Zi Li yang mendengar bahwa mereka akan memesan 2 kamar, tiba tiba mengatakan sesuatu yang mengejutkan. "Kenapa kita tidak pesan jadi satu kamar saja? Ini bisa lebih menghemat anggaran kita."
Semua orang yang berada di ruangan tersebut seketika melihat kearah Zhen Wu. Mereka berpikir bahwa Zhen Wu akan tidur dengan dua gadis yang masih terlihat dibawah umur.
Sebenarnya Zhen Wu tidak terlalu memusingkan perihal dirinya dicap sebagai apapun. Namun karena orang-orang disana menatap dirinya terus menerus, bahkan sampai resepsionis pun ikut menatap aneh dirinya, jadinya dia langsung menjelaskannya lagi pada Zi Li. "Tidak, aku ingin ruangan sendiri. Kalian berdua berbagilah ruangan. Soal keuangan kita, aku rasa itu bisa diatasi."
"Yey! Zi Li, kita berdua berbagi kamar." Zi Rin merasa senang dengan keputusan tuannya itu.
"Tidak, tuan! Aku tidak ingin sekamar dengan Zi Rin." batin Zi Li menolak.
Namun Zhen Wu merasa bahwa keputusannya saat ini sepertinya kurang tepat untuk menyatukan mereka dalam sekamar. Dengan mempertimbangkan lagi, diapun akhirnya mengubahnya. Kamar yang yang tadinya ingin dia pesan adalah 2, sekarang berubah menjadi 3 kamar untuk masing masing dari mereka.
Zhen Wu menerima kunci kamar itu dari resepsionis dan lalu memberikan dua kunci pada mereka berdua. "Ini kunci kamar kalian. Pergilah lebih dulu, aku akan menyusul."
"Yahhh... Kenapa? Padahal tadi ...." Zi Rin mulai mengeluh pada Zhen Wu. Namun sebelum menyelesaikan perkataannya, Zhen Wu menyuruh keduanya untuk segera pergi ke kamar mereka.
"Sudah, hentikan. Kembali ke kamar kalian sekarang," perintah Zhen Wu menyuruh pergi.
Zhen Wu lalu menyerahkan 1.260 koin perak atau setara dengan 12 koin emas dan 60 koin perak untuk biaya sewa 3 kamar selama 3 minggu kepada resepsionis.
Sudah sewajarnya jika harga untuk menginap satu malam di penginapan kota Tenrou cukup mahal, karena kota ini termasuk kota yang cukup maju dan memiliki predikat kota kelas dua. Jadinya harga untuk satu malam di penginapan sederhana disini senilai 20 koin perak untuk satu malam.
Begitu selesai membayar, Zhen Wu melihat Zi Li dan Zi Rin sudah beranjak pergi ke kamar mereka. Dia kemudian mulai menyusul dan berniat pergi ke kamarnya sendiri.
Letak kamar mereka bertiga sengaja Zhen Wu pesan berdekatan dan dia mengambil kamar bagian akhir. Zhen Wu mencoba masuk dan melihat kamar miliknya cukup luas dan sangat teratur.
Zhen Wu mendekat ke sebuah meja yang berada di pojok ruangan. Dia kini memeriksa kembali cincin ruang yang sebelumnya dia dapatkan setelah mengalahkan Teng Gor. Dengan mengalirkan energi Qi miliknya, dia dapat melihat berbagai macam barang yang berisi kekayaan senilai 30 koin emas, sebuah senjata kelas 3 dan beberapa senjata kelas 2. Serta sebuah token berlambangkan Kelelawar Merah, yang menandakan dia merupakan bagian organisasi.
"Sebagai bagian dari organisasi Kelelawar Merah, orang ini ternyata cukup kaya juga. Sepertinya di masa depan aku ingin memburu lebih banyak para petinggi organisasi ini, agar bisa mendapat banyak manfaat dari mereka." Zhen Wu tersenyum tipis sambil terus melihat isi dari cincin ruang tersebut.
Zhen Wu menyimpan kembali semua barang barang itu kedalam cincin ruang miliknya. Dia kini melihat sebuah kasur di sebelahnya dan mencoba merebahkan tubuhnya keatas benda empuk tersebut.
"Ahh, nikmatnya...." Zhen Wu, merasa seperti berada di surga, karena sejak dia tiba di dunia bawah ini, dia bahkan belum pernah tidur dengan nyaman. Dia ingin menutup mata perlahan, namun dirinya tiba tiba bangun kembali.
"Lebih baik pergi menempa pedang lebih dulu, baru aku akan istirahat lagi. Hmm... tapi aku harus mengajak mereka berdua atau tidak, ya?" Zhen Wu sempat bingung memikirkan tentang Zi Li dan Zi Rin. "Ah, lebih baik aku tidak usah mengajak mereka, kurasa mereka juga pasti akan merasa bosan kalau berada lama disana."
Zhen Wu lalu keluar dari kamarnya. Dia melihat kearah kiri dan kanan, menatap kamar dari kedua hantunya itu secara bergantian. Namun, secara serentak pintu mereka berdua terbuka secara perlahan juga. Keduanya kini menatap Zhen Wu dengan sebuah senyuman aneh.
"Tuan, anda mau kemana? Apakah kami boleh ikut?" tanya Zi Rin yang tersenyum lebar menatap Zhen Wu.
Zi Li hanya diam saja, mungkin karena dia merasa bahwa Zi Rin telah menanyakan apa yang ingin dia tanyakan juga. Jadinya dirinya hanya tersenyum menatap Zhen Wu dengan senyuman yang sama.
Zhen Wu hanya menghela nafas dan lalu melihat kearah mereka berdua bergantian. "Aku ingin pergi ke pandai besi. Apa kalian ingin ikut?"
Saling pandang sesat, mereka berdua lalu berteriak dengan semangat. "Hore! kami ikut!" seru mereka berdua serentak.
...***...
Disaat Zhen Wu dan kedua hantunya ingin pergi ke pandai besi. Ada dua orang yang saat ini cukup dekat dengan mereka. Keduanya adalah putri Mong Lin Si dan Pengawalnya Son Jian. Mereka berdua saat ini tengah ingin menuju ke sebuah bangunan yang cukup besar.
"Tuan putri, kemana lagi anda pergi sekarang. Bukankah anda saat ini disuruh oleh guru Lie untuk menemui senior Yun Zhao?" tanya Son Jian penasaran.
"Aku masih cukup malas untuk bertemu dengan senior Yun Zhao saat ini. Dia pasti akan langsung menyuruhku untuk latihan sekarang, padahal aku masih ingin melihat lihat. Hmm... Lebih baik kita pergi ke serikat dagang di depan sana, siapa tahu ada barang yang ingin menarik untuk dibeli," balas Lin Si menunjuk sebuah bangunan yang tak jauh darinya.
Son Jian hanya bisa menurut saja apa yang diperintahkan oleh Lin Si. Sebagai seorang pengawal, dia tidak memiliki pengaruh untuk bisa membantah hal-hal yang menjadi keinginan dari putri keluarga Mong.
Begitu sudah mau sampai di serikat dagang tersebut, Son Jian melihat dari kejauhan sosok yang kini menjadi pusat perhatiannya. Sosok tersebut adalah Zhen Wu, dia hanya terlihat berjalan sendirian menuju ke sebuah tempat pandai besi.
"Haa? Pria bernama Wu ini sudah sampai ke kota Tenrou? Bukannya mereka hanya melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Jika terus mengikuti rute, seharusnya dia akan tiba kemari pada minggu depan. Dan kenapa dia hanya sendiri, kemana gadis kecil berambut ungu itu?" Gumamnya Son Jian yang saat ini tengah berhenti, dan terus melihat kearah Zhen Wu.
Tanpa dia sadari sorot mata di antara keduanya saling bertemu. Son Jian terkejut, ternyata Zhen Wu juga menyadari tentang dirinya yang terus memperhatikan dari jauh. Tak lama kemudian, Zhen Wu tiba tiba saja menghilang dari jarak pandang Son Jian, dia mencoba mencari lagi namun Zhen Wu tidak lagi terlihat.
"Hey, hey, hey!"
Son Jian masih saja berpikir kemana Zhen Wu menghilang, Namun dia tidak mengira bahwa saat ini Lin Si terus memanggil namanya.
"Hey, hey pengawal Son Jian." Lin Si terus memanggilnya, sampai ketika dia lalu meneriakinya, "Son Jian!"
Tak lama kemudian, Son Jian tersadar dari lamunannya. Dia tidak menyadari bahwa Lin Si selalu memanggil namanya sedari tadi. Dia lalu melihat kearah Lin Si dan mendapati bahwa gadis kecil itu sekarang cukup kesal.
"Ada apa? Kenapa dari tadi kau tidak mendengar panggilan ku?" tanya Lin Si kesal, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Son Jian yang saat ini mengetahui tentang Zhen Wu yang sudah berada di kota Tenrou, berusaha untuk tidak memberitahukannya kepada Lin Si. Dia kali ini ingin menyembunyikannya dulu untuk sementara waktu, karena tidak ingin tuan putri di depannya ini merasa terganggu dengan kehadiran Zhen Wu.
"Ehm, saya hanya sedikit melamun, putri. Saya pikir saya melihat seseorang yang saya kenal tadi." Son Jian berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang.
"Hmm...?" Lin Si terlihat menatap Son Jian dengan curiga. Namun sesaat kemudian, dia lalu berkata dengan tenang, "Mungkin kau hanya kelelahan saja. Baiklah sehabis kita melihat lihat, lebih baik kita segera bertemu dengan senior Yun Zhao, lalu kau bisa beristirahat disana."
"Baik, tuan putri!" ucap Son Jian patuh.
Selanjutnya>>>
Tokoh villain nya kapan muncul ya? Semoga villainnya cukup keren dan sebanding. Jangan ngebadut. Jadi perjuangan MC lebih terasa gitu. Ga melulu OP.