Seorang gadis yatim piatu, yang ditinggal oleh kedua orang tuanya untuk selamanya, dalam sebuah insiden kecelakaan mobil. Namanya Ayrani, gadis cantik, baik, tulus, yang harus rela melepas kebahagiaan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vicaldo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daniel Tersipu
"Sudah pulang kamu, Sayang?" seorang wanita tua berkacamata yang tengah duduk di sofa kesayangannya menyapa Ayra.
"Huftt...! iya, Nek. Hari ini Ayra capek banget."
Usia terbilang sudah dewasa namun gadis yatim-piatu itu masih saja suka bermanja kepada sang nenek. Tiap kali ia merasa sedih pelukan sang nenek lah yang menjadi tempat ternyaman buat Ayra pulang.
"Ada apa? kenapa kamu sedih begitu?" ucap wanita tua mengusap wajah sang cucu yang terbaring di pangkuannya.
Gadis yang sedang menikmati tiap belaian neneknya itu, tetap diam tak bergeming. Jikapun ia bercerita tentang kerinduannya kepada sang kakak dan juga ibu sambungnya, sudah lah pasti akan murka.
"Ceritakan saja, jangan di pendam! tidak baik memendam semuanya sendirian. Apalah arti Nenek ini bagi kamu, jika setiap ada masalah kamu selalu diam."
Ayra mendongak menatap wajah renta yang dipenuhi guratan garis halus di wajah wanita yang membelainya. Semakin gadis itu menatap sang nenek, bulir air bening yang bermuara dari kelopak indahnya pun terjatuh. Dipeluknya erat pinggang wanita tua tersebut, menenggelamkan wajahnya dengan tangis yang kian pecah tak terbendung.
"Apa kamu merindukan mereka?" terdengar suara lirih dari wanita tua itu. Dan Ayra semakin larut dalam tangisnya.
"Rasa sayang mu kepada mereka begitu besar. Tapi tidak pernah sedikitpun wanita sombong itu melihat ketulusan hati mu," gerutu kesal sang nenek.
Setelah puas menangis, gadis yang tengah rebahan di pangkuan neneknya itu kembali duduk, dan bercerita bahwa ia baru saja melepas rindu melihat sang kakak dari kejauhan. Hal itulah yang membuatnya bersedih, tidak bisa melepas kerinduan memeluk kakak kesayangannya.
"Sudahlah, sudah sore. Sebaiknya kamu segera basuh tubuh mu dan sholat!"
Ayra melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu bergegas menuju kamar.
***
"Hai... kamu sedang apa di sana?" ucap Daniel yang terbaring di atas sofa di kamarnya sembari menatap langit-langit. Melebarkan senyum membayangkan wajah Ayra. Lama pemuda tampan itu berbicara sendiri seolah merayu wanita yang kini menjadi pemilik hatinya.
"Ehem...., sepertinya ada yang sedang latihan drama ya?" seloroh wanita cantik setengah baya dari balik pintu. Yang rupanya sudah mendengar beberapa percakapan sang putra beberapa detik lalu.
Tersirat pipi yang memerah dari wajah tampan Daniyal. Pria tampan itu tersipu lalu mengalihkan obrolan.
"Oh, i- iya, Ma. Daniel sedang menghapal teks untuk latihan drama di kantor nanti," ucapnya berkilah tidak tahu harus menjawab apa kepada sang Mama yang begitu mengejutkan dirinya.
"Oh begitu ya, ngomong-ngomong dalam rangka apa, Nak, di kantor sampai ada pertunjukan drama segala?" selidik Kamila mengedipkan sebelah mata, berusaha menggoda sang putra.
"Kalau Mama tidak salah dengar sih sepertinya teksnya tentang pemuda yang tengah mengagumi sosok wanita, ya?" goda Kamila kembali dengan sedikit tawa.
"Mama, apaan sih. Kalau mau masuk kamar itu ketok dulu!" gerutu Daniel yang kian memerah pipinya.
"Hmmm.... ngomong ngomong gadis beruntung mana yang telah berhasil merebut hati anak Mama? ajak Mama ketemu dong?" lagi lagi Kamila berhasil membuat putra kesayangannya kesal.
"Apa sih, Mama jangan aneh-aneh deh!"
"Aneh gimana? wajar dong kalau Mama pingin ketemu calon mantu," tandas Kamila.
"Mama ku yang cantik, dengerin nih! Untuk saat ini Daniel belum bisa mengabulkan keinginan Mama, Daniel minta doanya, supaya dia luluh dan nggak galak lagi."
Belum usai Daniel bicara, Kamila justru terbahak tak bisa menahan tawa, "Apa? anak Mama yang ganteng ini digalakin? wah ini namanya penghinaan ini. Anak cakep begini, rebutan gadis gadis loh, malah digalakin."
"Ya sudah pokoknya besok ajak Mama ketemu gadis itu, biar Mama tanya apa kurangnya anak Mama ini?" Kamila masih berusaha menahan tawanya.
Daniel makin pusing lalu tepok jidat mendengar ucapan mamanya.
"Udah ketawanya? puas Mama ledekin Daniel? puas?" gerutu Daniel dengan bibir manyun.
"Asal Mama tahu, gadis ini tuh beda banget dari gadis gadis yang sering Daniel jumpai, Ma. Dia itu cantik, kalau ngomong ketus tapi disiplin kerjanya bagus banget, dan satu lagi, dia itu super galak," terang Daniel penuh antusias.
"Terus, kalau sifatnya seperti itu, lantas apa yang membuat kamu menyukainya?" tanya balik Kamila yang mulai serius menatap lekat sang putra.
"Di balik paras cantiknya, Daniel menangkap kesedihan yang mendalam dalam dirinya. Mata indah itu menjelaskan semua kesedihan tentang dia." Kamila masih seksama mendengar cerita Daniel yang kini duduk berjejer bersama Daniel.
"Di usia muda, ia memimpin sebuah perusahaan besar. Sudah pasti banyak masa kanak-kanak yang dia lewatkan. Dan, dia tentu mengorbankan itu semua."
Kamila meraih jemari Daniel dan menggenggamnya.
"Dengar perkataan Mama! siapapun dia, selagi dia gadis yang baik dan bisa membuatmu bahagia, Mama pasti akan selalu mendukung dan berdoa untuk kalian."
Daniel memeluk tubuh wanita yang melahirkannya erat.
***
"Harum sekali, masak apa sayang?" Sonia mengendus masakan yang tersaji rapi di meja.
"Hanya sup, dan rendang kesukaan Nenek," jawab Ayra dengan celemek yang menempel di tubuhnya.
"Wah pasti lezat? Bu Dewi mana?" Sonia mengedarkan pandangan melirik kamar yang masih tertutup rapat. Kamar yang bersebelahan dengan dapur.
"Sepertinya Ibu sedang tidak enak badan!" Ayra semenjak kecil sudah terbiasa memanggil wanita yang mengasuhnya dengan sebutan ibu.
"Darimana kamu tahu?" timpal Sonia, beranjak dari kursi makan menuju kamar Bu Dewi.
"Nenek lihat saja sendiri? Ayra sudah kasih ibu obat, juga sudah Ayra bikinkan teh hangat." sahut Ayra mengekor di belakang Sonia menuju kamar Bu Dewi.
"Ceklek....!"
"Kamu sakit, Wi? sejak kapan kamu sakit?"
Bu Dewi rupanya tengah tertidur lelap karena pengaruh obat yang diberikan oleh Arya, sehingga tidak mendengar suara percakapan Sonia.
"Ibu sudah tidur, Nek. Sebaiknya kita makan!" ajak Ayra dengan suara lirih, tak mau mengganggu waktu istirahat ibu asuhnya.
"Apa sebelum minum obat, dia juga sudah makan?" Ayra mengangguk.
"Tadi pas Ayra mau ke dapur, Ibu sepertinya mau memasak. Karena Ayra lihat Ibu tampak pucat, lalu aku periksa dahinya. Dia demam, lalu aku buatin bubur." Sonia menghela napas lega mendengar penuturan sang cucu.
Keduanya lalu menikmati makan malam bersama. Dengan masakan yang dibuat oleh Ayra. Tampak Sonia menghabiskan makanan di piringnya hingga bersih tak bersisa, dengan begitu lahap. Bahkan wanita tua itu tak hentinya menghujani sang cucu dengan pujian.
"Sungguh beruntung pria yang berhasil merebut hati Kamu kelak. Selain cantik, Kamu juga pandai segala hal!" puji Sonia.
"Nenek bisa saja, semua wanita pasti cantik, Nek."
Makan malam, malam itu memberi banyak ruang antara nenek dan cucu tersebut, bercerita banyak hal. Dan selepas mengantar nenek Sonia ke kamar, Ayra kembali melihat kondisi Bu Dewi. Gadis itu mengukur suhu tubuh Bu Dewi, dan malam itu ia memilih tidur di kamar ibu asuhnya.
***
BERSAMBUNG...
Doooorr itu bunyi letusan senjata api
Duaarrrr lebih tepat utk bunyi ledakan