Seorang gadis bernama Vanya Audelia, kini usianya menginjak 18 tahun, yang mana dirinya harus menerima takdir yang tak terduga dari sang aunty nya. apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sherda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar beribadah
Malam pun semakin larut, toko-toko sudah mulai tutup. dan pengendara motor atau mobil pun sudah tampak sepi di jalan. Seorang wanita tak lain ialah Celva masih saja mengelilingi tidak jelas dengan arah tujuan nya.
Hingga pada akhirnya, ia tertuju dengan warung nasi yang tampak nya sangat sepi pelanggan di sana. tiada orang ataupun anak-anak muda nongkrong di warung tersebut.
Hal itu, Celva memutuskan bermampir sebentar untuk sekaligus istirahat disana.
"Itu ada warung, gue numpang cas dulu deh" batin nya melangkah maju ke arah warung tersebut.
"Permisi, Bu"
Tampak seorang ibu tengah sibuk membersihkan area warung nya.
"Eh, iya dek? mau pesan apa?"
"Ee... saya mau nasi goreng yah, satu"
"Ohh baik, mau makan di sini apa di bungkus?"
"Makan disini aja, buk"
Ibu penjaga warung pun bersiap siaga untuk mempersiapkan alat-alat yang akan di masak.
Sedangkan Celva, memilih duduk yang di area santai yang mana tersedia meja nya saja tanpa adanya kursi.
"Eee. buk, di sini ada pengecasan hp?"
"Ohh, ada dek. tapi tempat cas nya di dalam rumah ibuk, kamu mau?"
"Gak apa buk, tapi merk hp saya apel, apa ada cas nya buk?"
"Ada kok, mari ke dalem"
Celva pun beranjak dari sana untuk mengisi baterai yang daritadi mati akibat lupa membawa cas nya dari rumah.
***
Via yang menunggu Celva untuk balik, ia pun merasa jenuh di tengah ruangan. sudah hampir habis kue yang ia makan separuh, rasanya ia sudah mulai kenyang dengan kue itu.
"Woaaaam... Celva lama bener balik nya, padahal udah janji ngajak nonton bareng" sembari melihat jam yang menunjukan pukul 22:20 wib.
Tak lama itu, Bi Uti datang dan menghampiri Via yang tengah bosan menunggu sesuatu.
"Non, lama nunggu siapa sih, si non Celva?" seraya menyapu di dekat ruangan yang Via tonton.
"Iya Bi, kok Celva lama bener ya balik, dia ada kerja mendadak?" menganyunkan bibir nya.
"Ooh lagi nungguin non Celva, tadi sih dia keluar ada urusan sama nyonya Larenz"
Via pun mengangguk paham.
Dan kembali menyetel siaran nya agar dirinya tak merasa jenuh.
Pukul jam sebelas malam. Celva baru saja selesai makan dan juga baterai hp nya sudah kembali penuh.
Terlihat panggilan tak terjawab dari nomor yang tersave bernama 'my partner'.
"Ngapain dia nelpon gue..." seraya melihat chattan nya menumpuk sejumlah 5 di nomor itu.
[Beb, kamu dimana sih]
[Heii beb, kok gak aktif, lagi dapat job baru ya]
[Heii sayang, aku kangen nihh]
[Bebb]
[Bebbb]
Tampak tatapan Celva malas meladeni satu pria itu. ia pun hanya meninggalkan read saja pada obrolan dari pria tersebut.
Sehingga pandangan nya terfokus pada chattan Larenz yang begitu tertegun yang ia baca.
[Jika kamu tidak balik besok pagi, saya akan cariin kamu sampai dapat]
Deg
Celva mematung sejenak. rasanya ia ingin pergi jauh dari kehidupan tante nya. yang mana ia sudah lelah dengan pekerjaan konyol nya itu.
"Vanya... lu dimana sih, gue kangen" menatap ke arah loteng warung dengan tatapan sendu.
Di sisi lain.
Harel berhenti tempat di depan rumah entah milik siapa. terlihat wanita yang di samping tertidur lelap akibat sangat ngantuk di perjalanan yang cukup jauh.
Harel pun ingin membangunkan wanita itu, akan tetapi niatnya terurung melihat wajah nya cukup lelah. hal itu Harel merasa iba jika membangunkan nya.
Dan pada akhirnya, ia pun menggendong wanita itu masuk ke villa kayu yang sederhana yang kalah jauh beda dengan rasa nyaman dan juga adem jika tinggal di tempat tersebut.
kriing... kriiing
Harel meletakan tubuh Vanya tengah tertidur lelap di kamar itu. lalu mengangkat telpon nya di luar villa.
"Iyah, halo paman"
"Iyah, saya udah sampai di sini"
"baik, paman"
"Kira-kira rencana selanjutnya apa ya" batin Harel lalu kembali masuk dan menutup pintu itu.
...
Terdengar suara deru mesin di depan rumahnya, Via yang terhanyut di dunia mimpi nya tidak sadar balik nya Larenz.
Bi Uti pun masih belum tidur, terdengar tuan rumah nya balik, denga bergegas beliau segera pergi ke arah depan. seperti biasa, Bi Uti menyambuti tuan rumah ketika baru sampai.
Namun Bi Uti merasa heran tidak ada batang hidung Celva balik bersama nyonya nya.
Bi Uti yang ragu-ragu menanyakan nya, akhirnya berani untuk bertanya mengenai Celva.
"Nyonya, non Celva gak balik sama nyonya?" Larenz masuk ke dalam rumah.
"Dia ada urusan, ada apa?" menatap datar ke arah asisten nya.
"Eee, tidak nyonya, hanya tanya aja"
Larenz melihat Via tengah tertidur Kepa di atas sofa. ia pun menghampirinya.
"Via" menggoyangkan badan nya agar terbangun.
Tak lama,Via terbangun dan melihat tante nya muncul di hadapan nya.
"Onty... baru pulang?" lalu di angguki oleh nya.
Melirik sekilas.
"Celva mana?"
"Dia ada urusan, kamu kenapa tidur disini?"
"Hmmm... tadi nya lagi nunggu Celva balik"
Larenz bertolak pandangan nya lalu terdiam kaku.
Keesokan hari nya.
Vanya terbangun dari tempatnya, ia baru sadar bahwa dirinya berada di sebuah tempat asing.
"Ini gue dibawain kesini? tempat apa sih" batin nya dengan tatapan intens di sekelilingnya.
Terlihat jam dinding akur. tepat 05:15 wib.
Vanya pun beranjak dari sana dan melihat sisi ruangan tersebut.
Terdengar suara kran di WC, Vanya pun melangkah ke ruangan belakangan.
Tak lama kemudian, muncul lah Harel yang baru saja keluar dari WC, yang terlihat basah di area wajah nya, rambut, tangan yang terlipat di atas siku.
Melihat itu, Vanya sedikit terperangah.
"Wih, udah bisa bangun awal juga ya" sembari menyibak rambut nya yang terhalang. "Ambil wudhu sana, kita sholat bareng"
Seketika Vanya terpelongo.
"Wudhu? sholat?" menautkan alis nya menatap pria itu.
"Lu gak pernah sholat sama sekali?"
Vanya pun menggeleng kepalanya.
Harel hanya menghela nafas nya dan akhirnya ia mau menuntuni nya untuk mengambil air wudhu dengan baik dan benar.
Setelah itu, Vanya di beri mukenah dan di pasang sendiri. karna hal itu simple memakai mukenah tersebut di banding tata cara wudhu dari sebelumnya.
Akan tetapi, setelah Vanya memasang mukenah dengan sempurna terlihat beberapa rambut nya menjuntai keluar dari kening nya.
"Nih, masih ada rambut keluar dikit, rambut, kaki, itu aurat. kecuali telapak tangan. paham?" menatap ke arah Vanya.
"Iya iya paham" ucap nya, menurut.
Entah kenapa detik-detik ini, Vanya sudah tampak berubah perlahan. yang mana ia sudah tidak bawel lagi dari sebelum nya. Hal itu Harel berhasil membuat wanita itu berubah secara draktis.
Untuk mengejar waktu yang sudah tertunda, mereka pun segera untuk melaksanakan ibadah sholat subuh.
Dosenku Adalah Suamiku
Assalamu'alaikum Suamiku
My Handsome Husband
Perjuangan Cinta Aurelia
dan masih ada yang lainnya 😁🤗