Warning!! 21+
Jangan tanyakan tentang etika, norma dan agama. Karena ini pure hanya sebuah cerita halusinasi yang bertujuan untuk menghibur. Harap bijaklah dalam membaca!
❣️❣️❣️❣️❣️❣️
Bagaimana perasaanmu? Jika kamu diculik dan disekap oleh pria yang tak di kenal? Menyeramkan bukan?
Tapi bagaimana, jika orang yang menculikmu adalah seorang pria muda, tampan dan kaya? Bahkan, memperlakukanmu seperti ratu. Karena dia telah jatuh cinta pada gadis yang diculiknya dan telah direnggut kehormatannya.
Hal itulah yang terjadi pada seorang gadis yang bernama Rhibie Amoura. Gadis sebatang kara yang menjalani hidup bersama sahabat-sahabatnya.
Bagaimana pula perjuangan sahabat-sahabat Rhibie untuk mencari keberadaan gadis itu, setelah sang Maha Dewi menghilang secara tiba-tiba?
Please, dukungannya ya!...🙏😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryn HR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GPS
Di ujung pelepasannya, Rhibie memeluk Eldanno erat. Seakan tak ingin melepaskannya. Entah kenapa, perasaannya begitu berbeda? Seolah pria itu milik Rhibie seutuhnya. Mungkin karena tiga hari ini jauh darinya, telah membawa rindu pada kebiasaan yang sering mereka lakukan. Atau mungkin, karena Eldanno telah berjanji bahwa tubuhnya hanya akan disentuh oleh Rhibie seorang. Aah... Entahlah? Pokoknya, rasa yang sedang dirasakan saat ini sangatlah berbeda.
"Bie..."
"Apa?"
"Lepasin dulu dong, pelukannya! Pegel, nih!"
"Cuma dipeluk bentar aja, udah protes. Ya udah, menjauh sana!" Ketus Rhibie dan mendorong tubuh Eldanno dari atas tubuhnya.
"Bukan gitu, sayang! Tapi waktu posisi aku di atas, aku harus menahan beban tubuhku sendiri. Emang kamu mau, ditindih sepenuhnya?"
"Ya udah pergi aja sana, gak perlu banyak ngomong! Lagian kebutuhan kamu juga, udah selesai. Masih untung 'kan aku gak di buang?!" Ucap Rhibie sewot. Dan langsung membelakangi Eldanno.
Bukannya marah, Eldanno justru di buat gemas dengan tingkah Rhibie yang memposisikan dirinya seolah ampas tebu. Eldanno merengkuh pinggang Rhibie dan menariknya ke arah pelukannya.
Namun Rhibie yang masih marah, menolak perlakuan Eldanno. Rhibie menggeser tubuhnya lagi, menjauh darinya.
Tak mau kalah, Eldanno kembali menarik tubuh Rhibie dan memeluknya erat. Lalu mengunci gadis itu dengan kakinya, membuat Rhibie tak berkutik. Meskipun Rhibie nampak tetap berjuang dengan berontak.
"Bie, aku mau memberikanmu sesuatu!" Ucap Eldanno. Dan meraih kotak perhiasannya.
"Gak mau!" Tolaknya ketus.
"Beneran gak mau?" Eldanno membuka kotak itu di hadapan wajah Rhibie yang masih membelakanginya.
Rhibie kembali menggeleng, acuh.
Kamu benar-benar berbeda, Bie. Mereka para wanita yang pernah bercinta denganku, jangankan satu set perhiasan, di kasih beberapa lembar rupiah aja, udah antusias. Tapi kenapa kamu tetap acuh...
Batin Eldanno sambil tersenyum. Lalu mengecup gemas pipi Rhibie yang langsung di lap oleh gadis itu. Eldanno kembali mengecupnya. Rhibie pun kembali mengelapnya.
"Sebenernya, aku sudah memasang alat GPS dalam perhiasan ini. Niat ngebebasin kamu untuk keluar dari kamar ini" Ujar Eldanno dan menyimpan kembali kotak perhiasannya.
"Hah?!" Serentak Rhibie menoleh.
Eldanno berpura-pura tak peduli. Lalu meletakkan lengan di atas keningnya dengan mata terpejam, seolah dirinya sudah tertidur.
"El, aku mau!" Seru Rhibie dan membalikkan tubuhnya menghadap Eldanno.
Pria itu tetap diam.
"El...!" Rhibie mengguncang tubuh Eldanno.
Pria itu membuka matanya, kemudian menunjuk pipinya dengan jari telunjuk.
"Apaan?" Rhibie mengerutkan keningnya.
"Kiss me!"
Rhibie menggeleng.
"Ya udah, tidur!!" Eldanno menarik tubuh Rhibie untuk berbaring.
"Iya, iya, aku mau!"
Dan cup!
Satu kecupan mendarat cepat di pipi Eldanno. Membuat pria itu membulatkan matanya serentak. Lalu meraih kotak perhiasannya lagi.
"Dengarkan aku! Kamu jangan pernah bermimpi untuk bisa kabur dariku! Benda ini akan mendeteksi keberadaan kamu, dimana pun itu. Sejauh apapun kamu pergi, aku pasti akan menemukanmu!" Ucap Eldanno seraya memasukkan cincin di jari manis milik Rhibie. Kemudian mengecupnya.
Rhibie hanya tersenyum tipis membalasnya. Kemudian Eldanno memasang gelang di tangan gadis itu dengan telaten.
"Sekarang, lepaskan kalungmu!" Perintah Eldanno seraya menunjuk kalung hitam yang melingkar di leher Rhibie.
"Maaf, El! Sampai kapanpun, aku gak akan melepas kalung ini"
"Kenapa? Ini 'kan cuma kalung biasa. Liontinnya juga, cuma cincin kecil. Itu udah gak muat 'kan di jari kamu?"
"Ini wasiat terakhir dari paman Jo. Paman bilang, apapun yang terjadi, cincin ini gak boleh terpisah dariku. Cincinnya memang udah gak muat, karena ini cincin aku waktu masih bayi. Makanya aku jadikan liontin biar aku merasa, Paman selalu ada bersamaku!" Sahut Rhibie seraya memainkan cincin putih kecil yang berbentuk bintang.
Eldanno menarik nafasnya, tanpa melepaskan tatapannya dari Rhibie.
"Kalau begitu, lepaskan kalungnya saja! Gantilah dengan kalung dariku, boleh 'kan? Biar liontinnya, kita simpan saja!" Pinta Eldanno kemudian. Lalu melepaskan liontin berlian dari kalungnya. Dan menyimpannya dalam kotak perhiasan.
Rhibie menatap Eldanno. Kemudian tersenyum tipis sambil mengangguk. Dan melepaskan kalungnya sendiri.
"Sini, aku bantu!" Eldanno meraih pengait pada kalung Rhibie. Kemudian melepaskannya. Mengeluarkan liontinnya dari sana.
Eldanno memperhatikan cincin kecil itu yang ada di tangannya dengan seksama. Sepertinya dia pernah melihat cincin yang berbentuk seperti ini. Namun entah dimana.
Tak ingin berlarut dengan memorinya. Eldanno segera memakaikan kalung di leher Rhibie.
"El... Setelah ini, apa aku boleh pulang ke rumah dan menemui sahabat-sahabatku?" Tanya Rhibie ragu-ragu.
"Kamu hanya boleh keluar kamar saja. Jangan berharap lebih! Aku akan memasang cctv di seluruh ruangan di rumah ini dan memperketat penjagaan di depan rumah"
Rhibie menelan ludah kecewanya. Ingin rasanya ia menangis. Namun dia harus kuat. Harus bersabar. Semoga Tuhan segera memberikan jalan kebebasan untuknya.
"Kenapa?" Suara Rhibie terdengar bergetar, menahan tangis.
Eldanno menatap wajah Rhibie yang melukiskan jelas akan perasaannya. Haruskah dia mengatakan jika mereka sudah menikah? Tapi bagaimana jika Rhibie marah dan tak menerimanya? Sudah pasti gadis itu akan menggugat cerai dirinya dan pergi dari hidupnya untuk selama-lamanya.
Oh, no!! Jangankan untuk menjalaninya, untuk membayangkannya saja itu sudah mengerikan.
"Karena kamu belum menghadirkan Eldanno junior dari perutmu!" Ucap Eldanno, lirih.
Rhibie menarik nafasnya. Mengapa harus selalu itu yang menjadi syarat dari kebebasannya.
Demi kebebasan, aku harus mau...
Semangat Rhibie dalam hati.
"Tapi aku boleh 'kan pulang? Bentaaaarr aja, buat ngambil baju! Baju aku 'kan sedikit, gara-gara kamu membuangnya. Pulangnya bareng kamu juga, gak apa-apa!" Rhibie masih berjuang untuk bisa bertemu dengan sahabat-sahabatnya.
Eldanno hanya memberikan gelengan kepala untuk menjawabnya. Membuat Rhibie menekuk wajahnya, kecewa.
"Kita beli aja baju baru buat kamu" Hibur Eldanno.
"Aku mau di ajak belanja??" Rhibie bertanya antusias.
"Dari sini" Eldanno menyerahkan ponselnya ke tangan Rhibie. Membuat bibir Rhibie kembali mengerucut.
Tapi mau tak mau dia harus menerimanya. Daripada tidak mendapatkan apa-apa. Biar sekalian mengerjai pria itu lagi.
Akhirnya, Rhibie membuka aplikasi market place dari ponsel Eldanno dengan semangat yang membakar hatinya. Dia akan membeli baju sebanyak-banyaknya. Berharap pria itu akan kewalahan dengan tingkahnya.
Eldanno merapatkan tubuhnya pada punggung Rhibie yang polos. Dan memeluknya. Mengintai belanjaan yang di pilih gadis itu.
"Gak boleh celana panjang! Cuma boleh short dress, rok, sama t-shirt cewek!" Instruksi Eldanno.
"Enggak, ini cuma celana pendek" Sahut Rhibie seraya menoleh pada pria yang sedang menyampirkan dagu di pundaknya.
"Sini aku lihat!" Eldanno merebut ponselnya. Namun Rhibie sudah mengacungkannya di udara.
"Kamu mau ngelawan aku, Bie?!" Gertak Eldanno seraya menggelitik pinggang gadis itu. Hingga membuat Rhibie terperosok ke pelukannya, tak berdaya di iringi gelak tawa yang memenuhi kamar mereka.